Terror

Anwari Doel Arnowo

 

Hari ini saya menerima email berisi conversation yang menurut pengakuan isinya di antara para sahabat, tetapi ada catatan di akhir berita itu: bahwa dia tidak bersedia berpolemik.

Saya juga idem ditto tidak suka berpolemik, karena biasanya tidak fokus dan bisa dikategorikan tangenting atau tanpa arah atau tidak menyentuh masalahnya, menyeleweng dari objectnya yang bahasa Jawanya adalah SELENGE’AN atau NGGLADRAH.

Masa ada lho  conversation yang membicarakan masalah perang dan damai dengan seru dan serius, eh malah ada yang bilang: damai bagi dirinya adalah bila sedang memeluk perempuan yang dia sukai. Ah, saya akui itu adalah haknya dia mau bicara apa, tetapi kata hati saya komentar seperti itu masuk ke dalam kategori tangenting.  Mungkin kata hati saya itu berlebihan? Kalau dijawab iya, maka akan saya jawab saja: SAYA TIDAK MAU BERPOLEMIK. Bereslah untuk sementara. Sementara? Iya itu benar untuk sementara, karena saya perlu mendinginkan pikiran dan semua reaksi, sehingga tidak mendapat stempel sebagai berlebihan. Terbukti juga kan, saya menulis yang seperti  ini, yang isinya dimulai dengan isi hati yang tidak tersalur sempurna. Kata saya lagi: mana ada yang sempurna di dunia ini?

Nah saya mulai tangenting sendiri kan?

Kita semua sesungguhnya telah melakukan tangenting. Apa sebab? Karena masalah yang kita hadapi adalah masalah global. Dipikir lebih dalam lagi: siapa yang sebenarnya menyuruh kita berpikir global? Terlihat bahwa jawabannya adalah diri kita sendiri yang menyuruh. Bukankah mindset kita itu adalah diri sendiri yang menjadi master atau majikannya? Jadi mau global atau mau lokal saja itu sesungguhnya ada didalam diri kita sendiri pemicunya (triggernya). Mau global, terserah diri kita sendiri. Mau lokal juga terserah, diri kita sendiri.

Dan tidak mau berpolemik ya diam saja, jangan menanggapi, karena dengan mengatakan saya tidak mau berpolemik, padahal sebelumnya telah didahului dengan menanggapi, itu terkesan seperti: saya harus sebagai orang yang mengatakannya terakhir kali (I will utter the last words) bukan dari lawan bicara saya !! Kalau orang Jakarta akan menjawab: “Enakk ajjjjjaa!!” atau “Enak di elu suse di gue!!”.

Saya gunakan istilah global dan lokal ini karena ada dikemukakan  di dalam sebuah buku yang sedang saya baca, belum habis, berjudul DUA TANGIS DAN RIBUAN TAWA ditulis oleh Dahlan Iskan (disapa populer di kalangan Perusahaan Listrik Negara dengan DIS) yang baru saja diangkat menjadi menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Sebelum jabatan sekarang, penulis ini yang seorang pengusaha dan wartawan yang kaya raya dengan penguasaan sekian puluh perusahaan utamanya media cetak milik sendiri, adalah bekas CEO (Chief Executive Officer)  PLN. Nah isi buku itu adalah cerita menyeluruh dari hasil komunikasinya selaku CEO dengan seluruh karyawan PLN yang tersebar di seantero Tanah Air sebanyak 50.000 yang disiarkan melalui jalur komunikasi intern PLN.

Judul komunikasinya adalah CEO NOTED. Buku ini tebalnya 349 halaman di luar Pengantar dan covernya. Pak DIS ini berhasil membuka banyak sekali simpul keruwetan karena manajemen Direksi sebelum masa DIS. Beberapa tahun sebelumnya terjadi manajemen yang birokratik berlebihan dan koruptif, berupa bentuk-bentuk ningrat berpangkat Direktur dan Kepala Ini dan Kepala Itu. DIS sudah berjanji tidak akan membawa orang luar (yang bukan dari PLN). Dia penuhi JANJINYA DAN JUSTRU MEMANFAATKAN SEMUA MEREKA YANG MEMANG SUDAH PINTAR DAN AHLI DAN MEMANG TELAH DIMILIKI DAN DIBUTUHKAN OLEH PLN SENDIRI, YANG SELAMA INI “TERPENDAM” DI TINGKAT BAWAH.

