Anak Cino

Handoko Widagdo – Solo

 

Penthol..penthil..pentholos…cino mati dicoblos…” (1) adalah olokan yang hampir setiap hari aku terima saat aku SD. Olokan lainnya adalah ”No Lik Pit Wang Ngok-ngok: Cino Cilik Kecepit Lawang Bengok-bengok” (2). Atau: Cino nek mati dipentheng (disalib).

Di sekolah, olokan seperti ini ditujukan kepadaku oleh teman-teman laki-laki sekelas yang lebih besar dariku. Saya adalah satu-satunya anak keturunan Cina di kelas. Seingatku dari sejak kelas dua sampai kelas 4, saya jarang berani keluar kelas saat istirahat. Sebab saya selalu digganggu oleh anak-anak tersebut dan saya selalu menangis karena gangguan tersebut.

Adalah Wiwik, anak dari Pak Budiharso -kepala sekolah, yang paling sering mengejekku. Dia adalah murid dengan badan paling besar di kelas kami. Meski dia adalah anak kepala sekolah, namun jika ketahuan mengejekku dia selalu mendapat hukuman. Bahkan dari bapaknya sendiri. Sering dia harus berdiri di depan kelas sambil mengangkat satu kaki, sementara tangannya memegang kuping. Atau mendapat sabetan penggaris panjang atau stik bambu yang kami gunakan untuk penunjuk saat kami membaca di papan tulis. Jika dia mendapat hukuman seperti ini di kelas, sudah pasti saat pulang sekolah dia akan memukuli saya.

Pernah sekali saya memukulnya dengan tas koper yang terbuat dari kayu. Saat itu dia mengolok-olok saya dan mendorong-dorong saya sampai saya jatuh ke semak putri malu yang penuh duri. Sebagai reflek pembelaan diri, saya ayunkan tas koper ke kepalanya. Dan kepalanya berdarah karena sobek. Perkara ini sempat membuat papa saya berurusan dengan sekolah. Untunglah Pak Budiharso adalah orang yang sangat bijaksana. Dia tahu anaknya yang salah.

Meski aku sering mendapat olokan karena statusku sebagai anak Cina, namun saya tidak pernah merasa ada masalah untuk bergaul dan bermain dengan teman-teman di sekolah maupun di kampung. Setiap pulang sekolah saya tetap mempunyai teman bermain. Entah itu bermain dengan teman-teman perempuan, seperti Solekhah dan Harti, atau bermain dengan teman-teman laki-laki seperti Karno, Endarto dan Haryanto. Atau kadang bermain di sungai bersama teman-teman pondok pesantren. Meski kadang-kadang ejekan tersebut terlontar, namun hal itu tidak membuat saya merasa diasingkan.

Saya harus bersyukur dibesarkan dalam komunitas yang dewasa. Meski di antara anak-anak terjadi saling ejek, namun para orang dewasa bisa mengatasinya dengan bijak. Tidak pernah terjadi pertengkaran orang tua karena anaknya saling ejek. Sikap yang ditunjukkan oleh Pak Budiharso (Kepala Sekolah) adalah sebuah contoh pemimpin yang baik. Pak Budiharso tidak segan menghukum siapa saja yang salah, meski itu adalah anaknya sendiri.

Sikap komunitas yang dewasa ini membuat saya tidak trauma, meski mengalami ejekan saat saya kecil.

Semoga contoh kecil dari desa saya ini bisa menjadi teladan bagi pemimpin Indonesia dalam menyikapi keberagaman di negeri kita tercinta Indonesia.

 

(1) Cina mati ditusuk

(2) Cina kecil, terjepit pintu, teriak-teriak

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

120 Comments to "Anak Cino"

  1. Handoko Widagdo  7 April, 2014 at 20:25

    Bersyukurlah engkau ya Nonik.

  2. Nonik  7 April, 2014 at 20:23

    aku ngalami sebagai satu2nya murid minoritas di SMP dan SMA selama 6 tahun hohoho. Untunglah sudah bukan jamannya diskriminasi atau diejek-ejek lagi karena kecinaan saya. Sebaliknya saya malah bergaul akrab dengan semua murid dan guru tanpa ada hambatan masalah ras ata agama.

  3. Handoko Widagdo  6 July, 2012 at 08:53

    Kartikasari, memang seharusnya kita membaur dimanapun kita tinggal.

  4. kartikasari  5 July, 2012 at 21:26

    Untung dari kecil saya sudah membahur sm org pribumi, makanya mereka baik2 semua

  5. kartikasari  5 July, 2012 at 21:24

    Aq pernah punya pengalaman anak cino yg sendirian dikelas, ada yg suka ngolok2 tp aq santai dan tdk takut sm mereka krn teman2ku yg pribumi lainnya byk yg baik2, karna dari kecil saya sudah membahur dgn org pribumi dan mereka sangat baik koq hanya org tertentu aja yg masih fanatik.

  6. Handoko Widagdo  20 March, 2012 at 08:10

    KN, kelompok etnis ngegeng di sekolah itu cerminan dari komunitas dimana mereka tinggal. Jika komunitasnya bisa berbaur, maka di sekolah mereka tidak akan membuat kelompok etnis. Tapi inilah kenyataan yang sehari-hari kita lihat.

  7. KN  14 March, 2012 at 16:33

    tapi pak hand, waktu smp & sma banyak teman2 keturunan, ada yg asyik bisa berteman dengan siapa saja, tapi aja juga yg ngegank dengan sesamanya & jd kelompok exlusive di kelas. alangkah damainya negeri ini kalo semua bisa berbaur….

  8. Handoko Widagdo  6 March, 2012 at 11:58

    Uci, adalkah yang disebut sebagai keturunan asli? Saya kok tidak yakin bahwa ada penduduk yang benar-benar asli.

  9. uci  6 March, 2012 at 11:53

    Pelatihan Mental, ya Pak Han?
    Saya kagum dengan teman-teman saya disekolah yang mengerti kebudayaan lokal melebihi keturunan asli.

  10. Handoko Widagdo  1 March, 2012 at 15:41

    Ilham, kok film drama?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *