Klempakan Cariyos Tionghwa Sik Jin Kwi Ceng See

Handoko Widagdo

 

Judul: Klempakan Cariyos Tionghwa Sik Jin Kwi Ceng See

Alih aksara: Dwi Woro Retno Mastuti

Penerbit: Wedatama Widya Sastra

Tebal: ix + 417 halaman

ISBN: 978-979-3258-70-6

Perjumpaan antar budaya selalu menghasilkan penjumputan, pencampuran dan bahkan penggabungan budaya. Sejarah budaya Nusantara menunjukkan bukti-bukti adanya perjumpaan antar budaya tersebut.

Salah satu contoh peleburan dua budaya sehingga menghasilkan budaya baru adalah wayang purwa. Wayang purwa menggunakan cerita-cerita dari India namun disajikan dalam cara pandang (worldview) Jawa. Jadilah wayang purwa menjadi sangat Jawa tanpa kehilangan warna Indianya. Namun ada juga penggabungan dimana warna aslinya tetap mewujud secara dominan. Contohnya pencampuran gamelan dengan alat musik barat.

Seperti telah diketahui bahwa salah satu budaya yang berjumpa dengan budaya Nusantara adalah budaya China. Perjumpaan kedua budaya ini telah mengejawantah dalam berbagai bentuk, seperti: batik dan model pakaian, jenis-jenis makanan, gambang kromong dan cokekan. Dalam khasanah tulis, ditemukan berbagai naskah yang merupakan wujud perjumpaan kedua budaya tersebut. Setidaknya ada 119 naskah Cina-Jawa yang tersebar di berbagai perpustakaan dalam dan luar negeri (vii).

Salah satu naskah Cina-Jawa berjudul Klempakan Cariyos Tiongwha, yang isinya adalah kisah tentang Sik Jin Kwi berperang ke barat. Naskah ini ditulis dalam aksara dan Bahasa Jawa dalam bentuk tembang macapat.

Kisah diawali dengan pertemuan di Kerajaan Tong Tya yang dipimpin oleh Raja Li Si Bin. Urutan cerita mengambil model wayang purwa, yaitu jejer di sebuah negeri, diikuti dengan ekskalasi konflik, gara-gara dan kemudian penyelesaian konflik.

Tembang macapat umumnya terdiri dari (1) Maskumambang, (2) Mijil, (3) Kinanti, (4) Sinom, (5) Pangkur, (6) Asmaradana, (7) Dandanggula, (8) Durmo, (9) Gambuh, (10) Megatruh, (11) Pocung. Urutan tembang ini berdasarkan urutan hidup manusia. Hidup manusia dimulai dari kandungan (maskumambang), lahir (mijil), bayi (kinanti), anak-anak dan remaja (sinom), masa muda (pangkur), berjodoh (asmorodono), bekerja dan berkarya (dandanggula), berperhatian kepada sesame (durma), manula (gambuh), meninggal (megatruh) dan akhirnya dipocong untuk dikubur (pocung).

Meski naskah ini tidak disusun berdasarkan urutan tembang seperti di atas, namun aturan-aturan lain (gatra, guru wilangan dan guru lagu) dalam penyusunan cerita dalam bentuk tembang tetap rapi dipertahankan. Agak aneh memang menemukan kata-kata atau nama-nama China dalam tembang macapat. Jadi harus benar-benar berhati-hati saat mencoba menembangkannya.

Dwi Woro Retno Mastuti menyatakan bahwa selain alih aksara, naskah ini juga sudah berhasil di-Indonesia-kan. Sayangnya, karena keterbatasan dana, versi Indonesia dari naskah ini belum bisa diterbitkan. Padahal, tidak semua orang Jawa masih bisa berbahasa Jawa, apalagi mengikuti alur pikir yang dikemas dalam tembang macapat.

Upaya seperti yang dikerjakan oleh Mbak Woro ini perlu didukung. Dengan demikian naskah-naskah yang mempunyai nilai luhur tidak hanya menjadi penghuni rak perpustakaan atau hanya bisa dinikmati segelintir orang yang memang mengkhususkan diri dibidang ini. Semoga ke depan lebih banyak naskah yang dialih-aksara-kan dan dialih-bahasa-kan.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

67 Comments to "Klempakan Cariyos Tionghwa Sik Jin Kwi Ceng See"

  1. samiko rahmat  24 February, 2012 at 08:28

    wah tinggi juga ternyata filosofi budaya Jawa dengan tembang macapanya. namun karena bahasanya biasa menggunakan jawa halus, jawa kuno kadang2 masyarakat jawa sulit dan bahkan tidak tahu dengan apa yag disampaikan atau makna tembang tersebut, Mas Han termasuk pemerhati Basa Jawa ya

  2. Handoko Widagdo  17 February, 2012 at 07:02

    Mbakyu Woro, sepertinya cukup banyak peminat di Baltyra untuk edisi Bahasa Indonesianya. Kapan terbit? Tolong khabari teman-teman Baltyra ya jika EBI-nya sudah terbit.

  3. Chadra Sasadara  16 February, 2012 at 20:17

    Inggih Mas Hand, yen sampun trbit nuwun perso keh mawon

  4. Handoko Widagdo  16 February, 2012 at 19:20

    Candra Sasadara, masih lebih enak sambil baca buku daripada menthelengi laptop.

  5. Chadra Sasadara  16 February, 2012 at 15:40

    stujuh sekali klo ada software buku sperti ini

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 February, 2012 at 14:48

    Hahaha..baiklah, memang itu tujuan saya mas Han dan Om JC. Mau ke masa lalu spy tahu kenapa masa kini spt ini….

  7. Handoko Widagdo  16 February, 2012 at 14:46

    Kok Amin? Nanti dimarahi Itsme lho.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *