Anwari Doel Arnowo
Narkotika dan obat/bahan berbahaya
Pada suatu saat ada seorang tokoh politik yang sering membuat berita, berita yang menggemparkan dan membuat bingung masyarakat, namaya dimulai dengan suku kata Ba … Nah desas desus mulai timbul berupa gossip dan lain-lain yang semacamnya yang sebagian besar tidak ada satupun yang memihak dia. Seiring dengan keributan politik waktu itu saya menengarai juga berkembangnya kegemaran mengonsumsi jenis narkotika yang sudah berabad-abad lamanya ada di dunia, berganti-ganti jenis sampai dengan hari ini.
Jadilah salah satu jenis gossip yang beredar bahwa Narkoba adalah singkatan dari Nama Rusak Karena Ba … Kalau dipikir-pikir kemungkinannya sejak ribuan tahun sebelum Kristuspun zat yang sifatnya merangsang telah dikonsumsi manusia. Mungkin Kaisar Nero yang main musik sambil menyaksikan kota Roma yang terbakar itu sedang mabuk juga, fly .. Atau waktu zaman Nabi Luth juga, waktu manusia sedang hidup dengan minimum aturan …
Sekarang? Banyak aturan dan undang-undang dilakukan dan diundangkan, tetapi pelanggaran masih meraja lela. Apa sajapun upaya pemberantasannya dengan biaya yang tidak sedikit, telah dilakukan, saya berani bilang: hampir tanpa hasil.
Beberapa hari yang lalu salah seorang tokoh GRANAT (Gerakan Nasional Anti Narkoba) yang terkenal juga sebagai seorang pengacara, Henry Yosodiningrat, mengatakan di sebuah acara bincang-bincang dengan Sys N.S. di siaran sebuah stasiun televisi menyatakan sebagai berikut: “Coba perhatikan di Jakarta ini apa ada sebuah RT (Rukun Tetangga) yang terbebas dari masalah narkoba? Bahkan di seluruh Indonesia adakah sebuah Kabupaten atau malah sebuah Kecamatan yang juga terbebas dari masalah narkoba”. Saya mendengar yang seperti ini, sungguh amat terkejut, sama sekali di luar dugaan saya. Tidak pernah terpikir sampai seperti demikian.
Memang bila ada berita seperti ini, biasanya saya hanya membaca sepintas lalu saja, karena hal ini adalah sesuatu yang amat tergantung kepada pribadi-pribadi manusia pelakunya, pengguna, pengedar maupun yang menjadi petugas pemberantasannya. Sudah bisa disaksikan bagaimana bandar narkoba di Columbia dan negara-negara di Amerika Selatan dan Utara, di Asia Tenggara dan di Rusia. Dari salah satu negara di Amerika Selatan diluncurkan terbang menuju Amerika Serikat, sebuah pesawat terbang tanpa penerbang (pilot).
Dua pesawat terbang jet pemburu mengejar pesawat itu , terlihat menerjunkan barang berupa “cargo“ dengan payung udara, terus dibiarkanlah pesawat tanpa awak tadi sampai habis bahan bakarnya dan jatuh entah dimana. Lalu “cargo” tadi yang diduga kuat berisi Narkoba, yang harganya pasti sekian kali lipat dari harga pesawat yang dikorbankan tadi, entah bagaimana nasibnya. Kita bisa menduga bahwa “cargo” tadi pasti dilengkapi dengan alat penyiar elektronik untuk diketaui garis bujur dan lintangnya agar bisa dipungut oleh sindikat yang mengirimnya. Ada sindikat yang menumpuk uang tunai dalam bentuk mata uang Amerika Serikat atau Negara-Negara lain, dalam volume yang bila dilihat photonya, akan terkesan mewakili jumlah yang amat monumental.
Senjatanya yang pistol atau yang senapan automatic serta senjata berat, ada yang berlapis emas, bisa dipakai oleh sebuah satuan tentara yang berjumlah besar. Hal-hal yang tergambarkan tadi, disita oleh aparat pemerintah yang tiada henti-hentinya mengejar dan memusnahkannya. Seperti halnya kuku di jari tangan maupun kaki kita, pelaku narkoba tadi musnah, tumbuh lagi dan lagi secara teratur berkelanjutan terus menerus.
Belasan tahun yang lalu seorang istri Perdana Menteri Australia mengatakan agar membebaskan dengan melegalisasikan pemakaian narkoba jenis apapun. Pertama kalinya saya membaca berita itu sayapun tidak alang kepalang terkejut juga, tetapi saya sekarang, sudah sejak beberapa tahun lamanya, ternyata condong untuk menyokong pendapatnya itu.
Jangan tergesa-gesa berlawanan dengan pendirian saya itu. Mari kita diskusikan dengan tenang apa sebab demikian. Pembiaran seperti saya nyatakan itu, juga salah satu yang termasuk pembiaran dari banyak hal lainnya yang sudah sering saya sebut berulang-ulang dalam tulisan-tulisan yang lalu yakni: biarkan saja masalah pribadi seperti agama dan kepercayaan, ideologi partai politik, kegemaran berjudi, mengonsumsi minuman keras dan berekspresi kesenian apapun, juga dalam berpendapat soal apapun, TERMASUK penggunaan narkoba.
Itu semua adalah urusan pribadi orang per orang. Dengan demikian maka saya tidak pernah mau mencampuri soal soal seperti itu. Biarpun misalnya salah seorang adik sayapun bilamana menginginkan untuk menganut paham komunisme ataupun menjadi seorang yang kapitalistis atau menganut aliran kepercayaan yang berhaluan keras, saya tidak akan mengusiknya dengan larangan. Saya amat yakin kalau saya menentang, dia akan manggut-manggut di depan saya. Tetapi ketika begitu tiba saatnya sudah terlihat punggung saya, maka dia akan mengulangi lagi perbuatan yang disukainya itu. Jadi kedudukan saya sekarang yang telah menjadi paling tua dari 11 bersaudara yang tinggal tersisa hanya 7 orang tidak akan mempunyai pengaruh apapun.
Pemgguna narkoba akan menanggung akibat yang tidak menyenangkan dirinya sendiri, sesuai pengamatan, hal itu sudah amat wajar bila dianggap bahwa hal tersebut telah diketaui sebelum dia berbuat. Demikian juga judi, mabuk dan sebagainya. Kita tidak boleh untuk tidak mau perduli dengan uang pajak serta hasil produksi bekerja seluruh bangsa, yang telah terpakai dalam segala upaya mengejar, menindak dan menumpas para pembuat dan pengguna serta mafianya, maka bukankah sebaiknya biaya itu digunakan untuk menaikkan taraf hidup rakyat Planet Bumi ini yang masih banyak berada di bawah garis kemiskinan? Menurut berita media beberapa hari yang lalu Indonesia adalah produser narkoba terbesar nomor dua di dunia.
Saya bukannya seorang yang berputus asa dengan menyatakan pendapat seperti ini. Saya ingin berbuat nyata dan meninggalkan contoh sebaik mungkin dengan perbuatan. Seperti telah saya lakukan di masa lalu dengan sikap BERANI. Saya, pada usia 32 tahun, pernah meminta berhenti dari status pegawai negeri yang saya jalani selama 5 tahun, berpangkat Kepala Biro di sebuah BUMN, oleh karena di depan saya sudah menganga jurang kecurangan dan korupsi yang telah amat sangat menggoda.
Gaji saya dalam memangku jabatan itu “hanya” cukup untuk hidup amat sederhana, malah sama saja dengan honorarium kalau saya menjadi pengajar sore hari, di sebuah Akademi Maritim, bila saya mengajar selama tiga jam pelajaran saja. Jadi 3 jam mengajar sama jumlah uangnya dengan gaji satu bulan penuh sebagai Kepala Biro yang membawahi karyawan sebanyak 250 orang. Saya harus berhenti dengan BERANI karena perbuatan kufur (tidak baik) itu amat mudah dilakukan kalau pikiran kita telah menjadi fakir (miskin).
