Perjalanan

Wesiati Setyaningsih

 

Aku berada dalam ketenangan yang dalam. Kubuka mata, aku berada di sebuah dapur rumah desa. Ruang yang luas, dengan tungku yang menyala dengan kayu-kayu dan ranting seadanya. Tumpukan kayu kering di pojok ruang, lantai tanah, dipan kayu yang lebar tempatku berbaring saat ini. Seorang anak gadis duduk di pinggir dipan. Dia mengamati tungku yang menyala sambil memeluk lengannya. Sesekali dia bangkit dan membuka tutup panci, lalu mengaduknya. Udara yang dingin terhangati tungku yang menyala.

Gadis itu menoleh.

“Ibu, sudah bangun?”

Ibu?

“Aku mau bikin bubur buat ibu. Nanti dimakan ya?”

Bubur buatku? Aku kenapa?

Gadis itu mengulurkan tangannya ke kepalaku. Jemarinya diletakkan di dahiku.

“Sudah dingin..” gumamnya.

Dia menarik selimut yang berkumpul di kakiku, menutup seluruh tubuh dan lenganku.

“Mas Wan sebentar lagi pulang. Semoga dia dapat obatnya,”

Gadis itu berbicara sambil menuangkan santan ke panci. Bubur nasi dengan santan. Itu kesukaanku. Dan aku selalu membuatnya kalau anak-anak bancakan weton. Juga kalau mereka sedang tidak enak badan.

Terdengar suara cekikikan di ruang depan. Agak jauh dari dapur tempatku berbaring. Aku berusaha menebak, kira-kira darimana suara itu dan suara siapa. Suara itu agak jauh dari situ. Seperti dari arah depan. Ah, mungkin kamar depan. Kamar depan? Itu kamarku, seingatku. Ya,  terdengar cukup jauh dari sini karena rumah kami begitu luasnya. Kamar-kamar kami juga luas. Jarak dari kamar ke dapur itu cukup jauh, terpisah oleh ruang makan yang luas.

Gadis itu menghela nafas. Dia menoleh padaku untuk melihat apakah aku mendengar suara itu. Aku pura-pura melihat ke arah lain. Aku tidak lagi punya perasaan apa-apa. Aku mulai ingat bahwa itu suara kekasih suamiku yang sering dibawa pulang ke rumah. Ingatanku mulai kembali, bahwa aku sakit-sakitan karena belasan tahun menahan sakit hati pada suamiku yang gemar bercinta dengan banyak perempuan dan membawa mereka pulang.

Pernikahanku adalah karena keinginan suamiku. Aku tidak mencintainya. Dia yang memaksa untuk menikah denganku waktu itu. Ketika dia tak juga mampu merebut hatiku setelah kami menikah, dia mulai mencari perempuan lain. Aku tak bisa apa-apa. Menahannya untuk tidak mencari kekasih, aku tak mampu. Aku sendiri tak mencintainya. Meminta cerai aku tak berani. Apa kata orang nanti? Aku juga pasti akan mencoreng nama kedua orang tuaku. Akhirnya aku hidup dengan menahan semua rasa duka. Hanya anak-anak yang menjadi alasanku untuk bertahan.

Nafasku sesak. Tepat saat ada seorang laki-laki muda seusia gadis itu, masuk ke dapur.

“Itu mas Wan, bu… Mana obatnya mas? Dapat?”

“Dapat. Ini!”

Laki-laki muda itu mengulurkan bungkusan kepada gadis tadi. Tapi mataku sudah ingin segera menutup. Nafasku makin berat. Jari kakiku terasa dingin. Kurasa ini saatnya aku pergi. Aku sudah lama ingin pergi. Cukup sudah semua ini. Dari jari kaki yang dingin, menjalar ke atas. Kakiku mulai dingin. Lalu semakin ke atas, badanku dingin. Sayup-sayup aku mendengar anak gadis dan lelaki muda itu memanggil-manggilku. Tapi aku sedang menikmati rasa dingin yang terus menjalar ke seluruh tubuhku. Aku tahu aku akan segera pergi.

Dan benar. Aku merasa ringan. Tidak ada lagi nafas yang sesak. Tidak ada lagi badan yang kaku-kaku. Tidak ada kaki yang kedinginan. Tidak ada kepala yang pusing. Tidak ada rasa sedih. Tidak ada rasa tidak nyaman apapun. Aku hanya merasakan ringan, tenang, lega dan bahagia.

Dari mata yang menutup dan hanya menatap kegelapan, aku melihat cahaya yang terang luar biasa. Lalu aku seperti lenyap dalam sebuah pusaran yang menghisapku. Hingga aku sampai lagi di tempat tadi, kali ini seperti ada seseorang di sebelahku.

