Mengejar Andy F. Noya

Ida Cholisa

 

Malam yang berlalu dengan seabreg tugas administrasi sekolah membuatku mabuk kepayang. Pikiranku tak tenang karena tugas tak jua terselesaikan. Larut malam saat semua mata terpejam, aku terjaga demi sebuah keharusan; administrasi final untuk penilaian. Dua malam terakhir aku larut dalam keseriusan.

Usai penilaian. segalanya berubah cerah. Aku melangkah pulang dengan hati teramat riang. Ingin kubalas dendam; istirahat sepuas-puasnya. Jelang maghrib sebuah pesan singkat masuk;

“Mbak. sudah cek email? Undangan nonton Kick Andy sudah dikirim.”

Aku terbelalak. Aku berteriak; yes!!! Kubuka email, di sana muncul undangan beserta segala ketentuannya. Aku senang. Momenyang sangat pas! Di saat tugas telah usai. aku mendapat hadiah perjumpaan dengan sang idola lama. Kukabarkan berita menyenangkan itu pada suamiku. Kuminta ia menemaniku menuju acara itu. Thank God, suamiku menyanggupinya.

Hatiku riang bukan kepalang. Baju batik dan kerudung merah favorit aku persiapkan. Tak lupa kemeja batik merah hati suami. Kami membuat janji; suamiku mengajar dahulu, baru ia mengikuti acara itu.

Kutunaikan tugas mengajarku. Selepas mengajar aku mengontak sopir langgananku. Sopir setia itu pun membawaku menuju tempat mengajar suamiku. Sepanjang perjalanan hatiku riang bukan kepalang. Wajah Andy terbayang dalam pikiran. Tapi…., alamak! Alangkah lamanya menunggu suami. Berjama-jam aku menunggu, tak jua nampak batang hidung suami. Hingga lelah aku menunggu, hingga manyun muka dan mulutku. Ah, waktu semakin merambat…

“Aku keluar pukul 03.30. Insya Allah nggak terlambat,” demikian bunyi balasan sms suamiku.

Aku terus menunggu. Hujan deras pun turun. Suamiku muncul dengan titik air di sekujur tubuh dan baju. Kami pun pergi meninggalkan gedung sekolah, menuju studia Metro TV di mana Andy F Noya akan berada di sana. Hujan terus mengguyur bumi. Langit Jakarta sangat pekat. Guruh bersahut-sahutan. Air melimpah menggenangi jalan. Sopirku dengan tenang melajukan kendaraan. Menembus pekatnya hujan.

Macet. Selalu itu yang kudapatkan tiap kali menginjak jalanan Jakarta. Sementara waktu terus merambat, antrian panjang membuat hatiku semakin sekarat. Sekali-kali aku menengok jam tangan. Ah, jam lima kurang dua puluh menit. Bukankah acara dimulai pukul lima? Coffee break, proses menuju studio, hingga puncak acara taping Kick Andy yang membuatku tak sabar untuk segera menontonnya.

“Jam berapa sampai sana, Om?” tanyaku pada sopir.

“Walah Bu, bisa sampai jam tujuh-an kalau macet begini,” jawabnya singkat.

“Wah, percuma donk, dari rumah siang terik, sampai sini terlambat, percumaaa…..” desisku. Lama-lama rasa kesal mulai menjalari hatiku. Gara-gara nunggu suami selesai mengajar, rencana gagal berantakan. Ingatanku seketika melayang pada peristiwa tahun 1999. Gara-gara menunggu suami selesai mengajar, kami ketinggalan bus yang menuju pulau Sumatera! Ah, rasa kesal semakin memuncak rasanya…

Sepertinya suamiku membaca perasaanku. Ia meminta kertas undangan dan mencatat nomor di contact person. Pembicaraan terjadi. Hm, aku sedikit lega.

