Antara Humor dan Humour

Dinanda Nuswantara Buwana

 

Suatu pagi, sewaktu saya masih duduk di bangku sebuah SMA Negeri di Jalan Dago Bandung, saat jeda antara jam pelajaran,  Seorang guru Biologi  berdiri di depan pintu masuk.

Anak-anak perhatikan”! serunya.

Coba kalian buku Paket Pelajaran Biologi yang baru”

Buka Halaman 121” Perintahnya. Maka kami pun para siswa sibuk membuka tas masing-masing dan mengeluarkan buku dan halaman yang dimaksud.

“Perhatikan, pada halaman 121 itu, pada gambar bagian-bagian otak, di situ tertulis kata Humour, coret kata itu, Ganti dengan Hormon” Perintah beliau dengan tegas.

Masa humor, Apa itu humor, tidak berhubungan” timpal beliau, selagi kami masing-masing sibuk melintangkan garis hitam pada kata Humor sebagaimana terdapat pada gambar otak itu.

Tampaknya beliau tergesa-gesa harus berkeliling ke kelas lain untuk merevisi kesalahan itu, sehingga tidak sempat masuk ke dalam kelas. Dan selagi kami “celengak-celenguk”, sambil mencoret kata itu, sang Guru rupanya telah berlalu.

Sebagai murid sekolah di negeri ini tentulah kita harus patuh, karena sistem pendidikan di negeri ini sepertinya tidak memberi  ruang untuk tumbuh dan berkembang murid yang kritis, dan “berani membantah”. Kami semua di kelas itu serempak telah mencoret kata humor dari gambar bagian otak sebagai tanda patuh pada titah sang guru, tanpa sempat bertanya alasan yang rasional kenapa kata itu sampai masuk dalam gambar itu,  beberapa teman beranggapan bahwa itu hanyalah salah cetak belaka.

Sejak saat itu, kata humor di buku pelajaran Biologi kami tidak ada lagi kata Humor. Sepertinya humor sebagai kata yang bermakna similar dengan Dagelan, Lolucon, Bodoran, dan ketawa-ketiwi tidak layak berdampingan dengan kata Cerebellum, Lombus Frontal,Cortex, Hyphotalamus, Amingdala,dll. Karena otak adalah sesuatu yang dianggap serius, tempat kita berpikir, pengambil keputusan dari setiap tindakan kita, bersemanyamnya akal atau Rasio, dan logika, Sehingga seorang Descartes berkata “cogito ergo sum atau I think, therefore I’am.

Sebenarnya saya masih penasaran dengan revisi sang guru itu, karenanya bertahun-tahun lamanya saya memendam dendam ingin mengoreksinya. Jika ada kesempatan bertandang ke toko buku, maka saya menyempatkan untuk membuka-buka kamus kedokteran. Ada beberapa yang menyangkut kata humor, namun belum memuaskan saya. Hingga saat masa kuliah saya berkenalan dengan seorang Mahasiswa Kedokteran, dan berkenan meminjami saya sebuah buku Kamus Kedokteran yang tebalnya seperti kotak sepatu, Kamus Kedokteran Dorland, terjemahan dari EGC.

Pada Kamus itu saya menemukan kata humour/Humor, yang artinya : Cairan atau setengah cair selain darah yang terdapat di otak atau jaringan lain. Pada bagian ini saya sudah mendapatkan sedikit titik terang. Kemudian ada lagi kata Humoralisme , yaitu suatu faham kuno yang berpendapat bahwa segala macam penyakit yang diderita manusia, berhubungan dengan segala cairan di tubuh kita. Eureka !!! jadi memang ada kata Humor di otak, Lalu , lalu?

Pada kaitan dengan faham kuno itu, humour juga berkaitan dengan cairan-cairan tubuh yang membentuk watak manusia, yaitu Choleric (pemarah) karena kelebihan empedu kuning, Melankolis (Pemurung,sedih), karena kelebihan empedu hitam, Phlegmatic (Lesu, tak bergairah) karena kelebihan lender, dan Sanguinis (Kebiasaan baik) karena aliran darah yang lancar. Faham ini sudah lama dianggap using sehingga tidak lagi menjadi pijakan untuk menentukan kepribadian atau watak seseorang.

Kemudian apa hubungannya humor dengan dagelan?

Pada saat kita tersenyum dan tertawa maka,  otak akan menstimulus tubuh untuk mengeluarkan cairan (humour) abtibodi, cairan ini akan membantu pertahanan tubuh kita dari serangan berbagai penyakit eksternal, juga cairan ini akan meredakan stress kita, otak akan mengeluarkan cairan yang menetralisir cairan-cairan lain pada saat kita mengalami stress sehingga otak akan tetap aman dari “tusukan-tusukan asam “ seperti kotekolamin, ephinefrin, dan kortison.

Jadi Tertawa itu sehat kan? Di India, dan beberapa kota di Indonesia sudah banyak klub tertawa, tertawa dijadikan therapy untuk meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan bathin, para anggotanya berkumpul pada waktu yang telah disepakati, saling berhadapan atau melingkar, tidak usah di depan mereka dihadirkan Budi Anduk, Sule  ataupun Olga sebagai stimulus tawa, mereka akan tertawa-tawa dengan metode mereka sendiri.

Ternyata Humor itu juga adalah sesuatu yang serius, coba simak definisi humor dan lucu menurut pakar atau humorolog Indonesia, Jaya Suprana berikut ini :

Humor merupakan suatu situasi atau kondisi yang tidak bebas nilai, sedangkan lucu lebih mengandung nilai subjektif, dan tertawa adalah suatu reflex penggerak yang dihasilkan oleh konstraksi limabelas otot wajah yang terkoordinasi di dalam suatu pola tiruan, dan diikuti dengan perubahan nafas”

Menurut para ahli syaraf pun ekspresi wajah cemberut maupun tegang dihasilkan oleh konstraksi otot wajah yang lebih banyak.

Fungsi Humor

Secara fungsional  Humor dapat  membantu  menyelamatkan muka mereka dari kejadian memalukan. Dan kadang-kadang dengan humor kita dapat mengungkapkan sesuatu yang menurut kita sangat sulit  jika kita katakan secara serius. Dengan humor  kita dapat mengungkapkan yang sesungguhnya walau lawan bicara kita atau audiens menganggap kita bercanda, hal demikian menurut sahabat saya diistilahkan sebagai “bersembunyi di tempat yang terang”

Saya sendiri menyukai Humor satire, yaitu humor sindiran yang menertawakan penderitaan diri sendiri. Tanpa kita perlu menertawakan orang lain atas penderitaan yang dialaminya, atau seperti balita yang tertawa melihat sesuatu yang aneh yang tidak pada tempatnya misalnya saat kita meletakan sepatu di atas kepala kita. Ketidakadilan terjadi bila kita meletakkan sesuatu tidak pada porsi atau tempatnya, ya betul apakah kita adil menempatkan sepatu untuk kaki di atas kepala kita? Apakah suatu ketidakadilan dapat kita tertawakan ???

Oh iya, hampir lupa di setiap kunjungan saya ke toko-toko Buku, saya juga masih membuka-buka buku pelajaran Biologi untuk SMA, terbitan apa saja. Dan dalam setiap gambar-gambar bagian otak, saya sama sekali tidak menemukan kata Humor. Mungkin Sang Guru. Setelah mampir ketiap-tiap kelas pagi itu, dia menyambangi tiap toko buku dan penerbit di Seluruh Indonesia untuk menghapus kata Humor. Maaf jangan menertawakan beliau, beliau tetap guru saya yang saya hormati.

 

47 Comments to "Antara Humor dan Humour"

  1. Linda Cheang  5 March, 2012 at 19:48

    ya, begitulah…

  2. SU  5 March, 2012 at 19:41

    Terima ksh ya bt artikelnya.

  3. SU  5 March, 2012 at 19:41

    Saya suka bc lelucon yg bersih.

  4. dinanda  24 February, 2012 at 08:59

    @Rina, terimakasih ya, and terimakasih juga buat semua yang sudah baca dan beri komen, @ neng Dewi, lho ini perkara BB, perkara Bangsa Bodor (Bangsa lucu),hehehehe

  5. Dewi Aichi  24 February, 2012 at 08:01

    Nanda…..ha ha…lha kok malah menjadi sidang perkara pidana…ini kan perkara bb, Bau Badan, atau Bau Bau….bau kaki, bau bau bau bau kai, bau bau bau bau bau sapi..he he he…jadi inget lagunya project P

  6. rina s  24 February, 2012 at 07:37

    Like this…nice posting

  7. dinanda  23 February, 2012 at 13:55

    Sdri DA, anda berhak untuk menyanggah,tapi uji forensik dari pakar teletubbies akan membuktikan bahwa sanggahan anda tidak berdasar,
    Jika anda tidak menggunakan BB berari anda menggunakan deodorant,
    ™ :O :O :O
    :O :O
    :O :O
    :O :O
    :O :O :O Õoooº°˚ ˚°º… ºoº..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.