Catatan Perjalanan Zhejiang – Jiangsu (3 – habis)

JC – Global Citizen

 

Artikel sebelumnya:

Catatan Perjalanan Zhejiang – Jiangsu (2)

Catatan Perjalanan Zhejiang – Jiangsu (1)

 

Di stasiun bus, saya segera membeli karcis untuk jurusan kota berikut tempat kerabat yang saya sempatkan kunjungi. Dengan karcis di tangan, saya menuju ke pintu keberangkatan. Di pintu masuk dibagikan sepotong roti dan sebotol kecil air minum. Lumayanlah, saya pikir.

Saat memasuki bus, sedikit bingung karena sopir dan kondekturnya membagikan tas plastik untuk setiap penumpang. Waktu menoleh ke dalam kabin bus, terus terang saya melongo, karena tidak melihat tempat duduk, tapi melihat tempat pembaringan berjajar di dalam bus. Ternyata tas plastik itu untuk tempat sepatu penumpang yang harus dilepas.

Di dalam bus berjajar tiga baris tempat pembaringan sempit ke arah belakang. Masing-masing seperti ranjang susun bertingkat dua. Saya hitung cepat, kapasitas penumpang dengan posisi berbaring tsb adalah 30 penumpang. Dengan koridor super sempit, saya segera merebahkan tubuh ke salah satu pembaringan, sambil berusaha menyusun bawaan saya. Ternyata karcis tadi ada nomer pembaringan untuk masing-masing penumpang. Waduh, ternyata nomer saya ada di bagian belakang.

Dengan bersempit-sempit di koridor, mencari nomer saya, ternyata di samping kanan agak belakang dan di tingkat yang bawah. Sungguh tersiksa karena dimensi yang tidak cocok dengan ukuran tubuh saya. Mau duduk, kepala kepentok pembaringan atas, mau berbaring, panjangnya tidak cukup untuk kaki saya. Sekian menit saya mencoba berkutat membuat nyaman posisi. Tiba-tiba terdengar suara sopir bus bilang, bebas saja milih, karena hari itu tidak penuh penumpangnya. Lega sekali mendengarnya.

Kontan saya pindah ke agak depan, dan mengambil posisi tengah dan bagian atas karena lega jika hendak duduk. Kalau di samping kanan kiri kepala masih kepentok rak tempat barang. Di depan saya kosong, jadi kaki sedikit terjulur keluar tidaklah menjadi masalah.

Sepanjang perjalanan sebenarnya cukup lumayan, namun sedikit menjadi masalah jika ingin berkemih, apalagi dengan temperatur yang makin rendah. Sedikit berakrobat serasa trapeze di sirkus, bergelantungan sedikit, mencari sela di koridor yang penuh barang bawaan penumpang lain. Lega sekali karena toiletnya relatif bersih dan tidak berbau menyengat. Di depan pintu toilet ada sandal yang disediakan untuk keperluan di dalam sana.

Mau tidur kurang nyaman, mau duduk kok kepala pusing terombang-ambing gerakan bus. Akhirnya dengan posisi sedikit merebah sambil membaca dan browsing serta ber’e-mail sana sini. Sesekali berhenti juga sesaat karena kepala dan mata berkunang-kunang terus menerus menatap layar dalam kondisi bus berjalan. Diperkirakan lama perjalanan tujuh jam. Entah berapa kali bolak-balik ke toilet.

Kira-kira kurang sejam perjalanan sampai ke tempat tujuan, bus menepi di rest area dan pengemudinya jelas-jelas memberitahukan hanya 10 menit untuk ke toilet atau makan atau take away makanan. Dan benar-benar 10 menit, pengemudi bus menjalankan kembali busnya. Berjalan sekitar 10 menit, hampir memasuki gerbang tol terakhir sebelum sampai kota tujuan, tiba-tiba telepon pengemudi bus berbunyi.

Tak berapa lama terdengar seruan marah si pengemudi kepada lawan bicaranya di telepon. Tak tahunya ada satu penumpang yang tertinggal di rest area sana dan meminta untuk ditunggu. Entah bagaimana pembicaraan mereka, yang jelas nadanya sudah seperti duel hidup dan mati, bus menepi di pinggir jalan, gerbang tol jelas di depan beberapa puluh meter lagi.

Tunggu punya tunggu, 35 menit berlalu, tak nampak tanda-tanda bus akan bergerak lagi. Penumpang mulai bertanya-tanya satu sama lain, beberapa mencoba bertanya ke si pengemudi. Sepuluh menit lagi kembali berlalu, masih saja belum kelihatan penumpang kurang ajar tsb. Si pengemudi terdengar menelepon lagi dan menghamburkan kalimat dengan lagi-lagi nada ajakan berduel. Beberapa penumpang mulai ikut serta menghamburkan kata-kata bernada tinggi.

Duapuluh menit kemudian, barulah nampak seorang pria memasuki bus diiringi kata-kata makian serempak sebagian penumpang lain. Itupun dia memasang muka tak merasa bersalah sudah membuat seluruh penumpang lain menunggu selama hampir satu jam di pinggir jalan. Sementara itu kerabat yang sudah menunggu di stasiun bus kota tujuan sudah entah berapa belas kali telepon menanyakan kenapa begitu lama belum sampai juga.

Masih belum selesai. Beberapa menit setelah memasuki tol, nampak di samping bus mobil polisi mengiringi dan menghentikan bus yang saya tumpangi. Dua orang polisi muda memasuki bus dan menanyakan KTP. Sewaktu memeriksa KTP, sepertinya dua polisi tsb mencocokkannya dengan catatan atau entah apa di tangannya. Kelihatannya seperti sedang mencari buronan atau bagaimana tidak tahu juga.

Sampailah giliran saya diperiksa. Tentu saja passport yang saya sodorkan. Polisi tsb nampak terperanjat melihat seorang asing di dalam bus. Keuntungan saya adalah tidak mengalami kesulitan sama sekali berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Polisi tsb nampak heran, menunjukkan sikap berbeda (lebih hormat) dan mengatakan semoga perjalanan saya di China menyenangkan. Karena penumpang tidak terlalu banyak, pemeriksaan berjalan cepat.

Akhirnya sampailah saya ke kota tujuan. Segera saya diantar ke hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Semua rencana hendak dinner bersama buyar semua, karena keterlambatan lebih dari satu jam. Baru besoknya kami sarapan bersama. Tujuan sarapan adalah kedai yang bernama Yong He Xin Yi Dai.

Menu favorit xiao long bao dan semangkok mie ayam kuah pedas saya coba. Mie kuah pedas yang benar-benar super pedas mampu menghangatkan badan di pagi yang dingin hari itu. Selesai sarapan, cepat-cepat membeli beberapa oleh-oleh kemudian menuju stasiun bus untuk melanjutkan petualangan saya di China.

 

Stasiun bus antar kota:

Tujuan berikutnya adalah Suzhou, kota tempat Mbah Gandalf bertapa selama ini. Perjalanan tidak begitu lama, hanya sekitar 1.5jam. Cukup lega karena bus duduk, bukan bus berbaring lagi. Perjalanan tak terasa, karena saya tidur sepanjang perjalanan. Saya terbangun begitu bus berhenti dan para penumpang turun. Sampailah saya di Suzhou. Seperti biasa, toilet lah yang pertama dituju. Di toilet tiba-tiba teringat ada barang bawaan (oleh-oleh) yang tertinggal di rak atas tempat duduk!

Bus yang saya tumpangi sudah lenyap, tidak ada di pelataran stasiun itu lagi, sepertinya semua bus yang baru tiba menuju ke bagian lain stasiun. Saya segera tanyakan ke petugas, dan dijawab untuk segera ke bagian keberangkatan mencari bus yang tadi, karena bus yang sama akan berangkat ke kota di mana saya berangkat satu jam kemudian. Satu jam berlalu dan bus tsb nampak parkir di tempat keberangkatan. Saya minta ijn petugas di situ, memasuki bus dan mengambil barang yang tertinggal.

Taxi menjadi pilihan saya, karena Mbah Gandalf berpesan akan menunggu saya di Ou Shang (hypermarket). Belakangan saya baru tahu kalau Mbah Gandalf kurang paham seluk beluk jalan Suzhou. Akhirnya bertemulah saya dengan Mbah Gandalf di Ou Shang. Barang-barang kami masukkan ke dalam mobil dan kami sempatkan berjalan-jalan di hypermarket tsb. Beberapa barang saya beli untuk keluarga di rumah.

Tak terasa sore menjelang. Kami meluncur pulang ke kediaman Mbah Gandalf. Istri dan dua anak-anak Mbah Gandalf sudah ada di rumah. Kami berbincang-bincang sejenak sambil serah terima titipan Mbah Gandalf dari Indonesia. Segera kami menuju tempat makan malam. Diusulkan oleh istri Mbah Gandalf, kami makan di satu resto Italia favorit keluarga Mbah Gandalf.

