Janji Olen dan Sebuah Rahasia

Adhe Nitha

 

Tampan, tinggi sekitar 175cm, berat badan 80kg serta kulit yang putih namun tidak halus karena ada beberapa jerawat dan  bekas luka bakar di sekitar wajahnya, ini merupakan ciri fisik dari Bastian anak semester tiga jurusan akutansi di universitas ternama di Jakarta. Bastian memang memiliki bekas luka bakar dan jerawat di bagian wajahnya namun itu tidak membuat wanita-wanita di kampus tidak mengidolakan dia, dia menjadi idola di kalangan anak-anak Fakultas Ekonomi. Dia pandai menutupi bekas lukanya itu dengan bingkai kacamata dan jambang yang tumbuh di wajahnya, otaknya tidak terlalu cerdas namun dia pintar sepintar dia memainkan perasaan wanita, dimana setelah seorang wanita itu benar-benar mencintainya dia meninggalkannya kalau bahasa gaulnya sekarang adalah “play boy” seperti lagunya girl band 7icon itu, terlalu bagus julkan itu untuknya yang lebih pantas adalah “Plin Plan” karena dia gak bisa tegas nentuin pilihan seperti pada saat dia mencintai Olen dan Nania dimana mereka adalah saudara sepupu yang tinggal satu rumah.

                              ***

Olen anak yang periang dan mudah bergaul, dia memiliki bentuk tubuh yang kurang ideal menurut kaum lelaki, dimana olen menggunakan kacamata kuda alias kacamata tebal khas anak-anak kutu buku yang hobbynya berjam-jam dengan setumpuk buku, gaya dandanannya culun ala-ala anak jaman dulu jeans belel dan kaos lengan panjang rambut di kuncir kuda tanpa make up tinggi sekitar 165cm dan berat badan 80kg membuat dia agak sedikit memiliki perut donat. Selama ini dia tidak mengenal cinta walau dia memang pernah jatuh cinta semasa SMA dahulu namun itu baginya masa lalu dan selama di kampus dia memiliki banyak teman namun ya baginya semua biasa saja tidak ada yang membuatnya jatuh cinta.

                               ***

Selasa pagi itu ada mata kuliah ekonomi perbankan dia agak terlambat datang ke kampus sehingga dia terburu-buru dia hari ini berangkat sendiri sepupunya yang biasanya selalu bersama tidak dapat masuk kuliah hari itu karena sakit. Nania adalah sepupu yang baik dia saudara sekaligus sahabat bagi Olen satu kelas satu jurusan membuat mereka selalu bersama-sama. Dalam ketergesaaannya Olen tidak melihat kanan dan kiri dia tersandung di tangga menuju ruang kelasnya di lantai dua, saat itu pula Bastian si lelaki plin plan ini mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.

“Kamu tidak apa-apa?” sebastian menanyakan keadaan olen. “oh, ya aku ga apa-apa kok, aku tadi terburu-buru sehingga tersandung. Maaf ya aku sudah merepotkan mu” “ah, sama sekali tidak merepotkan,oh ya perkenalkan nama ku Bastian Eka Saputra, tapi cukup panggil saja Bastian” Bastian memperkenalkan dirinya dengan tangannya di ulurkan ke arah Olen. “oh ya ya kita belum kenal, nama aku Olenia Putri Dewi, dan teman-teman biasa memanggil saya Olen jadi kamu juga panggil itu saja ya” dengan senyum manisnya Olen menyambut perkenalan yang ditawarkan Bastian. Mereka berbincang-bincang hingga tiba di lantai dua yang mana di ruang 307 itu Pa Dika belum datang padahal tadi sudah dengan langkah seribu Olen menuju kelas ini.

Olen berada di kelas A dan Bastian di kelas C kebetulan selasa pagi itu mereka memiliki jadwal yang sama perkuliahan di mulai pukul 07.30  jadi pastinya setiap selasa mereka akan berada pada satu lorong dengan ruangan yang bersebelahan. Olen tidak menceritakannya pada Nania tentang kedekatannya dengan Bastian ini karena ya dia pikir toh si Bastian itu temen biasa kok.

***

Selasa pagi minggu ke tiga setelah pertemuan waktu itu, Bastian menghampiri Olen yang sedang berbincang-bincang dengan Nania dan beberapa teman yang lainnya di kursi taman kampus, karena hari ini dosen tidak hadir dan hanya memberikan tugas. Nania terkejut melihat Bastian mendekati sepupunya itu, dia pun bingung sejak kapan mereka dekat sepertinya akrab sekali. Nania terkejut dan cemburu karena Bastian adalah lelaki yang dia sukai walau dia tahu seperti apa tabiat dia di kampus tapi Nania tak mau ambil pusing baginya cinta ya cinta.

                              ***

Sesampainya mereka di kantin kampus untuk membeli minuman dingin karena Jakarta cukup panas hari itu di tambah Nania hatinya memanas melihat Olen dekat dengan impian hatinya. “ehem, eehhheehh Len aku mau tanya ni. Kamu kok bisa kenal deket dengan Bastian itu?, aku kok gak pernah tahu ya padahal kita selalu bareng-bareng kemana pun.” Nania membrondong pertanyaan dengan rasa penasaran yang sangat. “oh, itu aku gak sengaja kenal dia waktu itu kamu gak masuk, karena sakit dan dia yang menolongku saat aku terjatuh.” Olen menceritakan inti dia dapat kenal Bastian dan sama sekali tidak menaruh curiga pada Nania menanyakan hal itu. “jadi begitu ya ceritanya, pantas saja aku gak tahu hehhee” Nania coba meredam rasa yang tak jelas apa namanya ini cemburukah tapi Bastian bukan pacarku ah biarlah dia berkata dalam hatinya dengan tetap asik meminum jus tomat kesukaannya.

Yang mengejutkan kemudian adalah kata-kata Olen siang itu bagai tersambar petir di siang bolong tanpa hujan dan angin kencang “ Nia, Bastian itu baik dan tampan ya dia juga ramah loh, dia anak kelas C dan ya tapi dia gak terlalu cerdas di banding anak-anak yang lain, tapi dia menarik. Dia punya pacar belum ya?” Olen senyum-senyum sembari tetap menikmati jus melon dan snack ringan yang dia beli tadi. “Dia memang tampan len dan semua wanita di fakultas kita suka sama dia ya walau ada yang gak sih hehehee, kalau aku termasuk yang ….” Nania menggantungkan kalimatnya membuat olen penasaran saja.” Kenapa berhenti Nia, lanjutkan dong bicara mu aku jadi penasaran ni?” Olen membujuk nania. “ya, aku termasuk yang suka padanya sejak semester dua lalu len.” “aku juga suka sama dia, tapi hanya sekedar kagum saja tidak lebih” Olen menutupi perasaannya karena dia tak mau merusak suasana hati sepupunya.

***

Di bandingkan dengan Olen, Nania adalah wanita yang cantik berambut sebahu dan berkulit putih penampilan trendi berkemeja dan bercelana jeans, tingginya 168cm berat badannya 70kg dia juga pintar namun tidak kutu buku seperti saudaranya itu. Sejak semester dua dia menyukai Bastian, namun dia tak berani untuk berkenalan dengannya. Olen yang melihat ketidak beranian Nania mengenal Bastian mempunyai inisiatif untuk mengenalkan mereka di selasa pagi besok tepat sebelum jam pertama di mulai,  karena dia lebih dulu kenal dengan Bastian walau itu dengan tak sengaja, dia tak memperdulikan isi hatinya dia hanya ingin sepupunya bahagia kalau jodoh tak akan kemana jadi ya santai sajalah, dia berguman dalam hatinya.

****

Selasa pagi yang di tunggu Olen pun tiba, pagi itu dia sudah janjian dengan Tian melaui pesan bbmnya, Tian panggilan yang berbeda untuk Bastian darinya karena mereka suka bertukar cerita dan berbincang-bincang melalui media online. Tian sudah menunggu dekat papan pengumuman di lorong satu dan Olen pun menghampirinya tetapi dia tidak memberi tahu Nania, sehingga Nania mengikuti saja langkah dia. “Hy, Bastian kebetulan ketemu di sini.” Olen menyapa dan tersenyum, sehingga Tian pun bingung bukannya dia yang menyuruhnya menunggu di sini, padahal dia biasanya paling anti menunggu tapi entah kenapa untuk Olen dia melakukannya. “ Oya, ini kenalin sepupu aku dia sekelas sama aku” Olen menarik tangan Nania dan mengarahkannya ke Tian untuk berkenalan. “Ya ini yang waktu itu bareng kamu di taman kan Len?” “ iya benar, oh ya bentar ya aku ada perlu dulu ke temen aku anak Bahasa kebetulan dia pagi ini kuliah di ruang 302 jadi tepat ada di lorong satu ini, nanti kalian duluan saja ke atasnya aku sih nyusul saja. Nia nanti kalau dosen sudah ada sms aku ya” Olen mencari alasan dan menitip pesan, dia melangkah meninggalkan Nania dan Bastian berduaan walau hatinya tak karuan namun ini adalah kebahagiaan untuknya.

Olen melangkah menjauh dari Tian dan Nia, dia duduk-dudk di depan ruang 301 yang agak memojok dan tak terlihat oleh tian dan nia, “Tuhan, aku memang suka Tian tapi aku lebih bahagia kalau Nia bahagia, maka bantu aku tuhan untuk melupakan rasa suka ini” Olen berdo`a dalam hatinya. Dia lega melihat Tian dan Nia akrab berbincang dan melangkah ke lantai atas. Dia menunggu di sms barulah dia akan ke kelas karena tak ingin mengganggu mereka. Indikator di  telepon genggamnya menyala dan dia membuka sms yang masuk ternyata dari Nania memberitahukan kalau kuliah akan segera di mulai. Dia bergegas menuju lantai dua dengan sangat santai, dan dia mengetuk pintu kelas “permisi pak, saya sedikit terlambat tadi dari perpustakaan” maafkan aku Tuhan pagi ini aku berbohong, karena ini alasan yang paling aman. “ya, silakan duduk.” Pa dika mempersilakannya duduk dan memulai materi hari itu. Kali ini dia berjauhan duduknya dengan Nia karena deret sebelah kanan penuh dia mendapat deret kiri belakang agak memojok.

Di tengah-tengah perkuliahan ada bbm masuk dari Tian yang menanyakan keanehan yang tadi terjadi, dia pun menjawabnya dengan berusaha menyakinkannya “Maaf ya Tian aku lupa kalau aku harus menemui teman di jurusan bahasa tadi sehingga aku kenalin kamu sama Nia diakan sepupu aku masa kamu gak kenal nantinya, jadi kamu tadi gak marah sama aku hehehe, aku sok tahu ya Tian. Tapi gak marahkan?” Olen mencoba menjelaskan dan membuat kalimat yang membuat Tian tidak marah padanya. Selang lima menit balasan dari Tian pun sampai “ya Olen aku gak marah kok” kata-kata itu membuat olen lega.

                                    ***

Hari-hari berikutnya dia sedik demi sedikit menghindar dari Tian dan menjauhi Nia agar bisa berduaan dengan Tian. Untuk membuat mereka makin dekat Olen mengambil cuti kuliah untuk mengurus ibunya yang sedang sakit dan membutuhkannya di rumah karena Olen anak perempuan satu-satunya dan saudaranya yang tiga adalah laki-laki. Tanpa sepengetahuan Nia dia pulang ke daerahnya, dia pamit pada Om dan Tante dan berpesan memberi tahu Nia kalau dia sudah tiba di rumah nanti, tante dan omnya itu mengerti karena dia sudah tinggal bersama mereka sejak lama. Sesampainya di dusun yang asri dan masih berudara sejuk masih banyak area sawah yang siap panen dan perkebunan teh yang juga siap panen. Nia hari ini ke kampus karena ada janji ketemu dengan dosen yang dimana nilainya kurang dan dia ingin perbaikan.

Sehingga Nia tak besama Olen yang tadi pagi masih berada di kamarnya. Tian aku berada di  sini semoga aku bisa melupakan rasa ini ke kamu. Di rumah yang sederhana ini dia meresa nyaman berada di samping bundanya. “bunda sayang cepat sembuh ya, Olen sayang bunda, jadi bunda makan ya ini bubur buatan Olen bunda” sembari senyum berkembang di wajahnya tangannya memegang sendok menyuapi bubur untuk bundanya. “terimakasih ya sayang, kamu cuti ya tadi tante di telpon bilang begitu, maafin bunda ya sayang merepotkan mu” “bunda sayang, ini sudah kewajiban Olen bunda, dan olen cuti pun bukan berati Olen gak belajar, Olen akan tetap berusaha jadi kebanggaan bunda dan ayah” “terimakasih ya cantik, bunda bangga punya anak-anak yang berprestasi dan berbakti seperti kamu dan kakak-kakak mu” senyum bunda mengembang dan mengunyah perlahan bubur yang di suapi oleh Olen.

                                      ***

“Olen….Olen….Kamu dimana?” teriak Nia saat pulang dari kampus. Aduh anak mamah sejak kapan pulang gak ngucapin salam malah teriak-teriak begitu. “Maaf mah, aku mencari Olen dia kemana ya mah?, kok aku gak liat dia. Di sms pun dia ga balas mah” “ Olen pulang dulu ke dusun, tante Arin sakit sayang dia butuh Olen di sana, tadi Olen gak kasih kabar kamu karena dia buru-buru sayang” mamah menjelaskan dengan nada yang membuat Nia tenang. “ya sudah mah, kalau begitu aku ke kamar dulu ya mah mau ganti baju dan nanti kalau ada teman Nia datang suruh duduk saja dulu mah” “ Teman atau pacar nih?” goda sang mamah pada Nia “ah, mamah mau tahu saja urusan anak muda…hehhee mamah kan pernah muda dulu gimana mah hehhee…” sembari melangkah ke kamarnya Nia menjawab dan balik menggoda mamahnya.

“Ternyata anak ku sedang jatuh cinta” si mamah hanya tersenyum. Tok…tok…tok…permisi Assalamuallaikum pintu pun di buka, “permisi tante, Nianya ada?” “silakan masuk nak, ini temennya Nia ya?Tadi Nia bilang kalau kamu datang suruh tunggu dia sebentar, kalau gitu tunggu saja dulu di sini tante kedalam panggilkan Nia dulu” “ baik tante” Tian pun menunggu Nia dan lima belas menit kemudia Nia datang dan dengan pakaian modisnya dia siap untuk jalan. “Hai Ian maaf ya lama nunggu tadi mandi dulu habis gerah tadi panas banget di luar” “ya gak apa-apa kok Nia santai saja” “Ian ini kenalin mamah aku, mamah ini Bastian tapi banggil saja Ian teman aku dia beda kelas tapi satu jurusan” Nia coba memperkenalkan mamahnya pada Ian begitu pun sebaliknya. “Bastian, tante. Tante aku permisi dan minta izin mau mengajak Nia jalan-jalan, bolehkan tante?” “ya, boleh. Tante titip Nia ya pulangnya jangan lewat jam  enam (magrib) ya” “ baik tante, asslamuallaikum” “waalaikum sallam , hati-hati di jalan” sambil Ian dan Nia mencium tangan mamahnya Nia dan mamahnya menilai bahwa Ian adalah laki-laki sopan dan baik.

Sekitar jam lima sore Nia sudah sampai rumah dan Ian gak mampir hanya menitip salam untuk mamah dan Olen dia sama sekali tidak berbicara tentang Olen. Nia dan Ian makin dekat dan akrab sering jalan bersama dan karena sering bersama saling merasa nyaman dia  menyatakan cintanya pada Nia dan Nia yang menunggu sudah lama tanpa pikir panjang menerima cintanya, dengan Nia Ian mulai agak berubah gak plin plan akan wanita yang dia cinta. Hari-hari berlalu begitu menyenangkan untuk mereka berdua, Olen pun terlupakan karena mereka merasa dunia milik berdua. Tak ada  kabar dalam bbm mau pun sms dari olen dan setiap mereka mengabari pun tak pernah ada jawaban.

***

Di dusun itu Olen merawan bundanya, hingga bundanya berangsur membaik dan sehat walau belum pulih benar. Dia bukannya tidak ingin membalas bbm dan  sms mereka namun dia tidak ingin masuk dalam hubungan mereka, karena aku masih belum bisa melupakan Tian karena ini cinta kedua yang dia rasakan dalam hidupnya. Sore itu di dusun hujan dan dia duduk menikmati setiap tetes air hujan yang jatuh di atas sebuah batu. Batu itu adalah aku dan air itu adalah rasa yang sedang aku lawan, lama kelamaan batu itu akan berlubang sama seperti aku lama kelamaan tak bisa juga lari dan membohongi perasaan ku sendiri.

Tiba-tiba Olen teringat akan bagaimana Tian yang plin plan itu, dia masuk ke dalam kamar dan menghidpkan laptopnya yang merupakan teman setianya dia memasang modem dan menkonekannya, setelah itu dia membuat akun email baru untuk menbuat alamat facebook dan YM baru, dimana nantinya dia akan meng add Tian dan mencari tahu Tian yang dia sukai itu sudah berubah atau masih saja sama seperti apa yang orang bilang selama ini laki-laki plin plan. Sudah di buat dengan nama yang sama antara FB dengan YM yaitu Dewi Sri dia memasang foto wanita cantik sedang berada di pesawahan. Malam hari sekitar ba’da isya Tian online dan mengkonfrim permintaan pertemanan Dewi Sri itu, akhirnya chating dan keakraban pun terjalin selidik punya selidik suatu ketika saat di tanya pacar dia bilang belum punya dan gak laku-laku sedangkan aku tahu kalau dia baru dua minggu yang lalu jadian dengan Nia, ternyata dia masih saja plin plan seperti dahulu, aku kecewa namun rasa itu tetap saja ada.

Keisenganku mulai dengan menanyakan kriteria wanita yang dia cari. Dia menyebutkan sejumlah kriteria dan itu sebagian ada di diriku namun aku harus diet dan make over alias merubah penampilan saat nanti selesai cuti. Seminggu dia merias diri, merawat rambut, tubuh dan kulitnya dan dia kini berbeda dari Olen si kutu buku dengan kacamata kuda tapi bagai putri kembang desa. Tampilan Olen sudah sangat sesuai dengan yang di inginkan Tian dan dia ingin Tian melihatnya tanpa berharap Tian menyukai dan menembaknya, besok Olen kembali ke rumah om dan tante dan lusa sudah mulai kuliah kembali. Olen berpamitan pada bundanya dan ayahnya, dan menitipkan pesan pada ayahnya kalau bunda tidak boleh terlalu cape. Dengan membawa sedikit oleh-oleh dia berangkat ke Jakarta.

***

Sampailah Olen di rumah tantenya, dan alankah terkejutnya tantenya yang saat itu hampir-hampir tidak mengenalinya, tante yang asik merawat bunga di halaman bedecak kagum. “ Olen sayang, kamu cantik sekali. Kamu sangat-sangat berbeda sampai-sampai tante tidak mengenali kamu barusan.” “tante bisa saja, oh ya tante ini ada oleh-oleh dari bunda” “ makasih ya sayang. Gimana kabar bunda kamu?” “sudah membaik tante alhamdulillah bunda sudah mulai bisa jalan-jalan santai karena cape katanya selama sakit banyak tiduran” “syukurlah, kalau sudah membaik. Kami kangen sayang sama kamu. Siapa nih yang bikin kamu berubah penampilan begini, biasanya kalau sedang jatuh cinta mau untuk berubah begini.” “aduh tante bisa saja, Olen jadi malu.”

Betapa akrabnya tante dan keponakannya ini. Setengah jam kemudian Nia datang dan Tian pun mampir dia bersalaman dengan mamahnya Nia dan Nia bersalaman dengan Olen, namun dia sama sekali tidak mengenali Olen begitu pun dengan Nia. “mah, ini siapa mah?” nia menanyakan siapa yang ada di ruang tamu rumahnya itu karena sangat penasaran. “ tanyakan saja pada orangnya langsung, kenapa tanya sama mamah, kan dia ada di sini.” Mamah senyum-senyum pada Olen. “perkenalkan nama saya Olen Putri Dewi.” Tian dan Nia kaget tak percaya, ini olen?? Nia dan Tian berkata hal yang sama dan secara bersamaan. Ya ampun beda banget, Nia berkata sambil menepuk lengan Olen dan Tian hanya menatap saja karena dia melihat gadis yang dia harapkan seperti pada kriterianya ada di depan mata. Olen pun bahagia melihat Tian suka dengan penampilannya saat ini dan dia tetap dengan tujuan awal hanya cukup Tian suka dengan penampilannya tanpa harus dengan cintanya karena tak mau Nia tersakiti olehnya. “aku pamit masuk dulu ya, cape mau bersih-bersih dan istirahat” Olen berpamitan pada yang lain dan tantenya kembali ke taman. Ditinggalnya Nia dan Tian yang sedang berbincang-bincang. Sampai akhirnya Tian pamit pulang dan Nia masuk ke dalam kamarnya.

***

Seperti seminggu yang lalu Olen online dengan akun Dewi Sri dan dia berkomunikasi dengan Tian yang ternyata sudah online dan mengirim pesan kepadanya, wi kamu tahu gak? Tadi sore aku bertemu dengan bidadari impian kriteriaku dia orang pernah dekat dengan ku. Aku kaget dan terkejut membacanya. Aku pun membalas sekarang kamu sudah bertemu dengan kriteria mu terus selanjutnya bagaimana? Dia menjawab lagi senjutnya saya akan mendekatinya dan kalau memang sama-sama suka mungkin jadian. Hati olen seolah berbunga-bunga namun segera dia teringat akan janjinya saat awal dia membuat akun ini dan merubah penampilannya.Oh ya Tian aku ini kemungkinan akan pergi ke pelosok daerah hutan gitu jadi jarang online makannya akun-akun  aku mau aku nonaktifkan dulu, nanti kalau sudah aktif lagi aku kabarin kamu. Ya tian ngerti kok, makasih ya wi dah mau kenal dan mau jadi sahabat dumay (dunia maya) ku senang kenal sama kamu.

Tak lama langsung saja aku non ektifkan akun FB dan YM itu. Dan aku menghilang dan tetap menghindari Tian, aku tak ingin larut dalam rasa ini dan ingin orang yang telah baik pada ku bahagia. Semester tiga usai dan masuk ke semester-semester berikutnya Tian dan Nia makin akrab dan Ku terus menghindari Tian. Bbm dan sms aku jawab seperlunya dan telpon pun tak pernah ku angkat. Akhirnya pada semester lima Tian melamar Nia dan mereka bertunangan, aku menyaksikannya di depan mataku, tapi ini sudah janjiku dan niatanku untuk membuat mereka bahagia aku tak ingin merebut Tian atau kembali menjadi Dewi Sri yang begitu dekat dengan Tian walau hanya di dunia maya. “Ya Tuhan kuatkan hatiku menyaksikan ini, aku tahu Kau pasti datangkan yang lebih baik dari dirinya, dan aku bahagia kalau Nia bahagia dan aku ikhlas kalau Tian bersama Nia dia bisa berubah walau saat awal kemarin ku kenal di dunia maya masih plin plan tapi dengan dia melamar dan bertunangan seperti ini berati dia serius”.

                                          ***

Skripsi pun selesai di buat dan sidangpun lancar tanpa kendala bulan depan wisuda dan saya akan bekerja, dua bulan kemudian Tian dan Nia menikah mereka nampak serasi sekali.  Aku turut berbahagia melihatnya, aku tersenyum dengan rasa yang tak pernah terbagi masih selamanya untuk Tian di hati ini dan mungkin akan berkurang atau bahkan hilang hingga akhirnya aku bertemu dengan jodoh yang sudah Tuhan berikan untukku. Dengan tersenyum simpul aku menyeka bening air mata yang hampir jatuh ini, aku tak ingin ada air mata di hari bahagiamu cintaku dan sepupuku. Hingga tak seorang pun tahu tentang rasa di hati Olen untuk Tian, mengalahnya untuk Nania, berpura-pura dengan akun Dewi Sri, dan yang jelas tidak ada yang tahu dia berubah untuk siapa, dan selamanya ini menjadi rahasia Olen dengan dirinya, hanya dia dan  Tuhan yang tahu, seperti janjinya dia akan bahagia apabila mereka orang yang dia sayang yaitu cintanya (Bastian) dan saudaranya (Nania) bahagia.

                                             ***

 

                                                                                  TAMAT

 Adhe Nitha Lolitha

 (04  Januari  2012)

 

11 Comments to "Janji Olen dan Sebuah Rahasia"

  1. adhe nitha  24 February, 2012 at 22:43

    @all: makasih buat komennya mas dan mba, salam kenal semua.

    ko han, lain waktu boleh juga tuh idenya…..(jd inget ms kuliah) piss ah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.