Berbeda Itu Indah, Kawan!

Donald F.R. Sendow

 

Semakin kadar keimanan kita kuat semakin kita memahami perbedaan. Bahwa berbeda itu bukan kutukan. Bahwa berbeda itu bukan perlu dipersoalkan dan diperbantahkan. Berbeda itu adalah kekayaan yang dimiliki bangsa ini. Apa pun agama kita, seharusnya cermin kemanusiaan semakin menampak dalam prilaku kita. Dalam hidup kita. Suatu bangsa akan hancur kalau tidak bisa dan tidak biasa menerima perbendaan. Ibarat petani jagung, maunya yang ada disekitarnya harus tanam jagung semua, tidak boleh ada tomat, cabe, dan bawang. Dalam hal keagamaan dan keimanan, keseragaman adalah kemustahilan. Jangan menyeragamkan apa yang memang tidak seragam. Tapi belajarlah menghargai apa yang berbeda itu.

Ada satu cerita tentang seseorang yang beragama C yang dirampok dan siksa oleh sekelompok pemuda. Orang ini luka parah dan hampir mati. Lalu lewatlah seorang pemuka agama A yang sangat tersohor di kampung itu, penginjil hebat, memiliki umat yang sangat besar, tapi ia hanya menengok orang yang terkapar itu kemudian berlalu. Beberapa menit kemudian lewatlah seorang pemuka agama B yang begitu termasyur, alim ulama paling digandrungi, ia juga hanya melihat sebentar orang yang terkapar itu sembari berkata “sungguh kasihan orang ini. Insya Allah ada yang menolongnya nanti,” kemudian berjalan menjauh. Dan lewatlah seorang yang dianggap kafir karena belum menganut agama A atau B tadi, ia lalu menghampiri dan memapah orang yang sekarat itu, lalu membawanya ke rumah sakit. Semua biaya pengobatan ditanggungnya. Menurut Anda siapakah sesungguhnya “sesama manusia” bagi orang yang sekarat tadi? Tindakan siapakah yang mulia dan layak ditiru?

Saya trenyuh melihat bangsa yang bangkit melawan bangsa karena alasan membela agama dan bahkan diperuncing dengan membela Tuhan. Kita membenarkan pembunuhan dengan alasan membela Tuhan. Kita membenarkan perusakan dengan alasan membela Tuhan. Pertanyaannya, apakah Tuhan memang perlu dibela? DIA maha kuasa, maha mulia, maha hebat dan maha segala-galanya. Masihkah DIA perlu dibela manusia? Lalu atas dasar apa manusia membela Tuhan, ketika justru tindakan membunuh manusia lain, merusak hidup manusia lain yang notabene adalah juga ciptaan Tuhan yang lebih sering digunakan? Rasa-rasanya itu bukan membela Tuhan, tapi membela ego masing-masing dan kepentingan masing-masing, hal mana justru dibenci Tuhan. Bukankah tidak ada satu agamapun yang menghalalkan membunuh sesama manusia dan mengharamkan menolong sesamanya yang benar-benar butuh pertolongan (dalam arti positif)?

Ada banyak kasus di mana kebangkitan kembali agama-agama telah membangkitkan fanatisme keagamaan yang berlebihan dan cenderung brutal. Lihatlah bagaimana agama bisa dipakai oleh Iblis. Itu sebabnya, atas nama agama bom diledakkan di London, di Amerika, di Colombo, di Pakistan, di Afghanistan di Indonesia. Atas nama agama, orang dikejar-kejar, dikutuk, difitnah, dipenjarakan. Atas nama agama Gereja dan Mesjid dilempar, dirusak dan dibakar. Agama, tanpa sadar telah menjadi kekuatan yang demonis, kekuatan yang dapat digerakkan oleh Iblis.

Agama memang penting. Sangat penting. Tetapi yang harus kita pikirkan bersama bahwa betapapun pentingnya agama itu, ia cuma alat bukan tujuan. Oleh karenanya, jadikanlah alat tetap sebagai alat, dan tujuan sebagai tujuan. Agama untuk manusia bukan manusia untuk agama! Fanatisme agama yang berlebihan menjadikan kita tumpul dalam berpikir dan kerdil dalam bertindak, yang pada akhirnya menjadikan kita lebih mementingkan agama daripada sesama kita. Menjadikan agama jauh lebih penting dari manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Ketika demi hukum dan peraturan agama, kita menutup hati dan menutup mata bagi orang lain. Orang lain pun kita lihat sebagai musuh, hanya karena agamanya berbeda.

