Orang-orang Biasa Dalam Tragedi Luar Biasa

Herry Anggoro Djatmiko

 

Dalam suatu diskusi kecil Martin Aleida, seorang wartawan dan sastrawan yang pernah dipenjara rejim orde baru, heran mengapa tragedi kemanusiaan 1965 tidak tercermin dalam karya sastrawan Indonesia kontemporer paska 65. Keheranan ini bisa dimaklumi mengingat pada masa orde baru wacana 1965 tidak boleh keluar dari narasi besar yg sudah digariskan bahwa peristiwa itu bukan tragedi, melainkan pengkhianatan orang-orang komunis (PKI) yg dengan sukses bisa ditumpas oleh ABRI dan pendukungnya. Baru setelah orde baru ditumbangkan reformasi, wacana 1965 dibuka lagi sehingga banyak kajian-kajian yang membawa semangat “gugatan” atau “pelurusan” disajikan dengan bebas kepada publik. Peristiwa 1965 dibicarakan lebih terbuka; koran, majalah, tidak ketinggalan media massa yg paling digemari orang saat ini: televisi berani memuat disertai debat pro dan kontra agar bisa menarik pembaca atau pemirsa.

Seiring gelombang besar mengkoreksi kesalahan dan kejahatan orde baru, arus deras penerbitan tulisan-tulisan peristiwa 1965 sebagai bagian booming wacana kiri membanjiri pasar buku di Indonesia. Pembaca yg sedikit tekun pada awal 2000 bisa dengan mudah mendapatkan buku-buku terjemahan yang isinya sangat bertentangan dengan versi 1965 orde baru. Tidak ketinggalan para pelaku sejarah mengkisahkan kesaksian mereka atas peristiwa dengan sudut pandang orang yang tidak layak dijadikan pesakitan atau dipersalahkan.

Barangkali terdorong oleh semangat menggebu-gebu hampir semua tulisan-tulisan tersebut seolah-olah ingin menyodorkan fakta, data dan analisa untuk membuat “kebenaran” baru yang tentu saja berbeda seratus delapan puluh derajat dari “kebenaran” orde baru. Sementara, penerbitan karya sastra tentang peristiwa 1965 pada awalnya memang masih seperti yg disinyalir Martin Aleida. Meskipun demikian, koran dan majalah mulai “berani” memuat tulisan sastra—cerpen khususnya—dengan setting waktu masa-masa 1965 dan setting sosial persoalan2 dampak 1965 terhadap manusia Indonesia. Baru kemudian terbit kumpulan cerpen, novel, puisi yang ditulis baik oleh sastrawan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yg dekat dengan PKI, maupun sastrawan yang lebih muda atau yg tidak ada afiliasi dengan ideologi “kiri”.

Berbeda dengan riset-riset para ahli yang mencoba mencari fakta dan data ‘tandingan’ maka karya sastra dimaksudkan, menurut hemat saya, agar pembaca bisa diperkaya dan dikenalkan kisah-kisah manusiawi dalam tragedi kemanusiaan 1965 ini. Sepanjang tahun 2011 telah terbit dua novel yaitu:Blues Merbabu oleh Gitanyali (Bre Redana), Candik Ala 1965 oleh Tinuk R.Yampolsky dan dua kumcer: Bunga Tabur Terakhir (BTT) oleh GM.Sudarta, Nyanyian Penggali Kubur (NPK) oleh Gunawan Budi Susanto, dengan memakai peristiwa 1965 sebagai tema utama penceritaan. Menarik bahwa keempatnya menceritakan pergulatan sosok-sosok wong Jowo yang, saya tidak tahu ini stereotip atau prasangka, kental sekali dengan kultur Jawa sebagai acuan hidup sehari-hari mereka.

Namun yang paling menarik dan jarang ditampilkan dalam sastra Indonesia terutama karena BTT dan NPK lebih memaparkan kisah-kisah orang biasa, dibanding misalnya cerpen atau novelet Umar Kayam (“Musim Gugur Kembali di Connecticut”, “Bawuk”, “Sri Sumarah”) dimana tokoh utamanya adalah para priyayi yang memilih ideologi komunis. Lebih-lebih lagi bahwa orang-orang biasa tersebut terseret atau diaruskan oleh gelombang tragedi yang luar biasa. Peristiwa 1965 bukanlah sekedar terjadinya pembuhuhan perwira ABRI, melainkan disusul pembunuhan massal sekitar 500 ribu manusia, pemenjaraan, pembuangan, penghilangan, pemerkosaan yang terjadi di seantero pelosok tanah air. Rejim orde baru menggenapinya dengan stigmatisasi, kriminalisasi, serta peniadaan hak-hak sipil terhadap orang-orang yang (dianggap) terlibat, baik langsung maupun tidak, dengan komunis dan komunisme. Bagaimankah mereka, orang-orang biasa tersebut, dihempaskan atau mampu bertahan diterpa badai tragedi luar biasa ini?

Seperti kebanyakan kisah-kisah rakyat kecil yang selalu kalah dan dikalahkan ketika terjadi pergolakan sosial politik, maka BTT dan NPK mencatat kisah-kisah pilu korban-korban yang berjatuhan. Mayat-mayat akibat pembunuhan massal disaksikan secara telanjang oleh mata kanak-kanak di sepanjang Bengawan Solo (“Metamorfosis Kecemasan”), penangkapan guru desa yang sebetulnya hanya demi melindungi istrinya (“Langit Tanpa Bintang”), dan kekerasan terhadap orang yang ditangkap tanpa jelas kesalahannya sampai dianggap tidak layak untuk menerima kiriman sayur bayam (“Mbok Nah, Tong, dan Sayur Bayam”), terpapar di NPK.

Sedangkan BTT, dengan sedikit dramatis, menggambarkan kekerasan penangkapan dan pembantaian (“Bunga Tabur Terakhir”), penindasan seksual terhadap perempuan sepanjang hayat oleh aparat (“Sum”), teror yang harus terpaksa diterima oleh korban justru dari tetangganya sendiri (“Yomodipati”), pelarian yang gagal dari pembuangan di P.Buru (“Perburuan Terakhir”). Disebut dramatis, karena BTT secara literer menceritakan lagi masa lalu itu seutuhnya dengan sudut pandang orang ketiga seperti layaknya laporan pandangan mata wartawan untuk dikonsumsi pembaca koran. Berbeda sekali, NPK memakai penceritaan sudut pandang orang pertama sehingga saya sebagai pembaca seolah sedang mendengar langsung dari mulut si tokoh atau penulisnya(?) tentang yang dialaminya pada saat itu. Perbedaan lagi dalam NPK, pada akhir cerpen penulis membayangkan semua itu sebagai kenangan, memori, ingatan, dengan trauma yang tidak disembunyikan.

Namun ada persamaan antara BTT dan NPK, dan inilah bagian yang paling menarik dari dua kumcer ini, sehingga menurut saya pantas diberi catatan. Pertama, keduanya bisa dengan baik membawa kita mengetahui lebih lanjut bagaimana orang-orang biasa mampu bertahan menghadapi tragedi kemanusiaan yang menimpanya. Sudah banyak kisah-kisah “survival” para tapol di penjara dan pembuangan, namun masih sedikit kisah bertahan hidup para korban dalam masyarakat yang telanjur memberi stigma negatif di bawah kekuasaan rejim yang represif orde baru.Mari kita lihat dua cerpen dalam BTT.

Sosok mbah Broto melekatkan gambaran korban yang tidak mau menyerah, yakin akan prisnsip hidupnya, sedikit heroik, menjalani hidupnya dengan “gagah berani” menghadapi kesulitan ekonomi dan cibiran tetangga tanpa minta bantuan pihak lain.Di sisi lain Woro Seledri, setelah ditempa penderitaan sebagai tapol bertahun-tahun kemudian menjalani hidup dengan kepasrahan religius yang mendalam. Mengingatkan saya kepada beberapa fiksi pertobatan tapol komunis yang diperbolehkan terbit oleh rejim orde baru. Dalam NPK, saya lebih suka menyebutnya sebagai siasat hidup orang yang kalah, tokoh-tokohnya bertingkah laku yang tidak umum.

Seorang pegawai yang dipecat (“Seruling Pakde Mitro”) karena tersangkut G30 S kemudian mempertahankan hidup dan kewarasannya justru bertingkah bak orang gila yang suka meniup seruling ! “Nggendeng…itulah yang kulakukan setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang tak terlawan,” ujar Pakde Mitro. Di kisah lain, agar keluarga korban masih bisa terjaga eksistensinya serta kesulitan hidup di masa orde baru diperingan , seorang ayah harus “dimatikan” secara administratif, yang tentu saja resikonya melahirkan konflik intern keluarga yang disandang sepanjang hayat (“Dalam Kubur, Mereka Berdampingan”).

Kedua, kisah orang-orang biasa dalam posisi sebagai pemenang atau pelaku ditampilkan secara manusiawi yang ternyata juga tidak lepas dari trauma yang menghantuinya. Bagaimana pergolakan batin seorang penjagal dalam pembantaian yang dipaksa memendam ingatan selama ini, bukankan sama nyerinya dengan korban yg juga dipaksa bungkam?, bisa dibaca dalam “Eksekusi” (NPK). Bahkan para pelaku itu, dalam “Orang-orang Mati yang Tidak Mau Masuk Kubur” (BTT), digambarkan masih terus selalu “diganggu” oleh korban yang dulu mereka bantai. Ada dokter yang sering kedatangan pasien yang sama dengan usus terbuai, dan ada camat yg selalu kumat penyakit anehnya bila diingatkan masa lalunya. Para pelaku di tingkat bawah ini sering kali harus bersedia, jika tidak ingin dimasukkan sebagai “pengkhianat negara”, menangkap atau membunuh tetangga bahkan kerabatnya sendiri. Apakah ada kebanggaan dan kebajikan, menimpakan penderitaan terhadap orang-orang yang mereka kenal dan dekat sehari-hari?

Tragedi, konon kata orang-orang pandai, merupakan pergumulan nasib yang tidak dimenangkan. Meski harus dipertanyakan mengapa hanya oleh berapa gelintir elite sanggup menetapkan nasib yang teramat menyengsarakan ribuan mungkin jutaan orang yang dikorbankan demi kekuasaan. Tragedi kemanusiaan 1965 ini sangat harus diingat, dituturkan, dituliskan, dipelajari, bukan untuk memelihara dendam namun agar kebiadaban manusia Indonesia tidak diulang-ulang lagi. Pada titik inilah karya fiksi, semacam BTT dan NPK, relevan sekali bagi kita.

 

Subah, 7 Desember 2011

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, mas Herry Anggoro Djatmiko…make yourself at home. Dan tentu saja ditunggu tulisan-tulisan lainnya. Terima kasih kepada Dewi Aichi yang mengenalkan Baltyra kepada mas Herry…

 

22 Comments to "Orang-orang Biasa Dalam Tragedi Luar Biasa"

  1. Herry Anggoro Djatmiko  20 February, 2012 at 00:02

    Bung J C: ya benar saya tinggal di Subah dan saya asli wong Subah hehe…Pak Khodirin bukan lurah Subah melainkan lurah desa Gombong. Mohon maaf salam tidak bisa disampaikan karena beliau sudah wafat. Gombong sekarang sudah tidak termasuk wilayah Subah, sejak ada pemekaran kecamatan yaitu Pecalungan yg letaknya di selatan Gombong.

  2. J C  16 February, 2012 at 14:26

    Mas Herry Anggoro Djatmiko, dari kemarin saya mau nanya kok lupa terus. Melihat tulisan “Subah” di bawah, apakah Panjenengan memang tinggal di Subah? Apakah pak Lurahnya masih pak Khodirin? Kalau masih, tolong titip salam dari salah satu KKN 1994 dari almamater sama dengan Panjenengan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.