Pindang Bandeng

Josh Chen – Global Citizen

 

Sudah lama tidak ada artikel masak memasak, dan sudah lama saya tidak menulis artikel masak memasak di Baltyra.

Kata ‘pindang bandeng’ memiliki banyak sekali multi-arti dan multi-tafsir. Sebagian akan berpikir ikan bandeng di pasar yang berjejer-jejer di atas jerami, yang sudah dibumbui dan berwarna kuning, dan sebagian lagi berpikir masakan ikan bandeng yang lain lagi.

(Google Images)

Masakan ikan bandeng yang saya maksud kali ini adalah salah satu masakan yang biasa kami makan sekeluarga dulu waktu di Semarang. Rasa yang mendekati pindang bandeng masakan keluarga kami jarang sekali kami jumpai. Ada beberapa yang mirip, tapi belum ada yang persis tepat rasanya seperti yang saya inginkan. Sulit menjabarkan rasa seperti apa.

Ada beberapa versi masakan berkuah ini. Yang saya masak kali ini sepengetahuan saya adalah salah satu style pindang bandeng ala Tionghoa Peranakan.

Kebetulan di freezer ada ikan bandeng yang besar sekali pemberian big boss perusahaan tempat saya sehari-hari bekerja. Kebiasaan big boss setiap tahun sehari sebelum Tahun Baru Imlek akan membagikan bandeng kepada staff’nya untuk simbol ‘Nian Nian You Yu (setiap tahun ada lebih). Bandeng yang besar itu segera saya simpan di freezer karena bingung mau dimasak apa. Dua minggu lebih berlalu.

Tiba-tiba hari ini ingin mengolahnya menjadi masakan pindang bandeng. Setelah bertanya kepada salah satu suhu saya, punggawa Waroeng Eddi dan juga bertanya kepada salah satu tetangga yang pernah mengirimi masakan ini, saya memutuskan untuk mencobanya.

Pasar dekat tempat tinggal kami sudah saya kelilingi pagi ini, tapi tidak menemukan salah satu bahan utama yaitu belimbing wuluh (belimbing sayur). Ya sudahlah, saya gantikan dengan beberapa tomat sayur yang berwarna hijau.

Bahan:

  • Ikan bandeng, bersihkan, potong 3 (kalau ukuran besar) atau potong 2 (untuk ukuran sedang)
  • Belimbing wuluh (saya gantikan dengan tomat sayur dan tomat biasa), kalau ada belimbing wuluh, untuk 1 kg ikan diperlukan kira-kira 10-15 buah
  • Sereh
  • Bawang merah dan bawang putih
  • Lengkuas
  • Daun salam
  • Kecap manis secukupnya (sebagai orang Semarang, tentu saya pakai Kecap Mirama…haha)
  • Yang suka pedas, bisa ditambahkan irisan cabe merah/hijau atau cabe rawit utuh (karena yang nomer 2 tenggorokannya sedang kurang beres, cabe saya skip kali ini)

 

Cara memasak:

  • Rajang/iris bawang merah dan bawang putih
  • Potong tomat sayur dan tomat biasa menjadi empat
  • Keprek lengkuas dan sereh
  • Masukkan ikan bandeng, dan semua bahan lain ke dalam high pressure cooker atau sering disebut panci presto
  • Tambahkan air sesuai selera kekentalan sup nantinya setelah masak
  • Tambahkan kaldu jamur, garam dan gula sesuai selera
  • Masak selama kira-kira satu jam (tergantung ukuran ikan bandeng, untuk ukuran 1 ekor 1 kg, kira-kira butuh 1.5 jam, untuk ukuran lebih kecil sekitar 1 jam), sehingga duri menjadi lunak

 

Hidangkan. Rasanya? Silakan coba sendiri…hehehe…

Eet smakelijk, bon appétit

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

52 Comments to "Pindang Bandeng"

  1. Evi Irons  28 February, 2012 at 11:20

    seandainya bisa makan pindang bandeng…hik..hik…hik…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *