[Family Corner] Pendidikan Seksual di Sekolah Dasar Jerman (1)

Indriati See – Jerman

 

Melihat keprihatinan dari para orang tua akan perilaku seksual dari kalangan remaja, yang menurut kultur kita (Indonesia) sudah dianggap kelewat batas, mendorong saya untuk berbagi informasi yang mungkin bisa diambil nilai positifnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai seorang ibu dari 3 (tiga) orang remaja; putra sulung berusia 17 tahun, putri kedua 15 tahun dan putri bungsu 13 tahun.

Sebelum saya memutuskan untuk menikah dengan suami saya yang berwarga negara Jerman, banyak pertimbangan yang harus saya ambil yaitu keyakinan kami harus sama, membagi tugas dalam pendidikan rohani untuk anak-anak, dalam hal ini adalah tanggung jawab saya 100%. Saling mendukung dalam menjalankan ritual keagamaan. Saling menghormati kultur masing-masing dan mengajarkannya kepada anak-anak.

Terus terang jika dalam mendidik anak-anak, saya mempraktekkan pendidikan yang saya terima dari orang tua saya terutama dalam pendidikan agama. Hal ini sangat penting dalam membangun fondasi moral dan spiritual pada anak-anak.

Ketika putra sulung saya duduk di kelas 4 semester pertama, kami para orang tua menerima undangan dari wali kelas untuk membahas pelajaran seksual yang akan diberikan pada anak-anak. Saya tidak menyangka jika diskusi tersebut mengundang pro dan kontra dari para orang tua yang kesemuanya berwarga negara Jerman asli, hanya saya saja satu-satunya orang asing.

Alasannya saat itu karena pelajaran seksual belum dipraktekkan secara serentak di sekolah-sekolah dasar (sekolah dasar di Jerman hanya sampai kelas 4). Dan menurut kurikulum baru akan diberikan pada kelas 5 sampai kelas 8).

Semakin saya mengenal masyarakat Jerman melalui organisasi-organisasi sosial yang saya ikuti, dan juga melalui organisasi politik dimana suami saya aktif, banyak kami jumpai orang tua yang masih konservatif dalam mendidik anak-anak mereka. Oleh karena itu saya tidak selalu setuju jika ada yang berpendapat bahwa masyarakat Jerman yang diidentikkan sebagai masyarakat “barat” itu “masyarakat bebas”.

(Source: http://www.jako-o.eu/uploads/pics/s33_nackedeis_250x169.jpg)

Dengan bijaksana wali kelas (wanita) tersebut menjelaskan alasan mengapa pendidikan seksual layak diberikan kepada anak-anak:

1) Penjelasan tentang menstruasi (Mengapa dan Bagaimana), perawatan (kebersihan) dan menjaga tubuh itu sendiri. Penjelasan tersebut diberikan karena pada beberapa anak perempuan ada yang sudah mendapat menstruasi di usia 9 tahun.

2) Dalam menerima pelajaran seksual, anak perempuan dan anak laki-laki dipisah (dalam ruangan yang berbeda).

3) Kepada anak-anak perempuan diterangkan bagaimana menggunakan pembalut baik yang berbentuk klasik atau tampon serta perawatan tubuh (kebersihan).

4) Kepada anak laki-laki diterangkan fungsi “Kondom” dalam mencegah kehamilan dan perlindungan terhadap penyakit.

PERHATIAN:

Dalam pelajaran seksual tersebut di atas tidak diajarkan tentang PERSETUBUHAN melainkan tentang PEMBUAHAN secara singkat dengan bahasa yang mudah ditangkap oleh anak-anak seusia 9 – 10 tahun.

Setelah penjelasan panjang lebar dan juga pentingnya melindungi anak-anak kita dari KEJAHATAN SEKSUAL sedini mungkin akhirnya kami para orang tua menerima alasan-alasan tersebut di atas, dan kalaupun ada yang tidak setuju berarti anak tersebut harus keluar dari kelas dan mendapatkan pelajaran lainnya.

 

(bersambung)

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Indriati See. Terima kasih sudah memutuskan tidak menjadi silent reader lagi…hehe…make yourself at home. Ditunggu artikel-artikel lainnya ya…

 

72 Comments to "[Family Corner] Pendidikan Seksual di Sekolah Dasar Jerman (1)"

  1. Indriati See  6 March, 2012 at 07:08

    Terima kasih sista Silvia … saya pribadi juga bahagia bisa bertemu lagi denganmu dan teman2 lainnya disini … ada kiriman surprise untukmu … sudah saya kirim ke JC … silahkan ditunggu

  2. SU  5 March, 2012 at 12:29

    Saya senang sekali Indri muncul disini. Tulisan2 Indri selalu informatif dan dikemas dengan gaya menulis yang enak dibaca.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.