Oleh-oleh dari Masa Lalu (2): Petilasan Sri Aji Jayabaya

Osa Kurniawan Ilham

 

Waktu saya masih kecil dan bertumbuh besar di Kediri, orang sering membicarakan tentang sebuah tempat di Pamenang, Pagu, Kediri yang dinamakan Petilasan Sri Aji Jayabaya. Setiap tahun, apalagi saat peringatan Tahun Baru Hijriah atau peringatan Satu Suro, tempat ini selalu dipenuhi dengan banyak orang dari seluruh penjuru negeri, terutama para penganut Kejawen. Mereka biasanya mengadakan sebuah ritual tertentu untuk memperingati Sri Aji Jayabaya yang mereka percaya tidak mati tapi langsung moksa tiada jejak.

Tapi di luar 1 Suro, petilasan ini juga ramai dengan banyak orang. Ada yang sekedar berkunjung atau berwisata sejarah, ada yang memang datang dengan niat untuk bertapa atau semedi, ada yang datang untuk tidur dan bermalam untuk mendapatkan wangsit, ada pula yang datang untuk mengadakan kenduri biasanya sebagai ungkapan syukur karena ada harapannya yang terkabul saat dia sembahyang di tempat ini.

Karena itulah maka banyak orang yang menyatakan tempat ini musyrik, tidak layak dan tidak patut serta tidak boleh dikunjungi. Tempat seperti ini biasanya banyak setan gentayangan karena banyak orang datang dengan niat ngalap berkah bukan kepada Yang Maha Kuasa. Karena itu tidaklah heran selama saya di Kediri, saya tidak pernah mengunjungi tempat ini.

Lebih dari 30 tahun akhirnya saya dan keluarga mengunjungi tempat ini. Bukan untuk ngalap berkah, tapi hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu tentang sejarah masa lalu daerah kelahirannya. Anak-anak juga saya ajak supaya mereka bisa mengenal sejarah sejak kecil. Bukankah banyak setannya di sana? Ah, biarkanlah…di mana-mana juga banyak setan kok, lebih-lebih di kantor-kantor pemerintah itu he..he.. Bukankah Roh yang di dalamku lebih besar dari semua setan itu?! Begitu keyakinan kami.

Demikianlah, setelah mengunjungi Arca Totok Kerot, kami melanjutkan perjalanan ke Petilasan Sri Aji Jayabaya. Tidak jauh, hanya sekitar 1 km dari arca Totok Kerot. O, ya sekedar pengetahuan sejarah, Sri Aji Jayabaya adalah raja Kerajaan Kadiri yang memerintah pada tahun 1135 – 1157M. Kerajaan Kadiri sendiri adalah pecahan dari Kerajaan Mataram Kuno atau Kahuripan yang diperintah oleh Raja Airlangga. Pada akhir November 1042, Airlangga memecah kerajaannya menjadi dua karena kedua anaknya memperebutkan tahta. Akhirnya Sri Samarawijaya mendapatkan Kerajaan Panjalu yang berpusat di Daha, sedangkan Mapanji Garasakan mendapatkan Kerajaan Janggala yang berpusatkan di kota Kahuripan. Konon, kedua kerajaan itu dipisahkan oleh Sungai Brantas yang dibuat oleh Mpu Baradah, yang mana dia terbang sambil menyiramkan air dari guci yang dia bawa yang kemudian berubah menjadi Sungai Brantas.

Sri Aji Jayabaya adalah raja keempat di Panjalu. Masa pemerintahaannya adalah puncak kejayaan Kerajaan Kadiri karena berhasil mempersatukan kembali Panjalu dan Jenggala. Di masa pemerintahannya ekonomi berkembang pesat, demikian pula dengan perkembangan intelektual yang ditandai dengan munculnya sastrawan-sastrawan seperti Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menggubah Kakawin Bharatayudda. Bahkan kemudian Jayabaya kemudian juga dikenal sebagai Nostradamus-nya orang Jawa karena orang mengingatnya sebagai raja sakti yang mengeluarkan ramalan tentang Nusantara jauh di masa depan. Karena itulah orang Jawa selalu mengingat Jangka Jayabaya atau Ramalan Jayabaya, walaupun sebenarnya tulisan-tulisan mengenai ramalan Jayabaya sebenarnya baru dituliskan pada tahun 1618M oleh Sunan Giri ke 3 dengan judul Kitab Musarar.

Saya kira cukup pelajaran sejarahnya, sekarang kita kembali kepada perjalanan kami ke sana.

 

Ternyata petilasan ini tidak begitu besar. Pintu masuknya saja seperti gang masuk jalan di kampung.

Di pintu masuk banyak orang berjualan kembang untuk ritual.

 

Ada tata tertibnya juga lho, jadi jangan sembarangan di sini

Sejarah singkat Pamuksan Sri Aji Jayabaya

 

Inilah pamuksan itu. Orang biasanya bersemedi di sini

 

Tempat bersemedi

 

Diyakini sebagai tempat mahkotanya Sri Aji Jayabaya

 

Ada yang sedang mempersiapkan kenduri

Pendapa tempat orang bermalam atau melakukan ritual kenduri

Setelah jeprat-jepret mengambil foto, kami pun akhirnya pulang untuk meneruskan perjalanan. Sebenarnya di dekat sini juga ada petilasan yang lain yaitu sebuah pemandian Sendang irti Kamandanu, yang dipercaya sebagai pemandian kerajaan saat itu. Tapi karena waktu sudah mepet kami tidak mampir ke sana.

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 3 Februari 2012)

 

19 Comments to "Oleh-oleh dari Masa Lalu (2): Petilasan Sri Aji Jayabaya"

  1. Handoko Widagdo  17 February, 2012 at 06:48

    Kang Anoew, karena sudah jarang bangunan bersejarah, maka sekarang banyak pejabat yang suka menghilangkan anggaran?

  2. anoew  17 February, 2012 at 00:09

    Sepakat dengan komen #12, memang pemerintah kita suka benar menghilangkan benda-benda atau bangunan bersejarah yang lantas, dibikin mall atau ruko. Dulu di jalan Hayam Wuruk (simpang olimo) pernah ada klenteng, tapi trus dibongkar dan lalu dibuatlah bangunan tinggi.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 February, 2012 at 11:37

    Bagus Mas OKI…saya senang diajak jalan-jalan… Nanti saya ceritakan perjalanannya saya ke petilasan Airlangga di deket Seloliman, Jawa Timur sana… syereeeem…

  4. Dj.  15 February, 2012 at 21:50

    Mas Osa…..
    Terimakasih untuk artikelnya yang mengajak jalan-jalan….
    Maaf Dj. memang o´on dalam soal sejarah, tapi dengan apa yang mas Oas tulis, setidaknya Dj.
    jadi tau….
    Salam Sejahtera dari Mainz….

  5. Handoko Widagdo  15 February, 2012 at 14:46

    OSAKi dan Kang JC, mungkin benar bahwa itu adalah candrasengkala untuk menandai pemugaran tahun 1986.

  6. J C  15 February, 2012 at 14:16

    Pak Hand, kalau dipenthelengi satu per satu (dipelototi) ya bisa baca, tapi TAON PIRA rampungnya baca? tapi mungkin karena sudah puluhan tahun gak dipakai jadi ketunak-ketunuk bacanya, mungkin dilatih seminggu gitu sudah lancar lagi ya…

    Mas Osa, kebetulan itu simple punya, kalau banyak pasangan ya rada mumet juga. Candrasengkala? Atau memang artinya adalah “Gerbang Tempat Muksa” (maksudnya tempat muksa Jayabaya)? Entahlah…

  7. anoew  15 February, 2012 at 12:24

    Suatu saat saya harus sampai sana. Sangat indah, sarat pengetahuan. Trims mas Osaki, oleh-olehnya manteb tenan.

  8. Osa Kurniawan Ilham  15 February, 2012 at 12:20

    Pak handoko,
    Mungkin gara-gara takut dicap musyrik itulah maka banyak tempat-tempat kuno dikatain banyak hantunya sehingga lebih baik dihancurkan lalu dibangun saja mall di atasnya.
    Kita terlalu senang tahayul dan mistik sehingga tidak bisa menghargai situs-situs kuno bersejarah, beda dengan negara-negara di eropa sono. tapi itu pendapat saya aja lho, mungkin salah

    Salam,
    osa KI

  9. anoew  15 February, 2012 at 12:06

    Swempakan?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *