[Serial Masa Terus Berganti] Nasi Goreng Rindu Malam

Dian Nugraheni

 

Kadang-kadang, aku harus mengakui bahwa, betapa saktinya peristiwa turunnya sang hujan itu. Air yang tercurah dari langit, kadang disertai dengan thunder storm, geledek, guntur, dan kilat ini , bagiku bisaaa…saja dia menggiring ingatanku ke masa-masa lalu.

Seperti kali ini, ketika aku teringat satu-satunya saudara kandungku, alias Kakak perempuanku. Kami hanya berjarak usia 18 bulan, sundulen, kata orang Jawa. Karena jarak usia yang cukup dekat, dan sama-sama perempuan, maka hal ini menjadikan kami saangat dekat, saling mencari, dan saling mengasihi, meski sekarang kami berjarak sangat jauh.

Kakakku yang cantik ini, easy going banget. Bagaimana pun repot kehidupannya, sampai saat ini, dengan anaknya yang berjumlah lima orang itu, tetap saja dia nampak riang gembira. Sedangkan aku, kata orang, lebih banyak diam. Tapi sebenarnya, diamku ini bukan karena pendiam, tapi lebih sering karena aku suka melamun.

Kala itu, ketika aku hampir menyelesaikan kuliahku, Kakakku sudah menikah dan punya satu anak perempuan yang sangat pula cantik. Aku merasa, aku ini bukan hanya Buliknya, Tantenya, tapi lebih dari itu, aku selalu ingin berada dekat dan bersama anak Kakakku ini. Karena itu pula, Si Monik, begitu aku menyebutnya, jadi sangat dekat denganku.

Dan karena waktu itu Bapak Ibuku sudah meninggal, maka ketika kuliah libur, aku lebih sering pulang ke rumah Kakakku. Kali ini juga, si Monik segera teriak kegirangan ketika melihatku sudah sampai depan pintu rumahnya. Seperti biasa, Kakakku langsung membuat kopi Nescafe hitam dalam cangkir kesukaanku. Kami ngobrol di teras, ngalor ngidul sambil sekali-sekali ketawa ngakak. “Nanti malam makan apa..? Biasa..? Nasi goreng kesukaanmu..?” tanya Kakakku. Aku cuma mengangguk.

Malam pun tiba, Kakakku bertanya, “kamu mau ikut nggak beli nasi goreng..?”

Aku menggeleng, “Enggak ah, males, belikan aja.., pedes, krupuk dan acarnya dipisah, yang banyak, nasinya agak gosong ya..”

“Dasar pemalas lah kamu, maunya tau beres aja..,” hardik Kakakku penuh kasih sayang. Dan dia berangkat beli nasi goreng berdua dengan suaminya. Sedangkan si Monik, duduk manis denganku tanpa terganggu dengan kepergian Bapak Ibunya keluar rumah.

Kegiatan menggemari nasi goreng yang satu ini sudah berlangsung dua tahunan. Pokoknya setiap aku liburan sebulan sekali pulang ke rumah Kakakku, hampir setiap malam pasti aku minta dibelikan nasi goreng langganan Kakakku ini, yang hanya buka malam hari. Katanya, larisnya minta ampun, harus ngantri dulu. Yaa, wajarlah, enak kok..Anehnya, tak sekali pun aku pengen ikut beli sendiri.

Setelah Kakakku pulang dari beli nasi goreng, kami pun makan bersama, bungkusnya dari kertas dialasi dobel dengan daun pisang, kemudian kami alasi lagi dengan piring. “Rin, nasi goreng apa namanya itu..larisnya kayak apa sih..?” tanyaku.

“Ohh, nasi gorenge mas No to..? Nama tendanya Nasi Goreng Rindu Malam. Wuhh, laris tenan, sing ngantri bunyaknya pol. Sebenere si No ini dulu jual nasi goreng ideran, keliling kampung, tapi karena laris banget, maka dia bikin tenda di bawah pohon asem perempatan jalan sana tuh. Makanya besok malam ikutan yaa, si No juga nanyain kamu lho, katanya, kok beli tiga bungkus, Adeknya datang yaa, mbok ajak ke mari…gitu…”

Malam berikutnya, hujan baru saja reda, dengan agak terpaksa, aku pun mengikuti Kakakku menuju tenda Nasi Goreng Rindu Malam. Belum sampai di tempatnya, sudah nampak banyak sepeda motor dan beberapa mobil parkir di sekitar tenda, wahh, itu pasti pelanggannya mas No, pikirku.

Setelah beberapa lama, akhirnya giliran pesanan kami akan dibuatkan. Kakakku memperkenalkan aku pada mas No. Perkenalan ini membuatku harus banyak menguasai diri untuk menjaga ekspresi mukaku. Untung.., untung saja ekspresi wajahku selama ini adalah melamun, jadi moga-moga mas No hanya menangkap seraut wajah melamun yang sedikit tersenyum sebagai sopan santun.

“Ohh, ini to Adike Mbak Rin yang suka nasi goreng gosong, krupuke banyak, acare banyak.., wahh, yaaa, pokoknya mas No bikinkan yang paling enak..,” kata mas No.

Aku duduk di sebuah bangku, di depan agak menyamping dari tempat mas No berdiri ketika memasak nasi goreng, jadi aku bisa melihat dengan jelas wajah mas No dari sisi samping. Mas No terus saja ngobrol sama Kakakku sepanjang dia memasak nasi goreng, sedangkan aku masih saja, menahan rasa. Akhirnya pesanan tiga bungkus nasi goreng siap, kami membayar, pamitan pada mas No, dan segera pulang.

