Jenggot Sang Ustad

Ida Cholisa

 

Aku mabuk kepayang. Sumpah! Jenggot lebatnya membuatku terkapar tak berdaya.

Sungguh. Aku perempuan pengagum lelaki berjenggot. Rambut lebat yang menggumpal di dagu lelaki sanggup membuatku tersendut, hingga aku jatuh hati.

Tapi kali ini lain ceritanya. Pria yang kutaksir seorang ustad. Hm, ustad beristri lagi! Bagaimana ini?

“Jesy, sampai kapan kamu akan hidup melajang?” tanya mama suatu malam. “Umurmu mendekati empat puluh tahun. Tapi tak seorang pun yang bisa menaklukan hatimu. Apa yang kau mau, anakku?”

Aku menghentikan aktivitasku. Laptop kumatikan, dan aku berjalan mendekati mamaku.

“Aku cuma mau satu, Mama. Ustad Ayub,” jawabku sembari berlalu.

Mama terperangah. Mulutnya ternganga. Diletakkannya adonan kue yang siap dicetak. Ia menahanku.

“Kau ngigau, Jesy? Ustad Ayub pemimpin taklim masjid ini? Suami Murni, ustadah yang selama ini mengisi pengajian ibu-ibu di kompleks? Jangan sembarang mimpi, Jesy….!”

Mama sangat marah. Matanya melotot merah. Ia diam dengan nafas naik turun.

“Mama ingin kau menikah secepatnya. Kalau kau mau, banyak anak teman Mama yang mau melamarmu. Kau saja yang jual mahal,” suara mama memekakkan genderang telingaku.

***

Aku tak peduli sama mama. Meski amarah mama begitu besar, aku tetap santai saja. Haha, perawan tua? Cuek saja, EGP, emang gue pikirin? Di mataku cuma Ustad Ayub yang oke, laki-laki lain lewaaaaaat…

“Mama malu, Jes. Kau seperti tak laku saja. Lama-lama Mama bisa gila mikir kamu terus….” Mama kembali “bernyanyi”, membuat merah telinga ini.

“Idih lagian kenapa Mama mikirin aku? Udah deh, Mama pikirin aja dagangan Mama, oke?” kataku sambil tertawa.

Mama manyun, menahan kesal kepadaku.

“Punya anak tabiatnya nggak berubah, dah tua masih saja nglawan sama orang tua,” kembali mama mengomel. Telingaku tersengat.

“Mama gitu sih, anak sendiri dikatain tua. Sebbbel….”

“Lha, memang umurmu berapa, Jes? Kamu nggak nyadar kalau semakin bertambahnya tahun semakin bertambah pula umurmu? Jangan-jangan kamu lupa berapa sekarang umurmu. Kamu kira masih tujuh belas tahun? Mikir Jesy, mikir…..”

Aku sedikit kesal sama mama. Kalau dah bicara, mama kayak kereta, nyerocos terus tiada hentinya. Mending kalau yang diomongin nentremin ati, lha ini yang diucapin malah nyulut ati. Uh-uh-uh…..

“Perempuan ada batasnya, Jesy. Bolehlah sekarang kamu berlega hati. Wajah masih cantik, kulit masih kinyis-kinyis, tapi coba umurmu dah menua, makin nggak karuan nanti…” mama masih saja “bernyanyi”.

“Ah, mama kayak nggak tahu aja. Tuh anak Budhe, Mas Joko, sampai sekarang juga belum nikah…” aku membela diri.

Mama tertawa, sedikit sinis tentunya.

“Laki-laki tak ada batasnya. Jesy. Lha, kalau perempuan? Umur berapa kau akan punya anak? Umur berapa kau menopouse? Itu yang mesti kaupikirkan, bukan sekedar menuruti kemauan,” kata mama dengan suara keras.

Kali ini aku KO. Kalimat mamaku benar-benar menohok hatiku. Ya, mama benar. Sampai kapan aku begini? Tahun depan usiaku genap ermpat puluh tahun. Wajahku memang tak mengecewakan. Penampilan pun di atas lumayan. Tapi sampai kapan kecantikanku bertahan? Ih…, aku takut peyot, aku takut keriput, aku takut jadi nenek-nenek, sementara tak ada satu pun lelaki yang menjadi pendampingku. Ah, apa kata dunia? Ih juga, aku takut menopouse…

***

Pikiranku kalut. Sumprit baru kali ini aku “jelalatan” tak karuan. Bagai cacing kepanasan aku gelisah tak karuan. Makan tak enak tidur tak nyenyak. Kalimat mamaku benar-benar telak, membuatku tertohok dan terhenyak.

“Kapan kau siap kawin, Jesy?” mama “bernyanyi” lagi.

“Ih mama, kawin, emang aku kambing?” sergahku kesal.

“Lha, maksud mama, kapan kamu nkah? Kalau diajak ngomong soal itu kamu selalu alergi. Maumu itu apa?” tanyanya.

Aku diam. Mama pun diam. Semua diam.

“Aku maunya nikah sama Ustad Ayub, Ma,” kataku pelan.

“Apa???!!!” Mama berteriak. “Sudah berapa kali kau bilangUstad Ayub, Ustad Ayub, Ustad Ayub…., nggak ada laki-laki lain apa? Ingat Jesy…, Ustad Ayub telah beristri. Kau mesti tahu itu…!”

Mama sangat marah. Seperti biasa nafasnya tersengal-sengal. Sumprit, aku jadi takut kalau-kalau mama KO, soalnya mama kan jantungan. Gawat kalau sakit jantungnya kumat…

“Sekarang mama mau tanya. Apa alasanmu menyukai Ustad Ayub???”

Aku menunduk.

“Nanti Mama bandingkan dengan pria-pria lain yang selama ini tak kamu pedulikan. Katakan. apa alasanmu menyukai Ustad Ayub?” pertanyaan mama seolah mamaksaku untuk segera mwmbuka suara.

“Aku suka Ustad Ayub karena….., ya karena dia itu alim…” jawabku pelan.

“Hanya itu? Kalau cuma itu, Bramanto juga alim. Kenapa kamu menolaknya?” mama sedikit memojokkanku.

“Tak cuma itu, Ustad Ayub juga ramah dan baik hati,” kataku lagi.

“Oh, kalau cuma itu, Yoni juga baik. Kenapa kau tak menanggapi cintanya?” mama memandangku tajam.

“Ustad Ayub juga sabar, pintar dan…cakep tentunya.” aku seolah tak mau kalah dengan ucapan mama.

“Hm, soal itu. Jaka juga tak kalah. Apa lagi?” mama semakin tak mau kalah dengan omomnganku.

“Tapi ada sesuatu yang tak dimiliki mereka, Ma! Dan itu yang membuatku jatuh cinta pada Ustad Ayub,” kataku.

“Apa itu?” mama tampak penasaran.

“Jenggot Ustad Ayub, Ma. Itu yang membuatku terpikat,” jawabku mantap.

Mama memandang tajam ke arahku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aneh, ngidam apa aku dulu, ya? Punya anak perempuan satu-satunya, seleranya aneh tak terkira….”

Aku cuma tersenyum kecut. Untuk kali ini mama tak lagi “bernyanyi”. Haha, lega. Tapi…, entah mengapa, hatiku mulai cenat-cenut lagi. Mama benar, seleraku memang aneh….

***

Mama tak lagi sering memojokkanku. Tampaknya ia mulai lelah mengeluarkan suara untukku. Yes, aku bersorak lega. Seandainya mama tak banyak bersuara, aku pun tak begitu peduli akan statusku. Ak,u tak sedih dibilang perawan tua. Tapi kekhawatiran karena ucapan mama itu yang membuatku sakit kepala. Tentang anak, tentang menopouse, ah-ah-ah…., tiba-tiba saja aku takut menghadapinya…

Aku lebih banyak bersikap diam. Mama pun demikian. Entah mengapa kami jadi seperti orang asing yang tak saling mengenal. Aku takut membuka percakapan, takut mama kembali marah. Sebaliknya aku tak tahu mengapa mama sekarang menjaga jarak denganku. Tak banyak bicara. Tak ada omelan, tak ada kata keras memojokkan. Tapi situasi seperti ini terasa aneh. Ibu dan anak saling berdiam diri.