Saya sedang membaca buku ini di bagian yang menceritakan bagaimana PLN mengangkat harga diri PLN sendiri, dengan beroperasi dan berkonsentrasi penuh di masalah BiarPet yang resminya disebut dengan pemadaman bergilir. Mereka yang sinis, dulu menyebut dengan Menyala Bergilir, bukan Pemadaman Bergilir. Itulah sebabnya maka bagi PLN upaya menghilangkan BiarPet ini adalah harga diri PLN. Semoga kondisi sekarang yang sudah bebas BiarPet itu hanya mengenang masa lalu yang buruk itu sebagai sejarah saja, tidak berulang ByarPet atau BiarPetnya. Di dalam upaya ini DIS menerangkan bahwa Globalisasi condong melupakan masalah Nasional dan juga masalah Nasional melupakan masalah Lokal. Ini disebabkan di dalam PLN masalah di Pulau Sumatra dan Kalimantan dan Sulawesi dan Nusa Tenggara serta Papua tidak bisa sama dengan masalah di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa sendiri masalah Jakarta dengan Bogor dan Kediri pasti juga tidak sama. Itulah sebabnya diciptakan istilah GloKal yakni Global dan Lokal.

Saya pikir kita semua seharusnya juga berani menata diri dengan cara GloKal ini.

Tanpa terasa, saya telah memulai GloKal dengan menata diri saya dalam mendengarkan musik. Karena pada kenyataannya memang ada jenis klasik, pop dan rock dan boogie, serta calypsu, juga gamelan Jawa dan Bali sampai musik Aceh dan lain-lain di Papua, maka saya belajar mengunci, dan ini telah bertahun-tahun berhasil baik,  pendengaran saya, BUKAN TELINGA saya, di dalam batin saya. Musik Dangdut atau Rock Jreng Jreng Dor  yang saya tidak suka apalagi belum pernah saya dengar sebelumnya, saya “singkirkan” dari pendengaran saya.

Semua dengan diam-diam saja.  Caranya? Ah, saya yakin anda pun bisa melakukannya tidak usah saya beritahu caranya. Musik ini berjenis-jenis tetapi bisa secara kelompok disamakan dengan pendapat di dalam tulisan-tulisan serta diskusi-diskusi, perdebatan-perdebatan serta demonstrasi-demonstrasi yang macam apa sekalipun. Memang beraneka ragam, corak dan warnanya. Kalau melihat atau menyaksikan yang tidak sedap dan mengganggu begini, saya langsung meneliti dengan cepat, melihat atau menutup mata atau penglihatan serta berusaha menutup pendengaran dengan cepat, tanpa keributan yang berarti. Itu perlu cepat karena hati bisa memutuskan dengan lebih akurat, mau pergi dari situ atau cukup melakukan semuanya tetapi tetap di situ.

Ada lho tangenting yang bersifat luar biasa besar dan berskala internasional. Contoh?

Amerika Serikat (AS) paling sering melakukannya. Tidak sesuai dengan pendirian negara lain dalam mengatur kepentingan negaranya sendiri, oleh AS  dimusuhi secara frontal di semua bidang termasuk ekonomi dan kebudayaannya. Terjadi kepada Korea Utara setelah Perang Dunia ke dua, juga Viet Nam Utara dan Jerman Timur serta Korea Utara sekarang. Berapa puluh negara dimusuhi secara ini??

Yang menyedihkan adalah pidato Obama terakhir di upacara penyambutan kembali Tentara AS yang ditarik dari Irak, yang mereka sebut dengan ucapan AIREEKK, disebutkan secara detail matinya serdadu AS yang lebih dari 4000 orang, yang dikatakan brave serta telah mengabdi mempertahankan keutuhan AS dengan penghargaan tinggi.