Sampai di rumah, Kakakku langsung ambil 3 buah piring untuk alas makan. Tapi aku menolak, “Rin, aku gak mau makan nasi goreng ahh..”

“Lahh, kepriwe sih, gimana sih, katanya tadi mau nasi goreng, lha mau makan apa..? Keluar lagi po, beli cap cay atau pecel lele..?” tanya Kakakku sedikit bingung.

Aku menggeleng, “Aku mau bikin indomie aja ahh..”

Akhirnya, Kakakku dan suaminya menunggu aku bikin mie goreng, lalu kami makan bersama di teras sambil ngobrol, “Kok kamu gak mau nasi goreng ki piye to, gimana sih..?” tanya Kakakku.

“Lha kamu, bertahun-tahun beliin nasi goreng buat aku, nggak cerita, mas No itu bagaimana..,” kataku.

“Lha bagaimana yang gimana to..” tanya Kakakku di sela-sela suapannya. “Lha kamu diajak kok ya nggak pernah mau. Kamu ini memang aneh..,” lanjut Kakakku.

Kataku, “kamu tau nggak tadi, aku kan duduk didepan mas No, lebih banyak agak ke samping deh.., selama masak nasi goreng tadi,  mulut mas No yang tonggos itu kan nyerocos terus, nahh, dalam cahaya petromax, nampak jelas bahwa mulutnya mas No itu trocoh, bocor, air ludahnya muncrat-muncrat bergerimis ke wajan…,”

Belum selesai aku bicara menggambarkan apa yang kusaksikan tadi, Kakakku sudah tersedak-sedak karena tiba-tiba tertawa. Sedangkan suaminya langsung ngakak tiada tara, “Woooh, jadi kamu nggak mau makan gara-gara liat mulutnya mas No yang muncrat-muncrat ke wajan to…ha..ha..ha…”

Setelah minum beberapa teguk, Kakakku bilang, “Jiaaannn, kamu iniiiii..tau begitu tadi nggak usah ikutan beli nasi goreng. Gitu aja kok dibahas lho…”

Suami Kakakku bilang, “Tapi bener juga lho Mah, berarti kita makan nasi goreng, yang bumbunya ditambahin muncratan ludahnya mas No…ha..ha..ha..” Sekali lagi Kakak iparku terbahak.

Jeda sejenak, seperti ada setan lewat maka kami terdiam bersama, berpikir dengan cepat untuk mengambil keputusan, “Asem ki.., aku terus nggak selera ni makan nasi gorenge mas No..,” kata Kakakku sambil meletakkan piringnya.

“Aku juga emoh ahh..,” kata suami Kakakku sambil meletakkan piringnya yang masih penuh.

Giliran aku yang terbahak, “ha..ha..ha..ha.., kalian ini lho, bertahun-tahun makan nasi gorengnya mas No, masak baru sekarang menyadari bahwa enak dan lezatnya nasi gorengnya mas No itu, karena bumbunya ketambahan muncratnya ludah mas No…”

Tapi kemudian, ada sesal dalam hatiku, “Sebenarnya sih, aku bukannya mau menghina mas No, lho, tapi itu kan kenyataan, lha terus mau gimana…., mana sepanjang mas No masak nasi goreng tuh, dia selaluuuu..saja ngobrol sama pembelinya. Itu kan berarti muncratan ludahnya itu kan juga sepanjang masa… ” Aku bingung juga mau ngomong apa.

“Wes, nggak usah dibahas lagi deh..Aku harus mikir lagi nih, kalau malam-malam pengen makan nasi goreng, mesti nyari ke mana lagi. Tempatnya si No itu paling dekat, sebenarnya juga enak, cocok..,”  kata Kakakku.

Sejak malam itu, aku tak pernah ingin dibelikan nasi goreng Rindu Malam lagi. Dan entah karena apa, lambat laun pun tenda mas No mulai sepi, dan akhirnya bangkrut. Mas No, entah ke mana, karena ketika dia tinggal di daerah situ, statusnya adalah mengontrak rumah bu Haji Murtono. Kakakku pun bilang tidak tau pasti kemana mas No menghilang. Ada yang bilang, dia pulang kampung ke daerah Bumiayu, kota asalnya.

Saat ini, ketika aku jauh di negeri seberang, dengan sebenar-benarnya aku berdoa buat mas No, semoga mas No masih sehat, dan moga-moga masih tetap berpenghasilan, baik dari jualan nasi goreng, atau dari kegiatan yang lain. Masih berguna kah doa ini.., karena ketika aku keranjingan nasi goreng Rindu Malamnya mas No, itu adalah sekitar 18 tahun yang lalu…

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Kamis, Thanksgiving’s Day, 24 November 2011, jam 4.27 sore

(Rindu..tak selalu berwarna biru.., aku ingin mengecatnya dengan warna ungu..)

 

11 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Nasi Goreng Rindu Malam"

  1. dian nugraheni  22 April, 2012 at 04:42

    haii..teman2 baltyra..he2.., makasih banyak sudah berhoek2 dengan nasi goreng bumbu muncratan idu…hixixixi…, sebenere disadari atau enggak, ternyata kita sering makan makanan yang bercampur dengan sesuatu yang jorok, bahkan kadang gak terpikirkan sebelumnya…saya paham banget soal ini, karena sekarang saya kerja di american Kitchen di sebuah deli di Washington, DC….

    Btw, kalau memang kita adalah penikmat makanan yang disajikan oleh orang lain….tutup mata dan tutup telinga, open your heart, your empty stomach will be verry happy to enjoy whatever food you got….he2…(semboyannya Iron Chef america, Open heart and empty stomach…he2…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *