Windy Kumis

Anoew

 

Sore itu saat kembali dari lapangan yang panas berdebu dan cukup melelahkan, saya bermaksud minta kopi dulu ke pantry sebelum masuk ke ruangan, karena sepertinya enak kalau bisa ngopi dulu sambil meluruskan kaki ini gara-gara seharian tadi begitu banyak berjalan naik-turun bukit. Sambil menunggu pesanan kopi datang saya masuk ke ruangan dan segera tenggelam dalam keasyikan memeriksa tumpukan laporan hasil kegiatan di lapangan.

“Ini pak, kopinya”. Tukidul, mess boy kami itu mengangsurkan kopi dengan sopan.

Saya mengangguk, masih sambil memeriksa hasil data lapangan lantas bertanya kepadanya. “Gulanya berapa sendok, Dul?”

“Cukup manis pak”, jawabnya. “Seperti Windy”, sambungnya sambil nyengir.

Saya mengangkat kepala dan tersenyum geli.

“Memangnya dia manis, ya?”

Dia tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol, lantas berlalu.

Ah, ternyata memang betul bahwa  diperlukan pemanis buat pekerjaan seperti ini karena jika tidak sungguh terasa membosankan, kering dan gersang. Saya menggelengkan kepala dan mencoba berkonsentrasi ke tumpukan kertas kegiatan lapangan yang ternyata memang ada yang kurang dengan laporan ini, yaitu salah satu unit drilling belum memberikan statusnya dan ini cukup gawat, karena menjelang sore seperti ini seharusnya mereka sudah masuk base camp.

Lantas saya keluar ruangan menuju papan status di sebelah Radio Room, dimana saya lihat Windy sedang di sana dan tampak seksi dari kejauhan dengan betisnya yang tampil berkilau.  Sementara tak jauh dari tempat dia berdiri, suara operator radio ribut berteriak-teriak memanggil unit di lapangan sambil sesekali melirik-lirik ke pemandangan indah itu.

“Wind, unit Foxtrot kenapa belum ada laporannya?” Saya bertanya sambil mendekat. Begitu dekat dengannya malah sehingga saya bisa mencium bau parfumnya yang lembut, berbeda dengan saya yang berbau ‘sangat alami.’

“Ini pak baru aja masuk, itu mas Tuwetan lagi terima laporan”, jawabnya sambil menoleh.

Saya mengangguk-angguk, bukan sekedar mengiyakan namun lebih untuk menikmati segar nafasnya yang membuat saya tak sengaja menelan ludah. Lalu sambil menyimak apa yang sedang dikerjakan, saya memperhatikan dirinya dari samping, menelusuri lekuk-liku yang terdapat di sana. Sebenarnya sih maksud hati mau menyimak papan status, tetapi mata malah lebih terarah ke sosok makhluk halus ini yang ternyata menyajikan informasi-informasi lebih menarik.

“Apa paaaak..?” Merasa saya perhatikan terus-menerus, dia menoleh.

Wah, kaget juga kepergok. Saya menggeleng dan keluarlah kata-kata asal bunyi, “kamu rajin…”

Dia tersenyum geli, tapi tanpa mengatakan apa-apa dia melanjutkan lagi pekerjaannya.

“Nanti tolong aku dikasih tau ya Wind..”, akhirnya saya meminta kesediaannya untuk mengantarkan ke ruangan yang lalu dijawab dengan anggukan kepala, tak ketinggalan senyum manisnya.

Lalu saya pergi meninggalkan dia kembali ke ruangan dan tenggelam dalam keasyikan memeriksa kertas-kertas sialan itu yang mau tak mau harus dilakukan karena sudah menjadi tanggungjawab saya. Hmm.., ada satu lagi yang aneh. Salah satu unit tersebut berproduksi rendah padahal kekuatan personil dan peralatan sangat memadai, masih ditambah lagi air yang cukup dan kondisi litologi yang bersahabat. Tak mau pusing, saya singkirkan dulu selembar laporan unit itu dan beralih ke kertas yang lain.

“Paaak….”

Suara mendesah dan begitu dekat itu membuyarkan konsentrasi saya, apalagi dia mengangsurkan berkas itu dengan membungkukan badannya untuk mengintip apa yang sedang saya kerjakan.

“…ini susulan dari unit terakhir yang masuk, trus yang udah diperiksa tinggal aku input ke komputer ya”, ujarnya.

Saya menyambut berkas dari tangannya dan tak sengaja melihat sesuatu di atas bibirnya.

“Eh..?”

“Kenapa paaak..?”

“Coba sini lebih dekat.”

Dia menyorongkan mukanya dengan alis terangkat dan setelah saya perhatikan dengan cermat, memang benar bahwa ada sebaris kumis tipis di sana.

“Hmm..” Saya menggumam sambil tak sadar lagi, menelan ludah.

“Hihihi…,” dia terkikik sambil menutup mulutnya begitu tau saya mengagumi kumisnya. “Baru tau ya pak..?”

“Apa?” Saya berpura-pura.

“Kalau bibir aku seksi?”

Saya menepuk jidat.

“Iya kan?” Dia mendesak.

Saya mengangguk mengiyakan.  “Aku kira tadi bekas kopi..”,  jawab saya asal bunyi  mengomentari kumis tipisnya.

“Aku belum ngopi dari tadi koook…”, ia membasahi bibirnya lalu melirik kopi di meja saya dan, “minta dikit boleh ya, pak? Pengen!”

Belum sempat saya bilang apa-apa dia sudah meraih gelas itu lalu menyruputnya. Matanya merem. Indah. Tapi bukan itu yang membuat saya lagi-lagi menelan ludah melainkan, decap-decap suara bibirnya yang  beradu dengan bibir gelas  yang entah kenapa, terdengar seksi. Waaah, sungguh saya iri sama gelas itu!

“Huaaaaah panaaas, tapi enak…!” Dia meletakan gelas itu kembali seraya tersenyum lebar, membiarkan mata saya yang masih memandang takjub. Bukan ke gelas kopi yang isinya tinggal seperempat itu, bukan pula ke bibirnya, melainkan yang di atas bibir.

“Aku kan belum minum, Wind!” Saya memrotesnya.

“Lhaaaa…, kirain bapak udah minum?! Lagian diem sih..”

Saya heran kenapa kok malah disalahkan. “Kamunya sih nyrobot aja.”

“Iya deh nanti aku ganti. Atauuu…, mau kopi yang lain?”

Saya menyeringai lalu usil bertanya padanya, “aku mau kumismu aja, Wind. Boleh?”

Dia tertawa. “Kenapa?”

“Indah. Dan aku suka.”

Dia memajukan bibirnya sekian centi lalu menjawab, “difoto aja yaaa..”.

Maka dia berpose dengan berbagai gaya, sangat dekat.  Jepret… Jepret… Jepret.., saya hajar sepuasnya wajah itu dengan buas dan setelah selesai, dia menarik kursi lalu duduk di sebelah saya,  meng-upload ke komputer sambil ditingkahi komentarnya untuk menghapus beberapa gambar yang dirasanya kurang bagus.

Akhirnya saya berkata, “Wind, gantiin kopi aku dong.., yang ini biar kulanjutin”. Saya menunjuk ke monitor dan tumpukan kertas di meja. Sebenarnya sih kalau mau jujur, itu lebih untuk meredam rasa-rasa aneh yang mendadak timbul dengan kedekatan posisi kami tersebut.

“Oke. Berapa sendok gulanya?”

“Satu sendok aja, jangan terlalu manis.”

“Atau…., nggak usah pakai gula aja ya, aku kan udah manis.” Sambil tertawa dia berlalu ketika melihat saya mau mencubitnya.

Gemas, saya terpikir akan berbuat sesuatu ke si Windy nanti bila ia kembali mengantarkan kopi. Hm.. hm.. hm… saya berdebar-debar. Lalu sambil menahan senyum geli oleh bayangan rencana itu, kembali saya tenggelam dalam kesibukan memeriksa kertas-kertas itu, lembar demi lembar supaya nanti bisa diinput dengan baik oleh si Windy, tanpa kesalahan.

Tiba-tiba.

“Ini pak, kopinya..”

Lho?! Kok suara si Windy berubah? Segera saya mengangkat muka ke suara cempreng itu dan mengernyitkan dahi. “Kok kamu Dul? Bukannya si Windy?” Sungut saya ke si Tukidul yang kebingungan melihat protes saya.

“Tadi kata mbak Windy…?” Ucapnya bingung.

“Ya sudahlah, Dul. Itu kopi kamu minum aja, tiba-tiba aku jadi nggak mood. ” Tukas saya sambil berdiri lalu meninggalkan ruangan.

Lalu saya lihat dari balik pintu, si Windy menjulurkan lidahnya.

Ah. Lenyap sudah harapan saya mau menyentuh sedikit saja, ya sedikit saja kumis tipisnya itu.

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

78 Comments to "Windy Kumis"

  1. anoew  13 February, 2012 at 13:29

    Alvina, si Windy ini mungkin lahirnya di tepi pantai atau malah, di pinggir sawah. Karena banyak angin berhembusss lantas dinamakan seperti itu. Maklum, ortunya rada kebarat-baratan. Tadinya mau dikasih nama Anginwati kok kurang ‘menjual’. Pun nama Sri Kanginan, kurang modis dan trendi. Jadilah namanya Windy.

    Jujur saja, saya gemas sama kumis tipisnya, tumbuh malu-malu dan imut, rapi berbaris dan, menggoda. Cuma pengen pegang kumis sih, bukan yang lain. Entah kalau nanti-nanti..

  2. Alvina VB  13 February, 2012 at 12:55

    Lihat judulnya rada2 bingung tadinya kok Windy (berangin) bisa ada kumis ha..ha..ha……ternyata itu nama org. Kang Anu hati2loh….awalnya sich cuma mau pegang kumisnya Windy, lain waktu pengen …pegang yg lainnya gimana……..ingat istri dan anak di rumah ……..kl kapan2 masih penasaran sama kumisnya Windy….

  3. anoew  12 February, 2012 at 21:50

    Jabang bayiiiik…, aku nganti ngelus dada kiy..
    Wis Tungisor wae lah.

  4. Meitasari S  12 February, 2012 at 20:55

    tu umbel e njijik i ya? Wkwkwk. Ancur tnan kie…

  5. anoew  12 February, 2012 at 20:33

    Weeeh mbak Meitha.. Ojo turokno lah, opo maneh Tumangsang. Lha njur arep Tungendi? Tungisor?

  6. Meitasari S  12 February, 2012 at 19:46

    ih kak anu sadis! Wis turokno ae aja tumangsang yo …wkwkwk. Uedun tnan!

  7. anoew  12 February, 2012 at 19:39

    Lani, nanti kalau dirimu ke Jakarta, pegang pipinya Buto dan tatap mukanya baik-baik. Ingat, harus dalam jarak dekat, supaya keliatan kumisnya.

    Aku kok masih penasaran sama critanya DA tentang pernah satu kolam sama Iis Dahlia…, selain kumis, apalagi ya yg dilihat DA?

  8. Lani  12 February, 2012 at 04:53

    KANG ANU : wakakak…..mmgnya kumis aki buto saking cuilikkkkkkkk-e sampai hrs pakai suryakanta????? hahahah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.