Pengalaman Tinggal di Cairo (11)

Titin Rahayu

 

Kali ini saya mau cerita soal jalan-jalan kita ke padang pasir bersama rombongan dari sekolah anakku.

Setelah  kita mendapat konfirmasi e-mail dari pihak penyelenggara, akhirnya kita bisa ikut trip ke padang pasir.  Sedangkan tahun yang lalu, kita terpaksa gak bisa  ikut karena waktunya terlalu mepet buat peserta baru.

Kita memutuskan buat sewa mobil karena yang di butuhkan buat trip kali ini adalah mobil 4WD, sedangkan mobil yang kita punya cuman mobil biasa. Kita di haruskan membawa peralatan buat camping, kursi lipat, serta makanan ringan, kalo ada wind breaker (semacam tenda buat menahan angin), karena kita gak punya yang satu ini yaa sudah lah, biar yang lain saja yang bawa.  Sudah tanya kemana-mana tapi gak ada yang punya. Yang menyenangkan lagi kita boleh membawa hewan piaraan kita.

Akhirnya kita bawa juga si gu guk, pasti menyenangkan buat dia nanti.

Akhirnya hari sabtu pagi sebelum jam 10 kita sudah di haruskan berkumpul di depan sekolah, hari itu ada kurang lebih 50 mobil yang di bagi dalam kelompok kecil.  Setelah semua persiapan selesei kita mulai mengemudi  beriringan perkelompok.

Kita tidak diijinkan mengemudi berbarengan di jalanan, kenapa gak boleh, kita juga tidak tahu, tapi aturannya dari polisi lalu lintas yaa seperti itulah. Kelompok pertama bakalan menunggu kita di meeting point, setelah itu kita bisa  mengemudi beriringan di padang pasir.

Sungguh sebuah pengalaman yang sangat mengesankan membawa mobil di padang pasir. Awalnya kita semua beriringan tapi lama-lama mereka berpencar mencari jalan sendiri-sendiri .  Suami yang baru pertama kali itu bawa mobil di padang pasir sangat konsentrasi ke jalanan, karena kalo salah ambil jalan bisa langsung terperosok ke dalam pasir.

Terlihat di kejauhan kelompok pertama dan kedua sudah memarkir mobil mereka berjajar di bawah gunung pasir. Suami yang hari itu jadi sopir berusaha mengikuti mobil yang ada di depan kita, tiba-tiba mobil depan kita terperosok di pasir, dan sepertinya suamiku sedikit terlambat melihat kalo mobil depan sudah terjebak di pasir, akhirnya kita juga ikut terjebak di pasir, apes dech…

Sambil menunggu bantuan datang, kita berusaha menolong mobil-mobil yang lain yang juga terjebak di pasir. Ada yang mendorong dari belakang, ada yang ngempesin ban mobil, kata mereka lebih mudah mengendarai mobil di pasir dengan ban yang agak kempes  dan ada juga beberapa orang yang sudah berpengalaman datang dengan mobil mereka dan berusaha  menarik mobil yang terjebak tadi dengan tali.  Beberapa orang saling bahu membahu membantu mobil-mobil itu keluar dari pasir.  Setelah bersusah payah mengeluarkan mobil yang terjebak di  pasir dan terjebak sekali lagi, akhirnya suami memarkir mobilnya di bawah, dia sudah nyerah buat membawanya naik ke atas.

Cuaca agak mendung dan dingin hari itu, kata mereka yang suka camping di padang pasir kalo mau ke sana sebaiknya dibulan-bulan yang gak begitu panas atau terlalu dingin, karena di padang pasir suhu udara bisa cepat naik dan turunnya juga langsung drastis.

Setelah membawa peralatan kita dari tempat parkir yang lumayan jauh ke tempat para bapak-bapak sama ibu-ibu ngumpul, akhirnya bisa juga kita duduk-duduk  sambil ngopi di tengah padang pasir.

Terlihat di kejauhan sebuah mobil masih terjebak di pasir tapi sepertinya si sopir sudah kecapean, dan nyerah. “ Aaahh biar saja, nanti setelah makan siang kita berusaha lagi menarik mobil sialan itu “ kata yang punya.

Si Bo, anjing Labrador kita, sudah dari tadi narik kita buat di ajak lari-lari, karena dia gak boleh dilepaskan tanpa tali akhirnya suamikulah yang ditariknya, sempat juga suamiku terjatuh gara-gara si Bo lihat anjing pudel yang lucu berlari di depan dia.

