Emak-emak Keladi, Hidup Itu Pilihan

Ida Cholisa

 

Nuning mencibir. Diperlihatkannya padaku foto profil teman es-em-a-nya.

“Lihat nih, kau tahu siapa dia?”

Aku celingukan.

“Heran aku, udah emak-emak, hobinya pasang foto artis mulu. Tak tanggung-tanggung, artis muda pula! Gak pede kali ya sama muka jeleknya?”

“Husss!” aku sedikit membentaknya. Ada tersirat rasa penasaran di hatiku, mengapa sahabatku ini begitu senewen menanggapi foto profil sahabat masa sekolahnya.

“Iya lah, bosan aku, yang dipajang di album fotonya foto keren cowok semua, penggila daun muda kali, ya? Menurutku, ia tipe manusia tak bahagia masa mudanya. Aku yakin itu!”

“Kau kenapa, sih? Kayaknya gimana gitu…!”

“Lha iyalah…, lebay getooooo….!”

“Wah, berarti kalo aku pasang foto Andy Noya kamu juga gak suka donk?” tanyaku.

“Tuh kan, kamu sama saja, foto laki orang dipasang-pasang….!”

“Ya nggak papalah, asal bukan suami kamu aja…” jawabku sambil menahan tawa.

Nuning tak meresponku. Kembali ia menunjuk-nunjuk akun fb teman es-em-a yang sedari tadi dikulitinya.

“Temanku ini nih, udah jeleknya minta ampun, seleranya sok tinggi lagi! Ngaca dwonk, ah!”

Aku tergelak mendengar “sumpah serapahnya”.

***

Kekesalan Nuning masih membekas dalam ingatanku. Ada apa gerangan hingga ia begitu membenci sahabat masa es-em-a yang menurutnya lebay dalam memasang foto-foto para pria tampan? Adakah masa lalu yang membuatnya begitu dendam pada sahabat yang dahulu kerap bersamanya?

“Kau tahu, dahulu ia kawan karibku. Aku tahu semua seleranya. Cuma yang hingga kini masih membuatku bertanya-tanya, sadar nggak sih kalau seleranya berbanding terbalik dengan muka pas-pasannya? Hohoho…., sebel geto looo….!”

Aku tetawa cekikikan. Sahabatku sungguh seperti anak kecil yang kehilangan mainan.

***

Suatu ketika aku mencoba mengerjai Nuning. Ku-download lagi foto sang bintang idola. Berharap Nuning akan menyebarkan virus kejengkelannya. Haha.

Benar saja, tak begitu lama datang komen seriusnya.

“Dasar emak-emak keladi, makin tua makin menjadi. Foto laki orang dipasang-pasang. Mau ngikutin jejak temanku yang jelek n nggak ngaca itu?”

Aku tergelak. Kupasang lagi satu demi satu foto Andy F Noya dalam album fotoku. Aku seolah mendapat hiburan dengan semprotan rasa kesal sahabatku.

“Heh emak-emak keladi, masih mending lah kamu pasang foto idolamu, gak muda-muda amat. Nggak kayak temanku itu, huuuuu…..!”

Waduh! Misiku kurang berhasil. Mestinya kupasang foto daun muda saja, ya? Haha. Pingin tahu gimana reaksi dia selanjutnya, hahahaa…

***

Kini terjawab sudah rasa penasaranku. Setelah kukorek untuk sekian lama, ternyata Nuning menyimpan dendam pada sahabat masa sekolahnya itu.

“Dia itu kalau komen nggak ngaca, nggak mikir kalau orang lain bakal baca. Dia nggal nyadar kalau selama ini selalu ngumpetin muka jeleknya. Aku tahu, dia nggak pede sama muka kampungannya!”

“Stop Nuning….!” aku berusaha meredakan rasa kesalnya. Tapi tetap saja ia nyerocos tiada hentinya.

Pada akhirnya aku hanya bisa memakluminya. Memaklumi Nuning yang sedemikian dendam pada sahabatnya, dan memaklumi sang sahabat Nuning akan kesukaannya memajang daun-daun muda kesukaannya…

Hidup itu pilihan. Apa yang kusuka belum tentu kau menyukainya, dan apa yang kausuka belum tentu aku menyukainya. Dan apa yang kita suka pun belum tentu orang lain menyukainya…

Karena hidup itu pilihan, maka syah-syah saja jika muncul suka atau tak suka atas sebuah pilihan yang kita lakukan…***

 

Bogor, 2011-

 

4 Comments to "Emak-emak Keladi, Hidup Itu Pilihan"

  1. HennieTriana Oberst  19 February, 2012 at 12:52

    Pasti si Nuning itu merasa dirinya adalah manusia paling cantik dan paling baik sedunia.

  2. Sumonggo  18 February, 2012 at 16:56

    Tanaman keladi katanya bisa untuk obat kanker, tapi itu pilihan juga.

  3. anoew  18 February, 2012 at 11:30

    Mungkin maksudnya emak itu biar awet muda, dengan memandangi mereka yang muda-muda. Seger.

  4. Kornelya  18 February, 2012 at 11:10

    Bu Ida, betul , hidup akan damai dan aman kalau kita tidak memaksakan kehendak pada yg lain. Keinginan kita pada anak sendiripun, walaupun baik menurut kita, tetapi jika mereka tak suka, ya sudah. Pilihan datang bersama resiko. Salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.