Oleh-oleh dari Masa Lalu (1): Totok Kerot

Osa Kurniawan Ilham

 

Liburan Natal dan Tahun Baru kemarin benar-benar kami nikmati. Harap maklum, sudah sekian tahun kami tidak bisa pulang mudik karena kesibukan pekerjaan. Dan liburan kemarin benar-benar terasa meriah karena kami semua, 4 bersaudara, datang berkumpul di Kediri merayakan Natal bersama bapak tercinta. Lengkap sudah kemeriahan kami karena suami, isteri dan anak-anak semua berkumpul. Terhitung ada 6 anak kecil plus 8 bapak ibunya yang berkumpul di rumah. Bapak pun terlihat senang dengan keramaian itu.

Sebelum berlibur kami sudah merencanakan bahwa dalam liburan ini selain akan mengunjungi tempat-tempat wisata untuk anak-anak, kami juga berencana untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat-tempat bersejarah di Kediri dan Jawa Timur. Kami ingin mengenalkan sejarah ke anak-anak kami, supaya kelak mereka tidak menyesal, masak sudah melanglang buana ke sana kemari tempat sendiri malah tidak disinggahi dan dikenal. Nah tulisan ini rencananya adalah serial kunjungan liburan kami ke beberapa tempat itu.

Tempat pertama yang kami mau kunjungi adalah arca Totok Kerot. Dulu waktu saya masih kecil, kami sering saling mengejek kepada sesama teman permainan, “Wajahmu itu loh, kok kayak Totok Kerot.” Padahal, saya belum pernah ke sana. Cuma waktu dulu bapak dan ibu guru sering menceritakan sebuah legenda mengenai Totok Kerot ini.

Katanya dulu ada seorang putri cantik dari Lodaya Blitar yang ingin menjadi isteri Sri Aji Jayabaya. Walaupun sudah dilarang oleh bapaknya, sang puteri tetap bersikeras berangkat ke istana Kerajaan Kediri. Dia sempat dihadang oleh tentara kerajaan, tapi masih bisa menang. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Jayabaya dan ngotot ingin diperisteri olehnya. Tentu saja sang raja menolak lalu terjadilah perang tanding antar mereka. Sang raja yang hampir mengalahkan sang puteri kemudian mengutuk sang puteri, “Kelakuanmu itu seperti buto (raksasa) saja.” Dan tiba-tiba saja sang puteri menjadi arca berbentuk raksasa perempuan. Itulah dongeng yang sering diceritakan guru saya dulu.

Nah, hari itu kami berangkatlah bersama dengan keluarga adik saya. Dari Desa Maron kami pergi kenyusuri jalan Gampengrejo lalu belok kanan ke arah Gurah. Serasa kembali ke masa kanak-kanak dulu karena pemandangan di sepanjang jalan adalah sawah padi menghijau dan juga ladang tebu yang begitu subur.

Kami sempat tersesat dan bolak-balik di jalan yang sama, setelah bertanya dengan penduduk setempat akhirnya kami mendapatkan petunjuk arah ke Arca Totok Kerot dan juga Petilasan Sri Aji Joyoboyo. Tidak berapa lama kemudian sampailah kami ke lokasi arca. Inilah arca Totok Kerot yang selama 30-an tahun telah membuat saya penasaran.

Arca Dwarapala “Totok Kerot”

 

Turis lokal

Jadi inilah arca Totok Kerot itu. Dia tepat berada di pinggir sebuah jalan desa yang membelah sawah. Berdiri sendirian di dalam areal berpagar besi dengan taman sederhana yang terjaga rapi. Arca seperti ini biasanya dinamakan sebagai arca Dwarapala, dalam ajaran Siwa atau Budha, arca semacam ini memang berbentuk monster menyeramkan dan berfungsi sebagai penjaga pintu gerbang sebuah bangunan suci atau malahan sebuah istana. Makanya saya jadi berpikir, jangan-jangan jauh di dalam sawah di belakang arca ini terkubur istana atau sebuah bangunan suci Kerajaan Kediri yang termashur itu.

Arca Totok Kerot ini berupa seorang raksasa perempuan berambut panjang dengan mata yang melotot. Yang mengerikan adalah dia berkalungkan untaian tengkorak manusia, bahkan hiasan di tangan kanannya juga berwujud tengkorak. Sayang tangan kanan dan kirinya putus. Biasanya tangan kanan Dwarapala memegang gada dan tangan kirinya memegang paha, atau sebaliknya. Kata orang sih tangannya putus saat dipakasa diangkut jaman Belanda dulu, tapi ada juga yang percaya kalau si arca yang tidak lain puteri dari Lodaya itu memang tidak mau dipindahkan dari tempatnya.

Saya berikutnya berpikir, Dwarapala biasanya memang hanya satu kalau bangunan suci yang dia jaga berbentuk kecil. Tapi kalau besar biasanya ada dua. Bahkan ada juga yang punya empat, delapan atau dua belas Dwarapala untuk menjaga bangunan suci di segala penjuru mata angin. Nah, kalau perkiraan saya benar, di manakah gerangan Dwarapala yang lain, temannya Totok Kerot tersebut. Hanya waktu dan penggalian arkeologi yang bisa mewujudkannya.

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 1 Februari 2012)

 

15 Comments to "Oleh-oleh dari Masa Lalu (1): Totok Kerot"

  1. Osa Kurniawan Ilham  7 February, 2012 at 19:04

    Mas Anoew,
    sayangnya selama liburan kemarin nggak ngelihat yang bening-bening mas. Soalnya sudah ada ibunya anak-anak tuh

    Salam,
    osa KI

  2. Osa Kurniawan Ilham  7 February, 2012 at 19:02

    Pak Handoko,
    Kata orang sih sih Totok Kerot itu perwujudannya sebagai raseksi, raksasa cewek tapi jauh dari seksi hi..hi…
    Malah kayak preman tuh, kalungnya aja tengkorak.

    Salam,
    Osa KI

  3. Osa Kurniawan Ilham  7 February, 2012 at 19:00

    Halo Mbak Linda,
    Benar, patung ini kelihatannya mewakili wujud Dewi Kali, ibunda Batara Kala.

    Salam,
    Osa KI

  4. Osa Kurniawan Ilham  7 February, 2012 at 18:58

    Mbak Nia,
    Pose yang gimana maksudnya? Pose mengundang atau gimana ? he..he..
    Tapi ngomong2 banyak orang yakin kalau arca ini ada penunggunya, jadi siapa tahu yang dilihat Nia adalah penunggunya.

    Salam,
    Osa KI

  5. Osa Kurniawan Ilham  7 February, 2012 at 18:56

    Mbak Dewi,
    Makasih Mbak, padahal Totok Kerot ini terkenal lho di Kediri. Tapi saya juga baru pertama kali ini ke sana.

    Salam,
    Osa KI

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.