“Assalamu’alaikum…”

Suara halus terdengar di pintu depan. Siapa itu? Aku bangkit menuju ruang tamu. Kubuka pintu depan, dan nampaklah wajah bercahaya di keremangan malam…

Wajah putih bersih nan teduh dengan kumpulan jenggot hitam di dagu. Wajah yang selama ini membuatku terlilit rindu. Wajah yang mengaduk segala perasaanku. Wajah Ustad Ayub…

“Maaf, Ibu ada?” ia bertanya.

Kupandangi sosoknya. Sejenak aku terkesima…

“Ibu ada?” kembali ia bertanya.

“He-eh, ada…, ada.., mari silahkan masuk,” aku berjalan tergesa mendekati mama.

“Ma…..” aku sedikit berbisik.

Mama diam saja. Ia tetap melanjutkan cetakan kue-kuenya.

“Ma…, ada tamu. Ustad Ayub….” kataku setengah berbisik.

Mama terkesiap.

“Ustad Ayub?” seketika ia menghentikan pekerjaannya, mencuci tangan dan tergopoh-gopoh menemui tamunya…

***

Aku tak tahu ada urusan apa sang ustad mendatangi mamaku. Yang jelas bukan karena ingin melamarku, karena ia sendiri telah memiliki seorang istri. Tapi…., siapa tahu? Tiba-tiba aku berandai-andai. Seandainya ia datang untuk melamarku, dengan senang hati aku bersedia menjadi istri keduanya. Tak mengapa, bukankah menjadi madu banyak enaknya? Hm…., lamunanku kian terbang tinggi menuju angkasa raya.

Pagi ini aku siap berangkat kerja. Novel tebal tak lupa kubawa. Selama ini buku menjadi teman setia di mana pun aku berada. Di halte, kantor, biskota, aku hampir tak pernah lepas dari buku bacaan. Banyak teman yang menjulukiku “kutu buku”. Hm, aku suka julukan itu, asal jangan kutu busuk aja, haha.

Biskota yang kutunggu telah tiba. Aku melompat ke dalamnya. Mataku jalang mencari tempat duduk kosong. Penuh. Hah! Rencanaku untuk melanjutkan bacaan novel terputus sudah. Mana mungkin membaca sambil posisi berdiri, susah lah yauw! Aku terus mencari-cari, siapa tahu ada bangku kosong, Thank God, seorang wnita melambai ke arahku. Ia duduk di jok paling belakang.

“Sini, Neng!” ia memberi kode bahwa ada bangku kosong di sebelahnya. Cepat-cepat aku beringsut, menerobos kerumunan penumpang demi menjangkau tempat duduk di belakang. Yup, akhirnya aku berhasil.

Aku mengucapkan terima kasih dan duduk tepat di samping perempuan itu. Ibu setengah baya yang umurnya sekitar 50 tahun itu tersenyum ramah kepadaku.

“Turun di mana, Mbak? tanyanya.

“Jalan Pemuda, Bu,” jawabku.

“Kerja di mana?” tanyanya kembali.

“Mengajar Bu,” jawabku sambil membuka novel yang sedari tadi di tanganku.

“Oh…., Bu Guru….,” ia bergumam.

Aku tersenyum pada wanita itu dan dalam sekejap aku larut dalam alur cerita yang mengharu biru…

***

Aku pulang ke rumah saat senja mulai merapat. Usai sholat maghrib aku kembali berkutat dengan pekerjaan rutinku, menulis novel. Baru saja membuka dan menyalakan laptop, tiba-tiba suara keras mama mengagetkanku.

“Jesy…., sini dulu sebentar,” teriak mama.

Terpaksa kumatikan laptop kembali dan aku segera menuju ruang makan di mana mama memanggilku.

“Makan malam dulu, baru kauteruskan pekerjaanmu,” katanya.

“Aku belum lapar, Ma,” jawabku sambil berlalu.

