Cermin

El Hida

 

“…maka di sinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok…”.

begitulah, budi menulis surat untuk Tuhan yang dikirimkannya lewat kali yang kesunyian.

“lalu apa yang kau tunggu untuk melanjutkan hidupmu?” Budi mendengar angin berkata.

suasana menjadi hening, sore menjadi pucat pasi. matanya berair seperti gerimis tengah malam. basah dan kesepian.

“aku ingin bunuh diri”

“APA? lalu apa maksud dari apa yag kau katakan tadi, budi???”

“aku lupa bahwa aku hanyalah perahu kecil di tengah laut. sedang gelombang selalu menerjang tanpa ampun. aku lelah, aku capek. perempuan-perempuan di sini semua menolak cintaku. mereka bilang aku bangsat. pengangguran. tak berguna. sampah masyarakat. bahkan ada yang bilang, aku kualat. karena dulu aku pernah menendang ibuku kgara-gara aku gak dikasih ijin untuk pergi ke kota.”

“lalu?”

“lalu apa? aku gak punya harapan lagi untuk hidup. semuanya hitam, sepeti mimpi yang terbuang. aku ingin punya kekayaan, tapi tidak. aku ingin punya derajat, tapi entah. lalu apalagi?”

tapi kau masih punya tangan dan kaki, Budi?”

“aaah, apa guna tangan dan kaki jika hanya kugunakan untuk ihwal yang percuma. aku bosan!!”

hujan menderas. bukan hanya di mata Budi, tapi juga terlihat dari jaTuhan air menampar wajah kali dan daun pisang yang melambai pilu.

“sekarang aku mau tanya, apa maksudmu mengirim surat kepada Tuhan dengan kata-kata seperti itu…”, tanya angin.

“aku berharap, Tuhan mengetahui keadaanku dari takdir yang telah diciptaNya.”

“Dia mahatahu, Budi, kau tak perlu begitu.”

“kalau Dia mahatahu, kenpa dia membiarkanku dalam keadaan begini….”

“aku tak akan menjawabnya untukmu, karena kau yang tahu jawabannya. hanya kau, Budi, kau!!”

air kali membandang. tak dihiraukan oleh budi. aornya semakin keruh. tak diindah juga olehnya. hujan semakin deras, deras, dan deras… sekali. angin bertiup seperti membabi buta. pohon kelapa tumbang membelah kali. tak juga diacuhkannya. hingga akhirnya…

BUKK!!!

Budi ditampar aliran kali.Budi terbawa arus, entah kemana, entah di mana dia tersangkut. Tuhan tak membalas suratnya.

 

9 Comments to "Cermin"

  1. el hida  9 February, 2012 at 07:12

    terimakasih semuanya, salam pagi sehangat kopi ya

  2. Ayu Sundari Lestari  6 February, 2012 at 21:16

    I like it

  3. Dewi Aichi  5 February, 2012 at 22:20

    El Hida…..salam hangat….pinjem cerminnya ya…!

  4. anoew  5 February, 2012 at 16:06

    Budi, ayo main sepakbola lagi.

  5. Kornelya  5 February, 2012 at 09:26

    Alam mengabulkan permintaan Budi. Salam.

  6. J C  5 February, 2012 at 07:05

    Asal bukan buruk muka cermin dibelah…

  7. el hida  4 February, 2012 at 19:38

  8. James  4 February, 2012 at 17:47

    One Saturday

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *