Melongok Desa Kuno Dinasti Ming di Pinggiran Beijing, Cuan Di Xia

Hennie Triana Oberst

 

Salah satu yang menarik untuk dilihat di Cina pada umumnya adalah masih banyaknya peninggalan kebudayaan lama, termasuk juga kota Beijing dan sekitarnya. Salah satunya adalah desa kuno yang letaknya sekitar 90 km arah selatan Beijing yang kami kunjungi ini. Hari Sabtu, tepat pukul 9 pagi kami memulai perjalanan dengan menggunakan mini bus dari apartemen yang memuat sekitar 20 orang penumpang. Jarak yang tidak terlalu jauh ini ternyata membutuhkan waktu tempuh yang relativ lama, sekitar 3 jam. Mulanya aku pikir pak supir salah mengambil rute jalan, tetapi ternyata perjalanan kembali juga menghabiskan waktu yang lebih kurang sama lamanya.

Cuan Di Xia yang terletak di lereng gunung ini dibangun pada masa dinasti Ming (1368-1644). Penduduk pertama yang menghuni desa ini adalah keluarga bermarga Han dari provinsi Shanxi. Belakangan semakin banyak generasi muda yang pindah meninggalkan desa dan mencari peruntungan yang lebih baik di tempat lain. Saat ini tercatat hanya sekitar 30 keluarga yang masih menetap di sana.

Desa Cuan Di Xia dilihat dari area pintu masuk

 

Hijau dan alami

 

Pemandangan atap desa

 

Bentuk puncak gunung di foto ini katanya menyerupai 3 bentuk binatang:

Yang paling kanan (agak terpotong) adalah bentuk kelelawar, yang tengah bentuk kura-kura, sedangkan yang kiri bentuk macan. Kisahnya tidak disebutkan.

Kami tiba di sana sekitar tengah hari, waktu yang tepat untuk menikmati makan siang. Setelah membeli tiket masuk seharga 35 RMB*/orang dewasa, (anak-anak gratis), sebahagian dari rombongan berpencar, masing-masing menikmati wisata sesuai keinginan. Sedangkan kami dan dua keluarga lainnya ditemani seorang pendamping dari apartemen yang juga sebagai pemandu wisata menuju salah satu rumah makan yang gampang dijangkau, tanpa perlu menaiki bukit.

Disarankan juga apabila mengujungi desa ini untuk mencicipi masakan daerah setempat. Hampir semua rumah membuka warung makanan.

Karena menu tertulis hanya dalam aksara Cina, maka pesanan kami serahkan pada pemandu wisata. Salah satu menu adalah jagung yang dihaluskan (menjadi seperti bubur), dimasak menjadi seperti kue, dipotong-potong bentuk persegi. Makanan ini mengingatkanku akan kue jagung yang sering dibuat oleh salah seorang tanteku di masa kanak-kanak dulu. Hanya sayangnya makanan yang aku cicipi tersebut berbeda sama sekali dengan kue jagung yang manis yang dulu sering aku makan.

Dapur di luar

Banyak juga yang memiliki dapur seperti ini, dan mereka menjual masakan tersebut pada para wisatawan. Kali ini kami tak berani mencobanya.

Jagung merupakan salah satu hasil pertanian di desa ini, sehingga makanan yang ditawarkan di warung-warung tersebut banyak yang terbuat dari jagung, juga terlihat di sana-sini penjual jagung rebus dan jagung bakar.

Alat penggiling jagung

 

Beberapa pemandangan lain di sekitar desa:

Sebahagian besar penduduk juga menjadikan tempat tinggal mereka sebagai penginapan. Kondisi kamar tidur dan kamar mandi yang disediakan juga beragam, sesuai dengan beragamnya harga yang ditawarkan. Kabarnya masih ada yang menawarkan penginapan dengan gaya tradisional, kamar tidur yang hanya dilengkapi kasur dan ditelakkan di atas lantai yang dialasi karpet, dan kamar mandinya berada di luar rumah.

Rumah-rumah yang menyediakan penginapan:

Bangunan rumah-rumah dari batu alam dan kayu, terlihat indah dalam kesederhanaannya dan sangat alami.Selain bangunan lama dengan arsitektur yang sangat menarik, yang cukup menyita pandangan mata adalah hiasan jagung yang digantung tinggi di bawah atap di sekitar pintu gerbang rumah-rumah tersebut. Menurut keterangan pemandu wisata, hiasan tersebut melambangkan kekayaan yang dimiliki mereka para penghuninya, juga harapan akan panen yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Rumah dengan hiasan jagung

 

Tanpa sengaja ketika menyusuri lorong-lorong desa aku menemukan satu temple kecil di salah satu pojok desa, tersembunyi dan terlindungi dinding.

Temple Wudao

Di penghujung perjalanan selain membeli berbagai jenis kacang-kacangan yang dijual di sepanjang jalan sebagai oleh-oleh, ada pilihan lain yaitu membeli cendera mata sebagai kenang-kenangan seperti foto di bawah ini.

Pohon dan buah labu yang banyak terdapat di sana

 

Cendera mata yang dijual. Kabarnya dibuat dari hasil tanaman dari desa ini

 

*[RMB/CNY 1,- nilainya sekitar IDR 1.400,-]

Terima kasih untuk redaksi dan sahabat Baltyra yang mampir membaca.

 

103 Comments to "Melongok Desa Kuno Dinasti Ming di Pinggiran Beijing, Cuan Di Xia"

  1. HennieTriana Oberst  18 March, 2012 at 21:12

    Mpek Dul, saya sudah jalan-jalan ke Wang Fu Jing, tapi nggak berani coba makanan yang masih belum biasa itu, masih belum kuat nyalinya. Di dekat tempat tinggal kami ada juga satu area makanan yang menawarkan kuliner tak biasa itu. Kolega suami saya yang nyoba, katanya enak, kriuk-kriuk gitu.
    Selama bek pek nggak pernah BBQ Scorpion ya Mpek Dul?

  2. mpekDuL  18 March, 2012 at 05:33

    Hennie, udah jalan2 ke Wang Fu Jing dimalam hari belon? Apa sudah makan scorpioen goreng jangkrik goreng, walang goreng ? Gurih loh rasanya !
    Mpek sendiri waktu itu nggak berani makan karena takut mungkin scorpioen nya baru setengah mati dan malah menyengat mpek, dan akirnya nggak bisa bek pek lagi, kan berabe ?

  3. HennieTriana Oberst  14 February, 2012 at 08:12

    Alvina, terima kasih juga sudah mampir membaca.
    Nggak nginep kita waktu itu, karena perjalanan ini hanya tur sehari yang diadakan pihak pengelola apartemen. Lagian masih nggak berani nginap di sana, karena udara dingin, takutnya malam kedinginan
    Salam hangat.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)