Hanya Jika

Anoew

 

Saat-saat pertama saya mengenalnya, dia tampak sangat jauh berbeda. Tampak sangat tenang waktu itu, jarang senyum dan cenderung angker hingga saya berpikir apakah selalu begitu sikapnya terhadap karyawan baru. Suatu saat dia begitu dewasa dan  tegas, atau bersikap dingin tapi seperti menahan senyum geli di saat melihat pekerjaan saya tak kunjung beres.  Namun kini semua itu terasa terlalu jauh setelah saya mengenalnya, dia membuat saya terpesona dan nyaris jatuh cinta.

Setiap saya berusaha mendekat, dia menjauh dan ada saja kesibukan yang saya rasa sengaja dibuat-buat. Dia begitu menjaga jarak antara kami dan itu membuat penasaran. Sungguh! Saat  saya bertanya ke teman-temannya, mereka hanya tertawa dan menyebut dia dia dengan istilah, ‘manusia aneh’. Tapi seorang teman lain malah berkata sebaliknya bahwa sebenarnya dia itu jauh lebih berbahaya dari api. Oya? Saya hanya tersenyum waktu itu, nyaris tak percaya. Tapi yang terjadi kemudian dan membuat saya jadi tak percaya pada diri sendiri adalah, malah memainkan api itu dengan sadar.

Saat membuka obrolan setelah sekian lama gemas dengan tingkahnya yang sok cool  itu, kata-kata  pertamanya sunguh membuat saya melongo, karena gurauannya sangat mesum. Tidak kasar, tapi terkesan lucu dan menggoda. Yang terjadi selanjutnya adalah rasa heran saya yang timbul, mengapa justru menikmatinya. Saya benar-benar geli. Seumur hidup baru kali itu saya temukan seorang lelaki yang begitu kurang ajar dalam berkata-kata, lepas dalam tawa dan ceplas-ceplos. Saya terseret dalam segala guyonan mesumnya itu dan semuanya jadi terasa begitu biasa dengannya, tak ada rasa canggung, tak ada sungkan. Meskipun begitu sebenarnya saya sudah menaruh curiga padanya karena laki-laki mesum dengan “model” seperti itu, pastilah  playboy  dan mungkin juga, seorang pembosan.

Saya tidak bodoh. Saya mengenal laki-laki seperti layaknya gadis-gadis mengenal lawan jenisnya. Dan jika lelaki semacam itu mulai bertindak yang aneh-aneh, saya sudah siap dengan kata-kata pedas atau bahkan, tamparan keras. Tapi yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Dia membuat saya merasa terayu dengan cara yang aneh dan tak bisa dimengerti, membuang rasa antipati saya terhadap apa yang sebelum ini tabu untuk dipikirkan apalagi dibicarakan.

Terkadang saat malam tiba, saya bisa tertawa-tawa sendiri saat mengingat setiap guyonannya. Guyonan-guyonan mesum itu membuat saya berdebar-debar!  Dan bukan hanya itu yang membuat tak berdaya, kelakuannya yang sok alim itu membuat saya penasaran sungguh.  Dia bahkan tak pernah sekalipun menyentuh, walau dalam gurauannya pernah mengatakan ingin bercinta di ruangan tempat kami bekerja, di bawah lampu kristal yg berbentuk unik itu. Dia juga tak pernah mengajak makan siang bersama atau sekedar keluar sore jalan-jalan ke seputaran kota, padahal saat itu saya mulai merasa hubungan kami semakin dekat. Tapi sedekat apa baginya, saya tidak tahu, yang saya tahu hanyalah saat itu dia begitu membuat saya merasa senang dan selalu tertawa. Dia mengucapkan selamat pagi dengan senyumnya yang khas dan menyempatkan diri mencubit lesung pipi saya dengan santainya sambil berujar “hai cantik..!”

Pernah di suatu pagi ketika ruangan kami masih sepi, dia menyelutuk,  “tadi kamu buru-buru ya? Tuh kancing bajunya belum ditutup,”  ujarnya saat itu yang sempat membuat muka saya pucat. Tapi setelah menyadari kejahilannya, saya tersenyum. Atau,  “kamu pasti makin cakep deh kalau nggak pakai celana…” Saya melotot dan tangan ini siap menampar, tapi buru-buru dia meneruskan “maksudku pakai rok, jangan pakai celana melulu”. Hmm….., saya menahan senyum geli lalu, terjebak dalam gurauan mesumnya dan menyahut “menurutmu, aku akan cantik kalau pakai rok tapi nggak usah pakai celana?”

Dan entah kenapa keesokan hari setelah itu, saya ke kantor dengan mengenakan rok sedikit di atas lutut. Semua orang mentertawakan karena akan aneh, bila saat harus ke lapangan dengan kostum “seanggun” itu. Saya tak memperdulikan mereka karena ada yang lebih penting yaitu, dia tersenyum dan berkata, “Kamu cantik dua kali hari ini.” Hahaha dia bilang cantik dua kali. Artinya saya tidak hanya cantik sekali, tetapi sungguh-sungguh cantik! Saya tersipu, seperti ada yang berdesir di hati ini. Senang tentu saja, walaupun selanjutnya sering saya dibuatnya sebal dengan tangan dan matanya yang jahil.

Pernah suatu kali saya memergoki matanya mengikuti gerakan tubuh saya saat berjalan keluar ruangan, “Aaaaah….., ngliatin apaan, sih..?!” Saya membentak sambil tiba-tiba membalikkan badan. Dan saya tertawa dalam hati, melihat reaksinya yang salah tingkah, pura-pura sibuk dengan pekerjaannya.

Ah.., mungkin dialah satu-satunya lelaki yang bisa membuat saya mematuhi apa pun yang dia katakan tanpa membuat hati ini terpaksa. Lalu saya sadari bahwa saya telah jatuh cinta padanya.

I could dream my life away

What would I care anyway

It’d be so fine

If you were my baby 

Puncak dari perasaan ini kepadanya adalah malam itu saat dia mengajak ke tempat karaoke. Ini suatu kemajuan, karena jangankan berkaraoke, jalan-jalan sore pun ia tak pernah mengajak.  “Biar nggak stress,”  begitu jawabnya saat saya bertanya. Maka dengan dua motor kamipun pergi berempat menuju tempat karaoke dengan seorang rekan yang juga mengajak pacarnya. Pada saat itu jugalah saya punya waktu berduaan dengan pacar si rekan itu dan melakukan beberapa “pembicaraan wanita.” Saya tersenyum setiap teringat pembicaraan itu.

“Kamu suka dia?” tanya gadis itu.

Saya lalu melirik ke arah laki-laki yang sedang menyanyikan lagu dari Rick Price itu dan mengangguk.

“Apa yang kamu lihat dari dia?”

Saya berpikir sejenak.  “Hmm…, apa ya? Dewasa, cuek dan sedikit liar?”

“Apa lagi?” Dia mendesak.

“Muka mesum?” Saya nyengir saat mengatakan itu.

Gadis itu tertawa.

“Dia banyak memendam kejadian yang membuatnya terluka.”  Katanya kemudian.

“Maksudnya?”  Saya tak mengerti dan menatap gadis itu.

“Iya,” si gadis menganggukkan kepala lantas tangannya mengangsurkan segelas, mungkin anggur, yang segera saya minum.  “Tetapi menghanyutkan,” tambahnya.

Memang saya merasa terhanyut, panas di tenggorokan tapi bikin hangat di perut dan nyaman.

“Maksudku dia..! Bukan minuman ini!” Sergahnya geli.

“Oooh…”, saya tersipu. Lalu selebihnya saya dapat mengerti apa yang dikatakannya.

“Kamu akan terkejut kalau melihat matanya lama-lama,” lanjutnya.

“Oh ya?” Alis saya terangkat. “Ada apa dengan matanya?”

