Uro-uro

Nunuk Pulandari

 

Dua minggu lalu mas Angki sekeluarga meninggalkan “gubug”  kami, di Belanda. Pulang kembali ke Jakarta. Kata “gubug” sengaja saya tulis dalam tanda kutip karena menurut poro sepuh: “Ora illok, wong omah tenan kok dipadaké karo gubug”…Tentang arti ora illok, saya kira kita semua sudah tahu. Pamali dalam bahasa Sunda.

Senangnya kalau ada saudara atau teman yang menginap,  kami jadi bisa mengobrol seru sampai tengah malam..Bisa masak enak dan banyak dan habis ludes..Dan bisa karaokean juga.. “Hmmm, wat wil je nog meer”: Kata hati saya. Sering obrolannya ya  hanya cerita yang sedikit berbau nostalgie. Seperti ketika keluarga pakdhé sering menginap di rumah kami yang besar dan penuh “penghuni gelap”di Kebon Kawung Bandung. Atau ketika kami ramai-ramai ke Jakarta dan berkunjung ke Cijantung. Dan juga entah mengapa kami banyak bercerita tentang poro ibu’s kami…

Sebelum kita lanjutkan ceritanya, sedikit tentang mas Angki. Dalam susunan keluarga, mas Angki sesungguhnya masuknya ya di kelompok kakak sepupu dari pihak ayah saya. Putranya pakdhe saya.  Jadi lebih tua menurut hiërarchie keluarga karena itu saya menyebutnya mas Angki. Walaupun dilihat dari segi usia masih lebih muda dari saya. Untuk membuat agak rumit sedikit ceritanya, perlu dijelaskan bahwa ayah saya dan pakdhe sesungguhnya mendapatkan pertalian persaudaraannya hanya karena ayah saya dipundhut jadi putera eyang yang sama.

Tetapi yang tidak dapat dipungkiri lagi adalah terjadinya pertalian persaudaraan yang erat  di antara ayah dan pakdhe . Sampai-sampai dimanapun ayah tinggal (dulu, hampir setiap 5 tahun sekali pindah karena ayah bekerja di Spoorlijn) selalu ditiliki dan diinapi… Dan juga di antara kami para putera puterinya, sering saling jumpa.. Itu sedikit latar belakang keluarga.

Teman-teman di Baltyra, selama seminggu mereka menginap di gubug kami. Tentunya banyak sekali terjadi percakapan tentang berbagai cerita. Salah satu percakapan yang membekas di otak saya ketika kami membicarakan tentang kebiasaan para ibu’s kami dulu. Dari obrolan yang ada ternyata kedua ibu’s kami mempunyai kebiasaan dan hobby’s yang sama. Menjahit, membuat kue kering, jalan dan nggremeng-nggremeng menyanyikan sebuah lagu dengan perlahan yang kemudian kami sebut dengan uro-uro.

Foto 1. Budhe Mbung (panggilan akrab) dengan tante Gil

Kebiasaan dan hobby yang ternyata sekarang menular dan sering  muncul dalam  kebiasaan saya sehari-hari. Hal ini terjadi dan tercetuskan ketika mas Angki melihat saya sedang menjahit knoopjas yang terlepas sambil gemrenggeng melagukan “Jembatan Merah”. Mas Angki berkomentar: ”Dik Nuk, persis koyok  tante Pri (itu panggilan untuk ibu saya) dan ibu (budhé). Sambil njahit nggak lupa nyanyi–uro-uro..”.  Saya menjawab: ”Yo enggak toch mas. Oro-uro khan lain dengan nyanyi gemrenggeng”. Mas Angki hanya menjawab: ”Yo, yo…Tapi anggap saja itu uro-uro yang menunjukkan ketentraman hati dan kenikmatan dalam hidup”.. Saya setuju.. Nahhhh, setelah selesai menjahit  kita jadi ramai berdiskusi tentang uro-uro.

Foto 2. Ibu tercinta, eyang, Lei, Birrutte, saya sendiri  dan foto 3. Ibu beberapa tahun kemudian.

Kami jadi bernostalgi ria, bercerita ngalor ngidhul tentang kedua ibu’s kami dengan kebiasaan uro-uronya. Hanya dalam hal ini kami sepakat bahwa  arti dan istilah uro-uro sudah kami gunakan agak sedikit melesat dari arti seperti aslinya. Uro-uro dalam percakapan kami hanya berarti gemrenggeng menyanyikan lagu-lagu “indah” dan lembut yang menjadi lagu favorit. Lagu favorit yang ada dalam pikiran kita yang memebrikan rasa kenyamanan dan kedamaian ketika kita menguro-urokannya.  Sedang arti uro-uro sesungguhnya adalah menyanyi perlahan untuk menyampaikan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan pada orang lain dengan secara tidak langsung tetapi secara  halus dengan tujuan agar effeknya justru lebih bisa mengena ke sasarnnya. Mungkin kalau dalam bentuk tulisan ya seperti sentilan yang ada dalam  tulisan bapak F. Rahardi: Menunggu Setan. Hanya effeknya kita tidak bisa lihat hasilnya secara langsung, tapi saya kira pasti mengenai sasarannya.

Memang ibu dan budhé kalau saya ingat-ingat kembali sering sekali ber-uro-uro.. Biasanya menyanyikannya dalam lagu berbahasa Belanda..Bagaimana tidak. Mereka keduanya memang mengenyam dan mempraktekkan  pendidikkan Belanda cukup lama antara lain juga dengan mengajar di Sekolah Belanda pada jamannya Ping Pak Besut. Jaman  duluuuuuu. Mereka berdua sering menyanyi, renggeng-renggeng saya kira selain hanya  untuk kenikmatan dirinya sendiri juga untuk menciptakan suasana bahwa mereka tidak sendiri.. Paling tidak ada suara yang menemaninya.

Foto 4. Ibu dengan salah seorang sahabatnya ketika sedang menjadi guru.

Saya kira mereka melakukannya juga untuk membunuh kesunyian yang ada ketika sedang mengerjakan sesuatu. Misalnya saya sering mendengar ibu beruro-uro kalau sedang menjahit, atau menata bunga atau sedang membuat kue kecil.Tentang kemungkinan beruro-uro untuk membunuh  kejenuhan “pekerjaan” yang sedang dihadapinya, saya rasa saya tidak pernah melihatnya.Mengapa saya mengatakannya demikian karena selama melakukan hal-hal itu ibu tidak pernah memperlihatkan wajah yang masam. Justru saya selalu melihat kegembiraan dan kepuasan, terutama ketika tiba saatnya saya dan adik-adik wanita harus mengepas roknya masing-masing…Jadi sambil melakukan kegiatan yang mungkin bisa disebut agak monotoon dan dilakukan seorang diri di sebuah ruangan yang cukup besar (rumah kami rumah Belanda) , ibu beruro-uro, menyanyi dengan perlahan untuk sekedar bisa di dengar oleh dirinya sendiri. Ibu  beruro-uro menyanyi renggeng-renggeng sekedar untuk bisa dinikmati sendiri di tengah kedamaian dan ketentraman suasana di sekitarnya….

Pembaca Baltyra dear, satu hal yang jelas dengan mendengarkan uro-uro kita bisa merasakan adanya ketenangan dan kedamaian di sekitarnya. Paling tidak di dalam ruangan tersebut. Dan ketenangan  dan kedamaian ini setidaknya juga akan  berpengaruh dan  terpancar dalam karakter dan pribadi dari para anggota keluarga yang mendengarkan dan mengalaminya.

Foto 5. Kami berempat dengan hobby yang sama beruro-uro, sedang latihan nyanyi..

Sekarang kalau saya mengingat kembali kemasa dulu dan melihat situasi ketika ibu sedang beruro-uro sambil membuat kue kering atau menjahit rok kami, teringat kembali suatu pancaran dari wajah ibu yang rupanya juga menggambarkan sebuah situasi keadaan bathin ibu pada saat itu. Hanya pada saat itu saya tidak dapat mengatakannya dan belum sejauh ini mendalaminya. Biasanya terlihat dari pancaran wajah ibu betapa tenang dan sumringahnya wajah ibu. Dari irama dan nada lagu yang tenang dan mengalun lembut terlihat situasi pikiran dan perasaan ibu yang rilexs dan sumeleh dalam melakukan dan menghadapi segalanya.

Suatu keadaan yang nrimo terpancar dari wajahnya bersamaan dengan  gemrenggengnya lagu yang ada. Bukankah gemrenggengnya sebuah uro-uro yang lembut dan mendayu indah dapat menggambarkan situasi kejiwaan yang membawakannya.  Juga sumelehnya hati yang mendendangkannya dalam menjalankan aktifitas yang ada bisa kita lihat dari pilihan lagu-lagu yang diuro-urokannya… Bukankah lagu-lagu yang dibawakan dengan tenang yang mendayu lembut dan indah juga menggambarkan hati yang penuh kedamaian, ketenangan  dan kepuasan dari penyanyinya.. Juga demikian halnya dengan beruro-uro. …

Foto 6. Ketika selesai “bernyanyi ria”, dengan wajah yang penuh kepuasan.

Saya kira untuk saat ini hal yang terlihat begitu indah ini sudah banyak dilupakan  orang dan tidak dilakukan  lagi. Dengan situasi dan kondisi kehidupan masyarakat yang hampir-hampir tidak ada waktu tersisa untuk “berleha-leha”,  hampirlah tidak mungkin lagi untuk  bisa menyerap dan menerapkan kebiasaan ini dalam kehidupan sehari-harinya.. Apalagi kalau kita tinggal di luar dan jauh dari masyarakat yang menganut budaya itu… Wouwwww…Amat dan sangat disayangkan. Mengingat dan  melihat effek dan hasil yang positief bagi ketenangan baik ditinjau dari segi kejiwaan maupun lahiriah dari para pelakunya.

Pernahkah teman-teman di Baltyra perhatikan wajah dan raut seseorang yang baru selesai menghadiri pertunjukan musik atau pagelaran gamelan atau setelah selesai beryoga ria dengan mendengarkan musik..Wouuuwww. Wajah-wajah yang ceria nampak seolah telah terbebaskan dari segala beban pemikiran yang ada. Jadi bisa dimengerti bilamana poro sepuh kita dalam kehidupan sehari-harinya terlihat begitu damai, tenang dan semeleh.

Foto 7. Dengan salah seorang sahabat yang selalu ceria.

Teman se Baltyra. Sejenis uro-uro yang juga sering saya lakukan adalah ikut renggang renggeng menyanyikan lagu yang sedang saya putar dari CD di mobil saya, terutama kalau sedang dalam perjalanan jarak jauh…Memang bukan uro-uro lagi tetapi mengikuti irama musik pilihan favorit saya yang dalam hal ini juga dapat menghasilkan effect yang tetap sama dengan kalau saya sedang beruro-uro sambil membuat kue, masak atau menjahit. Ketenangan dalam mengemudikan mobil dan dapat merasakan kedamaian di antara sesama para penumpangnya juga merupakan kenikmatan tersendiri….Ha, ha, haaa.. Bagaimana tidak nikmat dan nyaman mengendarai mobil , lhawong rmereka seringnya tertidur dan tidak berkomentar macam-macam…. Achhhhh….. ..

Mari teman-teman di Baltyra, kita sisakan waktu untuk beruro-uro di antara kesibukan kita sehari-hari. Hal mudah yang dapat memberikan rasa kepuasan dan kenikmatan bathin, kedamaian serta ketenangan bagi para pelakunya dan bagi orang-orang di sekeliling kita.

Foto 8. Bunga Mawar hasil silang baru.

 

***Hari ini, matahari bersinar dengan cerianya, walaupun udara masih -6 s/d – 12 derajat Celcius. Juga saya  kirimkan satu pot bunga Mawar,  menyambut sang matahari. Bunga Mawar hasil silangan salah satu Balai Pembibitan Bunga Mawar di Belanda. Tampak dedauannya yang super lebar dan tebal. Welll, bunganya tetap indah walaupun tampak mungil ***

 

77 Comments to "Uro-uro"

  1. samiko rahmat  28 February, 2012 at 08:07

    alm bpk sy jg sering ura-ura, kadang2 sering juga ngisi ular-ular ketika resepsi pernikahan, mungkin Mas Han perlu juga ngupas masalah ular-ular, tapi nyanyinya langgam jawa, ande2 lumut, kembang turi

  2. Juwii  23 February, 2012 at 18:00

    Ibu Nunuk… Terima kasih ceritanya… Seneng bacanya… Bunganya bagus sekali…

  3. nunuk  18 February, 2012 at 15:45

    Jeng Wiwiek, ooooo jadi transitnya dibatalkan? Of ga je een surprise maken.. Ha, ha, haaaa… Morgen kom ik weer thuis… Kali ini sedang ada di tempat gadisku, kok rasanya sudah lama nggak nengok… Ha, ha, haaa… Ya sudah ya jeng, het beste wens ik jullie toe. Met alles, en alles en alles… Kus, kus, kus, Nu2k

  4. wiwik  17 February, 2012 at 23:40

    mbaaaak Nuuuuuuk, maksud hati pingin mampir nuturi berliane mbak Nuk he he he ning kok montor mabure rak gelem menggok neng Zoetermeer…….nanti dikabari lagi ya mbak…..ks ks ks

  5. nunuk  17 February, 2012 at 22:39

    Jeng Wiwiek, mijn liefste. Matur nuwun masih menyempatkan untuk membaca uro-uro diantara persiapan keberangkatannya. Terus hari H-nya kapan jeng. Jadi mampirkah, sebelum melanjutkan perjalanan ke negerinya Lenin. Ditunggu kabar lanjutannya ya jeng. Saya tak ngumpulin “berlian” reenyek dulu, untuk nantinya dibarterkan dengan ticket ke tempat anda. Gr. en doe doei, Nu2k

  6. wiwik  17 February, 2012 at 10:53

    Lieve mbak Nuk, he he he rupanya hobby ibunda menurun ke mbak ya ha ha ha….. masak, uro uro….dan menjahit….masih ingat long dress merahku mbak??? yang dalam hitungan meniiiiit kecilin kiri kanan potong bawah dikiiiit ….menjadikan diriku cantik pada ulang tahun setengah abadku.. Terakhir bermalam di Zoetermeer berkaraoke dengan konco ngajeng setelah kita kelelahan bersepeda dari dari zoetermeer ke Delft……..kuangeeeeeen mbak

  7. nu2k  13 February, 2012 at 02:10

    Jeng Laniii, tak kiro TTS… Nggak tahunya TST… Ya sudahlah saya ikutan saja deh… Gr. Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.