My “Dirty” Dumbbell

Sasayu – Helsinki

 

Halo sobat Baltyra, kali ini Sasayu menulis tentang alat fitness yang baru dibeli sebulan lalu, namanya ShakeWeight®. Si Mbah yang pertama kali menemukan alat ini saat sedang mengantar Sasayu dan adik berjalan-jalan di mall dekat rumah. Seperti biasa, si Mbah yang akhir-akhir ini agak freak tentang alat-alat kesehatan, langsung cuap-cuap mengenai keuntungan menggunakan dumbbell yang satu ini.

So, apa sih ShakeWeight®? Kalau sobat Baltyra mengetik produk ini di search engine, ini jenis dumbbell terbaru yang cara menggunakannya tidak diangkat seperti dumbbell konvensional, tapi di’shaked. Warnanya putih dengan hiasan metalik di sisinya. Mungkin karena mengetahui wanita itu gemar bersolek, lapisan metalik ini bisa untuk bercermin. Promosinya sih, karena pergerakan dynamic inertia, pembentukan otot-otot lengan jauh lebih efektif dibanding dumbbell biasa. Di iklannya lagi, disebutkan hanya butuh 6 menit setiap hari untuk mendapatkan hasil maksimal. Apa iyaaa?

Karena termakan omongan si Mbah, Sasayu jadi tertarik untuk beli untuk dibawa ke Helsinki karena berat si dumbbell hanya 1.25 kg. Keesokan harinya, setelah ngopi darat sama salah satu penulis kontroversial di Baltyra, Sasayu mampir ke toko alat kesehatan tersebut untuk  mencoba alat tersebut yang diakhiri dengan transaksi pembelian. Bodohnya, kok ya Sasayu ga ngecek-ngecek dulu harganya di tempat lain atau internet. Karena setelah dicek, harga ShakeWeight® termasuk biaya pengiriman ke Helsinki hanya separuh dari harga di toko tersebut. Sayangnya lagi, alat tersebut tidak bisa ditukar atau dikembalikan, apalagi si Mbah memang berencana membeli dumbbell yang lebih besar. Akhirnya Sasayu membeli lagi si dumbbell secara online.

Kembali ke Helsinki, setelah ngecek-ngecek di internet buat video tutorialnya, ternyata baru nyadar, banyak yang bikin joke mesum tentang si dumbbell, ya tentunya karena cara penggunaannya, yang menurut Sasayu paling lucu sih parodi dari Southpark. Seminggu kemudian, seorang teman mampir ke rumah, terus bilang, ”Sa, itu dumbbell lo kok mirip-mirip kayak V******r yak?”. Ancurrrrrr, langsung kita berdua ketawa guling-guling.

Kesempatan berikutnya adalah undangan makan siang dari tetangga pasangan Indonesia. Karena mereka penasaran, Sasayu balik ke rumah untuk menjemput si dumbbell. Boro-boro mencoba 6 menit, karena setiap 10 detik, kita sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi masing-masing menggunakan si dumbbell. Setelah kejadian-kejadian tersebut, Sasayu dengan segera mengurungkan niat untuk membawa si dumbbell ke laboratorium, rencananya kan biar Sasayu sambil bikin tugas sambil olahraga, yang ada nanti satu lab malah ketawa ketiwi cekikikan.

Di luar itu, sebenarnya si dumbbell lumayan efektif lho untuk membentuk otot bisep dan trisep. Karena memang tidak bohong, dalam 6 menit, otot-otot tangan langsung terasa pegal. Kalau dipikir-pikir, strategi marketingnya cukup yahud, justru karena exposure yang berlebihan dan iklan-iklan parodi tentang si dumbbell, semakin banyak yang penasaran dan mencoba. Saran Sasayu sih, menggunakannya di rumah saja, karena kalau rame-rame yang ada seperti kejadian di atas, kram perut akut. Baltyrawan dan Baltyrawati ada yang berminat untuk mencoba?

Salam olahraga,

30-01-2012

 

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

42 Comments to "My “Dirty” Dumbbell"

  1. lili  20 February, 2012 at 21:49

    sing di maksud…..keluarga besar baltyra…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.