Sunday, 12 February 2012
Bamby Cahyadi
Pada tahun 1821, di daerah Minangkabau timbul persengketaan antara alim ulama yang beraliran Wahabi dengan raja-raja Minangkabau. Alim ulama menghendaki supaya masyarakat Minangkabau berpedoman kepada aturan-aturan Islam, sedangkan raja-raja hendak mempertahankan adat Minangkabau.
Pihak alim ulama disebut Kaum Padri (dari kata Pidari), karena alim ulama itu antara lain H. Miskin, H. Sumanik dan H. Piabang, kebanyakan berasal dari Pedir (Pidi), yaitu pusat Islam di Aceh. Menurut penulis-penulis Eropa nama itu berasal dari perkataan Portugis “Padre” yang berarti “Bapak”. Oleh orang Indonesia pendeta-pendeta Serani itu disebut “Padri”. Oleh orang Belanda dahulu alim ulama Islam pun disebut “Padri”. Kaum Padri itu disebut juga “Orang Putih” karena berpakaian serba putih, sedangkan lawannya disebut “Orang Hitam” sebab biasanya berpakaian hitam.
Kaum Padri dipimpin oleh seorang ulama dari Bonjol, Peto Sjarif (Muhammad Sjahab) yang kemudian terkenal dengan sebutan Imam Bonjol. Akhirnya pertentangan antara kaum adat dengan alim ulama demikian hebatnya, sehingga tahun 1821 pecahlah perang, yang disebut Perang Padri. Raja-raja Minangkabau meminta bantuan kepada Belanda, agar mereka mendapat perlindungan dari serangan kaum Padri. Karena Belanda ingin meluaskan daerah kekuasaannya, maka mulailah Belanda menyerang kaum Padri. Dengan susah payah Belanda berhasil merebut Minangkabau dataran rendah di tahun 1825.
Tetapi dataran tinggi di pedalaman tetap ada dalam tangan kaum Padri. Bahkan Imam Bonjol kemudian merebut kembali beberapa daerah di dataran rendah, sebab tentara Belanda banyak ditarik mundur dari Sumatera barat untuk dikerahkan di Pulau Jawa dalam Perang Diponegoro.
Setelah Perang Diponegoro selesai tahun 1830, maka dapatlah Belanda mendatangkan bala-bantuan dari Pulau Jawa. Tujuh tahun Imam Bonjol beserta panglima-panglimanya bertahan. Tetapi karena hebatnya serangan Belanda yang terus menerus mendatangkan bala-bantuan, maka pada tahun 1837 Imam Bonjol terpaksa meninggalkan Benteng Bonjol yang jatuh ke tangan Belanda. Pasukan Belanda dipimpin Jenderal Cochius. Dengan tipu muslihat yang licin, Imam Bonjol ditangkap. Mula-mula ia dibawa ke Bukit Tinggi, kemudian ke Padang dan akhirnya ke Jakarta. Dari Jakarta ia dipindahkan ke Cianjur, kemudian diasingkan ke Ambon, lalu dipindahkan ke Manado, di mana patriot Islam itu wafat.
Sumber: Ichtiar Sedjarah Indonesia, penyusun Jojo Wiramihardja (Kepala SMP II Tasikmalaya), 1 Maret 1953.
Peto Sjarif alias Muhammad Sjahab alias Imam Bonjol
February 14th, 2012 at 20:16
Tuanku Rao. Mazhab Hambali di Tanah Batak.
Diterbitkan Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964.
oleh: Batara R. Hutagalung
Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah
. Dari ayahnya, Sutan Martua Raja Siregar, seorang guru sejarah, M.O. Parlindungan memperoleh warisan sejumlah catatan tangan yang
kakek buyut dari Mangaraja Onggang Parlindungan ( hlm. 35
merupakan hasil penelitian dari Willem Iskandar, Guru Batak, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman. Sebenarnya ia hanya bermaksud menulis buku untuk putra-putranya.
Buku tersebut memuat banyak rahasia keluarga, termasuk perbuatan yang dilakukan oleh Tuanku Lelo tersebut.
Mayjen TNI (purn.) T.Bonar Simatupang menilai, bahwa tulisan tersebut banyak
mengandung sejarah Batak, yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak. Parlindungan Siregar setuju untuk menerbitkan karyanya untuk publik. Parlindungan Siregar meminta T.B. Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan
dr. Wiliater Hutagalung memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah buku tersebut.
February 14th, 2012 at 10:38
Buku tentang Tuanku Rao telah terbit. Buku ini adalah tulisan Mangaradja Onggang Parlindungan yang adalah keturunan dari Tuanku Lelo yang merupakan anakbuah dari Tuanku Rao.