Menunggu Setan

F. Rahardi

 

Sudah beberapa minggu ini, Mbah Dodo tampak duduk-duduk di bawah pohon trembesi di pinggir jalan desa. Awalnya, orang-orang mengira, Mbah Dodo hanya sekadar ngadem mencari angin. Lama-lama orang mulai bertanya-tanya, apa yang sedang ditunggunya?

“Aku sedang menunggu setan!” Jawab Mbah Dodo setiap kali orang bertanya kepadanya. Biasanya orang-orang tidak berani bertanya lebih lanjut. Beberapa orang mengira Mbah Dodo sudah agak berubah ingatan. “Mungkin ia sedih lalu stres karena kata orang, cucunya yang jadi TKI di Arab sedang kena perkara.” Yang lain menimpali. “Bukan!  Beberapa musim tanam ini padi Mbah Dodo puso karena diterjang banjir. Itulah sebabnya ia pusing, lalu seperti sekarang ini.” Mbah Dodo tidak terlalu merisaukan pergunjingan orang-orang itu. Tiap sore ia tetap duduk-duduk di bawah pohon trembesi di pinggir jalan desa.

“Mbah, setan apakah yang Mbah tunggu di sini tiap sore?” Tanya Tiwi, salah seorang cucunya.
“Ya setan penunggu pohon ini.” Jawab Mbah Dodo mantap.
“Kok sudah lama belum juga datang Mbah setannya?”
“Sekarang ini kan sudah datang. Ya kamu itu setannya!”

Tiwi takut melanjutkan pertanyaan. Kalau kakeknya marah, ia tidak akan menerima uang jajan. Kepada orang-orang yang bertanya dengan santun dan serius, Mbah Dodo juga menjawabnya dengan santun dan serius pula.
“Begini ya Mas Andre, saya ini memang sedang menunggu setan, penghuni pohon trembesi ini. Sekarang memang belum datang, tetapi percayalah Mas Andre, setan-setan itu pasti segera datang.” Andre kaget.
“Setan-setan Mbah? Jadi setannya tidak hanya satu?”
“Benar Mas Andre, setannya banyak.”
“Berapa Mbah?”
“Ya tidak tahu. Mungkin empat, atau delapan, atau tujuh. Bisa juga sebelas.”
“Setannya menakutkan ya Mbah?”
“Ya menakutkan. Namanya juga setan. Tetapi setan juga cerdas. Agar manusia tidak takut, mereka akan tampil sebaik mungkin. Ada yang memakai jas, ada yang mengenakan batik, jarang sekali yang berkaus oblong seperti Mbah ini.”
“Apa aku boleh menemani Mbah duduk-duduk di sini menunggu setan?”
“Ya boleh saja to Mas Andre, duduk-duduk di sini kan gratis.”

Sejak itulah tiap sore Andre ikut duduk-duduk di bawah pohon trembesi, menemani Mbah Dodo. Kemudian Joko juga ikut, lalu Martin menyusul, dan dalam waktu dekat belasan orang rutin menemani Mbah Dodo duduk-duduk menunggu setan. Tiap sore, sepetak lahan kosong di bawah pohon trembesi itu jadi ramai. Orang-orang yang lewat di jalan desa sering bertanya-tanya dalam hati. “Itu orang berkumpul di bawah pohon trembesi, ada apa ya?” Ketika sudah banyak orang yang berkumpul di bawah pohon trembesi itu, Mbah Dodo mulai sering absen, dan lama-lama jarang sekali datang. Orang-orang tidak mempedulikannya. Sebab duduk-duduk di bawah pohon trembesi ini memang menyenangkan, dengan atau tanpa Mbah Dodo.

Pada suatu sore, orang-orang yang berkumpul di bawah pohon trembesi itu kaget. Tahu-tahu di batang pohon yang berdiameter lebih satu meter itu, telah terpasang gambar separo badan dari seorang laki-laki mengenakan jas, dasi, dan peci, dengan gambar partai politik, dan ajakan untuk mencontreng nama orang itu. “Mbah, Mbah Dodo, sekarang setannya sudah datang Mbah! Ayo Mbah, lihat sendiri kalau tidak percaya.” Mbah Dodo lalu mengikuti anak-anak itu menuju pohon trembesi di pinggir jalan desa. Mbah Dodo sangat terkesan demi melihat kegagahan dan ketampanan orang yang gambarnya terpasang di batang pohon itu.

“Itu kan gambar caleg, kok kalian bilang setan! Kalau yang punya gambar tahu, kamu akan dilaporkan ke polisi, lalu ditangkap dan dipenjara!”
“Yang bilang menunggu setan kan Mbah Dodo sendiri? Ya ini setannya kan teman-teman?”
“Betul!”
“Ya, benar, setannya sudah datang sekarang!”
“Iya, sekarang pohon kita ada setannya!”

Esoknya, orang-orang melihat ada satu gambar lagi tertempel disana. Esoknya tambah satu lagi, hingga beberapa hari kemudian seluruh batang pohon itu penuh ditempeli gambar orang. Ketika tidak ada lagi tempat tersisa pada batang trembesi itu, pohon lain yang lebih kecil juga ditempeli gambar. Ketika sudah tidak ada lagi batang pohon yang bisa ditempeli, tiang-tiang bambu dipancangkan, lalu diatasnya dibentangkan gambar-gambar orang itu. Seluruh desa jadi semarak. Di mana-mana ada gambar, ada umbul-umbul, ada spanduk. Sekarang Mbah Dodo sama sekali tidak pernah tampak duduk-duduk di bawah pohon trembesi itu.

