Thursday, 9 February 2012
Hennie Triana Oberst
Salah satu yang menarik untuk dilihat di Cina pada umumnya adalah masih banyaknya peninggalan kebudayaan lama, termasuk juga kota Beijing dan sekitarnya. Salah satunya adalah desa kuno yang letaknya sekitar 90 km arah selatan Beijing yang kami kunjungi ini. Hari Sabtu, tepat pukul 9 pagi kami memulai perjalanan dengan menggunakan mini bus dari apartemen yang memuat sekitar 20 orang penumpang. Jarak yang tidak terlalu jauh ini ternyata membutuhkan waktu tempuh yang relativ lama, sekitar 3 jam. Mulanya aku pikir pak supir salah mengambil rute jalan, tetapi ternyata perjalanan kembali juga menghabiskan waktu yang lebih kurang sama lamanya.
Cuan Di Xia yang terletak di lereng gunung ini dibangun pada masa dinasti Ming (1368-1644). Penduduk pertama yang menghuni desa ini adalah keluarga bermarga Han dari provinsi Shanxi. Belakangan semakin banyak generasi muda yang pindah meninggalkan desa dan mencari peruntungan yang lebih baik di tempat lain. Saat ini tercatat hanya sekitar 30 keluarga yang masih menetap di sana.
Desa Cuan Di Xia dilihat dari area pintu masuk
Hijau dan alami
Pemandangan atap desa
Bentuk puncak gunung di foto ini katanya menyerupai 3 bentuk binatang:
Yang paling kanan (agak terpotong) adalah bentuk kelelawar, yang tengah bentuk kura-kura, sedangkan yang kiri bentuk macan. Kisahnya tidak disebutkan.
Kami tiba di sana sekitar tengah hari, waktu yang tepat untuk menikmati makan siang. Setelah membeli tiket masuk seharga 35 RMB*/orang dewasa, (anak-anak gratis), sebahagian dari rombongan berpencar, masing-masing menikmati wisata sesuai keinginan. Sedangkan kami dan dua keluarga lainnya ditemani seorang pendamping dari apartemen yang juga sebagai pemandu wisata menuju salah satu rumah makan yang gampang dijangkau, tanpa perlu menaiki bukit.
Disarankan juga apabila mengujungi desa ini untuk mencicipi masakan daerah setempat. Hampir semua rumah membuka warung makanan.
Karena menu tertulis hanya dalam aksara Cina, maka pesanan kami serahkan pada pemandu wisata. Salah satu menu adalah jagung yang dihaluskan (menjadi seperti bubur), dimasak menjadi seperti kue, dipotong-potong bentuk persegi. Makanan ini mengingatkanku akan kue jagung yang sering dibuat oleh salah seorang tanteku di masa kanak-kanak dulu. Hanya sayangnya makanan yang aku cicipi tersebut berbeda sama sekali dengan kue jagung yang manis yang dulu sering aku makan.
Dapur di luar
Banyak juga yang memiliki dapur seperti ini, dan mereka menjual masakan tersebut pada para wisatawan. Kali ini kami tak berani mencobanya.
Jagung merupakan salah satu hasil pertanian di desa ini, sehingga makanan yang ditawarkan di warung-warung tersebut banyak yang terbuat dari jagung, juga terlihat di sana-sini penjual jagung rebus dan jagung bakar.
Alat penggiling jagung
Beberapa pemandangan lain di sekitar desa:
Sebahagian besar penduduk juga menjadikan tempat tinggal mereka sebagai penginapan. Kondisi kamar tidur dan kamar mandi yang disediakan juga beragam, sesuai dengan beragamnya harga yang ditawarkan. Kabarnya masih ada yang menawarkan penginapan dengan gaya tradisional, kamar tidur yang hanya dilengkapi kasur dan ditelakkan di atas lantai yang dialasi karpet, dan kamar mandinya berada di luar rumah.
Rumah-rumah yang menyediakan penginapan:
Bangunan rumah-rumah dari batu alam dan kayu, terlihat indah dalam kesederhanaannya dan sangat alami.Selain bangunan lama dengan arsitektur yang sangat menarik, yang cukup menyita pandangan mata adalah hiasan jagung yang digantung tinggi di bawah atap di sekitar pintu gerbang rumah-rumah tersebut. Menurut keterangan pemandu wisata, hiasan tersebut melambangkan kekayaan yang dimiliki mereka para penghuninya, juga harapan akan panen yang lebih baik pada tahun berikutnya.
Rumah dengan hiasan jagung
Tanpa sengaja ketika menyusuri lorong-lorong desa aku menemukan satu temple kecil di salah satu pojok desa, tersembunyi dan terlindungi dinding.
Temple Wudao
Di penghujung perjalanan selain membeli berbagai jenis kacang-kacangan yang dijual di sepanjang jalan sebagai oleh-oleh, ada pilihan lain yaitu membeli cendera mata sebagai kenang-kenangan seperti foto di bawah ini.
Pohon dan buah labu yang banyak terdapat di sana
Cendera mata yang dijual. Kabarnya dibuat dari hasil tanaman dari desa ini
*[RMB/CNY 1,- nilainya sekitar IDR 1.400,-]
Terima kasih untuk redaksi dan sahabat Baltyra yang mampir membaca.
Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 [3] 2 1 »
Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 [3] 2 1 »
February 9th, 2012 at 17:11
Lhadalaaaah Sasayuuuu…. (Sambil ngelus dada sendiri, bukan sebelah), mosok vibrator ada yg segede labu?? Kalau ada tawon ngentup vibrator, itu pasti tawon sesat.
Eh, memangnya vibrator dibikin sesuai bentuknya ya, Sas? Bentuk apa sih? *polos*
February 9th, 2012 at 17:06
Di baltyra memang aliran sesat wkwkw….sesat maksudku apa saja OOT, uro uro nyesat ke ulo, eh manuk, dinasti Ming..sesat ke ngeres ngeres…jiannn…alat olah raganya Sasayu, kok ya ke vibrator..ha ha keselek bolu nih jadinya..
February 9th, 2012 at 17:02
Hennie, huruf di labu itu aku juga tidak bisa baca, karena kemungkinan 3 huruf Cuan Di Xia dijadikan satu dengan gaya kaligrafi. Kalau mau tanam sendiri, ujungnya dipotong, biji yang di dalamnya dikeluarkan, terus ditanam di pot, setelah mulai tumbuh harus dibikinkan penyangga atau bidang untuk tanaman merambat. Setelah besar dan panen, tengah-tengah labu diikat, terus dibiarkan saja sampai kering dan mengeras, jadinya akan persis seperti foto terakhir itu (minus tulisan tapi
)
February 9th, 2012 at 16:55
ya ampunnnnnnn…itu labu siapa gede banget gila……!
February 9th, 2012 at 16:55
Yang ngajari Sasayu ngeres jelas-jelas Kang Anoew, siapa yang mulai bilang vibrator, dumbbell-goyang segala?
February 9th, 2012 at 16:53
Mas Anoew: Laahhh, dumbbellnya Sasayu dibawa2…vibrator itu bukannya meniru aslinya, emang ada yang bentukannya kaya labu, kecuali kalo dientup tawon…

February 9th, 2012 at 16:44
Itu buah Labu, tinggal diseset-seset dikit, dipermak bentuknya sudah mirip kayak Dumbell, tingggal disesuaikan saja tingkat getarnya. Drrrrt… Drrrrrrtt..
February 9th, 2012 at 16:28
Ada Ming Ga Tho, Ming Gi Ro, Ming Se Ro, Ming Ke Mo…
February 9th, 2012 at 16:23
Aku punyaa si labu kering, dikasih sama Oom, katanya dibuat sendiri setelah mengeringkan si labu. Ga tau masih ada ga itu tanemannya di Purworejo. Kerennnnn, kalau nanti jadi ke Beijing lagi, boleh tuuuu mampir2 ke sini.
February 9th, 2012 at 15:59
Jeng Hennie, wouuwww. Masih asli sekali ya jeng.. Sampai beberapa kali saya mencari bentuk kelelawar, kura-kura dan macan…Rupanya saya masih harus banyak belajar dalam hal perbinatangan..Ha, ha,haaa.. Jeng foto terakhir sudah diambyarkan sama dimas Anoe dan dimas JC… Rupanya mereka berdua juga masig harus belajar ilmu tentang per”—–”an. Dilihat dari sisi mana????? Ha, ha, haaa..Wissss toch… Bubaran tenan….gr. .Nu2k