Anak Koruptor

Ida Cholisa

 

“Bu Guru, besok aku ijin nggak masuk, ya?”

Ia berdiri di hadapanku. Sengaja menemuiku saat bel istirahat berdentang dua kali.

“Memangnya mau ke mana?” tanyaku acuh tak acuh.

“Mau pergi, Bu.”

“Pergi ke mana?”

“Jauh sih Bu… susah mengatakannya.”

“Kau ini… minta ijin nggak masuk tapi nggak bisa nyebutin mau ke mana. Mau mbolos begitu?” kataku dengan nada suara agak meninggi.

“Nanti suratnya menyusul ya Bu, biar mama yang bikinin.”

“Ya sudah, tapi awas ya kalau nggak masuk tanpa alasan yang jelas.”

“Ya, Bu.”

Ia pun berlalu dari hadapanku setelah menjabat dan mencium tanganku. Sesudahnya aku kembali disibukkan dengan urusan pekerjaan yang membludak.

***

Pagi ini aku kembali mengajar di kelas Wawan, siswa yang kemarin telah maju menghadapku.

“Bu, Wawan absen, Bu.”

Kuterima sepucuk surat yang dibawa salah seorang murid kelasku. Di sana kulihat tulisan tangan atas nama Nyonya Monica, ibunda Wawan Setiawan.

“Wawan pergi dari rumah sejak semalam. Hingga hari ini belum kembali ke rumah.”

Begitu inti surat tersebut. Kuletakkan surat itu di balik buku administrasiku. Begitu jam mengajar usai aku pun kembali ke ruang guru.

Tepat pukul 14.00 saat jam pulang berdentang tiga kali, sekolah digegerkan dengan berita duka. Wawan meninggal karena gantung diri di sebuah rumah kosong. Berita itu melesat membuat tenggorokan semua yang mendengar langsung tercekat.

Penyebab kematian Wawan begitu menggemparkan. Anak pandai yang selalu meraih juara pertama itu tewas secara mengenaskan. Apakah penyebab utama hingga ia melakukan tindakan bodoh yang ditentang agama?

Wawan deperesi, demikian pengakuan sang ibunda. Sejak ayahnya diciduk polisi karena kasus korupsi, Wawan lebih banyak berdiam diri. Ia berubah seratus delapan puluh derajat. Perubahan sikap itu hanya tampak di rumah saja, sementara sikap Wawan di sekolah biasa-biasa saja. Puncak pemberontakan Wawan yakni ketika sang ayah yang dahulu dikaguminya tersohor dan menjadi berita hangat di berbagai surat kabar. Ayah Wawan masuk pada kategori pejabat dengan rekening gendut di luar batas kewajaran.

Wawan malu, ia merasa lebih baik pergi daripada menjadi anak seorang koruptor. Ia juga malu pada sahabat terdekatnya, Intan, yang sebelumnya santer terdengar bakal  menjadi pacar barunya. Kabarnya gadis cantik primadona sekolah itu semakin menjaga jarak setelah berita korupsi ayah Wawan merebak di televisi dan media cetak. Demikian yang disampaikan sang mama kepada kami guru dan teman-teman sekolah anaknya.

Kepergian Wawan menyisakan duka lara. Ambisi orang tua untuk memperkaya diri ternyata membuahkan kematian sang anak. Jika sudah begini, untuk apa uang hasil korupsi yang dikeruk ayah Wawan selama ini?

Sayangnya, remaja tanggung yang memiliki hati nurani bersih itu mesti tewas dengan cara gantung diri…***

 

19 Comments to "Anak Koruptor"

  1. [email protected]  22 February, 2012 at 11:26

    masalahnya… hanya dalam cerita anak koruptor gantung diri….
    pada kenyataannya….
    malah hidup senang2…. (kecuali kalo udah kena ciduk)

  2. Chadra Sasadara  22 February, 2012 at 10:48

    mengapa para koruptor itu tidak pilih memlihara tuyul, jenglot atau memedi lainya yang bisa bikin kaya tanpa bekerja keras?

  3. Linda Cheang  22 February, 2012 at 10:10

    menyedihkan.

  4. Ocha  22 February, 2012 at 09:15

    Jadi ingat dulu pernah ada teman yang justru menyuruh bapaknya untuk korupsi, karena bosan hidup sederhana dengan gaji PNS bapaknya, menyedihkan…..

  5. Dewi Aichi  22 February, 2012 at 08:52

    maumu apa sih Anoew….(nggebrak meja) dengan muka marah!!!!!!!…….maksudnya ngusir lalat….banyak lalat di meja makan he he

  6. anoew  22 February, 2012 at 08:36

    Kalau semua anak koruptor bunuh diri seperti si Wawan trus para koruptornya pada tobat, Indonesia malah sepi. Sepi proyek, sepi bisnis, sepi sidang.

  7. Dewi Aichi  22 February, 2012 at 08:21

    yah..koruptor merupakan masalah inti/besar di saat ini yang memang harus segera dibasmi…tetapi sayangnya jarang anak koruptor yang seperti Wawan….malah sebaliknya…merasakan nikmatnya…

  8. J C  22 February, 2012 at 08:01

    Kalau semua anak koruptor di Indonesia gantung diri seperti dalam artikel ini, apakah masih ada korupsi di Indonesia ya?

  9. Kornelya  22 February, 2012 at 07:57

    Mudah-mudahan anak-anak koruptor lainnya juga tahu malu seperti Wawan.

  10. Handoko Widagdo  22 February, 2012 at 07:33

    Semoga artikel ini terbaca oleh mereka-mereka yang punya rekening gendut. Thanks Bu Ida Cholisa.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.