Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Villa, Buku dan Tulang Berserakan

Saturday, 11 February 2012

Viewed 699 times, 1 times today | 5 Comments |

Roso Daras

 

Haji Achmad Notosoetardjo, sering ditulis singkat HA Notosoetardjo, adalah seorang penulis, sejarawan, dan tentu saja Sukarnois (ehemm…). Namanya tidak sebesar Adam Malik atau Sayuti Melik atau Jusuf Ronodipuro atau BM Diah… tetapi sesungguhnya Notosoetardjo adalah satu nama yang patut dikenal dan dikenang.

Ada banyak karya buku yang dia tulis, tetapi sayangnya, saya hanya punya satu saja karya dia: “Bung Karno dihadapan Pengadilan Kolonial”. Ini buku yang cukup lengkap memuat proses persidangan Landraad, dan kemudian dikenal dengan “Indonesia Menggugat”. Itulah pengadilan kolonial Belanda kepada empat sekawan aktivis PNI: Bung Karno, Gatot Mangkupraja, Maskoen Soemadiredja, dan Supriadinata.

Tanya jawab antara Bung Karno dan pesakitan lain dengan Hakim Pengadilan Mr Siegenbeek van Heukelom dituang runtut pada setiap persidangan. Termasuk, tentu saja, memuat pledoi (pembelaan) Bung Karno yang terkenal itu (Indonesia Menggugat). Persidangan ini bukan saja menggemparkan kaum Republiken, tetapi juga bergema sampai ke Den Haag. Pusat pemerintahan Belanda menaruh perhatian khusus. Kaum oposisi di Belanda sana, mengangkat kasus ini besar-besar sebagai kritik atas kegagalan pemerintah Belanda mengendalikan salah satu negara koloninya, Hindia Belanda.

Guna menyusun buku ini, Notosoetardjo tampak betul telah mendedikasikan dirinya penuh guna terhimpunnya bahan-bahan yang relevan. Bahkan dalam kata pengantar, Notosoetardjo sedikit “curhat”, bahwa untuk keperluan penyusunan buku, penghimpunan data, ia harus berkorban tidak hanya pikiran, tenaga, dan waktu, tetapi juga dana. Bahkan ia mengilustrasikan, jika mau, dana yang dikeluarkannya cukup untuk membangun sebuah villa di Puncak, untuk beristirahat bersama keluarga.

Apa yang dilakukan Notosoetadjo? Ia konsisten dengan pekerjaan menyusun buku. Terlebih ketika ia sudah bertemu satu per satu pelaku sejarah yang ia tulis. Dari Maskoen misalnya, ia mendapat wejangan yang membuatnya bersemangat. Begini kalimat Maskoen saat bertemu dengannya:

“Penangkapan-penangkapan, hukuman penjara, hukum gantung-tembak sampai mati, pembuangan dan lain-lain siksaan yang dilakukan oleh si penjajah terhadap kaum pergerakan sudah biasa dan setiap pemimpin pergerakan revolusioner di waktu itu sudah memperhitungkan sebelumnya. Sebab itu penjara dan penderitaan-penderitaan merupakan batu ujian terhadap iman dan watak para pemimpin. Sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia banyak berlumuran darah dan air mata, menimbulkan kesengsaraan dan malapetaka. Sebab itu ia melahirkan Amanat Penderitaan Rakyat, suatu Amanat yang ditaati secara patuh oleh patriot-patriot Indonesia yang tulangnya kini berserakan di atas pangkuan Ibu Pertiwi.”

Bahwa sesungguhnya, kemerdekaan yang kita hirup, tak lepas dari tulang-tulang patriot bangsa. Bahwa kebebasan yang kita rasakan, tak lepas dari kekuatan iman dan watak revolusioner para pahlawan kita.

Maka, terkutuklah pejabat dan wakil rakyat yang tidak pernah belajar sejarah! Semoga laknat bagi mereka yang mengemban amanah rakyat tetapi menyalahgunakannya.  (roso daras)

 

Backlink: http://rosodaras.wordpress.com/2012/01/24/villa-buku-dan-tulang-berserakan/

 

Share This Post

Posted by Saturday, 11 February 2012 on 08:21.

Categories: Seputar Presiden Republik Indonesia. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

5 Responses to “Villa, Buku dan Tulang Berserakan”

  1. 5
    nu2k Says:

    Memang bangsa-bangsa yang besar di dunia sangat menghargai nilai sejarah yang ada, terutama yang berhubungan dengan negerinya… Ze hebben heel veel aandacht gegeven aan het vastleggen van hun historie (heel uitgebreid) . Seperti Negeri Belanda, Frankrijk dan beberapa Negeri di Eropa lainnya. Fijn weekend en doe doei, nu2k

  2. 4
    Linda Cheang Says:

    Indonesia (perlu) Menggugat (lagi) kepada para wakil rakyat yang durhaka terhadap amanat rakyat yang diembannya.

  3. 3
    anoew Says:

    Maka, terkutuklah pejabat dan wakil rakyat yang tidak pernah belajar sejarah! Semoga laknat bagi mereka yang mengemban amanah rakyat tetapi menyalahgunakannya.  (roso daras)

    dua jempol!!

  4. 2
    Wahnam Says:

    Dulu penderitaan dan kesengsaraan rakyat disebabkan penjajahan. Sekarang penderitaan rakyat disebabkan oleh para pejabat dan wakil rakyat yang tidak pernah menghargai artinya dari rakyat dan untuk rakyat. dan juga butir2 yang ada di sila2 Pancasila.

    Maka terkutuklah para pejabat dan wakil rakyat yang yang LEBIH MEMENTINGKAN kepentingan pribadi atau golongan daripada kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara

  5. 1
    Handoko Widagdo Says:

    Terima kasih Roro Daras. Membaca artikel ini saya menjadi lebih tahu sejarah Indonesia.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)