“Eit, sini dulu. Ada yang mau Mama katakan,” ia menyuruhku duduk di dekatnya.

Kikuk aku. Tumben mama mengajakku bicara seserius ini. Ada apa gerangan? Aku bertanya-tanya.

“Kau tahu kan tadi malam Ustad Ayub ke rumah kita?” ia bertanya.

Aku hanya diam.

“Keinginanmu bakal terwujud, Jesy!” mama berkata mantap kepadaku.

“Keinginan apa, Ma?” tanyaku heran.

“Bukankah selama ini kau menginginkan pria berjenggot?” mama balik bertanya.

Ooooh…., aku terperangah. Kegembiraan membuncah dari relung hatiku. Ustad Ayub melamarku? Ustad Ayub memintaku jadi istri mudanya? Ah, yang benar saja….

“Ustad Ayub melamarmu….”

“Aku mau, Ma, aku pasti mau….” teriakku. Bayang wajah teduh Ustad Ayub menari-nari di kepalaku.

“Ustad Ayub melamarmu untuk dinikahkan dengan adik kembarnya, kau bersedia?”

Deggg!! Jantungku serasa copot. Melamarku untuk dinikahkan dengan adik kembarnya??? Bukan dengan dirinya??? Untuk sementara aku gamang tiada tara…

“Bagaimana? Kau bersedia? Besok sore keluarga Ustad Ayub akan mengenalkan pria yang akan melamarmu. Mama harap kau tak menolaknya,” kata mama.

“Tapi Ma, aku mencintai Ustad Ayub, bukan pria yang lain…” sergahku.

“Apa bedanya Ustad Ayub dan saudara kembarnya? Pokoknya tak ada alasan apa pun untuk menolak rencana lamaran itu, Ingat, usiamu Jesy, usiamu tak muda lagi!”

Aku diam seribu bahasa. Sungguh, kepalaku cenat-cenut, pusing tak terkira. Mengapa harus saudara kembar Ustad Ayub yang akan diperkenalkan padaku, bukan Ustad Ayubnya saja? Aku mencintai pria berwajah teduh itu, dan aku mengharap cintanya, bukan cinta pria lainnya…

***

Sore ini rumahku tertata rapi. Mama telah menyulap rumah kediaman kami menjadi rumah yang sangat asri. Kue-kue lezat telah dipersiapkan, jamuan lezat pun telah terhidang. Demi tamu istimewa, katanya.

Aku telah berdandan rapi. Bukan kemauanku berpenampilan seperti ini, tetapi lebih karena menuruiti kemauan mama. Tepat pukul lima sore sebuah mobil berhenti di jalan depan rumahku. Melalui kaca jendela aku melihat rombongan turun satu persatu dari dalam mobil. Mereka berjalan pelan menuju rumahku.

“Jesy, sambut mereka!” bisik mama.

Aku menuruti perintahnya. Dengan penampilan anggun yang memesona aku menebar senyum pada mereka, menyambut hangat kedatangan mereka. Tampak olehku di depan mata, dua sosok berwajah persis sama tersenyum dengan khidmatnya. Aku membatin, yang manakah Ustad Ayub, dan yang manakah saudara kembarnya?

Keheningan yang setiap waktu menyelimuti rumahku kini berganti dengan hingar-bingar suara tamu. Setelah melalui serangkaian pembicaraan, tibalah saatnya aku memberi keputusan. Seorang pria yang memiliki rupa persis sama dengan pria kembarnya kini ada di hadapanku. Ia bulat ingin meminangku. Bagaimanakah aku?

Sejenak aku memandang wajah teduh Ustad Ayub. Ia menundukkan muka menghindari tatapanku. Pria itu, ustad kharismatik itu, bukankah selama ini yang aku tunggu? Pandanganku beralih pada lelaki kembar di sampingnya. Ia memiliki wajah persis sama dengan Ustad Ayub. Haruskah kutolak pinangannya? Ataukah kuterima ia, sebab aku memang mencari sosok pria seperti dirinya? Ia terlihat tawadhu, kharismatik, dan tentu saja memiliki sesuatu yang aku suka; jenggot hitam dan lebat di dagunya…

Semua menanti jawabanku.

Ya-tidak-ya-tidak-ya…

Baiklah, aku berkata pada diriku. Tak mendapatkan sang ustad, tak mengapalah kudapatkan sang adik kembar ustad. Maka kujawab pertanyan mereka dengan sangat mantap;

“Ya, saya menerima lamarannya.”

***

Mama tak henti-hentinya mengucap syukur. Anak perempuannya telah menemukan tambatan hati. Ia pria berjenggot rapi. Ustad Hanif saudara kembar Ustad Ayub, kini resmi menjadi suamiku. Bahagia tak terkatakan menyelimuti hari-hariku. Angan-angan dahulu tercapai sudah, bersuamikan lelaki dengan dagu berjenggot yang menawan hati.

Kugandeng mesra suamiku, Ustad Hanif. Kami melangkah pulang usai menunaikan sholat dhuhur. Sementara di balik surau Ustad Ayub menatap kami dengan senyum yang tersungging. Ia menyelinap ke dalam surau saat mata kami bersitatap. Aku tertegun sejenak.

“Adek, kenapa?” suamiku, Ustad Hanif, membuyarkan lamunan kecilku.

“Ah, nggak,” aku tersenyum.

Kaki kami terus melangkah, menuju istana kecil bernama rumah. Kuajak ia masuk ke dalam. Kututup pintu dan jendela. Matahari semakin meninggi. Istirahat siang begini rasanya syahdu sekali, apalagi ditemani sang pengeran hati.

Aku terkesima dalam pandangan penuh cinta. Suamiku tampan sekali, jenggot di dagunya menari-nari…***

Bogor, 2011-

 

18 Comments to "Jenggot Sang Ustad"

  1. anoew  14 February, 2012 at 22:58

    Om Namnam, betul sekali! Lha ngapain ngliatin jenggot, kalau ada kumis tipis-halus si Windy yg seksi?

  2. Wahnam  14 February, 2012 at 21:56

    Kang @Anoew bilang : ” daripada jenggotnya sang Ustad, masih jauh asyikan kumis halusnya si Windy ”

  3. Alvina VB  13 February, 2012 at 21:57

    Walaupun ini cuma cerita doang (atau based on true story? he..he…….kadang realitanya, kok ya ada wanita yg suka dgn laki-laki yg sudah beristri. Mbok ya…ada rasa emphati gitu loh…..coba kl dirinya yg suaminya diambil org gitu gimana rasanya….lihat saja pendakwah kondang AA Gym, toch akhirnya dia menceraikan istrinya yg pertama, Sastrawan WS Reindra jadul juga sami mawon stl hidup seatap dgn 2 istrinya, akhirnya???

  4. anoew  13 February, 2012 at 10:44

    Nep, sebenernya bukan ketinggalan tapi tertukar sama wig-nya pak Hand. Punyaku keriting, punya pak Hand lurus njegrak.

  5. nevergiveupyo  13 February, 2012 at 09:47

    anoew Says:
    February 13th, 2012 at 09:40

    … wig saya malah ketinggalan di meja lantai dua, di samping gelas syrop.

    yang pake wig itu yang rambutnya kurang atau tidak ada.. kurangnya bisa macam-macam hal…

    eniwe, jenggot saya maksimal umur 3 hari neh…. ^o^ (sapa yang tanya juga…

  6. Handoko Widagdo  13 February, 2012 at 09:43

    Kang Anoew nasipnya kurang baik. Kemarin ada artikel kumis, sekarang ada artikel jenggot…

  7. anoew  13 February, 2012 at 09:40

    Lhaaaaa
    Kok bisa-bisa dibilang saya tak berambut kiy lho?
    Pak Hand lupa kalau pas saya ke rumahnya itu, wig saya malah ketinggalan di meja lantai dua, di samping gelas syrop.

  8. Linda Cheang  13 February, 2012 at 09:37

    maaf, deh, nggak bisa komentar banyak, apalagi kalau si perempuan segitu keukeuh ngebetnya sama pria beristri.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.