Yang Mulia Enief Adhara
Artikel sebelumnya:
Dina memandangi Donny dan Anton yang sibuk menurunkan sebuah koper besar. Sebenarnya koper itu hanya terisi 1/2 saja, aneka baju santai, celana pendek dan peralatan mandi dan beberapa novel. Donny biasanya toh akan berbelanja di tempat ia berlibur.
Beberapa rombongan ABG terlihat tengah bercanda sambil sibuk membawa tentengannya masing masing. Beberapa turis asing juga terlihat mondar mandir. Donny sendiri mirip turis asing, berdandan sesantai mungkin. Memakai kaos singlet hasil modifikasi kaos yang digunting lengannya, celana pendek dan sneakers tanpa kaos kaki. Sebuah tas punggung warna hitam melengkapi penampilannya. Kacamata Hugo Boss warna hitam bertengger di hidungnya yang mancung.
*****
Pagi itu awal Donny memulai liburannya di Bali. Sekertaris-nya sempat menyarankan Ubud namun Donny lebih suka di kawasan Seminyak. Bagi Donny kabur dari rutinitas bukan berarti hidup menyepi dan terasing. Masih segar dalam ingatannya betapa Dina dan Anton menasehatinya agar tidak berbuat bodoh. Donny tersenyum sendiri, betapa kedua sahabatnya itu sangat menyayanginya.
Pesawat tiba tepat waktu di bandara Ngurah Rai, suasana bandara cukup hiruk pikuk walau di situasi low season, Donny celingukan di ruang kedatangan hingga akhirnya matanya berhasil ‘menangkap’ seorang memakai kemeja putih bercelana hitam tengah memegang kertas bertuliskan namanya, ya itu jemputan dari hotel tempatnya menginap. Donny menarik koper besarnya menuju pintu keluar. Namun pandangannya tersita oleh seorang pemuda berusia kisaran 25 nampak duduk diam di atas koper Tumi warna abu-abu silver. Wajahnya kuyu dan tak bergairah. Rasa iba hinggap di hati Donny, dan disapanya pemuda itu.
“Hallo, are you oke? ” Sapa Donny ramah. Pemuda itu mendongakkan wajahnya dan memandang Donny dengan pandangan sayu.
“Hmmm yeaah I’m fine …. Emmm no … I’m not oke” jawab pemuda aneh itu. “gue lupa urus penjemputan, jadi gue nunggu taxi, well tapi gue gak perdulilah mau naik apa juga” Lanjut pemuda itu seperti tanya jawab dengan dirinya sendiri.
Donny sebenarnya sudah ingin berlalu namun tiba-tiba pemuda itu berbicara lagi, “Lo nginep dimana bro? Kalo gue sih di Oberoi daerah Seminyak, yaa gue suka aja sama hotel itu walau makin hari hotel baru muncul bagai jamur”. Pemuda aneh itu memberi alasannya memilih Oberoi, walau tak ada yang perduli dengan alasannya.
Pemuda itu bangkit, dengan ogah-ogahan diangkatnya 2 koper ukuran sedang yang tadi didudukinya. Donny mencoba membantu, dan mereka kembali bercakap cakap, “wahh kebetulan banged, gue juga stay di Oberoi, kebetulan gue ada jemputan dari hotel, yuk bareng gue aja” Ujar Donny menawarkan jasa baik. Pemuda aneh itu sempat tersenyum lalu kembali berwajah muram.
“Nama gue Iwan, gue dari Bandung” Ujar pemuda aneh memperkenalkan diri, mereka berjabat tangan. Donny memandangi pemuda itu secara seksama, terlalu rapih penampilan Iwan, memakai celana bahan warna biru tua, kaos polo dan cardigans.
“Gue Donny dari Jakarta, salam kenal” Donny memperkenalkan diri, “ehh cepetan yuk, gak enak sama supir-nya tuh, udah nungguin” Ujar Donny seraya menarik koper besarnya. Iwan mengikuti dari belakang.
*****
Setiba di hotel, mereka sibuk sendiri sendiri mengurus kamar juga koper mereka. Di lobby hotel itu Donny baru sadar bahwa Iwan lebih mirip orang sakit ketimbang lelah. Donny juga mengamati 2 buah koper Tumi milik Iwan, “Huhh ke Bali bawa baju banyak-banyak buat apaan coba” begitu pikir Donny. Tak lama ia tersenyum sendiri saat memandang kopernya yang besar, “Ehh apa bedanya sama gue ya hehehe”
Ternyata kamar mereka berada berdekatan. Iwan menghilang di dalam kamarnya. Dan Donny tentu sudah tak sabar menaruh koper besarnya yang selama beberapa jam terakhir begitu membebaninya.
Kamar hotel itu cukup indah, gaya barat dan timur menjadi ciri khasnya. Hotel ini memang menjadi favoritnya. Dulu ayah ibunya sering mengajaknya menginap di sini. Dan tiba-tiba Donny begitu rindu pada kedua orang tua-nya yang telah tiada. Dipegangnya liontin perak model kapsul hadiah dari ayah ibunya saat ia berulang tahun ke 26. Itu hadiah terakhir, karena 6 bulan kemudian ayah ibunya tewas dalam suatu kecelakaan. Donny meletakkan 2 bingkai foto terbuat dari perak ukuran 5R. Satu bergambar ayah ibunya dan satu lagi bergambar Dina dan Anton.
Isi koper disusun dalam wardrobe dekat pintu kamar, alat mandi disusunnya di meja rias dikamar mandi. Gadget digelar di meja tulis. Kemudian direbahkan tubuhnya diatas ranjang dengan sprei putih dengan aplikasi batik, dipandanginya langit-langit kamar, ruang itu begitu sunyi, sesunyi hatinya. Bayangan Debby selalu muncul, semakin ingin melupakan semakin terbayang, semakin ingin melepaskan semakin sesak dadanya.
Jam Omega di pergelangan tangannya menunjukan pukul 12.20 waktu Bali. Ia pun memutuskan mandi, setelah itu window shopping. Pasti banyak kaos santai nan unik untuk dibeli, lagi pula baru disadarinya bahwa perutnya sangat lapar.
*****
Donny memutuskan makan siang, kakinya melangkah memasuki Chandi, sebuah restoran vegetarian bergaya etnik modern. Dipesannya minuman andalan bernama Chandi Spritzer, yang rasanya menyegarkan sekali, ia juga memesan salad dan Soy Cured Salmon sebagai main course-nya. Sambil menikmati segarnya minuman, Donny memandang suasana resto yang agak lengang. Tiba-tiba pandangannya beradu dengan Iwan yang duduk dengan seorang gadis berusia 22an. Gadis itu cantik namun menurut Donny tampilannya kelewat sexy.
Gadis itu rambutnya dicat warna maroon, memakai mascara hitam dengan eyeliner hitam yang dioles gaya oriental. Mata gadis itu indah, mata kucing istilahnya. Lip gloss warna peach membuat bibir gadis itu terlihat sexy. Atasannya hanya kemeja tipis ketat yang kancingnya dibiarkan terbuka sampai dada hingga bra bahan brokat warna peach menyembul membentuk buah dadanya yang padat, gadis itu memakai celana hot pant dengan sepatu platform menghiasi kakinya yang jenjang, tas anyam besar buatan Narciso Rodriguez warna merah tergeletak di dekat kakinya.
*****
Donny melempar senyum ke arah Iwan dan diluar dugaan Iwan malah bangkit dari kursinya dan mendatangi meja Donny yang berjarak sekitar 5 meter. “Hi Don, mau lunch juga nih? Sendirian aja? Keberatan nggak kalo kita gabung, pasti nggak lah yaa” Ujar Iwan seperti tak butuh jawaban Donny.
“Bolehlah, tapi maaf yaa, gue cuma pake kaos kanibal nih, sopan nggak yaa? Secara ada pacarmu tuh” sahut Donny sedikit tak nyaman, sejujurnya Donny tak menyangka bakal mendapat kawan di Bali, dimana ia ingin menyepi.
“Hahahaha pacar apaan? Itu Mira, gue juga barusan kenal kalee, cuek aja, justru aneh kalo di Bali tampil rapih” Sahut Iwan. Tanpa menunggu jawaban Donny, ia langsung melambai kearah Mira. Mira yang tubuhnya semampai langsung berkemas untuk pindah ke meja Donny. Mira melangkah dengan sexy bak seorang mega model.
*****
“Halooo gue Mira, dari Jakarta. Senangnya akhirnya gue dapet juga temen temen gaul. Gila aja bo gue udeh 3 hari di sini dan berasa garing gitu deh” Mira berbicara dengan suaranya yang serak-serak basah, dia duduk di kursi antara Donny dan Iwan. Donny mengangguk ramah dan juga memperkenalkan diri.
“Wahhh gue juga nggak nyangka jauh jauh ke Bali ehhh malah dapet temen temen baru” Sahut Donny sambil menyalakan rokok. Mira ternyata juga merokok. Dinyalakan rokok Marlboro black menthol dan dihisapnya dengan ringan.
Mira tiba-tiba mengusap lengan Donny yang kekar terlatih, “wahh badanmu bagus juga Don, pasti kamu rajin nge-gym yaa” Ujar mira sambil menelusuri bisep Donny dengan jari jarinya yang lentik. Donny agak salah tingkah, ia jarang bersosialisasi dengan gadis se-agresif Mira. Mira pun sadar tindakannya agak berani, “Aduhh maaf ya Don kalau aku sok akrab, maklum aku nggak biasa sok jaim sih, lagian badan kamu emang bagus kok” Sahut Mira tak perduli dirinya bakal dicap agresif atau apalah namanya.
Donny tersenyum, “it’s oke Mir, cuma gue mungkin beberapa bulan ini kebanyakan bertapa jadi lupa cara bersosialisasi, harap maklum ya” Donny berkata pelan sambil menghembuskan asap rokoknya.
Iwan yang pendiam rupanya penasaran dengan jawaban Donny. “Bertapa? Maksud lo? ” Tanya Iwan ingin tau. Mira mengangkat alis seolah memberi tahu kalau dirinya juga penasaran.
Donny jadi sedikit salah tingkah, dalam hati ia menyesal sudah curhat colongan, tapi kalau dipikir, kadang bicara dengan orang asing justru lebih bebas, all out istilahnya. “Hmm malu nih mau ceritanya, but oke, gue lagi ada masalah aja, hampir 3 bulan lalu gue putus sama cewek gue, gak ada ujan gak ada petir tau tau dia mau kawin sama orang” Ujar Donny lugas. Tangan Donny melinting-linting serbet yang ada di pangkuannya.
Iwan mendengus, lalu bicara “Ohh jadi elo lagi patah hati nih ceritanya? ? Hmmm sama donk sama gue !?”. Iwan meneguk juice semangka lalu melanjutkan bicara, “Cewek gue lanjutin S2 di Boston, dan tauk kenapa dia mutusin gue. Terserah lo berdua mau ngetawain gue apa mau ngehina, tapi gue jujur aja, abis keluar rumah sakit, gue nenggak Baygon, gue udeh nyaris mati”
Mira meremas tangan Iwan, “Kenapa mesti ngetawain atau ngehina elo Wan, kita tau kok lo nekad gitu karena lo kecewa dan kehilangan akal sehat”, Mira memandang kearah Donny seperti menyelidik reaksi Donny. Donny mengangguk pasti, seolah sependapat dengan Mira bahwa mereka justru prihatin.
“Gue malah nenggak obat tidur bro, mati enggak teler iye” Donny berkata santai dan disambut gelak tawa Iwan dan Mira. Pembicaraan mereka terputus lantaran hidangan utama datang. Mereka makan dengan nikmat sambil mengobrol ringan tentang Bali. Bagi yang melihat mereka, pasti mengira mereka adalah sahabat lama.
*****
Mira tidak menginap di kawasan Seminyak, ia sudah jatuh cinta pada daerah Legian Kuta, dia memilih The Oasis sebagai tempatnya menginap, lokasinya memang tidak jauh dari kawasan Seminyak. 3 orang yang baru saling mengenal itu menelusuri kawasan Seminyak, sore yang cerah membuat ketiganya merasa gerah, bahkan Iwan melepas kaos polonya dan bertelanjang dada. Tanpa terasa mereka berada tepat di depan The Breezes Resort. Nuansa hotel itu asri dan indah, tiba-tiba Mira mengamit lengan Iwan dan Donny.
“Lucu kayanya kalo kita bertiga nginep disini yaa? Setidaknya beberapa hari ini, kita masih kudu jelajahin cafe dan pub di sini lho” Mira memberi usulan. Iwan memandang Donny dan Donny memandangi hotel di depan matanya.
“Wah boleh juga tuh, besok kali ya kita pindahan ke sini” Sahut Donny. Iwan mengangguk dan Mira melonjak lonjak kegirangan. “Kita patungan aja, jadi sewa satu kamar aja” lanjut Donny. Mira mengangguk penuh semangat.
Iwan berbicara kepada Mira yang wajahnya nampak sumringah, “Mir yakin lo mau sekamar sama kita kita? Secara lo perempuan sendiri dan baru kenal pula sama kita”.
Mira tertawa sambil menginjak puntung rokoknya, “Yakinlah !!!, seyakin perasaan gue kalo elo berdua tuh orang baek baek, lagian gini gini gue bisa karate, berani gerayangin gue pas tidur, dijamin besok lo berdua gak bisa kencing gara-gara gue tendang selangkangannya. Pun andai lo berdua merkosa gue, percayalah gue udah ngalamin hal yang lebih menyakitkan dari itu”
“Ouucchhh” ujar Donny sambil menutupi kemaluannya dengan tangan, seolah baru saja ditendang Mira. Iwan dan Mira tertawa terbahak bahak, walau tanpa disadari Mira, baik Donny maupun Iwan agak menggaris bawahi ucapan Mira tentang lebih sakit daripada diperkosa. Mereka melanjutkan sore itu dengan berbelanja. Hingga tak terasa waktu sudah merambat ke pukul 7 malam.
Tanpa kembali dulu ke hotel mereka langsung menuju The living Room sebuah resto berdekorasi etnik Jawa Bali, restoran dengan suasana romantis namun santai. Kembali mereka makan disertai obrolan ringan, dalam hati Donny dia berharap Dina dan Anton tiba tiba bergabung, pasti hari harinya akan lebih bahagia.
February 14th, 2012 at 11:09
weleh2 kang noew,, kambuh tuh hehehehe….
February 13th, 2012 at 12:51
bertiga ee…..
February 13th, 2012 at 09:17
Masih belum bisa menebak ke arah mana ini cerita serial…

February 12th, 2012 at 08:10
….. gleg…. *sambil nelen ludah*……
February 12th, 2012 at 05:28
woalaaaaah kang Anuuuuuu……
February 11th, 2012 at 17:29
Coba kalau ada foto si Mira yg kliatannya branya.
February 11th, 2012 at 15:08
sampe bra warna apa juga ditulis, weleh, weleh…
February 11th, 2012 at 12:55
Masih bersambung…