Atheis, Lebih Terpelajar dan Toleran

Itsmi

 

Menurut majalah Jerman Der Spiegel terbitan bulan Juli 2011; “Dalam waktu yang relatif singkat, seseorang yang berasal dari dunia barat menjadi atheis dan seorang atheis rata-rata lebih terpelajar dan toleran dari pada seorang yang beragama”. Penelitian dari Der Spiegel juga berkesimpulan bahwa “Pandangan hidup dari seorang yang tidak beragama lebih cepat berkembang”.

Dengan tidaknya beragama, pengaruh terhadap moral sangat kuat. Orang yang tidak beragama lebih melakukan perlawanan atau menentang perang, hukuman mati dan diskriminasi, di luar itu orang yang tak beragama tidak menentang orang asing atau non pribumi, homoseksualitas dan drugs.

Ciri khas dari moral orang yang tak beragama: humanisme dan toleransi, penyampaian nilai ini lebih kuat dari pada orang yang beragama.

Juga dari hasil penelitian, orang yang tak beragama lebih mengetahui mengenai Tuhan atau Allah dan agama dari pada orang yang percaya. Ini berkaitan dengan rata-rata orang tak beragama pendidikannya lebih tinggi dari pada orang yang beragama. Penelitian di Amerika begitu juga. http://pewresearch.org/pubs/1745/religious-knowledge-in-america-survey-atheists-agnostics-score-highest

Dari hasil penelitian di atas, tidak membuat saya terkejut atau mengherankan lagi karena semuanya ini akibat dari majunya dunia pendidikan, seperti contohnya di Belanda 35% dari penduduk yang aktif di dunia profesional minimal sarjana. Belanda adalah negara yang paling anti agama. Kira-kira 60% penduduknya tidak beragama. Negara ini termasuk paling makmur, tentram dan terkaya di Uni Eropa.

Ini tidak mengherankan karena untuk membebaskan diri dari agama itu tidak mudah dan juga memerlukan pemikiran yang cukup luas. Pada umumnya orang yang bisa berpikir out-of-the-box, selalu bertanya “BAGAIMANA?” jadi tidak heran kalau mereka yang biasanya menemukan sesuatu yang baru. Belanda sebagai negara kecil yang tak beragama termasuk negara yang mempunyai peran penting di dunia, contohnya: Belanda menemukan compact disc, senseo, gambut, drum kit untuk orang tuli, sport BH, ginjal buatan dan lain-lainnya.

Rasa ingin tahu juga mengarah ke penemuan diri pribadi dan berkontribusi dirinya karena menjadi lebih pintar dan pro aktif dari pada orang yang hanya melakukan apa yang diberitahukan.

Orang yang beragama saya menilai sebagai pesimis karena menolak imajinasi, kekecewaan, kesenangan manusia dan tentunya percaya atas terbatasnya pemikiran manusia.

Oleh karena itu orang beragama banyak berkhotbah untuk refleksi, kontemplasi pengabdian dan pengunduran diri dan lebih memilih tradisi, iman, penyangkalan diri lebih dipilih dari pada hak untuk menentukan nasib diri sendiri, rasionalitas, modernitas, kemajuan dan kebebasan.

Tidak mengherankan negara beragama pada umumnya negara terbelakang.

 

211 Comments to "Atheis, Lebih Terpelajar dan Toleran"

  1. Miyako  7 February, 2017 at 13:01

    orang indonesia terlalu religius ..pelajaril tentang negara lain..jeoang byak yg bunuh diri karena mereka bekerja keras , gak kaya di. Indonesia.. malas , takut mati , korupsi , penuh sampah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.