Waktu terus berjalan hingga jarum jam menuju angka lima. Setelah berputar-putar mencari alamat, nampaklah studio Metro TV yang kami cari. Aku bersorak. Lautan manusia berbaju batik berkerumun di sana. Ruangan luas yang sangat nyaman telah terisi dengan ratusan peserta yang akan menonton acara Andy F Noya. Kami menikmati kopi dan teh panas serta beragam snack yang telah disediakan. Sementara di luar hujan deras tak terperikan. Saat hendak kupotret berbagai pernak-pernik Kick Andy yang banyak menghiasi Grand Studio ini, aku tersentak. Ternyata, kamera digital yang kubawa telah kosong batereinya! Haha, sia-sia aku gembal-gembol bawa kamera…Untuk memotret melalui kamera BB, aku tak begitu meyukainya. Sebab gambar di kameraku tak sejernih gambar yang diambil melalui kamera. Terpaksa, kugunakan hape suami untuk mengabadikan pernak-pernik sang idola.

Pukul enam tiga puluh menit, kami menuju lantai tiga di mana proses taping akan dilaksanakan. Hatiku bergetar membayangkan Andy F Noya. Hohoi….., tak sabar rasanya….! Kami memilih tempat duduk tak jauh dari sofa di mana Andy dan bintang tamu akan mendudukinya. Dari tempat dudukku, wajah Andy akan terlihat nyata…

Benar saja. Setelah melalui berbagai tahap dan pengarahan, Andy muncul sambil melambaikan tangan. Wajahnya cerah, senyumnya sumringah. Sungguh, Andy yang kulihat lebih tampan dari Andy di layar kaca…

Tapi bukan itu masalahnya. Daya tarik yang membuatku ingin melihat langsung sosok Andy adalah kelebihan yang dimilikinya. Suara Andy sangat khas. Tenang, rileks, dan bicaranya ringan mengalir tanpa beban. Aku hanyut dalam pesonanya. Ketenangan Andy dalam menyampaikan kata, serta kepiawaiannuya dalam mencaiirkna suasana dengan joke ringan yang mengundang tawa, serta ketepatannya memilih bahasa yang enak didengar telinga,, itu yang membuatku terkesima dan jatuh cinta. Jujur, aku belum menemukan host atau [presenter lain yang mampu mengalahkan Andy. Yang sering klulihat, banyak host membawakan acara dengan berapi-api hingga aku ngos-ngosan menyimaknya. Tapi Andy tidak. Ia begitu luwes, tenang dan sangat menghanyutkan. Semua penonton, terlebih aku, larut dalam suasana yang dibawanya.

Pukul sepuluh malam acara pun selesai. Wajah penuh puas menghiasi para penonton. Saat Andy melambaikan tangan dan beberapa penonton naik panggung untuk menyalaminya, aku pun tak mau kalah. Kubawa tas jinjing berisi kado yang akan kuberikan pada Andy. Saat momen tepat berpihak padaku, kuhampiri Andy F Noya;

“Bung Andy, saya penggemar berat Anda. Ini buku-buku karya saya untuk Anda.”

Andy F Noya menatapku sambil tersenyum;

“Banyak sekali, terima kasih…terima kasih….”

Ia menerima kado pemberianku sambil menyambut uluran jabat tanganku. Senyum Andy begitu menawan hatiku. Tak kulewatkan kesempatan baik itu. Aku pun berfoto bersama Andy.

Kami melangkah pulang sambil membawa oleh-oleh buku dan majalah. Impianku bertemu Andy tercapai sudah. Sungguh tak kusangka bahwa angan-anganku akan menjadi nyata.

Ini tak masuk akal, sebenarnya. Orang sepertiku, mengapa mesti mengidola Andy F Noya? Tapi ini soal hati. Aku tak pernah mengagumi Jacko atau musisi lainnya. atau orang tenar lainnya. Aku mengagumi Andy F Noya karena kelebihan dan keistimewaan acara yang dibawakannya.

Pertemuanku bersama Andy F Noya, adalah hadiah terindah usai perjuanganku melawan sakit kanker payudara…

Terima kasih untuk suami tercinta, yang selalu memahami keinginan dan hati terdalamku. Ia tahu benar siapa aku. Ia sangat tahu, bahwasanya kukagumi Andy F Noya karena inspirasi hebat yang selalu kudapat dari setiap tema acara yang dibawakannya.