Anak-anak  pada main seluncuran di gunung pasir, sementara itu beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak mulai menyiapkan makan siang, ada yang mulai membakar sosis, ada yang menata piring, ada juga yang menyiapkan roti.

Sedangkan kita cuman jalan-jalan saja menikmati pemandangan alam yang menakjubkan, sambil foto sana-sini.

Setelah makan siang, acara suka-suka di lanjutkan, ada yang main seluncuran, ada yang jalan-jalan, ada juga yang berani bawa mobil melewati gunung-gunung pasir itu, sementara kita cuman duduk-duduk menikmati secangkir kopi sambil melihat atraksi dari mereka yang berani mendaki gunung pasir dengan mobil.

Tiba-tiba suami memandangku dengan pandangan yang aneh, “ apa kunci mobil ada di kamu ?? “ Tanya dia,   “ enggak kok, khan tadi sudah aku kasihkan ke kamu, setelah aku ambil air di mobil “ kataku.

“ Aku kehilangan kunci itu “  kata dia, sambil merogoh saku celana dia, saku kanan, kiri, depan, belakang,  “ gak ada !!…”, “ apa kamu yakin, tadi sudah kau kasihkan aku ??? “  tanya dia .

Aku mulai panik, aku periksa seluruh kantong yang ada di jaketku, tetap tidak aku temukan kunci mobil itu.  “ Gak ada di aku, kalo toh aku yang pegang pasti sudah aku taro di kantong jaketku, dan  aku kancingkan kantongnya, khan kantong jaketku ada resletingnya ..”,    “ mungkin juga tadi jatuh saat kau jatuh gara-gara di tarik sama Bo “.

“ Shit !!  aku benar-benar kehilangan kunci itu “  kata dia.  Tanpa banyak kata lagi kita berdua mulai menyusuri jalan-jalan yang kita lalui tadi, sambil menendang-nendang pasir, mencari-cari, siapa tahu ketemu…

Di kejauhan terdengar teriakan kalo kita akan melakukan foto bersama, “ ayo kita gabung dulu sama mereka setelah itu kita cari lagi “ kataku.

Setelah semua berkumpul dan berfoto bersama, suami maju ke depan  “ Tolong dengarkan, kita kehilangan kunci mobil !! “  kata dia setengah berteriak di tengah keributan yang ada. Tiba-tiba suasana jadi hening seketika, semua orang memandang ke suamiku, dan dia mengulanginya sekali lagi   “ Kita kehilangan kunci mobil …” .   “ Apa kamu yakin ?? “,  “ apa sudah kau cari di kantong bajumu ??? “,  “ Apa sudah kau cari di sekitar sini ?? “,  segala pertanyaan yang bernada antara gak percaya sama khawatir itu datang bersahutan,  “ aku sudah cari kemana-mana, aku sudah memeriksa semua kantong yang aku punya, begitu juga dengan istriku, dan kunci itu tetap tidak ada “ kata dia.

“  Ayo kita bantu cari !!! “ kata salah satu dari mereka.  Serentak semua orang beserta anak-anak mulai menendang, menggali, dan mencari kunci itu.  Aku bilang sama suamiku kalo sekarang tambah sulit menemukan kunci itu karena sudah ada ratusan kaki dan tangan yang mengubek-ubek tempat itu, kemungkinan ditemukannya sangat kecil, kemungkinan tertimbun jauh lebih dalam sangatlah besar, mungkin juga jatuh di gunung pasir saat dia duduk-duduk di sana, siapa yang tahu  tadi jatuh di mana ???

“ Damn !!! sungguh memalukan !! “ kata dia.  “ Sebaiknya kita berfikir, apa yang seharusnya kita lakukan selanjutnya “ kataku.

Dia diam sebentar “ aku akan tinggal di sini sama Bo, kau balik ke kota, sampai kau dapat  signal HP, telp tempat di mana kita sewa mobil, dan minta mereka menjemputku di sini “ usul dia.

“ Aku gak akan ninggalin kamu sendirian di sini, kalo aku turun ke kota, kau juga turun, lagian hari ini adalah hari Sabtu dan mereka libur, aku gak yakin kalo hari ini mereka ada di kantor, dan aku juga gak yakin kalo mereka mau menjemputmu malam ini juga, di malam hari bakalan sangat dingin di sini, gak ada selimut di mobil, lagian kau pikir aku akan membiarkanmu menginap sendirian di tengah padang pasir  ??  “  kataku.

“Benar apa yang dikatakan istrimu, sebaiknya kau ikut salah satu dari kita pulang, urus segalanya hari ini kalo bisa, dan tinggalin saja mobil itu di sini, kemungkinan dicuri orang kecil, setelah itu cari mobil itu besok  dengan GPS “ kata salah satu dari mereka.

Setelah suamiku setuju dan kita mendapat tumpangan sampai rumah, akhirnya kita ninggalin tuh mobil beserta isinya, tetek bengek yang kita bawa dari rumah.

Di tengah perjalan menuju Cairo, suami menelpon perusahaan travel di mana dia sewa mobil, sambil setengah teriak menjelaskan apa yang terjadi dengan mobil, dan meminta mereka mengambil mobil itu serta memberikan coordinat di mana mobil itu berada, beberapa kali di jelaskan  masih juga belom mengerti apa yang di mau suamiku. Setelah beberapa kali mendapat penjelaskan dari mereka akhirnya kita mengerti kalo mereka gak punya GPS buat nyari dan membawa pulang mobil itu, jadi mereka membutuhkan suamiku buat menemukannya  kembali, dan mereka baru bisa mencarinya besok pagi.

“ Tuuuhhhh khan, coba kalo aku nurutin mau kamu, pasti kau sudah kedinginan di tengah padang pasir sendirian, dan belom tentu juga aku bisa nemuin kau lagi … “, kataku. Dengan cepat dia meraih kepalaku dan menciumnya,  “ thanks… “ kata dia sambil tersenyum.

Selain bahasa Inggris mereka yang kacau dan cara bicara mereka yang seperti orang kumur, sangatlah susah mencari orang yang bisa berbahasa Inggris di Cairo.  Aku sangat mengerti akan hal itu, selain huruf dan tata cara menulis yang berbeda, kursus buat belajar bahasa Inggris juga sangat mahal di sana.

 

Setelah sampai di rumah, bersih-bersih badan, mandi keramas serta order pizza buat makan malam, kita berdua cuman bisa terdiam,  “ what a day…. ternyata berbahaya juga yaa bawa mobil ke padang pasir “ kata dia,   “ maksudmu ???? “,

“ Lha gimana gak berbahaya, kalo kunci mobil ilang, khan repot ??? “ kata dia sambil senyum-senyum.  Aku yang dari tadi cuman manyun saja akhirnya cuman bisa tersenyum kecut dengan candaan dia tadi.  “ Kalo gunung pasirnya besok ilang, gimana ?? khan susah nyari itu mobil, lagian khan gak ada yang bawa GPS  “ tanyaku,    “ apes lah kita “  kata dia enteng.

Semalaman aku gak bisa tidur gara-gara mikirin mobil itu..

Esok harinya saat suamiku sama orang yang dari travel mau mencari mobil itu, aku wanti-wanti ke dia buat menelpon aku kalo mobil itu sudah di temukan.

Waktu seperti sangat lambat berlalu, akhirnya jam 2 siang suami menelponku buat mengabari kalo semua baik-baik saja, mobil sudah di temukan kembali, gak ada yang rusak ataupun sesuatu yang hilang, administrasi juga sudah di urus.

Duuuhhh  leganya………..

 

Bersambung…

 

19 Comments to "Pengalaman Tinggal di Cairo (11)"

  1. Dj.  14 February, 2012 at 15:00

    Bu GuCan…..
    Selamat Pagi dari Mainz….
    Hahahahahahahahaha….!!!
    Terimakasih untuk kata “SALUT” nya….
    Bilamana Dj. membantai bu GuCan….???
    Lha bu Guru Cantik kok dibantai, sayang sekali…..

    ****** saya kan teramat sangat sering salah ketik, alias CEROBOH, ****

    Nah kalimat ini malah bikin Dj,. pusing…
    Sudah teramat sangat, masih ditambah “sering”….???

    Kalau di Makkassar…..
    Kata “kita” itu artinya anda.
    Kalau bertamu dirumah orang Makassar, selalu ditanya.
    Apakah kita sudah makang…??? ( Nah bingun kang…. ??? )
    Yan lucu lagi, orang makassar, kata yang berakhiran dengan huruf “n” mereka tambah huruf “g”
    Contohnya kata makan, jadi makang. kata koran jadi korang.
    Tapi sebaliknya, kata yang berakhiran “ng”, huruf “g” nya malah dihilangkan.
    Jadi kata “orang”, jadi oran, atau kata “barang” jadi baran.

    Nah inilah kekayaan kebudayaan bahasa di negara kita Indonesia.
    Salammmanis dari kami di Mainz, untuk bu GuCan sekeluarga di….???

    Wis ah….
    Pareng….

  2. Dj.  14 February, 2012 at 14:44

    Mbak Titin…
    Selamat pagi dari Mainz….
    Maaf ya, kalau Dj. sok tau…..
    Dj. hanya sekedar ingin meluruskan saja…
    Kan kita, satu keluarga di BalTyRa, jadi Dj. pikir , apa salahnya bila boleh meluruskan.
    Bila kita bisa memakai bahasa kita dengan baik, maka orang juga senang menndengarkannnya.
    Dj. senang mbak Titin tidiak marah…
    Salam manis dari kami di Mainz.

  3. probo  14 February, 2012 at 13:01

    Titin, jangan salah. Pak Dj emang korektor hebat…..
    saya pun selalu saja ‘dibantai’ PakDJ dalam hal bahasa…..
    saya kan teramat sangat sering salah ketik, alias CEROBOH,
    tapi di luar itu saya memang kerap kali salah pilih kata yang pas hehehea

    PakDJ bener kok……untuk pemakaian kami dan kita,
    dulu kayaknya sering juga dipakai kata ‘-kita-kita’ untuk pengganti kami,
    tentu saja tidak resmi, seperti : “kok kita-kita nggak diajak…’

    saluuut buat PakDj…

  4. Titin  14 February, 2012 at 12:50

    Wwaaaahhhh koreksi pak DJ, bahasa indonesia pak DJ dapat 9, saya cuman dapat 4, apa yang pak DJ bilang emang benar tuuhh, kata ” kami ” itu tidak menyertakan yang diajak bicara, kalo kata ” kita ” artinya orang yg di ajak bicara ikut serta di dalamnya.
    Dan yang sering terjadi kata ” kita ” jadi bahasa prokem, seperti bahasa yang saya pake dalam cerita.

  5. Titin  14 February, 2012 at 12:41

    Pak DJ, kami khan sewa mobilnya,di kasih kuncinya yaa cuman itu,lagian mana juga kita tahu kalo bakalan kehilangan kunci
    Trimakasih buat koreksinya, maklum sudah gak begitu ingat lagi pelajaran bahasa Indonesia.

    Kalo saya membaca cerita bahasa indonesia terkadang tercantum ” kita semua akan pergi…. ” atau ” kami ber lima akan pergi …” , perasaan sama saja artinya, tapi gak tahu juga yaaa
    Atau sebaiknya kita tanya saja sama bu Gucan yaaa…

    Kornelya, thanks

  6. Kornelya  14 February, 2012 at 04:34

    Bu Titin, benar-benar pengalaman mengesankan, hilang kunci mobil dipadang pasir. Bersyukur masalah teratasi. Salam.

  7. Dj.  14 February, 2012 at 04:21

    Mbak Titin….
    Terimakasih ya, untuk ceritanya yang bagus…
    Bagi yang akan jalan-jalan ke padang gurun, harus bawa kunci serep.
    Kalau satu hilang, yang lain masih ada….

    Maaf, Dj. sedikit tergelitik dengan kata “KITA” yang banyak sekali mbakTitin pakai di cerita diatas.

    Sepengetahuan Dj. dulu saat belajar bahasa Indonesia di Indonesia.
    Kata “kita” itu dipakai kalau yang diajak bicara turut didalamnya.
    Kalau yang diajak bicara tidak turut, itu lebih tepat memakai kata “KAMI”

    Maaf kalau Dj. yang salah.
    Salam manis dari Mainz.

  8. Titin rahayu  13 February, 2012 at 23:33

    Mas Anoew, iya tuuhh tau aja kalo mau do foto

    Alvina, gak tahu juga yaa apes karena jin atau apes karena human error aja, waktu kita ke sana temperaturnya lumayan dingin, jaket harus tetap di pake…hujan es malahan.

    Bu Probo, thanks

  9. probo  13 February, 2012 at 22:12

    ikut legaaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.