Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Narkoba

Monday, 20 February 2012

Viewed 927 times, 2 times today | 17 Comments |

Anwari Doel Arnowo

 

Narkotika dan obat/bahan berbahaya

Pada suatu saat ada seorang tokoh politik yang sering membuat berita, berita yang menggemparkan dan membuat bingung masyarakat, namaya dimulai dengan suku kata Ba … Nah desas desus mulai timbul berupa gossip dan lain-lain yang semacamnya yang sebagian besar tidak ada satupun yang memihak dia. Seiring dengan keributan politik waktu itu saya menengarai juga berkembangnya kegemaran mengonsumsi jenis narkotika yang sudah berabad-abad lamanya ada di dunia, berganti-ganti jenis sampai dengan hari ini.

Jadilah salah satu jenis gossip yang beredar bahwa Narkoba adalah singkatan dari Nama Rusak Karena Ba … Kalau dipikir-pikir kemungkinannya sejak ribuan tahun sebelum Kristuspun zat yang sifatnya merangsang telah dikonsumsi manusia. Mungkin Kaisar Nero yang main musik sambil menyaksikan kota Roma yang terbakar itu sedang mabuk juga, fly .. Atau waktu zaman Nabi Luth juga, waktu manusia sedang hidup dengan minimum aturan …

Sekarang? Banyak aturan dan undang-undang dilakukan dan diundangkan, tetapi pelanggaran masih meraja lela. Apa sajapun upaya pemberantasannya dengan biaya yang tidak sedikit, telah dilakukan, saya berani bilang: hampir tanpa hasil.

Beberapa hari yang lalu salah seorang tokoh GRANAT  (Gerakan Nasional Anti Narkoba) yang terkenal juga sebagai seorang pengacara, Henry Yosodiningrat, mengatakan di sebuah acara bincang-bincang dengan Sys N.S. di siaran sebuah stasiun televisi menyatakan sebagai berikut: “Coba perhatikan di Jakarta ini apa ada sebuah RT (Rukun Tetangga) yang terbebas dari masalah narkoba? Bahkan di seluruh Indonesia adakah sebuah Kabupaten atau malah sebuah Kecamatan yang juga terbebas dari masalah narkoba”. Saya mendengar yang seperti ini, sungguh amat terkejut, sama sekali di luar dugaan saya. Tidak pernah terpikir sampai seperti demikian.

Memang bila ada berita seperti ini, biasanya saya hanya membaca sepintas lalu saja, karena hal ini adalah sesuatu yang amat tergantung kepada pribadi-pribadi manusia pelakunya, pengguna, pengedar maupun yang menjadi petugas pemberantasannya. Sudah bisa disaksikan bagaimana bandar narkoba di Columbia dan negara-negara di Amerika Selatan dan Utara, di Asia Tenggara dan di Rusia. Dari salah satu negara di Amerika Selatan diluncurkan terbang menuju Amerika Serikat, sebuah pesawat terbang tanpa penerbang (pilot).

Dua pesawat terbang jet pemburu mengejar pesawat itu , terlihat menerjunkan barang berupa “cargo“ dengan payung udara, terus dibiarkanlah pesawat tanpa awak tadi sampai habis bahan bakarnya dan jatuh entah dimana. Lalu “cargo” tadi yang diduga kuat berisi Narkoba, yang harganya pasti sekian kali lipat dari harga pesawat yang dikorbankan tadi, entah bagaimana nasibnya. Kita bisa menduga bahwa “cargo” tadi pasti dilengkapi dengan alat penyiar elektronik untuk diketaui garis bujur dan lintangnya agar bisa dipungut oleh sindikat yang mengirimnya.  Ada sindikat yang menumpuk uang tunai dalam bentuk mata uang Amerika Serikat atau Negara-Negara lain, dalam volume yang bila dilihat photonya, akan terkesan mewakili jumlah yang amat monumental.

Senjatanya yang pistol atau yang senapan automatic serta senjata berat, ada yang berlapis emas, bisa dipakai oleh sebuah satuan tentara yang berjumlah besar. Hal-hal yang tergambarkan tadi, disita oleh aparat pemerintah yang tiada henti-hentinya mengejar dan memusnahkannya. Seperti halnya kuku di jari tangan maupun kaki kita, pelaku narkoba tadi musnah, tumbuh lagi dan lagi secara teratur berkelanjutan terus menerus.

Belasan tahun yang lalu seorang istri Perdana Menteri Australia mengatakan agar membebaskan dengan melegalisasikan pemakaian narkoba jenis apapun. Pertama kalinya saya membaca berita itu sayapun tidak alang kepalang terkejut juga, tetapi saya sekarang, sudah sejak beberapa tahun lamanya, ternyata condong untuk menyokong pendapatnya itu.