Caranya? PRE EMPTIVE STRIKE.

Obama lupa seharusnya menyebutkan bahwa orang Sipil yang telah meninggal, hanya karena AS telah mengumumkan secara tangenting,  adanya Terror yang dimulai oleh Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal yang sudah dinyatakan tidak pernah ada itu. Berapa orang sipil yang meninggal di Irak, Korea, Viet Nam serta tempat-tempat lain seperti Sudan, Beirut serta Afghanistan dan Pakistan dan lain-lain negara? Kalau ini bukan tangenting, maka apa namanya? Bukankah industri AS mengalami untung karena adanya pembiayaan perang di mana-mana? Pembiayaan ini ditanggung oleh uang pajak rakyat AS sendiri. Tahukah anda ada yang menuliskan, saya lupa siapa, bahwa kalau hidup manusia itu seluruh dunia meniru tata cara hidup manusia AS maka diperlukan tempat sebanyak lebih dari lima Planet Bumi !! Uh, masa iya? Ah barangkali memang benar ! Saya tidak tau, lah !!

Saya melihat upaya bisnis yang didasari sikap tangenting yang berujung terrorism semacam itu. Lihat minyak, obat-obatan dan virus dan konsep bunyi undang-undang yang disiapkan oleh AS serta para pelaku kapitalistis yang didukung oleh banyak oknum di seluruh jagad, tentu saja tidak dengan resmi oleh AS, tetapi telah ditelan mentah-mentah oleh para Anggota dpr kita yang terhhorrmat, telah menghasilkan banyak undang-undang yang menguntungkan AS. Indonesia masih memiliki orang melarat sekian puluh juta oleh karenanya.

Juga Korea Utara, China, Kuba dan banyak tempat dan negara lain. Terrorism bukan saja oleh Amrozi dan kawan-kawannya tetapi juga Doktor Azhari, Noordin M. Top serta tertuduh Taliban dan lain-lain tetapi juga oleh pelaku bisnis dan orang-orang pemerintahan dari negara manapun yang lebih mementingkan urusan pribadinya dibanding dengan kepentingan Tanah Air atau negaranya. Mereka ini justru amat berbahaya bagi berlangsungnya perdamaian yang sesungguhnya. Jelas sekali pelakunya banyak yang cerdik pandai berpendidikan tinggi dan berkedudukan istimewa di masyarakat-masyarakat yang ada di dunia. Kami ini yang orang awam di bidang keamanan, di bidang intelijen serta ilmu pemerintahan dan ilmu keuangan serta industri telah selama puluhan tahun ditindas dan dikendalikan serta dieksploitasi oleh mereka ini.

Terrorisme bukan dimulai dari rakyat Mesuji di Lampung atau masalah-masalah lain soal ketidak-adilan. Mulainya bisa saja dari dan di kalangan atas di pemerintahan dan dpr atau oleh salah informasi intelijen.

Sekarang saya pun bisa bilang: saya tidak mau berpolemik !!!

Tahun depan pun, yang tidak menyenangkan seperti yang tersebut di atas, mungkin akan tetap sama saja.

Saya hanya mau mempertahankan diri sendiri saja terhadap serangan berupa apapun dari sekeliling saya.

 

Anwari Doel Arnowo

16 Januari, 2012

 

