Jelang Ujian Nasional (1): TPM

Probo Harjanti

 

Tahun ini, Ujian Nasional SMP dilaksanakan  satu minggu lebih awal  dibanding tahun lalu. Banyak sekolah kembali membentuk tim sukses UNAS, meski sebenarnya banyak yang agak alergi dengan istilah tersebut. Kenapa? Karena istilah tim sukses itu mengingatkan pada beberapa kasus yang mencoreng dunia pendidikan, karena adanya kecurangan yang dilakukan tim tersebut.

Ada beberapa sekolah yang membabi-buta berusaha membuat kelulusan seratus persen dengan jalan yang tidak lazin (curang). Masih ingat dengan kasus contek masal yang di sebuah Sekolah Dasar di Jawa Timur yang membuat geger? Juga bocornya soal, atau sms yang berisi kunci UN? Ada peran tim sukses UN di sana. Meski itu berawal dari ketakutan terhadap  penguasa daerah  setempat yang main ancam bakal memutasi  guru/ kepala sekolah kalau tidak 100% lulus.

Tidak semua tim sukses UN berlaku curang. Banyak yang berusaha membuat anak lulus dengan cara yang benar. Di antaranya dengan les-les di sekolah, lalu memperbanyak latihan. Latihan yang diadakan secara resmi oleh MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) di sebuah kabupaten tidak tanggung-tanggung, 7 kali! Latihan tersebut bernama  TPM (Tes Pendalaman Materi). Setiap TPM setidaknya dua hari, yang diadakan provinsi malah 4 hari sesuai dengan pelaksanaan Ujian Nasional yang sesungguhnya. Pada anak-anak didik saya, sering saya katakan ”semoga dahinya nggak kertiting, dan bergambar rumus”, saking sering nya didrill soal dan rumus. Semoga saja mereka tidak stress, disuruh belajar…belajar…dan belajar! Tidak boleh main, atau kegiatan olah raga dan seni yang menjadi hobinya.

Dulu saat masih bernama EBTANAS, ada PRA EBTA, tetapi hanya satu kali saja. Biasanya dari soal saat PRA EBTA bisa sedikit ditebak, dan guru-guru sudah titen (hafal). Kalau soal PRA EBTA dianggap sulit, dimungkinkan saat EBTANAS-nya justru lebih mudah, sebaliknya kalau PRA EBTANAS-nya mudah, EBTANAS-nya  nanti yang dianggap sulit.

Dengan banyaknya TPM, tentu ada pihak yang dirugikan. Yakni anak-anak kelas 7 dan 8, saat kelas III TPM adik kelasnya libur gantian. Misalnya TPM I kelas I masuk, kelas II libur. Saat TPM II dibalik, kelas I libur, kelas II masuk. Tapi tetap saja mereka kehilangan jam tatap muka dengan gurunya.

Kebanyakan TPM pelaksanaannya jatuh pada  hari Senin dan Selasa, artinya materi pelajaran hari Senin/ Selasa pasti ketinggalan dibanding kelas lain. Gurunya pun susah ketika materi yang mestinya selesai harus tertunda gara-gara TPM. Banyaknya TPM sebenarnya semakin mengkultuskan bahwa Ujian Nasional itu mengerikan. Makanya harus sering diadakan doa bersama khusus dalam rangka menghadapi Ujian Nasioal. Malah ada yang menggelar Mujahadah untuk menghadapi Ujian.

Aneh, apakah Ujian Nasional  sama dengan bencana? Mestinya ujian disikapi tidak berlebihan. Tapi, soalnya saja dikawal polisi, selama di gudang harus dipelototi, tak boleh ditinggalkan sama sekali, semakin membuat  tegang. Pernah terjadi polisi dilaporkan gara-gara ke kamar kecil saat piket menjaga soal UN, meskipun ada orang lain (kepala sekolah, penjaga malam, atau paitia lain). Masa harus pakai pempers, biar tak usah ke kamar mandi sih? Aneh saja, hal itu menjadi catatan. Kalau ditinggal pergi jajan, atau nonton bioskop lalu  dilaporkan ya wajar…..silakan saja dilaporkan.