“Mbah, sekarang kok tidak pernah duduk-duduk di sana lagi Mbah?” Mbah Dodo tidak menjawab, dan hanya tersenyum.
“Sekarang setannya banyak sekali ya Mbah?”
“Mau ikut nyontreng setan yang mana Mbah?”
“Hus, kalian ini jangan ngomong sembarangan. Mereka itu kan para calon wakil rakyat. Mereka itu orang-orang pilihan. Merekalah yang akan menyampaikan keluh-kesah kalian ke pemerintah.”
“Wuuuu!!!”
“Ya sudah. Kalau kalian mau mbalelo, nanti akan ditangkap polisi.”
“Wuuuu!!!”

Polisi memang benar-benar datang, tetapi yang ditangkap justru Mbah Dodo. Ia dibawa ke kantor polisi, dimintai keterangan, kemudian harus menginap disana beberapa hari. Tuduhan yang dikemukakan polisi adalah, Mbah Dodo telah menghasut masyarakat untuk tidak ikut memilih. Ia juga dituduh telah menghina para caleg dengan menyebut mereka sebagai setan. Banyak saksi yang memberatkannya.

“Benar Pak, sudah lama Si Embah itu mengatakan bahwa para caleg itu setan semua! Sumpah mati saya mendengar sendiri pernyataan Mbah Dodo itu Pak Polisi.” Selain ada yang memberatkan, ada pula saksi orang yang meringankannya.
“Mbah Dodo itu hanya duduk-duduk di bawah pohon, dan sama sekali tidak merusak gambar-gambar itu. Lalu apa salah dia?”

Polisi kemudian memang membebaskan Mbah Dodo, karena tidak cukup bukti untuk mengajukannya ke pengadilan. Dia dijemput oleh anak-anaknya, menantunya, cucu-cucunya, juga sebagian besar orang-orang yang pernah menemaninya duduk-duduk di bawah pohon trembesi itu. Mereka pulang lewat jalan desa, dan pohon trembesi itu masih tetap tegak dan banyak sekali ditempeli gambar-gambar. Sekarang di sana juga ada gerobak bakso yang mangkal. “Mbah, sekarang enak lo Mbah duduk-duduk di sana sambil makan bakso!” Mbah Dodo menjawab. “Tetapi jangan sampai larut malam ya? Aku takut setan yang sesungguhnya benar-benar datang!”

Cimanggis, 2009

 

9 Comments to "Menunggu Setan"

  1. Dewi Aichi  6 February, 2012 at 04:33

    Wuih…..ini ahlinya Pak Rahardi he he he….memang selalu menyentil.

    Cerita BU Nunuk..lucu ha ha

  2. nu2k  5 February, 2012 at 16:42

    Bapak Rahardi, saya bukan sdr tapi sdri.. Sekedar meluruskan gender saja.
    Sekedar informasi, di Belanda, kebetulan salah satu teman pria saya juga bernama Nunuk… Groeten, Nu2k

  3. Kornelya  5 February, 2012 at 09:34

    Setan-setan yang dibilang si Embah, ngga perlu ditunggu mencungul. Setiap hari, bosan lihat wajah petenteng mereka buat pernyataan berkelit dikoran. Didzalimilah, hanya Allah maha tahulah. Salam.

  4. J C  5 February, 2012 at 06:37

    Hhhhmmmm…pak F. Rahardi paling bisa menyentil…

  5. nu2k  5 February, 2012 at 03:06

    Ha, ha, haaaa… Mas Rahardi, kalau setan yang ada di rumah saya tidak perlu ditunggu lagi kedatangannya. Lhawong dia malah “menyambut”kami dengan membuat berbagai jeniss suara…..
    Saya jadi ingat waktu Oom saya alm. mengadakan rituiil untuk mengusir gangguan berbagai “suara” dan “ular” yang muncul di rumah yang pernah kami huni duluuu.
    Kangmas Rahardi, suatu hari oom saya datang menengok kami dan langsung berdiri di teras belakang. Setelah berbicara tidak jelas pada siapa dan dalam bahasa apa, tiba-tiba oom minta saya untuk mengupas kentang satu biji dan mengirisnya dalam bentruk dadu kecil. Setelah saya serahkan pada oom, langsung dadu-dadu kentang ini disebarkan ke arah atas. Sementara oom melakukan rituiilnya, sepupu saya yang berdiri di belakang oom saya berbisik:”Mbak Nuk, setannya, setan Belanda. Makan kentang”…. Kami tertawa-tawa kecil..
    Setelah selesai kami mendengar dari oom bahwa ketika sedang berbicara Tetua Setan yang ada di rumah kami minta syaratnya a.l. kentang sebelum dia menceritakan dimana asa semua suara yang ada di rumah kami. …Setelah syarat-syarat lain dipenuhi a.l. dalam bentuk tulang iga babi untuk yang di atas plafond kamar tidur (tidak ada satupun batu semen yang terjatuh); nasi tumpeng dengan gereh untuk yang bermain di menara air; kembang telon + kain putih untuk “ular” yang muncul di teras dekat dapur; “hantaran” yang kemudian ditanam di dekat pintu gerbang untuk suara yang memanggil-manggil pembantu dengan menirukan suara saya di dekat pintu masuk, percaya atau tidak percaya semua suara yang mengganggu di rumah hilang…..
    Setan betulan khan??? Gr. en welterusten, nu2k

  6. Linda Cheang  4 February, 2012 at 18:20

    setan itu, ya, begitulah.

  7. anoew  4 February, 2012 at 15:48

    Kalau Ketua Setan mungkin bukan di pohon yang itu. Sejenis mungkin, yg jelas pohon besar dan daunnya banyak.

  8. Sasayu  4 February, 2012 at 13:52

    Perumpamaan yg sungguh amat tepattt!

  9. Titin rahayu  4 February, 2012 at 11:44

    LOL….yeah merekalah setan-setan yg sebenarnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.