The Broken Heart Club (6)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Malam itu Donny berkemas, segala tetek bengek yang sudah rapi berada dalam wardrobe, kini kembali berpindah ke dalam koper. Sambil berkemas sesekali ia duduk santai di sofa rotan sambil melihat channel musik di TV.

HP-nya berdering, ternyata Anton yang menelponnya. Seperti biasa ada Dina di sisi Anton. Mereka saling bertukar cerita sekitar 20 menit. Setelah bertelpon Donny kembali diam di sofa, mata-nya menjelajahi kamar itu. Kamar ini pernah ditempatinya bersama Ayah Ibu-nya. Waktu itu mereka berlibur dalam rangka ulang tahun Donny ke 26. Kedua orang tuanya sangat mencintai Donny, bahkan bertiga saat liburan, mereka tidur di satu tempat tidur, tentu saja Donny memilih di tengah. Alasannya kalau AC terasa dingin maka Ayah dan Ibu bisa memeluknya bersamaan.

Masih segar dalam ingatannya saat dia duduk di sofa yang sama, 3 tahun yang lalu, tiba tiba Ayah dan Ibu pamit ingin berduaan saja ke pantai. Sungguh waktu itu Donny kesal, masa’ jam 23.30 malam mau ke pantai? Lebih kesal lagi dirinya tidak diajak serta. Waktu itu ayahnya yang tetap terlihat gagah di usia 55 tahun malah berkata agar Donny tidur di sofa saja. Waktu Donny cemberut karena kesal, Ibu yang biasanya menghiburnya, juga terlihat cuek. Bahkan mereka keluar kamar tanpa berucap ‘Bye Honey’ seperti yang selalu mereka lakukan selama hampir 26 tahun.

Hingga saat jam 24.00 tiba-tiba kamar diketuk, Donny dengan lesu dan cemberut membukakan pintu. Di pikirannya pasti Ayah Ibunya yang gagal berduaan di pantai, secara sudah gelap dan air pasang. Namun saat pintu dibuka ada serombongan pegawai hotel langsung menyanyikan lagu selamat ulang tahun, disusul Ayah Ibunya yang muncul dari belakang membawa bluberry cheese cake dengan 26 lilin yang menyala meriah. Donny terkejut dan terharu, masih teringat saat Ayah Ibunya memeluk dan menghujaninya dengan kecupan.

Lebih terkejut ternyata Ayah dan Ibu berhasil menyembunyikan kotak berwarna tosca berisi kalung perak buatan Tiffani. Dan lebih tak terduga ternyata Ayah menghadiahkan sebuah Cafe Resto untuk dikelola Donny.

Waktu itu Donny menangis, dan sekarang pun ia menangis. Bedanya waktu itu ia menangis bahagia disertai pelukan Ayah dan Ibu yang tiada henti mengucap doa untuknya. Kini ia menangis karena sedih, merindukan ke dua orang tuanya, apalagi di saat hatinya rapuh seperti sekarang ini, namun Ayah dan Ibunya memang sudah tak dapat memeluknya lagi, kini ia harus menghadapi seorang diri akan segala permasalahan yang ada.

Donny sejak kecil sudah diajari mandiri oleh kedua orang tuanya. Di satu sisi ia juga manja, mungkin karena ia tumbuh sebagai anak tunggal. Sebenarnya tidak benar-benar tunggal, ia pernah memiliki adik, namun meninggal saat berusia 6 bulan, dan sejak itu dirinya menjadi tunggal. Donny dekat sekali dengan kedua orang tuanya, hal-hal pribadi pun tanpa malu diceritakan pada orang tuanya, terutama Ibunya. Ayah Donny walau pemilik perusahaan besar yang sukses, tetap berusaha menjaga keintiman dengan keluarganya. Ayah maupun Ibu membiasakan saling memeluk, bahkan saat Donny sudah tumbuh menjadi pria dewasa, tak malu-malu iya minta dipeluk Ibu sekalipun itu ditempat umum, menurutnya tak ada pelukan sehangat pelukan kedua orang tuanya.

Kenangan indah itu berbaur dengan kepedihan, mungkin, andai Ayah dan Ibu masih ada, tentu batinnya tak seluka ini. Penghianatan Debby sungguh menggores luka, Masih segar dalam ingatan Donny di saat detik detik terakhir Ibu akan pergi untuk selamanya, Ibu masih berharap Donny menikah dengan Debby, dan saat itu Debby menyanggupi bahkan berjanji akan mendampingi Donny selamanya. Itulah yang membawa kehancuran bagi Donny, gagal memenuhi pesan terakhir Ibunya sekaligus merasa salah telah mencintai wanita yang ternyata tak setia.

Donny menangis terisak-isak, ingin rasanya menyusul Ayah dan Ibu, dengan merekalah ia merasakan cinta sejati. Entah berapa lama ia tenggelam dalam kenangan, hingga samar-samar Donny mendengar pintu kamarnya diketuk. Buru buru diusap airmatanya, namun wajah sembab itu tak dapat disembunyikan. Dibukanya pintu dan ternyata Iwan yang tadi mengetuk. Melihat wajah sembab Donny, Iwan merasa sudah salah waktu.

“Ohh sepertinya gue ganggu ya Don, hmm yaa udah maaf, besok aja deh kita ketemu lagi, pas breakfast” Ujar Iwan salah tingkah sambil membalikkan badan secara lambat.

“Ohhh no …. It’s oke Wan, please come, gue cuma lagi mellow aja, maklumlah kamar ini tempat terakhir gue liburan sama almarhum ortu gue” Ujar Donny sambil membuka pintu lebar lebar.

Iwan pun masuk ke kamar Donny, “Sebenernya gue mau ngajak elo minum teh tarik, nih gue bawa 2 sachet juga 2 mug, emmm abisan ngerokok sendirian di kamar bete juga” Iwan berusaha mengutarakan maksud kedatangannya. Donny hanya mengangguk tanda setuju. Iwan-pun buru buru menyiapkan air dalam pemanas listrik.

Donny membuka pintu kaca yang mengarah ke kolam renang, di luar ada sepasang kursi kayu dengan satu meja. “Hmm lebih pas kalo kita sambil ngemil nih” Ujar Donny seraya menelpon resepsionis minta dikirim cheese cake, sandwich dan buah-buahan campur.

Akhirnya mereka duduk di teras dengan makanan dan minuman panas terhidang di meja. Mereka saling bercerita tentang diri mereka masing-masing. Hingga Donny memberanikan diri bertanya pada Iwan, mengapa ia sampai nekad meminum cairan pembunuh serangga, hanya gara-gara putus cinta. Iwan sempat terdiam, menarik nafas namun akhirnya bicara.

“Hmm gue waktu itu emosi bro, kita pacaran sekitar 3 tahun, dan tauk kenapa gue cinta mati sama cewek gue ini. Rasanya gak adil aja gara-gara LDR dia minta putus” iwan berkisah. “gue malu sama semua orang, secara hubungan kita udah diketahui semua orang, dari keluarga kedua pihak sampai temen-temen, gue ngerasa cemen aja diputusin gitu” Ujar Iwan lagi.

Donny mendengarkan dengan seksama, ternyata kedewasaan memang tak dapat dilihat dari umur, ya Iwan contohnya, gara-gara malu dikata cemen dia nekad minum obat serangga.

“Hmm gue nggak maksud menggurui elo, tapi menurut gue elo terlalu menuruti emosi hingga akal sehat lo kabur entah kemana, itu ngerugiin diri lo sendiri bro” Donny bicara bersungguh-sungguh. Iwan diam sambil menyimak, dia-pun sadar betapa bodoh dirinya yang rela mati hanya karena malu ketahuan diputusin cewek.

Selama 16 kali pacaran Iwan-lah yang selalu mutusin mantan mantannya, dan hubungan itu rata-rata seumur jagung. Namun dengan ceweknya yang terakhir inilah dia bisa bertahan lama dan kemudian diputusin.

“Nah lo sendiri kenapa mau mati minum obat tidur? Bukannya elo punya akal sehat? ” Iwan balik bertanya pada Donny dengan nada menyindir. Donny menghirup teh tariknya, lalu berbicara panjang lebar.

