Jelang Ujian Nasional (3): TPM Sepulang Sekolah

Probo Harjanti

 

Pulang sekolah, sulung saya bercerita, bahwa dia  kasihan sama kakak kelasnya. Mereka harus mengikuti  TPM selepas sekolah.  Sekolah melaksanakan TPM setelah pelajaran selesai, itu artinya dimulai kira-kira pukul 14 00. Hal itu dilakukan supaya tidak mengganggu pelajaran kelas di bawahnya. Bagus memang, tetapi pastilah amat tidak menyenangkan ketika dalam kondisi ngantuk,  mungkin juga lapar, berkeringat pula, harus mengerjakan soal dengan LJK (lembar jawab komputer). Mengerjakan soal dengan ljk, dipastikan memakan waktu lebih lama, mengisi biodata saja sudah belasan menit.

Sekolah anak saya memerlukan ketahanan fisik yang luar biasa, terlebih jurusan tari. Dalam sehari bisa tejadi 8 jam pelajaran praktek tari semua. Sangat mungkin ganti kaus sampai 2-3 kali. Tiap praktek pastilah menguras keringat,  kalau tidak ganti,  bisa dibayangkan baunya, juga pasti masuk angin karena memakai kaus basah. Saat-saat mereka juga harus menyiapkan  pementasan sesuai kompetensi jurusan masing-masing. Jelas tenaga, pikiran, dan dana terkuras, eh…. masih harus stress dikejar persiapan UN. Padahal, nilai UN mereka tidak berarti apa-apa, kalau kompetensi jurusannya rendah. Jarak antara  uji pergelaran kelompok dengan Ujian praktek dan Ujian sekolah nonUN amat dekat. Jadi, betapa ‘kemrungsung’-nya mereka, bisa dibayangkan.

Kembali ke masalah awal, sangat mungkin ada siswa yang belum makan siang. Dalam waktu yang singkat harus antri di mushola dan kantin. Kebanyakan kantin sekolah tak akan cukup untuk melayani banyak siswa, belum lagi tempat yang tidak terlalu besar. Di banyak sekolah, siswa makan sambil nyender dinding sekoah, atau duduk di pinggiran  saluran air hujan, di bawah cucuran  (tritisan). Tentu amat tidak nyaman, mungkin sebagian ada yang membawa  bekal dari rumah. Yang lain pilih menahan lapar, bekal, mungkin malas antri, malas membawa bekal, atau memang tidak punya uang.

Guru-gurunya pun tak kalah tersiksa, sudah lelah mengajar masih harus menjaga TPM (asal tahu saja, mengajar anak yang memang cerdas dan bersemangat, amat berbeda dengan anak yang kurang motivasi….bikin lelah lahir batin). Tiap mata pelajaran 120 menit, dikali dua sama dengan ngantuk! Mereka dipaksa dan dipaksa melakukan hal yang tidak disukai, sudah biasa, tetapi kalau dijejali terus …..benar-benar kasihan. Semua menjadi korban sistem. Mengajar les atau ekstra kurikuler, tidak akan membuat ngantuk dan atau jenuh, dibanding dengan menjaga TPM, meski sama-sama dilaksanakan selepas pelajaran. Apalagi saat cuaca seperti ini, kasihan siswanya.

Sudah berapa kali gonta-ganti, tetap membuat stress. Pernah ada ujian ulang sampai dua kali, ujian ulang satu kali, tentu tujuannya hanya satu, siswa semua (banyak) yang lulus, makanya ujian ulang sampai dua kali. Pernah pula, nilai Ujian Nasional bukan untuk kriteria kelulusan, tetapi untuk melanjutkan sekolah. Saat itu siswa memiliki dua surat keterangan lulus ujian sekolah, dan lulus ujian Nasional. Heran saja, kalau tujuannya hanya ingin siswa banyak yang lulus, ya sudah pakai ujian sekolah saja, Ujian Nasionalnya untuk melanjutkan sekolah, itu malah agak masuk akal.

Memang benar, bahwa sebuah sistem tak mungkin sempurna 100%, apalagi memuaskan semua pihak. Selalu akan ada pihak yang merasa dirugikan, atau minimal tidak puas. Dan itu, sah-sah saja. Artinya kalau pun ada LSM, atau anggota DPR yang tidak puas, biar saja. Toh hanya sebagian kecil. Jadi jangan tiap ada protes lantas ganti kebijakan, ganti kriteria, sikapi saja dengan wajar, tak usah reaktif.

Kriteria kelulusan dua tahun ini pun membuat repot. Kenapa? Karena nilai rapor selama 5 semester dirata-rata,dan harus mencapai jumlah tertentu untuk bisa ‘menolong’ nilai Ujian Nasional yang (mungkin) jeblok. Kalau nilai apa adanya, dalam arti asli-sli, dimungkinkan banyak siswa tidak lulus. Karena, sangat mungkin saat kelas I nilainyapas-pasan, di kelas selanjutnya membaik atau malah melesat, atau bisa terjadi sebaliknya.  Akhirnya …terjadilah guru-guru yang rajin ‘ngaji’…..ya, ngaji-nya adalah akronim ngarang biji….Aduh! Mumet kan? Jangan pernah berfikir para guru tidak tersiksa dengan ini semua, makan ati sebenarnya…….(kata mereka), saya kan tidak perlu ngaji, karena Seni Budaya tidak laku untuk Ujian Nasional.

Jogja, 20 Feb 2012

 

24 Comments to "Jelang Ujian Nasional (3): TPM Sepulang Sekolah"

  1. Dj.  24 February, 2012 at 23:40

    Selamat mengajar dan semoga tidak stress.

  2. Alvina VB  24 February, 2012 at 22:36

    Bu Probo, kayanya cuma di Indonesia (dan mungkin….. bbrp neg. Asia) yg heboh kl mau ujian nasional. Di sini kok ya pada anteng saja…guru dan murid sama-sama anteng aja tuh, saya tanya anak saya kok gak ada belajar extra di sekolahan, dibilangnya suruh belajar sendiri-sendiri di rumah….he..he…..

  3. HennieTriana Oberst  24 February, 2012 at 18:53

    Mbak Probo, wah ternyata makin berat tugas guru dan murid ya.
    Makin stress aca komentar JC

  4. Lani  24 February, 2012 at 13:22

    11 KANG ANUUUUU : aku se777777 meneh……ato malah aki buto kepala sekolahe……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)