“Ada sinar mesum,” sahutnya cepat dengan raut muka geli. Lalu kami terbahak bersama-sama dan semakin hanyut dalam obrolan yang semakin asik, apalagi kalau bukan tentang dunia laki-laki.  Lantas bergantian, kami saling menuangkan minuman hangat itu berulang kali dan bercerita tentang rahasia pacar masing-masing. Hmmm… tapi saya tahu dia menyembunyikan sesuatu, dan saya bertekad akan mencarinya nanti.

****

Saya tidak mabuk saat dia menuduh minum terlalu banyak waktu kami pulang dari tempat karaoke menjelang tengah malam itu, tapi dia berkeras dengan tuduhannya dan saya pun bersikeras dengan pendapat saya. Kami saling berbantahan. Saat dia semakin keras menuduh, “aku enggak mabuuuuk..!” Saya menjeritkan itu di telinganya, melawan suara angin. Dia tetap tak percaya dan meneruskan ketidakpercayaannya dengan keji. “Masak sih?! Bukannya tadi kamu minum terus-terusan?!” Sergahnya sambil menoleh ke belakang. Saya diam. Cemberut. “Berapa gelas tuh?!” Masih saja dia menyemburkan tuduhannya. Benar-benar menyembur, karena muka saya seperti terciprat air hujan, yang datang dari depan.

Saya mau menangis karena jengkel saat itu. Tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi setelahnya karena mendadak dia menepikan motor, mematikan mesin lantas menatap tajam ke mata saya. Tanpa sempat saya bertanya, tiba-tiba dia mengecup kening. Tidak lama, juga tidak terlalu cepat. Tapi membuat saya tercekat.

Kurang ajar! Itu yang terucap dalam hati beberapa saat setelah saya terlena. Ya, saya sempat terlena dan itu memalukan karena diam-diam saya memimpikannya setiap malam. Tapi bagaimanapun juga saya seorang gadis, dan gadis baik-baik tidak akan membiarkan dirinya dikecup oleh seorang laki-laki yang terus terang bukan apa-apanya. Sungguh saya bingung dengan kenyataan ini. Namun rasa bingung itu tak lama karena, bibir ini mendadak kering dan saya malah menginginkan untuk dikecup lagi. Maka itulah yang terjadi, hanya kali ini bukan kening melainkan di bibir. Dia mengecup sekali lagi, lalu dilepas. Dikecup lagi, dilepas lagi. Kecup…, dilepas lagi. Itu membuat kedua mata saya terpejam dan napas tersendat, terengah-engah.

Stop to kiss under a tree

Listen to the sound of the whispering breeze

Ya, kuping saya bahkan masih berdengung saat menjelang tidur. Gurauan dan tingkahnya yang selalu membuat takjub dan tak terduga itu kembali melintas, membuat saya  bagai di alam mimpi dengan harapan-harapan untuk disentuh dan disayang, dengan desiran hasrat yang menggebu. Saya tak mengerti dan kembali berpikir mengapa saat itu hanya diam. Padahal saat mata saya terpejam, selain membelai pipi dia juga memainkan jemarinya di alis. Mengelus perlahan. Saat itu sungguh membuat saya tak bisa berpikir. Buntu. Hanya rasa hangat di hati adanya.

Hm.., saya masih ingat betul rasa di hati saat itu. Ya, saat itu hanyalah ada satu rasa, saya ingin dia! Tidak perlu waktu lama untuk semuanya, hanya satu bulan untuk pasrah dan menyerahkan hati ini kepadanya, meneguhkan keyakinan bahwa cinta telah saya temukan di dalamnya. Maka selanjutnya hari-hari berlalu dengan begitu indah dan membahagiakan. Saya di sampingnya, dia di samping saya, saling membelai dalam kemesraan.

I’d never be lonely,

if you were my only love,

if you were my baby

Dan saat semuanya harus berakhir begitu mendadak, rasa kecewa itu muncul, membuat saya menangis. Di saat saya mulai melemah dan pasrah, saat itulah dia mendadak menghentikan semua mimpi. Yaitu saat kami berdua pergi ke lapangan untuk melihat pekerjaan, dia mengatakannya dan berniat akan menyudahi semuanya.

“Aku nggak bisa terus-terusan begini,”  begitu katanya.

Saya hanya diam waktu itu, tak dapat mengatakan apapun bahkan untuk sekedar bertanya kenapa. Dia memandang saya dengan wajah heran, mungkin karena tak ada perlawanan atau sebuah pertanyaanpun terlontar dari bibir ini.

Setelah lama terdiam lalu saya bertanya tentang arti semuanya, dia tersenyum dan “kita melakukan itu berdasarkan rasa suka. Bukan cinta”. Itu jawaban yang keluar dari bibirnya. Ya, itu merupakan kata-kata terakhir yang saya ingat setelah benar-benar mencintainya. Saya menahan tangis. Saya merasa sendirian.

“Kamu nggak ‘papa…?”  Lanjutnya.

Saya menggigit bibir dan menggelengkan kepala, membuyarkan nyanyian dalam hati. “Aku tak bisa mencegah seseorang yang mau pergi dariku.”

Dia mengangkat bahu, membalikkan tubuh dan berlalu tanpa menoleh, menuju mobil yang segera meninggalkan kepulan debu di belakangnya.

Walau hati menjerit, saya masih bertahan untuk tidak memanggil namanya, apalagi berlari mengejar karena saya tahu itu percuma. Saya begitu mencintainya, sampai saya tidak dapat menahannya untuk pergi. Tidak bahkan untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Orang-orang pasti heran dan bertanya, kenapa? Jawabannya adalah, karena saya sudah melihat matanya. Di sana ada seseorang yang mencari kebahagiaan sejati dan terus mencari dalam kegalauan, meraba-raba dengan luka lamanya. Sungguh sayang, bukan saya orang yang dicarinya saat ini. Entah kelak, siapa tahu dia akan kembali.

I’d take my last breath,

before I would let you go,

and I promise I’d love you forever, and ever

If you were my baby

Hhhhh…, siapa suruh main api! Keluh saya dalam hati sambil menghembuskan nafas panjang. Berharap panas matahari dan angin akan mengeringkan air mata ini, saya berbisik “be my valentine, sometimes…”

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

110 Comments to "Hanya Jika"

  1. sisca  8 June, 2012 at 12:13

    Ooh..pengalaman pribadi tOº°˚˚°ºo…Чά”̮..Чά”̮…indahnya yg sdg jatuh cinta

  2. nuk2k  25 April, 2012 at 01:57

    Dimas Anoe, ha, ha, haaa… Sinar mesum itu yang seperti apa, seandainya ada lho ya… Welterusten, nu2k

  3. anoew  6 March, 2012 at 09:46

    Kang Abu, karakter si perempuan itu “ngeyelan” dan gk mau ngalah, meskipun dibalik itu dia menyimpan suatu tekad. Tengkiu ya.

  4. Abu Waswas  6 March, 2012 at 00:12

    Aku suka banget karakter si perempuan di Hanya Jika.
    Besok baca part 2 deh

  5. probo  22 February, 2012 at 09:43

    PakDj…judulnya SAKSIRE …..

    Anoew…..Amung lamun ya bisa ……

  6. Dj.  21 February, 2012 at 01:34

    probo Says:
    February 20th, 2012 at 22:26

    hanya jika basa cinane mung yen, basa pesisiran ming nek….
    ————————————————–

    Bu GuCan….
    ” YEN ” itu bukannya mata uang di Jelang, kok jadi chino sih…???
    Salam manis dari Mainz…

  7. anoew  20 February, 2012 at 22:54

    Nek cara Mataraman “sak umpomo”

  8. probo  20 February, 2012 at 22:26

    hanya jika basa cinane mung yen, basa pesisiran ming nek….

  9. anoew  20 February, 2012 at 09:49

    @pak Dj, iya, topik lebih seru lebih panas dan hot.

    @Lani, masih di Honolulu? Ambil foto-fotonya yg sueger ya haha.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.