Speechless

Rina S – Bogor

 

Marah dan kesal. Saya kehilangan kata-kata untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum getir. Saya berpindah tempat duduk dari lantai ke kursi sementara perempuan muda di depan saya masih duduk di lantai. Posisi menghakimi?

Saya mendesah. Desah untuk penyesalan. Si gadis muda di hadapan saya terisak dan memohon maaf untuk kesekian kalinya.

Setahun lebih sedikit saya mengenal gadis muda ini lebih intens.  Orang yang saya percayai karena sejauh ini  tidak ada yang salah dengan tingkah lakunya; santun, pemalu dan tidak banyak bicara. Keluarganya pun sudah saya kenal karena tetangga ibu saya di Bandung. Kekurangannya hanya dia kurang memiliki inisiatif mengenai pekerjaan rumah tapi itu tidak jadi masalah yang penting anak saya Azka (3y6m) ‘dipegangnya’ dengan baik. Itu yang paling penting. Ya, apalah artinya rumah yang berantakan di bandingkan keselamatan si kecil? terlebih pencari ART yang dipercaya sukar.

Saya memberi kebebasan di hari Sabtu atau Minggu untuk dia keluar rumah. Mungkin pergi ke pasar bersama temannya sesama art. Tapi liburan itu jarang dimanfaatkannya karena tidak ada teman untuk jalan-jalan, ART lain saat hari Sabtu or Minggu nemenin anak majikannya ke mall

Sampai suatu hari dia memiliki pacar yang tak lain adalah pegawai waserba di perumahan tempat saya tinggal. Tiap Sabtu dia ijin keluar. Awalnya suami tidak setuju membiarkan dia keluar hari Sabtu untuk pacaran. Tapi kalau dikekang saya khawatir dia pacaran dengan pura-pura mengajak Azka bermain. Lebih baik di tegaskan, boleh ketemu pacar hanya Sabtu selain itu tidak boleh apalagi mengajaknya ke rumah atau janjian sambil bawa Azka. Suami setuju.

“Hati-hati. Pacaran banyak godaannya.” Kata saya setiap kali dia pergi pada hari Sabtu.

Tak lama kemudian pacarnya berhenti kerja dan jadilah penganguran. Minggu dan bulan berlalu dan pacarnya belum juga bekerja lebih tepatnya malas cari kerja. Seperti dicurhatkan dia pada saya saat saya tanya soal keseriusan hubungannya selama ini. Dari ceritanya, saya bisa membaca karakter pacarnya, malas dan brengsek. Minta ditraktir, minta dibeliin baju, hp dsb.

“Jangan dikasih. Kalau lelaki bener gak akan begitu.”

“Nggak saya kasih Bu.”

Saya pun menasehatinya untuk putus.

“Cari yang bener, supaya hidup kamu berubah. Minimal anakmu lulus sma. Syukur-syukur bisa kuliah. Rejeki itu ngikutin.”

Dia cuma mengangguk, kenyataannya tiap Sabtu pacaran dan tiap Sabtu pula saya menasehati dengan setengah ngomel.

“Meni ngekeuhan lalaki pangangguran.” Terjemahannya, lelaki pengangguran kok dipertahankan.

“Makan cinta mah gak kenyang.”

Bukan hanya saya, suami pun turut menasehati setelah saya ceritakan perihal pacarnya.

“Cari calon calon suami yang sholeh dan tanggung jawab,” nasehat suami.

Saya heran sekaligus kesal, dia masih mempertahankan pacarnya.

“Jangan takut dikejar umur. Baru juga 20 tahun. Saya nikah umur 27 tahun.”

Tapi begitulah mungkin suratan takdir. Dia masih meluruhkan air mata di hadapan saya dengan setengah terisak setelah mengakui kalau dirinya dihamili pacarnya.

Ingin mengusirnya tapi kasian. Atau mungkin ini salah saya karena terlalu membebaskannya? Saya memberinya libur di hari Sabtu atau Minggu sebagai bentuk penghargaan saya terhadap profesinya sebagai pekerja bukan pembantu seperti halnya saya membatasi jam kerjanya.

Ingin rasanya saya menampar lelaki pengangguran brengsek itu dan perempuan di hadapan saya. Tapi lebih tepat jika orang tuanya yang melakukan itu.

 

32 Comments to "Speechless"

  1. Alvina VB  13 February, 2012 at 22:00

    emmmmmmm….speechless juga….

  2. Lani  11 February, 2012 at 13:05

    21 AKI BUTO : kumattttttttt!

    KANG ANUUUU : bener dingklik tdk pernah membosankan…..dinggo penek-an, ganjelan, soale nek cm jinjit ora nyandak je wakakka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.