Tour de Bali (2)

Muhzar

 

Artikel sebelumnya:

Tour de Bali (1)

 

Baliiii

Tanah Bali pun kami injakkan. Aneh terdengar ketika masuk Bali, polisi di sana menanyakan dan biasanya ada pemeriksaan KTP, tapi kami terobos saja pura-pura ga tahu menahu dengan pemeriksaan, pak polisi nanya sambil kami bersepeda ngayuh. “Mau kemana?”, teriak salah atu dari mereka, spontan Broudin menjawab, “MAU KE BALI…” kami pun mengabaikan berlalu, tertawa kecil dan seterusnya ketika di Denpasar menjadi guyonan lucu dengan Bu De, tokoh yang akan kuceritakan nanti. Udah di Bali tapi bilangnya mau ke Bali, yah, itulah pikiran yang sudah tertancap di otak dengan tujuan Bali pada diri si kawan kami Broudin.

 

Maghrib dan Isya di ujung Pelabuhan

TPQ, maghrib dan isya… teringat adik-adik panti dengan kondisi yang saat itu kulihat, di sebuah musholla/masjid tempat terbinanya anak-anak kecil putra dan putri masih imut-imut seperti yang kubayangkan ke anak-anak yang setiap malam kujumpai, anak-anak PANA dan PASA, ternyata pikirku, di Bali, ikhwah yang memperjuangkan Islam ada seperti yang kulihat dengan di Malang, tentunya perjuangan mereka beda, berada di komunitas dengan mayoritas Hindu, sedikit berbincang dengan pembina+takmir masjidnya, pak siapa aku lupa namanya…

Kebetulan dia berasal bukan asli dari Bali, dari seberang pulau tepatnya di Banyuwangi yang berdomisili di Bali, dekat juga ya, tinggal nyebrang kurang lebih 30 menit, bisa ke tempat tinggal aslinya, hidup di 2 pulau…Muslim di Bali lumayan banyak, tidak seperti yang ku khawatirkan, jika nanti di perjalanan bisa ga kami menemukan masjid, tapi tidak semudah yang di Jawa tentunya. Diceritakan ma Bapak tadi daerah di Bali utamanya perjalanan yang kan kami tempuh nanti dimana masjid-masjid yang bisa kami jadikan bermalam, saat itu pukul 8.00 pm waktu sana, jadi medan waktunya berbeda dengan di Jawa, kami memasuki daerah WITENG, beda sekali waktu-waktu shalat kami nanti…. Baliiii, anak-anak TPQ, masjid, mancal lagi…

 

Gelap ke Negara

Berembuk dengan kondisi malam, pasca isya, malam dan gelap tentunya kondisi di perjalanan, truk bus yang akan melintasi kami, jadi pertimbangan utama untuk melanjutkan perjalanan, dengan kesepakatan bersama kami pun nekad berangkat, dengan segala kondisi yang ada, TARGET malam ini nyampe NEGARA harus kita selesaikan, ini kata-kata target dan semangat plus rencana dari pelopor Bali 1, HaDimas, dan kamipun jalan, dengan formasi di depan Jet, karena dia yang lumayan tahu rute perjalanan di Bali, sering bolak-balik Malang-Lombok melewati Bali.

Woow gelap minta ampun, bantuan yang kami punya cuman senter kecil yang kumanfaat kan waktu itu HP Sony Ericsson w700i yang punya senter…bentar.. ga lebih setengah jam, tenaga baterei HP-ku hampir mendekati habis…sampai kami menemukan warung.. wah ketemu warung.. Aga wanti-wanti juga dengan makanan yang kan kami beli nanti, lihat-lihat isi minuman di warung, salah satunya Beer Bintang, hal yang tidak biasa kulihat, terjual bebas di sana, minuman full AQUA, de es be, plus makanan yang kami pesen mie sedap ada yang kuah dan goreng, yang goreng juga masih mikir, nanti minyak nya ntu pake minyak apa, wahhhh serba was-was jika di Bali dengan makanan yang kan masuk ke perut kami…

 

Warung pikir-pikir, next DUBRAK again

Makan mie, membeli makanan di Bali jadi banyak mikir, lumayan mahal juga harganya. Ni pertama kali kami menikmati makanan di warung Bali… malam semakin larut, pukul 10.00pm waktu Bali yang sering kami lupakan, karena setelan jam kami masih waktu Malang. Masjid, kota Negara kapan lagi, dimana kau, kami sudah kebelet ingin istirahat, ngantuk puolll juga mendukung, memasuki kota, antara perbatasan kabupaten Negara dengan kota, musibah kedua kami peroleh, malam Sabtu kelabu, mancal dengan kondisi serba gelap, saat itu aku bukan yang terdepan, digantikan oleh Sulis kalo ga salah, 4 orang terbelakang, Jet, Yudha, Andrik dan paling buntut Hadimas………

“Dubbbraaaak” kedua setelah “dubrak”nya aku dan jet, terkejut bukan main, langsung 3 sepeda terbelakang minggir, lihat kebelakang, ternyata Hadhimas sudah terkapar, jatuh dari sepeda karena menabrak kaleng gelap berisi tanah, untung masih sempat meminggirkan sepedanya, jatuh ke aspal dengan posisi miring ke kanan, jatuh yang ga segitu parah dengan jatuhnya Jet di Baluran, namun berakibat fatal pada Dimas, lutut, memar, wajah, nah yang lucu waktu itu, Dimas ga nanyakan kaki saya gimana, ntu yang paling parah masalahnya, lutut bergeser, yang ia tanyakan saat itu adalah MUKA, “Ndrik, coba liatin mukaku gimana, lecet pa ga” tak senteri pake tenaga sisa batere SE yang kupunya, “ga apa-apoa Dim, masih ganteng kok’” tak guyoni dikit…pada waktu terjatuh biasanya luka-luka itu ga kerasa, jadi mancalan masih bisa dilanjutin.

 

Negara

Dengan kondisi yang seadanya sempoyongan, sampai kami masuk kota, 3 teman terdepan Sulist, Broud, Guruh ga tahu menahu jatuhnya Dimas. Mereka nunggu di kota Negara, Haaah, Negara kami pun sampai, istirahat sebentar, mikir dan cari-cari orang, nanyain masjid terdekat di sini dimana, HaDimas… kondisinya pasca jatuh mulai ia rasakan, kaki, awak’e, sempat khawatir bisa ga melanjutkan lagi, waktu itu jam 11.30pm masih di pinggir jalan, sepi, cari orang ko susah jam segini, apalagi warung, air persediaaan juga habis… jalan lagi, kami temukan warung MUSLIM, alhamdulillah, tujuan nya bukan makan tapi, makan sepertinya tidak akan berpengaruh dengan kondisi tubuh kami, nanyain masjid terdekat dimana.

Kami pun ditunjuki masjid di Negara yang tak jauh dari tempat itu, bukan di pinggir jalan kota, agak sedikit ke dalam masuk gang, wwwaah, enaknya bisa ketemu masjid gede, bagus, terawat juga, itu kayaknya satu-satunya di Negara. Alhamdulillah, ketemu dengan beberapa orang yang baru selesai latihan silat di halaman masjid, dan kamipun di terima dengan luar biasa di sana, kamar kosong yang ada pun disediakan mereka untuk kami tinggali bermalam sampai esok pagi…

 

Masjid Negara+sarapan

Bermalam, bersih-bersih diri, subuh, subhanallah, nikmat kaki-kaki pancal kami, bersujud…. pagi secerah biasanya, namun beda dengan kondisi Dimas, kaki kanannya sudah mulai mengeras, ga bisa di tekuk, mancal pun maksain diri dengan satu kaki, kaki kirinya, lumayan bengkak lutut kanannya, sayang, beberapa dokumuntasiku terhapus kala itu, sempat sarapan ntah nanya makanan apa, kayak pecel, plus semangka ukuran harga 500 perak yang lumayan tebal isinya, waktu itu kuhabiskan tiga potong, doyan semangka si…enak.

 

Sang Pelopor KO juga

Mencari puskesmas ataupun rumah sakit untuk HaDimas, tak jauh dari warung sarapan pagi kami ditunjukkan puskesmas sepanjang jalan lurus di pinggir, masuk saja disana, nada-nada dan logat Bali yang kami dengar agak berbeda dengan Jawa, pendengaran kami juga pun sedikit berevolusi, mendengar kan logat Bali mulai waktu itu. Puskesmas yang membantu, periksakan kondisi HaDimas, waaah, Dim, sisi lemahmu nampak juga di sini, ga berdaya. si Kuat pelopor tour deBali1, melanjutkan perjalanan ke Denpasar tujuan akhir sepertinya tidak mungkin bagi Dimas.

Dia akhirnya melanjutkan ke Denpasar menggunakan bis kota, sepeda Big Cat nya akhirnya naik Bis untuk yang pertama kali, didampingi Broudin plus Jetred yang kutukar dengan sepeda full suspensi Broudin, karena Jetred lumayan cidera, serta sadel yang sudah ga karuan lagi ditambali+lapisi sana sini dengan baju jumper “great father-Stuff” yag sering kupakai. Perjalanan kamipun mulai lagi dengan 5 orang, Sulis, Guruh, Andrik, Yudha dan Jet, selamat jalan Dim, Broud, sampai jumpa lagi di Denpasar.

 

Lebih berat daripada jalur Jawa

Menuju Denpasar dengan bis membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan, di sini titik beratnya, perjalanan pancal ke Denpasar mancal, serasa perjalanan 2 hari di Jawa. 5 orang tour ke Denpasar. Formasi depan Andrik, tanpa koordinasi lagi dari si pelopor, kukira jalan-jalan di Bali akan semulus seperti jalannya yang teraspal bagus, kalo di Jawa aga bolong-bolong siiii kondisi jalannya, namun datar. Nah di Bali, yang menjadi beratnya adalah jalan yang bergelombang, berbukit, tanjakan, turunan yang berjumlah puluhan, dan inilah berat dari perjalanan ke Denpasar, naik yang susah payah, berharap turunan dimana.

Sudah di puncak kami dihadiahkan dengan turunan yang sedikit kami bisa berteriak wooow, nikmat turunan pasca tanjakan tadi, ga berlangsung lama tapi… karena kami dihadiahkan lagi tanjakan, dengan kemiringan 30-50 derajat, berat minta ampun saat itu, panas ku keluhkan, masyaAllah, sempat dapat nasihat dari Andrik, jika mengeluhkan panas, tambah lelah kamu Jet, pikirkan santai saja, nikmati panasnya. Siang kala itu, dzuhur kami lewati, mencari masjid, susahnya minta ampun, di pinggir jalan ga terlihat, akhirnya niatkan jamak dengan ashar sampai ketemu masjid terdekat.

 

Dimana Masjid, Warung

Susah dan payah, lelah dan dehidrasi, kurang cairan tubuh, namun niat sampai Denpasar hari ini harus, tanjakan demi tanjakan yang menyusahkan, hadiah turunan yang membuat kami tersenyum sementara, mikir, wah nikmatnya Dimas dan Broudin, pake bis, mungkin mereka ketawa, tersenyum simpul dan ketawa-ketiwi di sepanjang jalan, melihat medan jalan yang kami lewati, masjid dimana? Petunjuk jarak satu-satunya waktu itu plat kuning yang bertuliskan DNP dan TBN, maksudnya DNP=denpasar, TBN=tabanan, DNP 60Km, wah terbayangkan berapa jauhnya jarak yang kan kami tempuh lagi, 60 kilo lagi dengan medan berat. Kurindu masjid, warung.

Warung 14.300, persis di tanjakan lumayan tinggi, saat itu sudah kutuntun sepeda fuell suspensi punya Broudin beberapa kali, terlihat sepeda Andrik yang terparkir di pinggir jalan, tanda berhenti, dan istirahat, kukira masjid, ternyata warung, warung para pekerja yang berasal dari jawa, pekerja las besi, hal pertama yang kulakukan, memasuki kawasan itu untuk membuang hajat manusia, membuang segala yang sudah menjadi sisa di dalam tubuhnya, alhamdulillah, nikmat terasa… “masjid berapa kilo lagi Mas”, jawab mereka ragu-ragu karena ga tahu persis daerah itu, kurang lebih 15 Kilo lagi… wah, mumet otakku mikirin jarak-jarak yang akan kami tempuh lagi sampai kami bisa istirahat, shalat, akhirnya minta izin kepada mas-mas pekerja disana untuk menunaikan Dzuhur dan ashar, alhamdulillah, bisa sujud , terima kasih mas-mas….

 

Tak Beradab

Makan porsi gede.. ayam paha, minuman es 2-3 gelas, rakusku keluar, sama dengan 4 kawan lain, Andrik sempat-sempatnya istirahat, tidurnya nyenyak, kacang, segala makanan kami masukkan, yang ada tentunya kami punya. Masih 49Km menuju Denpasar, dan 38Km menuju tabanan, masih jauh, Pukul 15.45 perjalanan dengan tenaga asupan super, tanjakan ternya masih seperti sebelum-sebelumnya….Bali ternyata begini… pikirku, ada sedikit kebanggan dengan perjalanaan ini, tak semuanya meskipun pembalap maraton sepeda bisa melakukan hal yang sama dengan kami 5 orang kelas kacangan, pembalap sepeda internasional pun kalah dengan kami, sebagai penambah motivasi angan-angan saja.

Tanjakan, medan yang wah, dan wah… Tabanan.

Hampir mau maghrib, Tabanan kota kami masuki, setelah tanjakan akhir berkelok, mudah2an ini yang terakhir, gapura, tanda kota Tabanan terpajang di depan kami… Tabanan, foto-foto dulu…Maghrib, kami harus menjamak lagi dengan isya’, perjalanan malam lagi, tapi kami tidak khawatir seperti malam sebelumnya, masuk perkotaan, banyak lampu, dan mobil yang bisa menerangi perjalanan kami…. go Denpasar…tanjakan dikota, ga separah dengan tanjakan yang kami lalui siang tadi….semangat sampai Denpasar menggebu-gebu, pingin istirahat, rumah tujuan kami Bu De Awi, tapatnya dekat Rumah Sakit Udayana, komplek militer Sudirman… Bu De nya Guruh, Rumah keluarga Bpaknya Adit, lupa nama bapak dan ibu, serta 2 putranya… makasi tumpangannya Pak, Bu…. hormat dan senyum bahagia bisa kami berikan… makanan Bu De… kami rindukan…

Tarik Sepeda Sulis, Denpasar Night

Kkembali ke alur cerita..belum nyampe Denpasar, kira-kira 10 Km menuju rumah Bu De. Musibah ketiga, Sulist dimana kau, nunggu lumayan lama, setengah jam, gir belakangnya rusak, rontok pelor-pelornya sehingga membuat kami sedikit berfikir gimana ini sepeda bisa jalan dengan kondisi yang ada, cari bengkel sepeda ga da, udah lumaan larut, jam setengah9an WITENG, ingat…. akhirnya persenjataan yang sudah kusiapkan di tas ranselku kukeluarkan, kunci inggris, andalan sejak ku SMA kelas-kelas, biasa dulu kalo ke sekolah bawa kunci inggris, si Mas Guh, ni tokoh lain kisah masa lalu, ga tahu buat apa, gaya saja pingin tawuran ma anak TK Pertiwi dekat sekolah di Praya. Peristiwa geret menggeret dengan tali ravia pun kami lakukan, Sulist di tarik oleh Yudha dan Andrik, kayak mobil dongkrak saja kawan…. yang penting nyampe malam ini, List, sepedamu lumayan parah, tapi salut ma sepedamu,

Rumah sakit Udayana, akhirnya kutemukan juga, di jemput Broudin menuju rumah Bu De, pukul 9.30pm waktu itu, nyampe juga, Bu De, kami rindu…. ingin istirahat, shalat…. sambutan luar biasa Bu De, Guruh si kesayangan Bu De… he.hee. Ruh,

3 hari kurang 4 jam, angka yang akan selalu kungat, perjalanan mancal dari Malang ke Denpasar, plus istirahat, Sholat, Makan, warung, de el el.. waktu yang akan menjadi kenangan indah kami para pelaku Bali1, bukan bom Bali 1 dan 2 lho.. nanti ada tour ke monumen Bali Legian. Menghabiskan waktu tiga hari, 12,13, dan 14 February, sisayan sampai kepulangan kami tanggal 19 melanjutkan misi-misi selanjutnya, bagiku, jet, sudah cukup puas dengan perjalanan 3 hari itu, maunya si ingin istirahat, karena perjalanan nya saja yang kuinginkan, yang lainnya masi diurutan nomer selanjutnya, misi di Bali, tour Sanur, Batur, Bedugul, Tanah Lot, namun tournya kami ga pake mancalan lagi, Kasian Dimas, harus kami siksa jika pake pancal, kami charter mobil avanza selama sehari.. sopir Guruh, ia satu-satunya yang bisa nyetir, kasian kau Ruh, saat kawan-kawan yang lain tertidur kau harus fokus melihat jalan, nyetir… rasakan jadi sopir pribadi kami Ruh. ^_& pis Ruh…foto Dimas guruh ga sempet kuambil, fotoku ya ga usah, wong aku yang foto, ga mau cerita banyak hari ini, lumayan capek nulis… tak kasi foto-foto tempat yang kami kunjungi saja OK.

14 February 2009

Istirahat fullll

15 Februari 2009

Erlangga

16 Februari 2009

Sanur, Sukawati, Gunung Batur, Bedugul, Tampak Siring Soekarno

“sory, ga sempat foto, malu juga… mesti ada surat izin yang diurus seminggu sebelumnya. Penjaganya pake pakain resmi lagi, kita sendal jepitan, kayak menyambut tamu istana, sampe-sampe kami ga berani keluar mobil dengan penampilan seperti itu”

Kintamani
“ni kayake nama anjing, salah satu jenis anjing di Bali”

Rumah peninggalan keluarga Soeharto
“kami cuman lewat, ga mampir dulu, ada serial hantu pak harto di bukit Bali” lawakan dan cerita strategis guyonan anak-anak di mobil

Warung Banyuwangi
“makan ala jawa, ga was-was lagi”

Tanah Lot

Pia, si Gadis Cilik…. ingat anak-anak di panti

bobo’. “zzzz…..”

17 February 2009

Legian, monumen bim Bali,
“teringat dengan trio bomber”

Kuta
“masih lebih bersih, lebih sopan Kuta ku di Lombok daripada di sini, pasir putihnya juga masih kalah gede” promosi Kuta Lombok ne…

“wakeh fotonya kawan. kalo mau dipajang disini kelamaan, mau gaya apa insyaAllah ada..”

Rumah Bu De
“perhatian Bu De, Kebaikan Bu De, Candanya Bu De, masakan Bu De, kami kangen Bu De… pasti kami ingat Bu De, pesennya, kalo udah gede nanti, sekses, ga ngelupain Bude<
“Buat keluarga besar Bu Sri Juga, trimakasi yang sebesar-besarnya atas segala apapun yang sudah diberikan kepada kami, anak-anak aneh dari malang ke Bali mancal”

18 February 2009

“hari yang membingungkan kami, pulang apa ga hari ini, bis tumpangan, truk dan segala apapun kami cari, yang mau menampung kami bisa kemBali ke Malang, kami sudah ga sanggup lagi kayaknya mancalan kembali ke Malang dari Denpasar dengan kondisi yang ada, HaDimas, semangat yang sudah menurun, jalan di Bali yang serba wah dan wah, barang bawaan yang ga karuan jumlahnya, belanja dan belanja titipan dari Malang, beli ini dan beli itu, akhirnya nyari truk tapi mintanya luar biasa banyak, 700.000, ga keok kita dengan biaya seperti itu, ga jadi, sa, pe tawar menawar malam-malam si sopir ke rumah Bu De…

19 February 2009

Akhirnya keputusan tetap keputusan, pokoe hari ini harus pulang, agenda numpuk menungguku di Malang, puskomda de Ka Ka juga lumayan banyak, anak-anak panti udah kangen beratnya minta ampun, anak-anak yang ku bimbing privat juga kasian…pulang, menuju terminal Ubung mencari bis Malang Indah seperti ayng dipesankan Bu De, ntu bisa yng paling murah ke Malang, standard biasa 75 ribu rupiah, ditambah sepeda.

Pamit ke keluarga Besar Bu Sri, Bu De, dan semua yang ada di sekitar rumah, kami salami satu-satu, perpisahan pun harus terjadi, mancal menuju Ubung… selamat tinggal Bu De dan keluarga besar… sampai ketemu di Malang BU De, kangen masakan nya.

Perjalanan pukul 05.30 pm waktu Bali, dan kami nyapai Malang pukul 04am, mancalpun kami lakukan lagi, setelah memasang roda depan yang dicopot saat dinaikkan ke bis. KemBalipun sebanyak 5 orasng seperti semula, andrik turun di probolinggo dan yudha di pyton, markas solid menjadi sarang kemBalinya kami, istirahat sejenak, subuh, dan kemBali ke aktifitas semula….

MALANG< we Back…

NB:
Penyembuhan Dimas belum, istirahat abis pulang kurang, langsung mancal ngelesi, jalan ke panti, ga mikir kondisi tubuh, musim ujan, pilek, hampir seminggu, pada rabu, 25 February 2009 mulai demam, panas, Kamis muntah-muntah, masuk rumah sakit Islam, kena infus pertama kali di sana, ngeri jarumnya… 2 hari, Ahad di bawa ke Lombok, perawatan selama 5 hari sd. Jumat, tepatnya Jumat ba’da shalat jumat dizinkan pulang, infus dilepas, ngeri lihat jarummu fus, tiba di rumah, istirahat sampe ashar, jalan-jalan di kampung, ba’da ashar motoran, ke sekolah nengok guru Matematika SMA ku, Pak Adi minta wejangan dan nesehat, meski aga teler-teler dikit. Jalan saja,

Kangen ma Malang, kuliah banyak yang sudah tertinggal, nekad dan penuh larangan ortu, Balik ke Malang hari ahad, senin tiba, ga istirahat cukup malam nya kemBali aktifitas seperti semula, pikirku, penyakit cuman segitu, makin banyak tidur semakin numpukin lemak, nanti juga jadi penyakit lagi, MANCAL LAGI KESANA KEMARI, sampai saat ini, MANCAL dan Mancal.. punya motor tapi jarang pake, lebih nikmat mancal…

Tadi siang dapat kabarar, si pelopor nyiapin rencana membuat komunitas pancalan, anak mesin., dan bisa dari luar, awakmu mesti ikut zar, kata Dimas, OK… alumni Bali 1 jadi pelopor, sabtu depan kita cari rute pendek di Malang.,. MANCAL LAGI…

targetan mancal masih terus kami bangun, impian, dan sebagai “nazar jika kelak kami Lulus” Dimas, lulus mo mancalan ke Pulau Weeh, mulai paling ujung barat Indonesia dekat Sabang, sendiri Dim??? jet, mo pulang ke lombok, petualang ke Rinjani, Nazar ketika sakit juga belum kelaksana, Karangkates-Batu. Dan yang lain, Mereka belum kutanya satu-satu…

KHATIMAH…..

“Kawan, hari ini kuingin mengukir kisah perjalanaan kita,
mungkin ini sedikit catatan sejarah yang bisa kita buka saat kita tua nanti kapan lagi, masa muda ga kan ke Bali terulang, kesibukan juga belum terlalu sibuk dengan urusan mendatang, kerja, berumah tangga dan sebagainya 7 orang aku bagian dari 7 orang itu, yang lain juga, kuharap kalian juga tidak akan pernah lupa. Bahwa telah kita ukir perjalanan 3 hari yang mengesankan, membuat kita dikatakan orang-orang yang sudah ga waras lagi, gila, nekad, dan berbagai ungkapan lainnya pada diri kita.

Dari kawanmu, jet teruntuk all alumni tour Bali-1: Dimas, Guruh, Broudin, Sulis, Andrik, Yudha..”

Masih belum selesai nulis, masih banyak yang mau kuceritakan

Afwan masih belum sempet keedit, pake bahasa lepas, “semau-mau gue”, jiaka salah ketik diedit ndiri ya, jika kata-katanya ga berkenan di edit juga, jika mo nambahin kisah, monggo ditambahin, jika mo ngassih kritik langsung tabok saja jet, si penulis ni… kasi komentar OK..

Dibuat susah dan payah dengan open office versi. 2.1 beroperasi di bawah windows, Malang, 10, 13, dan 15 Maret 2009, selesai pukul 00.30pm. Dan revisi dengan open office versi 3.1 beroperasi di bawah Linux Ubuntu, Malang 13-14 December 2009 1.59pm.

“Gunakan sistem operasi yang legal, barang siapa yang belum legal maka usahakanlah di legalkan, dan barang siapa yang tidak mampu membeli yang legal maka gunakanlah yang belum legal, ngajari yang ga bener ni…. go LINUX, akhirnya bisa pakai LINUX”

 

11 Comments to "Tour de Bali (2)"

  1. muhzar  28 February, 2012 at 08:51

    ^_^…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)