“Sebenernya gue nggak niat bunuh diri, jujur aja gue emang emosi, dan waktu itu gue males mikirin hal itu, nah gue liat ada pil tidur yaa gue minum, tapi emang sih nggak pake ukuran. Sahabat gue yang nemuin gue. Asli lho gue minum pil-pil itu malem pulang gawe kalo nggak salah dan perasaan gue tidur baru beberapa jam, nggak tau-nya udeh 3 hari aja gitu” Donny menuturkan kisahnya mabok obat tidur. Rokok kembali disulut dan kisah kembali diuntai.

“Ya gue belom terima sama sikap mantan gue Wan, dia dulu berani janji sama almarhum nyokap, dan gue pastikan kita gak ada masalah koq, ehhh tau-tau dia mau kawin sama orang” Ujar Donny sambil melempar pandangan ke arah kolam renang yang disinari cahaya temaram.

*****

Kedua pemuda itu saling berbagi kisah duka, yang mengantar mereka ke Pulau Dewata, dan berharap saat kembali ke dalam rutinitas kehidupan masing-masing, mereka sudah meninggalkan duka itu.

“Sampai kapan di Bali bro? ” Tanya Donny pada Iwan, “kalau gue nggak tau nih, sebulan kayanya deh. Gue males aja di Jakarta, oh ya kayanya mantan gue udah merit sebulan lalu deh, gue sempet denger sahabat gue lagi omongin acara itu, tapi kita semua nggak ada yang diundang sih, jadi nggak tau juga acaranya kapan” Donny bicara tanpa ekspresi, “ahh taik, ngapain gue bahas hal gak penting ya? ” Lanjut Donny tiba-tiba sambil tertawa getir.

“Kalo gue rencana sih 2 migguan Don, tapi nggak tau juga deh hehehehe soalnya semua rencana gue berubah total gara gara ketemu elo dan Mira” Ujar Iwan, “tadinya nih gue mau ngedekem di Ubud, makan tidur aja sampe badan gue fit, last minute gue ngerubah niat ke Oberoi, mangkanya lupa pesen jemputan udah gitu malah kenal elo sama Mira, tauk nih ternyata minum obat serangga efeknya dasyat yaa, badan gue berasa gimana gitu”

Donny hanya mencibir, “menurut lo ? ? ? Trus enak pake es apa anget tuh racun serangga ? ” Ujar Donny sambil tertawa, Iwan-pun ikut tertawa terbahak-bahak.

*****

Esoknya pagi-pagi Mira sudah menelpon Iwan, berjanji jam 11an sudah berada di Oberoi, “gue naek taxi yaaa jemput lu berdua trus langsung deh ke The Breezes” Oceh Mira penuh semangat. “Udah rapihkan koper kalian” Ujarnya lagi.

Dan jam 11.10 terlihat taxi warna biru memasuki halaman hotel, di sebelah supir duduk wanita cantik yang energik, wanita itu Mira. Berhenti di depan lobby Mira langsung turun, menyuruh Iwan dan Donny bergegas memuat kopernya ke taxi tapi ….

“Mir menurut lo dimana yaa gue harus naroh koper gue juga koper si Donny? ” Sindir Iwan sewaktu melihat di bagasi ada 2 buah koper ukuran 75 liter dan 60 liter, di kursi belakang ada 1 koper ukuran 75 liter dengan 1 beauty case dan travel bag. “Lo ini niat minggat deh kayanya”

Mira tertawa renyah, baru disadari bawaannya sedemikian banyak. Tak lama Donny muncul dan ikut tercengang, “hah??? Nggak salah Mir? Gilee ni perempuan ckckckck mana LV semua” Donny berbicara sambil geleng-geleng kepala.

“Duuhhh pada recet ni laki, udeh Wan, elu masukin tuh koper lu sebiji ke kursi belakang, bisa koq disusun ulang, tar gue ke Breezes duluan, trus taxi ini kemari lagi jemput lu berdua sama koper sisanya, bisa kan pak ? ? ” Ujar Mira sambil menoleh ke arah pak supir, supir taxi mengangguk seraya membantu menyusun barang barang di kursi belakang.

Intinya sejak siang itu mereka menginap di satu tempat hingga lebih mudah berinterksi, bye bye Oberoi and hello The Breezes.

bersambung…

 

11 Comments to "The Broken Heart Club (6)"

  1. Dewi Aichi  20 February, 2012 at 19:25

    Pampam gendeng he he he he……ngikik….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.