Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Melongok Desa Kuno Dinasti Ming di Pinggiran Beijing, Cuan Di Xia

Thursday, 9 February 2012

Viewed 2607 times, 3 times today | 103 Comments |

Hennie Triana Oberst

 

Salah satu yang menarik untuk dilihat di Cina pada umumnya adalah masih banyaknya peninggalan kebudayaan lama, termasuk juga kota Beijing dan sekitarnya. Salah satunya adalah desa kuno yang letaknya sekitar 90 km arah selatan Beijing yang kami kunjungi ini. Hari Sabtu, tepat pukul 9 pagi kami memulai perjalanan dengan menggunakan mini bus dari apartemen yang memuat sekitar 20 orang penumpang. Jarak yang tidak terlalu jauh ini ternyata membutuhkan waktu tempuh yang relativ lama, sekitar 3 jam. Mulanya aku pikir pak supir salah mengambil rute jalan, tetapi ternyata perjalanan kembali juga menghabiskan waktu yang lebih kurang sama lamanya.

Cuan Di Xia yang terletak di lereng gunung ini dibangun pada masa dinasti Ming (1368-1644). Penduduk pertama yang menghuni desa ini adalah keluarga bermarga Han dari provinsi Shanxi. Belakangan semakin banyak generasi muda yang pindah meninggalkan desa dan mencari peruntungan yang lebih baik di tempat lain. Saat ini tercatat hanya sekitar 30 keluarga yang masih menetap di sana.

Desa Cuan Di Xia dilihat dari area pintu masuk

 

Hijau dan alami

 

Pemandangan atap desa

 

Bentuk puncak gunung di foto ini katanya menyerupai 3 bentuk binatang:

Yang paling kanan (agak terpotong) adalah bentuk kelelawar, yang tengah bentuk kura-kura, sedangkan yang kiri bentuk macan. Kisahnya tidak disebutkan.

Kami tiba di sana sekitar tengah hari, waktu yang tepat untuk menikmati makan siang. Setelah membeli tiket masuk seharga 35 RMB*/orang dewasa, (anak-anak gratis), sebahagian dari rombongan berpencar, masing-masing menikmati wisata sesuai keinginan. Sedangkan kami dan dua keluarga lainnya ditemani seorang pendamping dari apartemen yang juga sebagai pemandu wisata menuju salah satu rumah makan yang gampang dijangkau, tanpa perlu menaiki bukit.

Disarankan juga apabila mengujungi desa ini untuk mencicipi masakan daerah setempat. Hampir semua rumah membuka warung makanan.

Karena menu tertulis hanya dalam aksara Cina, maka pesanan kami serahkan pada pemandu wisata. Salah satu menu adalah jagung yang dihaluskan (menjadi seperti bubur), dimasak menjadi seperti kue, dipotong-potong bentuk persegi. Makanan ini mengingatkanku akan kue jagung yang sering dibuat oleh salah seorang tanteku di masa kanak-kanak dulu. Hanya sayangnya makanan yang aku cicipi tersebut berbeda sama sekali dengan kue jagung yang manis yang dulu sering aku makan.

Dapur di luar

Banyak juga yang memiliki dapur seperti ini, dan mereka menjual masakan tersebut pada para wisatawan. Kali ini kami tak berani mencobanya.

Jagung merupakan salah satu hasil pertanian di desa ini, sehingga makanan yang ditawarkan di warung-warung tersebut banyak yang terbuat dari jagung, juga terlihat di sana-sini penjual jagung rebus dan jagung bakar.

Alat penggiling jagung

 

Beberapa pemandangan lain di sekitar desa:

Sebahagian besar penduduk juga menjadikan tempat tinggal mereka sebagai penginapan. Kondisi kamar tidur dan kamar mandi yang disediakan juga beragam, sesuai dengan beragamnya harga yang ditawarkan. Kabarnya masih ada yang menawarkan penginapan dengan gaya tradisional, kamar tidur yang hanya dilengkapi kasur dan ditelakkan di atas lantai yang dialasi karpet, dan kamar mandinya berada di luar rumah.

Rumah-rumah yang menyediakan penginapan:

Bangunan rumah-rumah dari batu alam dan kayu, terlihat indah dalam kesederhanaannya dan sangat alami.Selain bangunan lama dengan arsitektur yang sangat menarik, yang cukup menyita pandangan mata adalah hiasan jagung yang digantung tinggi di bawah atap di sekitar pintu gerbang rumah-rumah tersebut. Menurut keterangan pemandu wisata, hiasan tersebut melambangkan kekayaan yang dimiliki mereka para penghuninya, juga harapan akan panen yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Rumah dengan hiasan jagung

 

Tanpa sengaja ketika menyusuri lorong-lorong desa aku menemukan satu temple kecil di salah satu pojok desa, tersembunyi dan terlindungi dinding.

Temple Wudao

Di penghujung perjalanan selain membeli berbagai jenis kacang-kacangan yang dijual di sepanjang jalan sebagai oleh-oleh, ada pilihan lain yaitu membeli cendera mata sebagai kenang-kenangan seperti foto di bawah ini.

Pohon dan buah labu yang banyak terdapat di sana

 

Cendera mata yang dijual. Kabarnya dibuat dari hasil tanaman dari desa ini

 

*[RMB/CNY 1,- nilainya sekitar IDR 1.400,-]

Terima kasih untuk redaksi dan sahabat Baltyra yang mampir membaca.

 

Share This Post

Posted by Thursday, 9 February 2012 on 10:24.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

103 Responses to “Melongok Desa Kuno Dinasti Ming di Pinggiran Beijing, Cuan Di Xia”

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »

  1. 20
    nia Says:

    yg ginian nih sy suka… foto2nya keren trus komen2nya gila hahaha…

  2. 19
    Ivana Says:

    Wah, photo terakhir selalu bikin inget Ang Chit Kong dan Hang Liong Sip Pat Ciang hehehe… Kalau ke daerah Chinatown, biasanya cukup banyak dijual.

    Waktu jaman saya peloncoan masuk universitas, para seniornya sangat2 terinspirasi dengan botol arak Ang Chit Kong ini, sampai-sampai semua junior diharuskan bikin botol minum dengan bentuk itu

  3. 18
    anoew Says:

    Pak Hand, soalnya waktu itu Ming Ga Tho punya hobi makan Cuwilanseng. Itu yg menyebabkan dinastinya tak bertahan lama.

  4. 17
    Handoko Widagdo Says:

    Hennie, menurut ahli sejarah, Dinasti Ming hancur karena raja terakhir bernama Ming Ga Tho. Coba tanya Mas Iwan apakah info ini benar.

  5. 16
    anoew Says:

    Hen, JC bukan makan kacang panjang yg menyebabkan dia bisa tinggi besar, tapi rajin mengkonsumsi kacang merah. Herannya, aku penggemar kacang kok gk bisa tinggi besar kayak dia..

    Haha bentuk vibrator?
    Banyak sih Hen, bentuknya macem-macem.
    Siapa yg pakai? Wah, coba tanya Buto aja yuk?! p

  6. 15
    HennieTriana Oberst Says:

    Anoew, memang bentuk vibrator seperti itu ya? Siapa yang pakai?

  7. 14
    HennieTriana Oberst Says:

    Anoew, hahaha… lho kok aku memerangkap diri sendiri ya lewat tulisanku. Masih ingat aja dengan kacang-kacangan.
    Bener aku suka kacang, dulu malah katanya kalau makan kacang panjang bisa tinggi. Jangan-jangan JC dulu rajin makan kacang panjang juga ya?
    Mau nge-les dari Anoew kok aku nggak bisa ya…..hahaha… Ketawa sendiri jadinya.

  8. 13
    anoew Says:

    Tapi kalau diliat-liat lagi, foto terakhir itu kok malah kayak vibrator ya… lengkap dengan bulu jagung pula hualaaah

  9. 12
    anoew Says:

    Memang foto terakhir itu seksi banget, meliuk kayak pingggangnya gadis dusun yang bertattoo. :-*

    Hen, di artikel Peri dulu itu ada kacang, lhaaaa sekarang di sini belanja kacang pula. Suka sama kacang ya? Kupikir aku aja yg suka kacang..

  10. 11
    HennieTriana Oberst Says:

    Linda, bentar lagi para pendekar silatnya bermunculan juga kok hehehe..

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)