Lihatlah betapa tololnya Osama Bin Laden dan kawan-kawannya itu, apa yang mau dibela mereka ketika tindakan mereka hanya membunuh dan memusnahkan jiwa manusia? Sama tololnya dengan orang-orang yang membunuh perempuan Muslim dan anak-anak tak berdosa pada kasus Serbia beberapa tahun yang lalu. Atau mereka yang semena-mena menghabisi anak-anak dan perempuan pada setiap peperangan yang terjadi di Timur Tengah sana. Atau sama bodohnya dengan aksi seorang pendeta di Florida yang dengan hebatnya berteriak-teriak hendak membakar Alquran hanya karena ia sakit hati dengan pembangunan Mesjid yang akan dilaksanakan di sekitar ground zero New York City. Padahal ia tidak tahu sama sekali duduk persoalannya, ia tinggal di Florida dan hanya menonton lewat berita TV. Tindakan yang justru dapat menjadi percikan api yang berbahaya.

“Alangkah baiknya dan alangkah indahnya apabila saudara diam bersama dengan rukun” Kalimat syair lagu itu sangat indah untuk dinyanyikan dan dilakonkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana caranya? Tidak susah. Tidak banyak rumusannya. Perlakukan sesamamu manusia sebagai manusia. Homo Homini Homo. Lebih gampangnya pahamilah kata-kata ini: Saudara saya yang Muslim bilang “habluminallah dan habluminannas”.

Dan saudara saya yang Kristiani bilang: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu DAN kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Ada pengalaman luar biasa yang membuat saya terharu dan salut. Tentang hubungan kekeluargaan yang erat, di mana dalam satu keluarga berbeda agama bisa akur di bawah satu atap. Rumah keluarga itu saya istilahkan sebagai “Indonesia Mini”. Di rumah itu berbaur erat anggota keluarga yang Muslim dan anggota keluarga yang Kristiani. Ketik yang beragama Islam mengadakan shallat di ruang tamu, serempak di ruang makan yang beragama Kristen mengadakan ibadah. Tidak ada percikan api. Tidak ada gorok-menggorok. Tidak ada hina-menghina. Saling menghargai dan memahami ternyata merupakan kemestian. Menghargai dan memahami bahwa berbeda itu indah. Perbedaan bukan untuk dimusuhi tapi untuk dinikmati dan disyukuri.

 

8 Comments to "Berbeda Itu Indah, Kawan!"

  1. fdak tiel  27 March, 2014 at 03:26

    ada nya perbedaan disitulah letak keadilan TUHAN YME

  2. Donald  8 February, 2012 at 19:06

    tx all

  3. J C  8 February, 2012 at 16:37

    Donald Sendow, renungan apik sekali. Seandainya saja lebih banyak yang berpikir seperti anda…akan sedikit lebih damai dunia ini…

  4. R. Wydha  8 February, 2012 at 11:40

    bagus

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  8 February, 2012 at 10:01

    Saya malah rindu persamaan. Sejak lahir mungkin sampai mati saya selalu hidup dalam perbedaan dalam segala hal.

  6. anoew  8 February, 2012 at 09:59

    Tapi belajarlah menghargai apa yang berbeda itu.

    Sepakat.

    Masalahnya adalah jika si petani jagung itu (seperti ilustrasi di atas) memaksakan kehendaknya ke petani lain untuk ikut menanam jagung pula dan berkata, “hai petani yg tak tau manfaat jagung.., ayo ikut aku tanam jagung. Jangan tanam yg lain. Tak berguna dan niscaya tanamanmu itu akan sia-sia karena sesungguhnya, tanaman yang disukai dan disetujui itu hanyalah jagung!”

    Aha..!

    Akankah harmonis bisa tercipta jika begitu, wahai..?!

  7. Linda Cheang  8 February, 2012 at 09:33

    hidup itu terlalu indah untuk hanya diisi keributan mempersoalkan perbedaan. Berbeda itu indah.

    Vive la difference!

  8. Handoko Widagdo  8 February, 2012 at 08:39

    Thanks untuk renungan yang indah Pak Donald.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.