6 Comments to "Terror"

  1. Anwari Doel Arnowo  11 February, 2012 at 10:08

    Peran Amerika Serikat, J.C. ? They are downsizing, and going down and came along teh European..
    UN HABITAT (united Nations Human Settlements Program) dari PBB mencatat bahwa pertumbuhan penduduk urban di Asia itu tumbuh kemakmuran ekonominya dari angka yang pada tahun 1990 hanya 30%, saat ini telah menjadi 42% . Lihatlah dalam beberapa hari ini negara-negara Amerika Serikat dan Europa sedang mengalihkan investasinya sebanyak-banyaknya ke India, China dan Indonesia.
    Pergerakan investasi ke Indonesia ini jangan diakui sebagai hasil kerja Partai Demokrat lho ?!
    Ini gerakan ekonomi global yang secara alamiah sesuai investasi itu sendiri yang merupakan salah satu dari sifat economical animal.
    Kembali ke AS: Mungkin pada saatnya nanti Pentagon tidak akan bisa membiayai Kapal-Kapal Induknya dan mengubahnya menjadi pengangkut container yang berisi barang dagangan China yang diproduksi di Negara-negara Barat. Ha ha ha .. Biar begitu pada saat itu mungkin saya sudah tidak ada lagi di dunia ini.
    Anwari – 2012/02/11

  2. Anwari Doel Arnowo  11 February, 2012 at 09:49

    Terima kasih komentar-komentar topik kuno, yang sudah mulai tidak menarik ini.
    Kami sudah ter”biasa” dengan kebesaran Barat terutama Amerika Serikat dan Eropa. Tetapi kita harus menyadari bahwa kejayaan sedang berpindah ke arah Asia. Bukan saja China yang menjadi bintangnya, tetapi juga India bahkan Indonesia juga sedang bertumbuh baik sekali.
    Kajayaan yang diikuti dengan kekayaan sedang berkembang di Asia, di mana lebih dari separuh penduduk bertempat tinggal. Menurut statistik PBB sejak lama 50% penduduk urban berada di angka 50% dari jumlah penduduk dunia. Saat ini sedang berlangsung perubahan bahwa penduduk dunia akan mengisi 12 (di Asia) dari 21 kota-kota besar masinh-masing dengan penduduk sekitar 10 juta. Maka bisa diprediksikan bahwa pada tahun 2050an 70% penduduk urban di kota-kota besar itulah tinggalnya. Kenyataan yang ada manusia senang menjadi penduduk urban karena lebih sejahtera dan nyaman.
    Anwari – 2012/02/11

  3. J C  11 February, 2012 at 06:35

    Pak Anwari, saya juga tidak suka dengan model tangenting Amerika, suka mencampuri urusan negara lain, dsb. Tapi di saat yang sama saya berpikir, bagaimana bentuk dunia sekarang ini tanpa campur tangan Amerika, tanpa campur tangan model Rambo? Apakah lebih baik atau malah lebih buruk? Kita tak pernah tahu…

    Seingat yang saya baca, di tahun 1930-1940’an, Amerika sibuk dengan diri sendiri membangun perekonomian dan infrastruktur negerinya sendiri. Salah satu contoh adalah Empire State Building yang selesai dibangun 1931, dan sebelumnya Chrysler Building. Di PD 1 pun Amerika tidak terlibat mendalam dan terkesan cuek saja dengan perang di Eropa tsb.

    Bahkan ketika PD 2 baru mulai di tahun 1939, Amerika masih cuek saja. Baru setelah Pearl Harbor 7 December 1941, ngamuklah Amerika dan sejak detik itu menjadi negara yang suka mencampuri urusan negara lain sampai sekarang ini. Paling parah adalah era Bush Senior dan Junior.

    Tapi sekali lagi saya masih bertanya-tanya, bagaimana wajah dunia sekarang ini tanpa Amerika? Better? Worse? Entahlah…saya juga tidak mau berpolemik ah…hahaha…

  4. Linda Cheang  10 February, 2012 at 22:34

    ya, begitulah. polemik bisa bikin pusing.

  5. Kornelya  10 February, 2012 at 08:11

    Pa Anwari, Amerika tangenting minyak, demi lingkungan hidup tak mau menggali diperut bumi wilayah sendiri; ubek-ubek negara lain, dengan dalih “Membela” rakyat sipil. Salam.

  6. Handoko Widagdo  10 February, 2012 at 07:40

    Terima kasih untuk pemikiran yang mendalam Cak Doel. Dengan sistem komunikasi yang sudah sangat maju sekarang ini, masihkah kita bisa membedakan antara global dan lokal?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.