Dan suamiku pun tahu, aku sungguh ingin menjadi salah satu tamu Andy F Noya. Dan untuk itu ia rela mengantarku menuju ke sana….***

 

18 Comments to "Mengejar Andy F. Noya"

  1. Triyono  18 August, 2015 at 12:02

    Bung saya yang ketemu di Gramedia Bandung dan yang nitip 2 lagu tentang Persatuan Suku Bangsa. Mohon dapat ditayangkan di Talk Show Kick Andy bersama rekan saya tuna netra yang ahli bermain musik sedang saya bisa mencipta lagu tapi tidak pandai bermain musik, saya juga cacat kaki. Semoga kisah saya dan teman dapat menjadi inspirasi bagi pemirsa Kick Andy. Oh ya setelah baca buku bung Andy kita nyaris sama kisahnya, tetapi kalau saya pernah jadi pembantu kalau bung Andy ibunya yang jadi pembantu. Saya juga ditinggal ayah kandung sebelum lahir tetapi mujizat terjadi setelah saya berusia 33 tahun Tuhan mempertemukan saya dengan ayah saya lewat mantan napi Sukamiskin yang sering saya layani di kebaktian LP. Kisah saya malah sempat akan di layar lebarkan tetapi sayang sutradara keburu meninggal.

  2. Dewi Aichi  21 September, 2012 at 20:51

    Wahhh….saya ikut senang, bahwasanya Andy F Noya bisa masuk, dan kesasar di baltyra…..senangnyaaaaa…berharap Andy F. Noya menjadi pembaca setia baltyra…

  3. Ida Cholisa  21 September, 2012 at 19:34

    Bung Andy Noyaaaaa…. terima kasih atas komennya. Saya sungguh tak pernah menduga bahwa tulisan ini akan dibaca Anda. Saya kagum sekali dengan Anda. Keinginan bertemu Anda pernah saya lontarkan kepada suami saat saya sakit, dan ternyata keinginan itu terkabul setelah saya sembuh. Terima kasih atas kesediaan Bung Andy memberi komentar di sini. Sungguh, pertemuan dengan Bung Andy merupakan hal yang sangat membahagiakan hati saya. Saya senaaaaang sekali. Terlebih setelah membaca komentar Bung Andy di sini. Terima kasih Bund Andy… semoga akan ada pertemuan berikutnya, di mana saya bisa berbicara banyak kepada Bung Andy…
    We love you, we admire you…
    salam, Ida Cholisa.

  4. Andy Noya  18 September, 2012 at 13:07

    Mbak Ida, hari ini sambil menunggu seorang teman, saya membuka2 iPad saya Utk membaca berita2 terakhir. entah mengapa, saya nyangkut di sini. Saya terharu dan merasa tersanjung dengan cerita Anda ini. Saya tidak menyangka menonton Kick andy dan bertemu saya biasa begitu membahagiakan Anda. Semoga acara kick andy bermanfaat bagi anda dan saya tidak mengecewakan Anda. Sekali Lagi terima kasih untuk kisahnya dan terima kasih untuk semangat yang Anda bagikan di dalam kisah tsb. Salam saya untuk suami yang sudah memahami Anda dan menjadi pendamping yang setia. Salam.

    Andy noya

  5. Wahnam  17 February, 2012 at 10:50

    Acara kick Andy memang menarik, apalagi saya lihat di youtube mengenai “Kick Andy : Kisah Dibalik Layar “. yg membahas mengenai Andy F Noya yg pernah mewawancarai orang2 seperti : Megawati, Antasari Azhar,Harmoko, AA Gym, ddan tokoh2 lainnya dgn pertanyan2 yg cukup menarik dan mendebarkan

  6. Ida Cholisa  16 February, 2012 at 17:27

    all; thanks komen-komennya, yaaaa….
    postingan ini membuatku ingin komen di sini.
    ketemu Andy F Noya, wouwwwww…membuatku senang bukan kepalang. mimpiku menjadi kenyataan. sayangnya…fotoku bersama Andy Noya terhapus, hikssssss…..

  7. anoew  16 February, 2012 at 12:45

    Jenaka, selalu riang dan cuek dalam penyampaian. Saya suka Andy F. Noya. Cerdas dan seksi.

  8. nevergiveupyo  16 February, 2012 at 12:09

    wah…pasti sangat luar biasa ya bu ida. memang benar..sosok satu ini sangat tenang dan luwes…
    luar biasa….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.