Tidak Untuk Umum

Awan Tenggara

 

Sore itu di depan sebuah rumah yang ada di sebuah kota yang ketika itu saya kunjungi, saya dibuat kaget oleh sebuah tulisan yang ditulis dengan huruf kapital dan warna yang mencolok di tempat sampahnya. Begini bunyinya : “TIDAK UNTUK UMUM”

Setelah memperhatikan letak geografis rumah itu, saya membaca kalau letak tempat sampah yang ada di rumah itu bukanlah letak yang sering diisengin orang lain dengan membuang berplastik-plastik sampah ke sana. Sebab rumah itu ada tepat di tepi jalan raya. Jadi, seandainya ada sampah yang akan masuk ke tempat sampah rumah itu selain milik empunya rumah, paling-paling hanya sampah minuman kaleng atau bungkus rokok dari orang yang lewat saja.

Begitu membaca tulisan “TIDAK UNTUK UMUM” tersebut, saya jadi mengantongi kembali bungkus permen saya—yang ketika itu akan saya buang ke sana—untuk saya buang ke tempat sampah yang lain. Sebab, saya tidak suka dengan ketidak ikhlasan yang ditawarkan penghuni rumah itu melalui warning yang ditulis di tempat sampah miliknya. Komitmen yang merepotkan, memang.

Bicara tentang “sesuatu” di depan rumah, saya jadi kembali teringat masa-masa kecil saya. Ketika itu, tempat sampah atau pun taman di depan rumah bukanlah sesuatu yang lebih akan diperhatikan orang lain dibanding sesuatu yang lain, yang pada masa itu juga sering ada di depan-depan rumah. Sesuatu itu adalah “Kendi”.

Siapa yang tidak tahu kendi? Kendi adalah tempat air minum yang terbuat dari tanah liat. Ketika kendi diletakkan bukan di dapur ataupun di atas meja makan, melainkan di depan rumah oleh tuan rumah, siapa saja yang melihat pasti tahu kalau kendi itu ada diletakkan di sana adalah untuk disuguhkan kepada orang-orang yang lewat.

Kita mungkin sering tidak memperhatikan hal kecil semacam itu. Padahal melihat begitu banyaknya musafir—walaupun cuma pengemis atau pengamen—yang lalu lalang. Menaruh kendi berisi air minum di depan rumah seperti itu tentu adalah hal yang mulia. Dulu di kampung saya, hal semacam itu merupakan sebuah budaya. Namun entah karena faktor apa—entah karena tontonan televisi macam apa, kurikulum pendidikan macam apa, dan jenis makanan entah apa yang kita makan—yang membuat budaya seperti itu bisa punah dengan sempurna. Bahkan sebuah rumah saja, kini ada yang mengganti budaya kendi dengan budaya sampah yang saya ceritakan di atas tadi. Pernahkah anda bertanya apa yang terjadi?

Bersosialisasi sudah bukan lagi hal yang sangat penting untuk dilakukan di Negara ini, rupanya. Hey, siapa yang mengajarkan? Adakah di negri ini orang yang dengan bangga mengabarkan kepada orang lain betapa tidak punya hatinya dirinya? Olala, alangkah tidak tahu malunya!

 

Solo, Mey 2011

 

24 Comments to "Tidak Untuk Umum"

  1. Awan Tenggara  15 February, 2012 at 14:57

    Halo, saya datang. Okelah kalau ada yang sependapat dan tidak. Saya tetap menghargai apapun komentar yang ada di sini. manusia selalu punya perspektif yang berbeda, itulah yang saya pelajari di sini. bukan dari tulisan saya, melainkan dari komentar2 di bawahnya. silahkan berkomentar dengan ekspresi apapun, saya akan membacanya kalau ada waktu. yang perlu teman2 BALTYRA ketahui, tulisan ini lahir spontan usai saya melihat tempat sampah itu di dekat hotel tempat saya menginap. Bisa jadi, ketika itu saya menulisnya tidak dengan kepala dingin. Jadi harap maklum. Thnx salam dari semarang.

  2. Juwii  15 February, 2012 at 13:53

    Hallo Awan Tenggara… aku nggak setuju deh sama analisa kamu… Kalo tempat sampah memang tidak untuk umum dan ternyata orang sering membuang sampahnya di sana, ya pasti merepotkan lah. Jadi harus ditulisi “Tidak untuk umum”., Ini bukannya berarti pemilik tong sampah adalah orang yang anti-sosial atau tidak peduli. Dan kalo aku lewat depan rumah orang, ada kendi terus aku haus, nggak bakalan deh aku minum dari kendi itu biarpun memang buat umum — kalo tidak ada tulisan “untuk umum” gitu… Maksudnya… semuanya harus pakai ‘permisi’…
    Kayaknya komenku nggak jelas, biarin saja lah… Lagi rada mabuk :p

  3. paman petani  15 February, 2012 at 13:33

    kasihan ya orang2 jaman sekarang. di kampung saya cuma dua rumah yang pagarnya dua meter. semoga alasannya juga seperti itu; takut dirampok.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.