Gula-gula

Dwi Klik Santosa

 

“Selamat pagi,” selalu manis sapamu
Riang nada yang keluar
Empuk terdengar menyerupai serenade
“Aku sudah baca cerita dan merenungkan
Soal kenapa Arjuna selalu dikagumi”

Kuperhatikan wajahmu ceria
Segerak tubuhmu melenggak dan melenggok
Bak balerina menarikan tarian catwalk

“Terlahir seutuhnya laki-laki
Patuh dan menghormat apa kata bunda
Mendengar dan mengingat apa kata bapa dan guru
Semangat dalam mencari dan menggandrungi ilmu pengetahuan
Tahan lapar dan dahaga demi sebuah tekad
Tak kenal khianat dan tidak takut menghadapi bahaya
jika sedang melaksanakan tugas
Dan juga ia pandai menguntai kata
memunguti ide dan gagasan itu dari laku
yang dijalaninya
Mengurainya sebagai sastra
untuk tujuan citarasa”

“Tapi sesekali ia menjilma manusia picik
Bagaimana menjelaskan peristiwa kematian Palgunadi?”
Kataku

“Tak ada yang sempurna. Ia masih bernama manusia”
kilahmu
“Dan, kau tahu. Ia selalu menyayang Nakula dan Sadewa
Begitupun Bima dan Puntadewa. Setiapkali ia mengadu nyawa
bahkan, demi hanya membela setiapkali kepentingan
saudara-saudaranya
Ia yang penyayang dan rela berkorban
Bukankah ia laki-laki yang manis?”

“Tapi acapkali ia menggombal
dan pura-pura
Demi hanya sebuah keinginan dan keasyikan
pribadi semata
Bagaimana menjelaskan peristiwa
Seribu kurang satu perempuan yang dikeloninya?”

“Hikhihikhik … “

“Kenapa ketawa?”

“Engkau mengiri. Jelas engkau cemburu. Kalau saja engkau ini manis
Suka hati mengabdi. Ringan tangan berbakti
Ganteng. Tampan . Sederhana. Sahaja. Halus dan bijak dalam bersikap
Setiap katamu manis sebagaimana lakumu
Pastilah … “

Zentha
16 Februari 2012
: 09.oo

 

12 Comments to "Gula-gula"

  1. J C  27 February, 2012 at 08:47

    Hhhhmmm…

  2. Dj.  25 February, 2012 at 23:06

    Sekarang sang arjuna akhirnya tua dan tidak ada yang mengaguminya lagi….
    Kecuali istrinya….
    Salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *