Wednesday, 15 February 2012
Probo Harjanti
Berbagai cara dilakukan sekolah untuk men-sukseskan Ujian Nasional (UN). Yang dimaksud sukses adalah. Banyak yang lulus, syukur 100% lulus. Upaya sukses UN tahun ini, dimulai sejak semester I. Bayangkan, usai UAS (Ujian Akhir Semester) dua hari kemudian disusul dengan TPM I. Belum lagi hasil semesteran keluar, sudah disusul TPM lagi. Kami, para guru pun harus jaga tes lagi. Sebenarnya, pekerjaan menunggu (istilah resmi jaga) adalah amat membosankan. Duduk memelototi anak yang mengerjakan soal, benar-benar membosankan.
Seorang teman guru, selepas jaga langsung berkomentar pedas karena soal yang tidak valid. Dia dengan jengkel berteriak, “ Siapa sih yang bikin soal…pethok tenan!”
Pethok adalah ungkapan dalam bahasa Jawa, yang artinya kurang lebih bego atau tolol. Kenapa sampai terlontar kata ‘pethok?’, ternyata oh ternyata, banyak soal bahasa Indonesia yang tidak valid. Ada yang membingungkan, keluar dari kisi-kisi, dan lain-lain.
Soal yang tidak valid, ternyata bukan hanya soal Bahasa Indonesia saja, soal Matematika juga. Saat usai TPM dilakukan analisis soal, ternyata yang diterima hanya 1 soal. Itu tadiguru Matematika yang cerita. Ada beberap kriteria untuk melakukan test terhadap butir soal, tentu saya tidak akan membicarakan di sini. Yang menjadi ‘soal’ bagi saya adalah, kenapa soal yang tidak bagus lolos dijadikan soal TPM? Siapa yang membuat soal-soal tersebut? Apakah ada editing dari guru inti, instruktur, atau malah pengawas bidang studi, atau siapa penanggung-jawabnya.

Membuat soal memang siapa pun bisa, tetapi membuat soal yang baik, tidak bikin bingung, bahasa eanak dan muter-muter, itu tidak mudah. Sebenarnya banyak guru yang bisa membuat soal bagus, tapi jarang mendapat kesempatan dari MKKS. Ada kecenderungan pembuat soalnya itu-itu saja, terkesan ‘apalan’, maksudnya orangnya yang ‘diapali’. Dan akhirnya, guru-guru lain yang potensial tidak mendapat kesempatan, idak kebagian ‘poten’, tetapi kebgian ‘sial’-nya
Sehari sebelum saya nulis ini, teman guru fisika juga ‘nggresula’ (menggerutu),ada soal fisika yang tidak bisa dikerjakan, atau salah soal. Jangan tanya salahnya di mana ya, saya tidak pernah kenal dengan fisika, kalau Bu Fisika saya kenal, itu yang rumahnya di: http://baltyra.com/2010/09/08/obrolan-ruang-guru-selamat-pagi-bu-fisika/

Soal UN nantinya dibuat 5 macam, tetapi pada TPM terdahulu, soal masih sama, pada TPM II dan III (resminya I dan II), soal dibuat A dan B. Meski dibuat 2 macam tidak menjamin peserta tidak tengok kiri-kanan. Apa pasal? Karena ternyata soalnya sama, hanya beda nomor. Atau hanya diacak nomornya saja, yang lain sama. Sebenarnya kalau memang dibuat beda tapi tidak mau membk nuat yang baru sama sekali, bisa dilakukan dengan acak kalau mau opsi jawaban. Sedangkan untuk mata pelajaran yang eksak, amat mudah untuk dibuat beda, ubah saja angkanya, atau balik pertanyaanya, beres kan?
Semoga saja tidak nambah stress karena soal-soal yang tidak bagus.
Pages: [11] 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
Pages: [11] 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
February 26th, 2012 at 10:10
Mbak Lani lehe edan Anoew wis kit biyen tooo?
February 24th, 2012 at 22:36
59 KANG ANUUUUUU: hahahah…..ediaaaaaaan…..!