Jadi fakir itu bukan hanya miskin koceknya (dompetnya), tetapi bisa juga pikiran atau akhlaknya. Pernah pula saya hentikan kebiasaan saya menghisap asap tembakau. Berupa rokok putih dan kretek dan terakir selama belasan tahun menghisap cerutu dari berbagai merek. Semua itu bisa saya hentikan dengan kemauan keras sendiri tanpa bantuan dokter atau dukun atau siapapun di luar diri saya, secara mendadak pada tanggal 1 Juni, 2006. Ketika saya pindah ke Kanada pada tanggal 11 Juli tahun yang sama, saya dapati bahwa di seluruh Propinsi Ontario, di mana saya tinggal, telah berlaku No Smoking Act sejak tanggal 27 Juni, tanpa saya ketaui sebelumnya. Dua kejadian itu menjadi hal yang amat saya ingat dengan baik untuk saya kenang dan saya gunakan sebagai kunci, bilamana perlu untuk mengambil sesuatu keputusan penting bagi diri sendiri. Apa bedanya uang dan rokok serta cerutu bila dibandingkan dengan judi atau narkoba? Sama saja karena semua itu harus dikendalikan secara pribadi.
Anda mau berhenti untuk perduli soal pemerintahan, soal pemilu yang memilukan hati kita, soal Badan Anggaran yang membuat sistem yang ada menjadi sebuah sistem yang bodoh tolol ?? Lakukanlah, dan lakukan sendiri, tentu saja sesegera mungkin. Ketergantungan kepada kegemaran berpolitik ini juga sama saja dengan narkoba, tidak baik dan akan menggerogoti anda ke dalam jantung kalbu. Anda akan terbawa untuk bermusuhan dengan bangsa sendiri karenanya. Carilah alternative lain seperti misalnya menulis seperti yang saya lakukan ini. Lega hati karena sudah menulis, kemudian terserah pembacanya mau bertindak apa yang dianggap terbaik bagi diri pembaca itu sendiri.
30 Januari, 2012
February 20th, 2012 at 18:09
setuju, memang urusan pribadi.
February 20th, 2012 at 12:45
Di sini, pemerintah mengeluarkan national anti drugs strategy utk mencegah (lebih baik dicegah dari pada memberantas) penggunaan narkoba:
http://www.nationalantidrugstrategy.gc.ca/prevention/youth-jeunes/index.html
February 20th, 2012 at 12:43
saya salut dengan Mas Anwari yang berani melepas jabatannya di sebuah BUMN karena prinsip……
February 20th, 2012 at 12:00
konsumsi sabu-sabu tuh mantap hehehehehehe (sayur dan buah) itu lebih sehat kang noew hehehe
February 20th, 2012 at 11:46
Kuncinya satu. Jangan pernah mencoba!
February 20th, 2012 at 11:40
Nyehehehe…. =) *untung gak narkoba/merokok* …. mendingan duitnya, seperti kang anoew bilang… buat NYAWER saja….. (nyawer di artikel no 1)
February 20th, 2012 at 09:43
Hhhmmm…masalah ini memang rumit. Jadi ingat Opium War di China 1839 – 1842…
February 20th, 2012 at 09:17
Orang akan menggunakan narkoba atau tidak itu urusan pribadi, pilihan hidupnya, tetapi jika sampai merugikan orang lain, berdampak negatif kepada orang lain dan sekitarnya…nah itu yang wajiba dimusnahkan.. akibat negatif pengguna narkoba,orang lain tak berdosa ikut celaka. Kadang pengguna nekad menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkan narkoba…
February 20th, 2012 at 09:15
Selain menggiurkan pelaku bisnisnya, narkoba juga menggiurkan (calon) penggunanya. Sayang sih, duit dipakai buat membuat rusak tubuh. Nyandu, pulak. Saya menikmati narkoba dalam bentuk lain, yaitu pemandangan alam. Dan itu saya rasa lebih menyehatkan meski bikin sedikit kecanduan.
February 20th, 2012 at 08:52
Banyak pejabat yg fakir dalam berpikir