Jangan tergesa-gesa berlawanan dengan pendirian saya itu. Mari kita diskusikan dengan tenang apa sebab demikian. Pembiaran seperti saya nyatakan itu, juga salah satu yang termasuk pembiaran dari banyak hal lainnya yang sudah sering saya sebut berulang-ulang dalam tulisan-tulisan yang lalu yakni: biarkan saja masalah pribadi seperti agama dan kepercayaan, ideologi partai politik, kegemaran berjudi, mengonsumsi minuman keras dan berekspresi kesenian apapun, juga dalam berpendapat soal apapun, TERMASUK penggunaan narkoba.

Itu semua adalah urusan pribadi orang per orang. Dengan demikian maka saya tidak pernah mau mencampuri soal soal seperti itu. Biarpun misalnya salah seorang adik sayapun bilamana menginginkan untuk menganut paham komunisme ataupun menjadi seorang yang kapitalistis atau menganut aliran kepercayaan yang berhaluan keras, saya tidak akan mengusiknya dengan larangan. Saya amat yakin kalau saya menentang, dia akan manggut-manggut di depan saya. Tetapi ketika begitu tiba saatnya sudah terlihat punggung saya, maka dia akan mengulangi lagi perbuatan yang disukainya itu. Jadi kedudukan saya sekarang yang telah menjadi paling tua dari 11 bersaudara yang tinggal tersisa hanya 7 orang tidak akan mempunyai pengaruh apapun.

Pemgguna narkoba akan menanggung akibat yang tidak menyenangkan dirinya sendiri, sesuai pengamatan, hal itu sudah amat wajar bila dianggap bahwa hal tersebut telah diketaui sebelum dia berbuat. Demikian juga judi, mabuk dan sebagainya. Kita tidak boleh untuk tidak mau perduli dengan uang pajak serta hasil produksi bekerja seluruh bangsa, yang telah terpakai dalam segala upaya mengejar, menindak dan menumpas para pembuat dan pengguna serta mafianya, maka bukankah sebaiknya biaya itu digunakan untuk menaikkan taraf hidup rakyat Planet Bumi ini yang masih banyak berada di bawah garis kemiskinan? Menurut berita media beberapa hari yang lalu Indonesia adalah produser narkoba terbesar nomor dua di dunia.

Saya bukannya seorang yang berputus asa dengan menyatakan pendapat seperti ini. Saya ingin berbuat nyata dan meninggalkan contoh sebaik mungkin dengan perbuatan. Seperti telah saya lakukan di masa lalu dengan sikap BERANI. Saya, pada usia 32 tahun, pernah meminta berhenti dari status pegawai negeri yang saya jalani selama 5 tahun, berpangkat Kepala Biro di sebuah BUMN, oleh karena di depan saya sudah menganga jurang kecurangan dan korupsi yang telah amat sangat  menggoda.

Gaji saya dalam memangku jabatan itu “hanya” cukup untuk hidup amat sederhana, malah sama saja dengan honorarium kalau saya menjadi pengajar sore hari, di sebuah Akademi Maritim, bila saya mengajar selama tiga jam pelajaran saja. Jadi 3 jam mengajar sama jumlah uangnya dengan gaji satu bulan penuh sebagai Kepala Biro yang membawahi karyawan sebanyak 250 orang. Saya harus berhenti dengan BERANI karena perbuatan kufur (tidak baik) itu amat mudah dilakukan kalau pikiran kita telah menjadi fakir (miskin).

Jadi fakir itu  bukan hanya miskin koceknya (dompetnya), tetapi bisa juga pikiran atau akhlaknya. Pernah pula saya hentikan kebiasaan saya menghisap asap tembakau.  Berupa rokok putih dan kretek dan terakir selama belasan tahun menghisap cerutu dari berbagai merek. Semua itu bisa saya hentikan dengan kemauan keras sendiri tanpa bantuan dokter atau dukun atau siapapun di luar diri saya, secara mendadak pada tanggal 1 Juni, 2006. Ketika saya pindah ke Kanada pada tanggal 11 Juli tahun yang sama, saya dapati bahwa di seluruh Propinsi Ontario, di mana saya tinggal, telah berlaku No Smoking Act sejak tanggal 27 Juni, tanpa saya ketaui sebelumnya. Dua kejadian itu menjadi hal yang amat saya ingat dengan baik untuk saya kenang dan saya gunakan sebagai kunci, bilamana perlu untuk mengambil sesuatu keputusan penting bagi diri sendiri. Apa bedanya uang dan rokok serta cerutu bila dibandingkan dengan judi atau narkoba? Sama saja karena semua itu harus dikendalikan secara pribadi.

Anda mau berhenti untuk perduli soal pemerintahan, soal pemilu yang memilukan hati kita, soal Badan Anggaran yang membuat sistem yang ada menjadi sebuah sistem yang bodoh tolol ?? Lakukanlah, dan lakukan sendiri, tentu saja sesegera mungkin. Ketergantungan kepada kegemaran  berpolitik ini juga sama saja dengan narkoba, tidak baik dan akan menggerogoti anda ke dalam jantung kalbu. Anda akan terbawa untuk bermusuhan dengan bangsa sendiri karenanya. Carilah alternative lain seperti misalnya menulis seperti yang saya lakukan ini. Lega hati karena sudah menulis, kemudian terserah pembacanya mau bertindak apa yang dianggap terbaik bagi diri pembaca itu sendiri.

 

30 Januari, 2012

 

Share This Post

Posted by Monday, 20 February 2012 on 07:07.

Categories: Opini. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

17 Responses to “Narkoba”

Pages: [2] 1 »

  1. 17
    Anwari Doel Arnowo Says:

    DEA = Drug Enforcement Administration
    BNN=Badan Narkotika Nasional

    Anwari – 2012/02/21

  2. 16
    Anwari Doel Arnowo Says:

    Mas DJ yang baik,
    Problem seperti anda sebutkan bukan kita harus biarkan. Sudah saya sebutkan bahwa : BIARKAN saja, tetapi penerangan masalah bahayanya tetap harus dilakukan. Hal itu tentu saja oleh Kementerian yang membidangi Penerangan dan Pendidikan serta Pengajaran. Ini tidak boleh berhenti seperti menerangkan bahayanya mencuri, korupsi, membunuh orang lain serta kelakuan lain yang anti sosial.
    Mas DJ tidak beda pandangan dengan saya, hanya saya menganjurkan agar kita menghemat tenaga dan biaya serta menambah upaya bertindak lebih effective.
    Keborosan yang dilakukan oleh DEA Amerika Serikat dan BNN Indonesia tidak effective. Pendidikan diserahkan saja kepada para ahlinya dan penanganan soal narkoba diserahkan kepada Polisi dan Jaksa biasa saja, tidak usah Badan Khusus ini dan itu.
    Indonesia harus berhemat-hemat karena money is scrace.
    Salam,
    Anwari Doel Arnowo – 2012/02/21

  3. 15
    Dewi Aichi Says:

    He he…tetangga saya ini namanya Eduardo , mirip Nicolas Cage he he…mirip banget…suamiku juga manggilnya Nicolas Cage…kalau sedang tenang, sering main ke rumah…pandai melukis..

  4. 14
    Dewi Aichi Says:

    Seperti komen Pak DJ, itu juga yg saya maksud, bener urusan pribadi, tapi apakah jika pengguna narkoba sudah menjalar dan merugikan orang lain, tetap saja menjadi bukan urusan pribadi. Tetngga saya sudah punya anak, umur 11 tahun, semua sodaranya pengusaha, tetangga saya ini yang paling mengenaskan nasibnya diantara sodar sodaranya, akibat ketergantungan dengan narkoba, bolak balik ke rumah perawatan narkoba, biaya besar selalu ditanggung sodara sodaranya. Ibunya sendiri, jika tetangga saya ini sedang depresi, selalu ke rumah saya untuk sembunyi, karena takut pada anaknya sndiri yang sering marah dan gedor gedor pintu, saya sering dengar sendiri ketika sedang butuh narkoba, tapi duit harus minta ibunya.

  5. 13
    Dj. Says:

    Cak Doel…
    Terimakasih untuk tulisannya diatas….
    Memang ada hal yang berlawanan dengan isi hati Dj., tapi dilain tempat ada juga yang Dj. setujui.
    Bolehkan, kan cak Doel juga tulis, terserah pemba…

    ***Carilah alternative lain seperti misalnya menulis seperti yang saya lakukan ini. Lega hati karena sudah menulis, kemudian terserah pembacanya mau bertindak apa yang dianggap terbaik bagi diri pembaca itu sendiri. ***

    Untuk narkoba, bagi orang dewasa yang sudah bisa memilih apa yang baik bagi diri sendiri, itu memang benar,
    urusan masing-mmasing. Wong uang ya uangnya sendiri, badan ya badan sendiri.
    Kalau sakit atau bahkan mati ya dia sendiri yang mengalaminya.
    Sampai disitu Dj. setuju, okaylah….