 

30 Comments to "Jelang Ujian Nasional (1): TPM"

  1. Dj.  15 February, 2012 at 00:05

    probo Says:
    February 14th, 2012 at 22:10

    Salah PakDj…..
    senang karena mengajar pelajaran nggak penting, yang dipandang sebelah mata, dan dianggap tak berguna, atau memberi manfaat bagi masa depan siswa.
    ———————————————————-

    Bu GuCan….
    Apanya yang tidak penting…???
    Apa Kuri-Kulum nya yang tidak penting…
    Bu GuCan ki ngomong opo tho yo….???
    lho kok malah bikin Dj, bingung… Hahahahahahahahaha….!!!

  2. probo  14 February, 2012 at 22:25

    Mbak Dian dan DA…..
    ggak bisa ngomong lagi……

    hanya mencoba berbuat sesuatu sesuai porsi dan sebisanya

  3. probo  14 February, 2012 at 22:10

    Salah PakDj…..
    senang karena mengajar pelajaran nggak penting, yang dipandang sebelah mata, dan dianggap tak berguna, atau memberi manfaat bagi masa depan siswa.

  4. probo  14 February, 2012 at 22:07

    Dimas JC……..mbuh ah..bingung, .mbulet je!
    nggak mungkin cukup kalau dibahas di sini…….

    yang jelas, saya rindu kurikulum yang jadul banget…..
    jaman saya SD-SMKI, rasane kok lebih pas

  5. probo  14 February, 2012 at 22:04

    Titin…aku bingung kudu ngomong apa…….

  6. probo  14 February, 2012 at 21:55

    Mbak Lani, hahaha Pelangi kikancane SMP Anoew, hobine nyontek ditulis neng pupu……..
    Anoew ngewangi prose nyonteke…..

  7. Dewi Aichi  13 February, 2012 at 01:11

    Perasaan dan pengalaman saya sama seperti Dian, dalam mendampingi anak sekolah.

  8. Dian Nugraheni  12 February, 2012 at 23:36

    saya sebagai Ibu dari anak2 yang bersekolah di sini, di amerika, sampai hari ini belum mengalami ketegangan, ketakutan, atau kekhawatiran yang berlebihan tentang ulangan atau apa pun namanya tugas anak2 sekolah…sangaaaaat biasaaa…, sangaaaat manusiawi…kalau ulangan nggak selesai, bisa diterusin besokannya (ngerjain soal di komputer),bla..bla..blaa….
    Sangat menguras energi dan emosi kalau sudah bicara ulangan, atau ujian di Indonesia…apakah nanti2nya, entar2nya, ulangan, ujian ini akan membantu membentuk mental anak secara positif..?
    (Bermimpi adanya “pergeseran” sistem pelaksanaan kurikulum di Indonesia..yang menurut saya, terlalu berat…dan berat sebelah antara mengasah IQ dan EQ..), makasih banyak mbak Probo..notenya…

  9. Dj.  11 February, 2012 at 06:15

    Bu GuCan….
    Sekarang Dj. tau, mengapa bu GuCan miliih jadi guru tari-menari…
    Karena tidak mau pusing dengan segala macam ujian .
    Apalagi permainan curang yang bu GuCan sama sekali tidak senang….
    Apa sih yang tidak sewrawut ( kacau ) di Indonesia….???
    Salam manis dari Mainz.

  10. J C  10 February, 2012 at 14:53

    Haddduuuhhhh…tobat kalau membaca tentang dunia pendidikan Indonesia, makin lama makin semrawut. Beneran, dulu waktu aku sekolah, yang namanya EBTA lah, EBTANAS lah, nilai NEM lah, dsb, ya biasa saja kok, kenapa harus panik?

    Menurut pendapat dan pengamatanku:

    Sekolah-sekolah swasta dan negeri favorit, ambil contoh di Semarang yang aku tahu dan mengamati sampai sekarang: SMP Domenico Savio (almamaterku juga sih… ), terus SMA Loyola, Karang Turi, Sedes, YSKI, SMA 1, SMA 3 sebut juga di Jogja De Britto, di Jakarta dan sekitarnya Penabur, Ursula, Tarakanita, Theresia, Laurensia, sepertinya murid-murid dan guru-gurunya tidak panik-panik seperti kebanyakan heboh dalam pemberitaan di media-media. Apakah begitu berbedanya kualitas dan standard sekolah-sekolah favorit (baik negeri ataupun swasta) dibandingkan sekolah kebanyakan?

    Bagaimana menurut mbakyu Probo? Makin ngenes saja melihat pendidikan di Indonesia.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.