Ternyata memang benar favorit, saking seringnya, sampai-sampai para pelayan resto tsb hapal dengan nama kedua anak Mbah Gandalf. Benar-benar menarik dan menggoda selera pilihan menu di resto tsb dan yang mengejutkan adalah harga-harganya yang super friendly untuk kantong. Lebih asik lagi minuman berlaku “all you can drink” dengan satu harga RMB 7, minum sepuasnya, jenis apa saja.

Tak berapa lama, pesanan kami keluar satu per satu. Dan memang benar, rasanya luar biasa nikmat, cita rasa Italia yang kuat, dan yang penting saya belum pernah merasakannya di Indonesia. Mungkin ada jenis yang sama, bahkan dengan rasa lebih enak, tapi dengan kualitas dan rasa seperti itu di Indonesia, bisa-bisa merogoh kocek 3x lebih dalam.

Selepas makan malam, kami berjalan-jalan sejenak di mall tsb. Hiasannya sungguh unik, hanya di China ada pohon Natal berwarna merah. Dari mall, Mbah Gandalf mengajak saya berputar-putar menjelajah kota Suzhou di malam hari. Luar biasa kota Suzhou di malam hari, indah, bersih, teratur, cozy dan asik sekali. Tidak terlalu lama, kami semua pulang. Di rumah Mbah Gandalf, sempat ngobrol sejenak sambil menyusun ulang koper saya. Selesailah hari itu.

Besoknya, pagi-pagi, Mbah Gandalf mengantar saya ke Community Center untuk membeli tiket kereta ke Hangzhou. Perjalanan harus berakhir dan terbang kembali ke Indonesia. Community Center di Suzhou ini adalah satu tempat di mana seperti “one-stop service” untuk masyarakat. Di situ bisa mengirimkan surat (ada counter pos), membayar tagihan listrik, air. Membeli air minum galonan, gas, tiket bus, kereta dan beberapa service lain. Dari Community Center, kami memanggil taxi untuk menuju ke stasiun kereta di sisi lain kota. Stasiun kereta api tidaklah nampak seperti stasiun kereta, lebih mirip airport ketimbang stasiun kereta.

Tanda petunjuk nomer kereta di lantai peron

Kami sempatkan mengganjal perut dengan masing-masing sepotong roti, dan saya menuju peron kereta yang akan membawa saya ke Hangzhou. Lagi-lagi kekaguman dengan sistem transportasi massal di China. Keteraturan, kemodernan dan kesungguhan pemerintah menyediakan transportasi massal memang patut dipuji dan dicontoh.

Perjalanan berjalan lancar dan menyenangkan. Melihat-lihat kanan kiri pemandangan di musim dingin, pohon-pohon sebagian besar tanpa daun, jaket tebal berwarna-warni, pemukiman penduduk yang terlihat membosankan, jalan tol raksasa membelah daratan, tanah pertanian, dsb.

Sampailah saya di Stasiun Hangzhou, titik awal perjalanan kali ini. Dari stasiun kereta api, masih harus ke airport lagi. Sebelum menuju ke airport, saya sempatkan mengganjal perut di satu kedai di sudut jalan yang sangat padat dan sibuk. Light brunch saya nikmati menghangatkan perut.

Taxi kemudian membawa saya ke airport dan berakhirlah perjalanan saya. Sampai di Jakarta menjelang tengah malam tanggal 03 December 2011. Saya masih punya sehari untuk beristirahat sebelum kembali beraktivitas di minggu berikutnya.

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

32 Comments to "Catatan Perjalanan Zhejiang – Jiangsu (3 – habis)"

  1. jenny  19 March, 2013 at 17:37

    Hi Aji,
    Ban2 kamsia for your dongengan dr. Mainland…., bener2 asyiiik dibaca… he he!
    Apart from the horrible toilet you mentioned everything else sounded perfect to me. My only feedback is:
    even thouh English has been upgraded as one besides the chinese (I guess for the benefit of the overseas tourists?) a knowledge of mandarin (or any local dialect?) is a huge advantage indeed!!
    Hope you’ll soon send me your other articles too?? I enjoy reading them though once in a while it took me sometimes to respond…
    Thanks in advance
    God Bless & hugs
    Jenny

  2. nevergiveupyo  20 February, 2012 at 07:43

    luar biasa…. untunglah saya punya body standar saja… dijamin tidak akan menemui masalah seperti buto….
    hehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.