Petanan (Mencari Kutu): Kebiasaan Yang Menghilang

Joko Prayitno

 

Kemajuan jaman rupanya telah menggerus berbagai kebiasaan masyarakat yang telah lama ada bahkan telah menjadi sebuah tradisi. Kebiasaan sepele tetapi bila kita cermati merupakan bentuk dari upaya masyarakat untuk mengatasi sebuah persoalan hidup. Salah satunya adalah kebiasaan mengenai kebersihan kepala. Bila jaman sekarang orang telah mengenal sampo dan sabun sebagai pembersih rambut dan badan, maka dulu sebelum kedua barang ini ada, masyarakat menggunakan “merang” yang dibakar dan direndam di dalam air setelah itu disaring, selanjutnya airnya digunakan untuk sampo. Kata sampo sendiri berasal dari bahasa Hindi champo, bentuk imperatif dari champna, “memijat”.

Laki-Laki Sedang Tjari koetoe 1867 (Koleksi: www.kitlv.nl)


Dua orang Wanita sedang mencari kutu di Jogja 1910 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Tetapi hal itu belum cukup, karena sering kali rambut menjadi sarang kutu yang membuat gatal kepala. Untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat di pedesaan di Jawa khususnya dan kepulauan Nusantara memiliki kebiasaan mencari kutu atau yang disebut PetananPetanan ini sering dilakukan diwaktu senggang ketika sedang beristirahat dan biasanya dilakukan oleh kaum wanita. Beberapa foto masa kolonial Belanda banyak memotret aktifitas ini, tetapi yang sering dilakukan bahwa petanan bukan sekedar mencari kutu tetapi juga merupakan interaksi sosial antara ibu dan anak, seseorang dengan tetangganya maupun kerabat lainnya. Interaksi sosial antar tetangga melalui kegiatan petanan biasanya juga dibumbui oleh gosip-gosip yang masa itu menjadi kontrol sosial dalam masyarakat.

Masa sekarang petanan sudah jarang dilakukan oleh masyarakat seiring muncul dan berkembangnya salon kecantikan dan spa untuk kebersihan dan kecantikan.

 

14 Comments to "Petanan (Mencari Kutu): Kebiasaan Yang Menghilang"

  1. probo  10 February, 2012 at 10:55

    petan yuk…angger ora metani salahe tangga hahaha ning metani uwan….

    mbak EL…..kutu pakempeditox udah nggak mempan je…..
    akhirnya beres dengan kapur ajaib bagus, saya kerik…lalu tabur di atas rambut, krukup beberapa jam, keramasi…beres!

  2. Dewi Aichi  7 February, 2012 at 16:34

    Elnino…lihat itu foto kedua..! Masa balita Anoew waktu ke tempat budhenya di Jogja……kan dia sepupuku….nak sanes ha ha..

  3. elnino  7 February, 2012 at 16:23

    Wah, Dewi nih, kecil2 sadis… Nyari kutu kok dithuthuki pake palu. Itu mah alamat modar sak uwonge…

    Eh, jangan salah lho…dua minggu lalu aku baru saja melakoni kegiatan yang mengasikkan plus rada2 menyebalkan ini. Critanya suatu hari waktu mau berenang si cempluk garuk2 kepala dg heboh. Ada puti2 di kepala tak pikir ketombe krn keramas kurang bersih. Setelah berenang aku baru cek dg teliti. Olala…!! Ternyata rambut anakku penuh dg telur kutu. Widih, bikin bergidik plus heran luar biasa. Hare gene? Kutuan?? Pdhl si cemplu ini paling rajin keramas.

    Usut punya usut, baru inget kalo salah satu mbak asisten waktu abis mudik lebaran ketularan kutu dari adiknya. Trus kubelikan peditox. Kirain mslh selesai di situ. Ternyata diam2 cempluk ketularan krn kalo lagi bobokin si kecil, si mbak ikut tiduran di kasur juga. Jadi pas anak2 pada tidur, kutunya pindah deh. Malah adiknya cempluk yg cowok juga ketularan… Hadeehh!!

    Jadilah wiken proyeknya adalah perburuan kutu n telornya secara berjamah krn ternyata budenya ketularan juga. Berbekal piring melamin utk nggites teroris kecil itu. Abis itu dikramas, n digosok pake anduk putih. Para kutu dari yg gendut item smp yg kecil2 spt titik pada nempel di anduk… Hiiii…

    Eh, tapi rupanya si cempluk ketagihan rambutnya diuyel2 (dirambah kata Kornelya ). Jadi malam2 dia minta dicari kutunya juga. Terpaksa berbekal lampu baca, rambut si cempluk digerilya sampai dia ngorok dg sukses

  4. Joko Prayitno  7 February, 2012 at 08:55

    Terima kasih atas segala apresiasinya….hanya mengingatkan budaya kita yang hilang saja….sambil mengenang betapa kasih sayang orangtua sangat besar kepada anaknya atau sebaliknya melalui aktifitas ini…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.