Rabat

Anwari Doel Arnowo

 

Kata yang dipakai judul ini mungkin sekali berasal dari bahasa Inggris REBATE, entah siapa yang terlebih dahulu, bahasa Indonesia atau bahasa Inggris? Sudah saya periksa di K.U.B.I. (KAMUS UMUM BAHASA INDONESIA) dan K.B.B.I. (KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA) serta Thesaurus Bahasa Indonesia, tidak satupun yang menyebut kata itu berasal dari bahasa Inggris. Mungkin sekali kalau saya dalami di dalam Kamus Inggris Oxford atau Webster, akan terungkap yang mana terlebih dahulu. Bilamana kata amok dan manggo itu dianggap bahasa Inggris, maka saya duga kuat bahwa kata amuk dan mangga, adalah benar-benar dari bahasa Indonesia. Di dunia ini apa sih yang bisa disebut dengan asli?

Uang adalah alat pembayaran yang sah. Apakah penggunaan Kartu Kredit juga alat pembayaran yang sah? Lha iya dan tentu saja juga tidak. Sebabnya? Uang maupun Kartu Kredit juga gampang dipalsukan. Lalu adakah RABAT atau rebate yang dipalsukan? Silakan baca yang selanjutnya.

Salah seorang Bakal Calon Gubernur untuk Daerah Pemilihan DKI Jakarta adalah Faisal Basri, seorang ahli ekonomi. Dia pernah menjadi SekJend. (?) partai politik PAN yang terakhir ditinggalkannya sama sekali. Dalam sebuah acara di sebuah siaran televisi beberapa waktu yang lalu, dia berkata yang kira-kira bunyinya: “Bila di dalam sebuah tempat jual beli tidak terjadi tawar menawar itu berarti ….”

Saya lupa persisnya dia berkata apa saja, tetapi pada intinya dia ingin agar kehidupan pasar tradisional, yang seperti biasa terjadi secara sederhana di pasar-pasar pada masa kecil saya dulu, bisa dipertahankan sebaik-baiknya. Yang dimaksudkan adalah janganlah pasar tradisional diubah menjadi sebuah MAL seperti selama ini dilakukan oleh banyak pihak. Bukankah di dalam sebuah mal itu tidak terjadi tawar menawar? Harga sudah tetap sekian, kecuali memang ada rabat.

Tidak banyak dari kita yang ingat kata rabat, Itu kata di dalam bahasa Indonesia yang berarti pengurangan harga dari harga biasa. Lalu ada kata asal belanda: KORTING mewabah pada era orang tua saya, dan sekarang semua menjadi kurang keren atau malah dipandang kurang bermartabat kalau mengucapkan korting atau rabat. Supaya keren dan bergengsi maka dipakailah kata yang terbukti import, yang aslinya discount dan diganti menjadi diskon. Lebih keren !! Apa iya ??

Rabat sebenarnya adalah akibat dari kondisi penjualan yang berubah karena antara lain: persaingan membesar dan harga tidak dapat tetap ditahan di satu posisi terus menerus, bisa juga karena memerlukan uang secara cepat untuk membayar utang yang sudah tiba saatnya harus dibayar. Mau bangkrut? Itu juga mungkin sekali.

Jadi penyebabnya adalah urusan intern para pedagangnya.

Saya ingin mengemukakan masalah jual beli yang berikut ini, menggunakan: KARTU KREDIT !!!

Di mana-mana di seluruh dunia ini saya melihat posisi Kartu Kredit sudah menjadi status simbol. Bahkan bisa sekali dihargai lebih tinggi dari sebuah Paspor atau Kartu Tanda Penduduk. Juga dihargai lebih tinggi dari uang tunai atau cash baik Rupiah atau Dollar apapun atau YEN (dilanjutkan ono duwite?). Contohnya: Saya mau pesan kamar di sebuah Hotel di Bandung, eh, ternyata tidak bisa begitu saja. Mereka minta nomor Kartu Kredit. Kalau dibilang tidak ada, maka minta transfer melalui Bank ke nomor rekening sekian … sekian dan seterusnya. Normal?? Iya mungkin sekali menurut kenormalan masa kini. Apa yang disebut normal masa kini itu?