Aku menatap ke sekeliling. Tiba-tiba aku bisa melihat semuanya dari atas. Ada dua anak, laki-laki dan perempuan, yang sedang menangisi perempuan tua yang terbaring tak bergerak di dipan kayu lebar beralas tikar.

“Itu kamu,”  suara di sebelahku.

Aku menoleh. Aku tak bisa mengatakan dia laki-laki atau perempuan. Aku hanya bisa melihat cahaya yang melingkupinya.

“Yang mereka tangisi itu aku?”

Aku melihat adegan yang sedang berlangsung di depanku. Perempuan tua yang kurus kering, berselimut kain usang.

“Aku sudah mati?”

Tidak ada jawaban tapi aku tahu sosok di sebelahku ini mengiyakan.

“Kamu malaikat?”

“Begitulah orang bilang.”

“Kenapa kita di sini?”

“Agar kamu bisa melihat itu semua. Anak-anakmu menangisimu. Sebagian karena mereka sedih melihat kamu pergi dalam situasi yang menurut mereka begitu pedihnya. Sebagian karena mereka marah karena kamu tidak melakukan apapun untuk memperjuangkan dirimu sendiri.”

Aku tersentak.

“Apa yang harusnya aku lakukan?”

Aku tak mengerti.

“Kamu terjebak dalam pernikahan yang tidak kamu inginkan. Lalu situasi dalam pernikahanmu juga tidak kamu sukai. Harusnya kamu bisa berjuang untuk keluar dari situ.”

Aku heran mendengar ide itu. Itukah yang harusnya kulakukan?

“Kenapa tidak?”

Malaikat ini menjawab pertanyaan yang bahkan hanya terlintas dalam hatiku. Hati? Di mana tempatnya? Bahkan aku Cuma jiwa saat ini. Mestinya memang kami bicara tanpa kata-kata. Apapun yang terlintas itulah percakapan kami.

“Dan itulah yang harusnya kamu lakukan.”

Suara itu menggema dalam kedalaman jiwaku. Aku yang masih duduk bersila di ruangan yang remang-remang karena lampu kamar yang kumatikan. Aku lenyap dalam meditasi. Berkelana dalam alam masa lalu yang harus aku kunjungi untuk mengetahui mengapa semua ini terjadi.

Air mata mengalir perlahan di pipiku. Semua berulang karena satu hal yang tak berani kulakukan di masa itu. Ketakutan yang sama. Kegamangan yang sama. Semua sama. Tuhan melemparkan aku dalam situasi yang persis sama agar aku belajar, lalu mengambil keputusan yang berbeda. Tapi apa yang kulakukan? Aku bergerak maju tapi kemudian tertahan dan hampir berbalik lagi. Aku tetap saja seorang pengecut yang mengambil keputusan yang sama.

“Kalau itu yang harusnya aku lakukan, kenapa Tuhan mengirimkan orang-orang untuk membuatku ragu?”

Ada tawa bergema.

“Kamu salah paham. Mereka datang padamu bukan untuk membuatmu ragu. Mereka datang padamu untuk menanyai tekadmu. Benarkah itu yang ingin kamu lakukan? Benarkah itu karena tekadmu sendiri? Benarkah kamu benar-benar sadar dengan apa yang sedang kamu lakukan, hingga apapun yang menunggumu di depan nanti akan kamu jalani dengan rela hati?”

Aku termangu.

“Apakah pertanyaan-pertanyaan itu harusnya membuatmu ragu dan berbalik arah? Kalau itu yang terjadi berarti kamu salah paham. Pertanyaan-pertanyaan itu dilemparkan padamu agar kamu berhenti dan berpikir ulang, lalu dengan berani dan mantap kamu berkata, “Ya! Itu yang aku inginkan. Dan aku sadar benar apa yang aku lakukan!” Begitulah mestinya.”

Hatiku semakin leleh dalam pemahaman baru.  Sebuah pemahaman yang menguatkan. Benar bahwa tak ada keteguhan yang tak teruji. Tuhan selalu menguji keteguhan hati. Bukan agar keteguhan itu berhenti dan melemah. Tapi agar hati yang mulai ragu menjadi semakin teguh atas apa yang sedang dia pilih untuk lakukan.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Perjalanan"

  1. R. Wydha  14 February, 2012 at 11:08

  2. Lani  12 February, 2012 at 11:46

    ngintil Pam-Pam disore hari nan jauh disono……….

  3. [email protected]  12 February, 2012 at 08:18

    nomor 1 di hari minggu pagi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *