Edan-edanan (14): Api yang Membunuh, Api yang Menghidupkan

Kang Putu

 

BONG, obong, obong, obong, obong!” Perulangan bunyi obong (bakar) dalam lagu karya mendiang Mbah Ranto itu sungguh impresif. Terbayang dalam benak, betapa dahsyat kebakaran di istana Kerajaan Alengkapura akibat ulah Anoman, sang duta. Dari sepercik api di ekor sang kera, hanguslah seluruh citra kemegahmewahan duniawi sang Raja Dasamuka. (Kaudengarkah tawa menggila Betara Agni bersama Bayu, Candra, Surya, dan Yama jauh di kahyangan sana?)

Muncullah “tafsir kontekstual” terhadap tembang itu, yang melampaui makna niatan sang penggubah. Ya, sebagian orang menafsirkan bahwa tembang itu mengandung jangka, ramalan, tentang keadaan yang bakal terjadi di negeri ini. Maka, ketika paruh kedua 1990-an yang memuncak pada Mei 1998 terjadi gegeran, obong-obongan di Solo dan Jakarta, itulah “puncak pembenaran” atas kewinasisan Mbah Ranto meramalkan keadaan. Soal kebenarannya, tentu saja, wallahu ‘alam bissawab.

Entah kenapa setiap kali mendengar lagu itu dalam benak saya berkelebatan berbagai kisah tentang obong-obong, kobong, dan kobongan. Kaisar Nero membakar kota Roma, Bale Sigalagala, Buto Rambutgeni, Wisanggeni, Anoman Obong, Kuil Kencana Yukio Mishima, bumi hangus pada masa perang kemerdekaan dan pascareferendum di Dili, Timor Lorosae, Gunung Merapi, Solo & Jakarta 1998, Solo & Bali pascakekalahan Megawati dalam pemilihan presiden 1999, pembakaran hutan dan pasar-pasar, sepak bola api & perang obor adalah sebagian kisah dan tontonan yang mengganggu: api, di mana-mana api menjilat, berkobar, menghanguskan, meluluhlantakkan. (Ah, apa pula semangat yang tersirat di balik nama seorang kawan, Gurit Geni? Semangat perlawanan atau pemberangusan?)

Segala warna dan daya rusak api menggila dalam benak, menggila dalam ingatan. Saya tersadar: di sana, di neraka, apilah yang bersimaharaja. Di neraka, kau bakal menemu api absolut!

Dan, ingatan itu memerihkan. Ingatan itu senantiasa mengguriskan kembali kenyataan betapa api itu begitu panas, begitu menyakitkan. Ingatan itu seperti mengupik koreng yang belum kering benar.

Ya, api pernah membakar tubuh, menghanguskan pakaian, mencederai sebagian wajah dan tangan kanan saya. Tahun 1968, saya kelas I sekolah dasar di Blora. Suatu malam, saya, dua kakak perempuan, dan seorang adik lelaki makan malam mengelilingi meja bundar di bawah penerangan lampu gantung. Nyala lampu meredup. Barangkali kehabisan minyak. Ibu, yang menggendong adik perempuan saya, segera menurunkan lampu itu, nyaris menyentuh permukaan meja.

Entah kenapa, Ibu cuma memutar dan mengangkat sedikit tempat sumbu, tanpa memadamkan nyala lampu, lalu menuangkan minyak tanah (yang konon lebih banyak tercampur bensin). Api menyambar minyak. Ibu terkejut, mungkin terselomot api, dan mengibaskan tangan. Saya takjub: bola api meluncur sedemikian cepat, tak terduga, dan menabrak saya. Sejenak kemudian, saya terloncat dan melolong. Api membakar saya.

Saya berlari ke kamar mandi di luar rumah, hendak menceburkan diri. Namun tercegah, entah oleh siapa. Keluar dari kamar mandi, saya menabrak dinding sumur. Sekejap muncul kesadaran, kenapa tidak terjun ke dalam lubang yang menganga hitam di kegelapan malam itu? Air, ada air di dalam sumur bukan? Bukankah air bakal memadamkan api di tubuh saya?

Tiba-tiba seorang mbahlik datang dan merobek pakaian dan mendekap tubuh saya. Saya melolong kesakitan. Saya menangis di atas becak di sepanjang perjalanan ke rumah sakit sejauh dua kilometer dari rumah.

Kakak sulung saya memberikan tafsir menarik terhadap peristiwa itu. Ya, menurut versi dia, itulah wujud dendam seseorang kepada kakek kami, yang saat itu menjadi ketua persatuan pedagang Pasar Blora. Balangan itu, semacam teluh, semestinya ditujukan kepada Kakek. Namun entah kenapa mengenai saya. Karena itulah, sejak saat itu Kakek diam-diam memberikan perhatian berlebih kepada saya ketimbang kepada cucu yang lain.

Kini, 36 tahun kemudian, tanpa sepenuhnya memercayai tafsir kakak sulung itu, saya masih sering melihat api membakar tubuh saya. Api itu menghilangkan alis saya, api itu merusak sebagian wajah saya, api itu merusak tangan kanan saya. Sungguh, saya membenci (sekaligus takut pada) api. Saya membenci segala sesuatu yang erat berkait dengan api: pembakaran, kebakaran….

Namun, celaka, diam-diam tanpa sepenuhnya menyadari saya justru gandrung pada kisah-kisah yang mengandung unsur api. Kisah Bale Sigalagala, apalagi ketika dilakonkan oleh mendiang Ki Nartosabdo, membuat air mata saya meleleh. Betapa keji sang pemilik gagasan, Begawan Durna, yang bermaksud membakar Kunti dan Pandawa hidup-hidup dalam sebuah pesanggarahan yang dirancang amat-sangat gampang dibakar.

Celaka pula, modus kekerasan semacam itu seolah-olah menjadi sumber inspirasi tak habis-habis, sekaligus acuan pembenaran, misalnya, bagi “orde baru”. Itulah, meminjam judul buku yang disunting Frans Husken dan Huub de Jonge yang membeberkan kekerasan dan dendam di Indonesia tahun 1965-1998(2003), rezim “orde zonder order”. Ya, pada masa pemerintahan Jenderal Besar Soeharto itulah pembakaran hutan dan pasar-pasar mengunjukkan frekuensi dan intensitas luar biasa sebagai modus “penyelesaian masalah”. Dan, bukankah Soeharto mengakui telah memerintahkan pembunuhan misterius (petrus) terhadap orang-orang yang diidentifikasi sebagai preman, gali, residivis di luar pranata hukum, ekstrayudisial, dengan senjata api? Bukankah jauh sebelumnya, pasca-1965, senjata api pula yang antara lain dipergunakan mesin pembunuh Soeharto untuk “menghabisi sacindhil abange” eksponen kiri dalam jagat perpolitikan di Indonesia? (Jiwa perusak apilah yang senantiasa membakar, berkobar-kobar, menjilati langit perpolitikan negeri ini bukan?)

Api lebih kerap menggiring kesadaran saya pada gambaran kerusakan, kekerasan. Bukankah setan dan iblis tercipta dari api? Dan, di nerakalah setan dan iblis bakal kembali ke asal-muasal mereka.

Namun, bukankah tanpa api makanan tak bakal tersaji dan mesin-mesin tak bakal tercipta? Tanpa api, bagaimana mungkin peradaban terbangun? Jadi, kenapa saya lebih mengenali api yang membunuh, api yang menghancurkan? Kenapa saya terus-menerus memiara kebencian?

 

25 Juli 2004

 

11 Comments to "Edan-edanan (14): Api yang Membunuh, Api yang Menghidupkan"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  24 February, 2012 at 00:29

    Api….merusak dan menghidupkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.