Itu adalah aman menurut kaidah sepihak, yakni si penjual barang atau jasa. Pada masa lalu, masa jaman doeloe, itu semua memang bisa dilakukan per telepon atau telegram. Bukan karena belum adanya Kartu Kredit, tetapi karena ada unsur yang paling penting dalam perdagangan yang amat bisa dipegang pada waktu itu, yaitu: kepercayaan. Saya tau bahwa pembaca ada yang mencibir sinis dan malah mau mulai mengejek dengan segala macam ungkapan terhadap masalah kepercayaan ini. Tidak apa-apa kok, itu semua hak setiap orang, saya tidak melawan, karena saya yakin kepercayaan itu harus didahului dengan prestasi (earned) , tidak mungkin jatuh dari langit. Kartu Kredit itu memang berguna, tetapi biasanya hanya mampu digunakan oleh orang yang tertib dan bisa mengendalikan dirinya sendiri dengan piawai. Kartu Kredit untuk menghindari membawa-bawa uang tunai terlalu banyak, untuk tidak terlalu lekat tergantung dengan money changer. Satu-satunya hambatan buruk dari Kartu Kredit adalah sifat sembrono dan berkelakuan tak terkendali.

Apa ada sih orang yang berkelakuan tak terkendali? Terkendali itu oleh siapa? Ya, tentunya oleh dirinya sendiri. Kalau mau dikontrol oleh orang lain dan dikendalikan oleh diri sendiri juga bisa kok. Orang lain itu adalah staff yang mengerti akunting (accounting) atau seorang akuntan profesional, yang dua-duanya bisa digolongkan sebagai orang yang digaji oleh yang bersangkutan. Dengan demikian maka yang bersangkutan akan lebih mudah mengawasi kelakuan dirinya sendiri.

Sedemikianpun upaya seseorang yang ingin tertib, maka masih ada saja celah agar bisa “belanja” yang kurang perlu dengan menggunakan Kartu Kredit sebagai sarana pembayaran. Saksikan godaan-godaan yang ditampikan oleh link berikut ini:

http://www.livingsocial.co.id/?popup=false&utm_source=google&utm_campaign=National%20Search%20-%20ID%20(Indonesian)_Core%20-%20Discount_19036311471_+diskon%20+kartu%20+kredit_abtest-landingpage-transbg&utm_medium=cpc-sub

Belum cukup tergoda?? Ini masih ada lagi yang menggoda untuk jajan lewat tengah malam waktu yang kata orang “biasa dan normal” adalah waktu orang sudah tidur ?! Ha ha ….

http://www.adadiskon.com/article/january-2012-2692/bersiap-serbu-late-night-sale-di-jakarta-surabaya.html

Yang sering saya masalahkan adalah demikian banyaknya outlet makanan dan barang yang menawarkan rabat sekian besar untuk pembelian melalui Kartu Kredit Bank Anu. Rabatnya luar biasa besarnya. Bila dibayar tunai, maka tidak ada rabat sama sekali. Lalu saya usil sedikit: “Bukankah cash itu amat penting, karena sifatnya yang tunai dan sekarang  berarti saat ini juga, mengapa tagihan Kartu Kredit itu malah lebih diandalkan? Bukankah jumlahnya lebih sedikit setelah rabat dan menagihnya ke Bank Anu kan masih makan waktu dan pasti bukan saat ini?” Para penjual itu biasanya tidak pandai menjawab, diam saja atau jawabannya berupa kata-kata yang dia sendiri akan bingung bila dia menjadi penanya seperti saya.

Anda orang biasa atau orang normal??

Apapun jawaban anda, saya akan bisa mudah menerima apabila anda menjawab dengan menggunakan kata-kata: “Saya Tetap Akan Menjadi Diri Saya Sendiri, Tidak Perlu Meniru Orang Lain”.

Akibatnya biasanya aman-aman saja.

Sudah saya praktekkan seingat saya sama panjangnya dengan lamanya ingatan di dalam hidup saya.

 

Anwari Doel Arnowo – 2012/01/27

 

17 Comments to "Rabat"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 February, 2012 at 14:36

    Saya pakai kartu kredit selama lebih 12 tahun. Tetapi aman-aman saja, karena saya yang mengendalikannya. Mlah ditawari pinjaman terus. Saya kadang terima kadang tolak..

    Semua hanya piiihan. Lebih enak tak pakai apa-apa, mau tinggal ambil…

    Salam Pak Anwari..

  2. Anwari Doel Arnowo  15 February, 2012 at 22:20

    Terima kasih atas komentar-komentarnya yang bersemangat.
    Iyalah, kalau tidak mampu mengatur diri sendiri maka tidak akan berhasil mengatur orang lain termasuk mengatur keluarga sendiri. Manajemen diri sendiri itu memang akan menimbulkan contoh yang patut ditiru. Menjadi pemimpin keluarga berhasil, maka bisa menjadi leader di dalam community dan seterusnya sampai ke JabaTan Negara yang paling tinggi sekalipun.
    Itulah sebabnya mengapa saya amat menganjurkan pelajaran accounting dari berhitung dan mencatat belanja yang paling sederhana sampai nanti yang paling rumit, diajarkan sejak masa kanak-kanak. Dengan bekal ilmu accounting maka akan bisa membedakan uang saya dan uang orang lain.
    Itu adalah salah satu cara mencegah korupsi nantinya di kemudian hari.

    Anwari Doel Arnowo – 2012/02/15

  3. Dj.  15 February, 2012 at 01:59

    Cak Doel….
    Selamat Malam dari Mainz…..
    Memang ada benarnya juga….
    Dj. biisa bayar dengan kartu kredit ( kredit = utang ), tapi juga bisa dengan uang tunai.
    Tergantung barang yang akan kami beli.
    Kalau beli mobil dengan harga € 30.000,- ya jelas akan kami bayar dengan kartu kredit.
    Tapi kalau hanya makan di restaurant yang € 100,-, kalau dengan kartu kredit, rasanya kok
    agak kagok juga. Apalagi kalau beli barang seharga € 10,- ya tunai lebih santai.

    Tapi kami pernah bersyukur bawa kartu kredit, saat di Jaya Pura.
    Saat mau bayar hotel dengan kartu kredit, mereka belum siap dengan penggesekkannya
    Mau nukar uang untuk bayar hotel, disetiap Bank, mereka tidak mau, banyak alasannya.
    Ada yang bilang uangnya ( Euro ) terlipat, tidak mau menukarkannya ( memang aneh ).
    Akhirnya kami ambil uang di Bank ( bukan di ATM ), saat kami lihat uang rupiah, jauh lebih kacau, tapi berlaku.
    Hahahahahahahahaha….!!!
    Waaaah, kalau kami tidak bawa kartu kredit, mungkin kami harus cuci piring atau jadi bellboy di hotel…Salam Sejahtera dari Mainz….

  4. non sibi  15 February, 2012 at 00:47

    Betul sekali Pak Itsmi “kalau orang tidak bisa memanage diri, pakai cash atau kartu kredit itu sama hasilnya, cuma kalau kalau ada kartu kredit, kartunya di kambing hitamkan hahahah” BTW, I like your ‘hahahah’ comment ending.

  5. non sibi  15 February, 2012 at 00:42

    Betul sekali Pak ADA dan Pak JC, silakan gesek ttp setiap jatuh tempo bayar lunas. Kartu kredit adalah salah satu moda pembayaran yg praktis aman. Kecopetan uang kontan pasti selamat tinggal bye bye, ttp kecopetan kartu kredit silakan telepon customer service utk blokir.

  6. Itsmi  14 February, 2012 at 21:58

    Wahnam, pemikiranmu sudah tidak sesuai… kalau dulu kartu kredit di pakai sebagai pinjaman.. sekarang karti kredit sudah di pakai sebagai dompet….. tentu ini juga bisa sampai berutang….. jadi sebenarnya udh jadi satu…

  7. Wahnam  14 February, 2012 at 21:33

    Pembayaran dgn mengunakan kartu kredit menunjukkan bahwa kita berhutang sama bank. Mendingan cash jadi ngak susah2 mikirin tagihan nya tiap bulan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)