    1.
    Tapi hal ini tetap Dj. anggap satu hal yang negativ.
    Kita harus bisa ( paling sedikit ) untuk memberi tau, bahwa hal itu tidak baik ( negativ ).
    Itu satu tugas, apalagi terhadap kaka, adik, atau saudara dan teman yang mengomsumsinya.
    Kalau yang bersangkutan mau atau tidak mau dengar, ya memang terserah, karena dia sendiri yang merasakannya.

    2.
    Dari hal yang negativ tersebut, tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang sudah dewasa, yang sudah bisa menentukan hal mana yang dia anggap benar dan baik untuk hidupnya.

    Bagaimana dengan anak-anak dan mungkin juga cucu kita…???
    Tapi hal ini, sangat mungkin menjalar ke anak-anak yang belum mampu berpikir secara dewasa, apalagi punya uang penghasilan sendiri.
    Hali ini Dj. tuliskan, karena anak asuh Dj. ( anak perempuan ) di Jogja yang masih duduk dibamngku SMA.
    Tertangkap bersama teman-temannya sedang melakukan aksi narkoba.
    Dj. di kirimi SMS minta bantuan agar si anak bisa keluar dari penjara.
    Nah, kalau sudah demikian, apakah hal ini masih bisa dianggap baik…???
    Akankah kita akan acuh ta acuh,( tutup mata ) atau dengan kata lain… biarkan saja…???!!!

    Anak ini Dj. ambil sejak dia bayi, karena orang tuanya yang tidak mampu membelikan susu saat itu.
    Anaknya pendiam dan rajin, bahkan disekolah terkenal pintar.
    Tapi…. pengaruh narkoba dari teman-temannya, yang mana ( jelas tidak sekaligus ), lama kelamaan dia terpengaruh dan mencobanya.
    Walau dia bersumpah, hal itu dia lakukan hanya ingin menyenangkakn hati taman-temannya.
    Agar bisa ( boleh ) dianggap setara dengan teman-temannya.
    Mengharap penghargaan dan bosen selalu dianggap miskin….!!!

    Nah disini Dj. katakan dengan tegas, bahwa sebaiknya narkkoba tetap dilarang.
    Karena dampak terhadap anak-anak yang belum bisa / tau apa yang baik atau buruk bagi dirinya.
    Dan yang jelas bukan menyusahkan diri sendiri, tapi juga orang tua dan adik-adiknya.

    Nah ini sekedar pendapat Dj.
    Bagi mereka yang sudah dewasa dan berpenghasilan “sangat” cukup, ya silahkan saja.
    Tapi kita sering dengar, karena narkoba yang akhirnya bukan dirinya sendiri yang dirugikan.
    Banyak pecandu yang kehabisan uang dan akhirnya larinya ke kreminalitas.
    Membunuh, mencuri, merampok, mempperkosa dll..dll…
    Nah, hal ini Dj. rasa harus dipikirkan
    Terimakasih.
    Dan maaf kalau pendapat Dj. sedikit tidak sesuai dengan pendapat cak Doel.

    Salam Sejahtera dari kami di Mainz, yang sedang rame dengan karnaval.

  6. 12
    HennieTriana Oberst Says:

    Pak Anwari, pas pemberlakuan No Smoking Act di Ontario itu saya sedang bermukim sementara di sana. Banyak kenalan saya yang akhirnya berhenti merokok dengan kemauan sendiri. Hebat!!!

    Masalah Narkoba ini (bagi saya pribadi) lebih mengerikan. Yang ditakuti, seandainya para pengedar yang memanfaatkan dan menjebak anak-anak di bawah umur.

  7. 11
    Anwari Doel Arnowo Says:

    Alangkah besarnya jumlah uang atau yang bisa dinilai secara setara dengan uang, hanya untuk memberantas narkoba. Sebagian tentu saja berasal dari pajak dan mereka yang tidak terlibat masalah narkoba ini.
    Itulah sebabnya saya ingin agar dibiarkan saja, tetapi diberikan penerangan yang meluas dan efektif menjangkau pengertian masyarakat luas.
    Kalau sudah dikeluarkan dari claim asuransi itu baik sekali dan juga dari jaminan sosial dari Negara.
    Rupanya manusia hanya berusaha tetapi masih banyak hal yang manusia tidak mampu melawannya, seperti gempa bumi, Tsunami atau menularnya penyakit-penyakit lain, termasuk antara lain judi.
    Salam,
    Anwari Doel Arnowo – 2012/02/20

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)