Humor, Antara Slapstik dan Skolastik

Dinanda Nuswantara Buwana

 

Kita mungkin terpingkal-pingkal saat melihat para badut melakukan aksinya di tenda sirkus, baik yang kita lihat langsung maupun yang kita  lihat melalui  layar Televisi.  Saat mereka melakukan adegan sulap maupun aksi-aksi akrobatik konyol yang tidak mampu dilakukan oleh orang awam, saat mereka terpeleset,  ataupun saat wajah  mereka terkena lemparan  kue tart.

Adegan lawak seperti di atas biasanya disebut sebagai Komedi Slapstick,  Komedi tanpa mengumbar kata, hanya berupa mimik wajah, gerakan-gerakan tangan,  atau lewat bahasa tubuh.   Kata Slapstick ini berasal dari tongkat yang sering dipergunakan oleh para badut itu, yang dipergunakan oleh mereka untuk “usil” pada sesama badut, dan terkadang sarkastik.

Sejarah panjang peradaban manusia mencatat itulah lawakan primitif manusia, yang sekaligus juga dapat dikatakan bahwa sebagai suatu lawakan, dagelan, atau komedi yang bersifat universal, yang dapat dipahami oleh semua orang tanpa terkendala oleh bahasa.  Karena pemahamannya untuk membuat kita tertawa tidak memerlukan proses yang panjang melalui bahasa dan pemikiran.  Dikatakan primitive juga berarti sesuai dengan tahap perkembangan manusia. Ketika balita anak-anak tertawa melihat sepatu yang kita letakkan di atas kepala kita, karena dia tahu bahwa itu tidak sesuai dengan tempatnya, lalu saat kita jatuhkan sepatu itu tiba-tiba, maka dia akan tertawa terbahak-bahak.

Pokoknya melihat orang terjatuh, kita tertawa, melihat orang yang pantatnya terbakar api kita tertawa. Sejak kecilpun kita telah diajarkan untuk tertawa melihat penderitaaan orang lain. Melihat Tom  yang terus menerus kalah oleh oleh si ti kus mini Jerry.

Juga saat-saat Sylvestre selalu gagal dan celaka dalam usahanya mendapatkan Twetty. Penderitaaan  Kucing-kucing macam Tom dan Slyvestre adalah sesuatu yang lucu bagi kita, bahkan adegan-adegan kasar yang ditampilkan yang tidak sepatutnya ada di hadapan anak-anak, kita anggap sebagai sebuah kelucuan. Ya penderitaan orang lain adalah suatu kelucuan bagi kita. Dan Kita patut menertawakannya, terpingkal-pingkal, dan terbahak-bahak. Senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang, SMOS mungkin pameo ini rada cocok untuk menjelaskan hal demikian.  Humor demikian disebut pula sebagai humor dengan rangsangan non verbal.

Humor atau lawakan slapstick ini dapat kita temui pertama kali dalam sosok Charlie Chaplin, lalu pada dekade ini kita temukan  dalam sosok Mr. Bean. Orang Inggris dengan tampang Blo’on. Ataupun pada beberapa Filem dan Sinetron Warkop DKI.

Memang Sinetron ataupun acara lawak yang bersifat Slapstick masih mendominasi acara-acara komedi di Pertelevisian Kita. Sebagaimana Ketika Melihat Ari Untung ditampari oleh Budi Anduk kita tertawa, sebaliknya ketika kita melihat Pepi jatuh terpleset kita terbahak-bahak, ketika melihat Azis Gagap dipentung kepalanya oleh Sule kita terbahak-bahak, demikian pula  saat  Andri  Taulani mendorong Nunung sehingga menimpa kursi-kursian atau mobil-mobilan  (walaupun pada bagian bawah Televisi kita ada tulisan yang menyebutkan bahwa Properti yang dibuat untuk melakukan adegan itu terbuat dari bahan yang tidak berbahaya alias Stereoform), atau saat Parto sang dalang memasukan Sesuatu ke mulut Olga yang sedang mangap, kita melihatnya itu sebagai sesuatu yang lucu

Rustono, seorang pakar dari Universitas Indonesia, berpendapat bahwa Humor dapat membuat orang tertawa apabila mengandung satu atau lebih dari empat unsur, yaitu ; Kejutan,  tidak masuk akal, (irrasional), sesuatu yang mengakibatkan rasa malu, dan sesuatu yang membesar-besarkan masalah (hiperbolis), atau lebay menurut bahasa slank anak jaman sekarang.

Sedangkan menurut Mahadev Apte dalam bukunya “Humor and Laughter”   Humor adalah segala bentuk rangsangan, baik verbal maupun nonverbal  berupa tingkah laku manusia yang dapat menimbulkan rasa gembira, geli, dan lucu di pihak pendengar, penonton, maupun pembaca.

Menurut Tony Buzan, menyampaikan lelucon (dari kata lelucuan) atau humor merupakan bagian dari melatih kecerdasan seseorang. Humor pada dasarnya adalah imajinasi dan kemampuan otak menemukan asosiasi yang baru dan menakjubkan. Humor yang masuk dalam kategori Buzan ini  tidak termasuk humor berupa reaksi fisik atau persepsi belaka, atau humor slapstick.

Adapun menurut Paul McGhee Seorang  psikolog dan pemerhati perkembangan anak-anak,   Pada awalnya  Selera humor  dimulai ada minggu-minggu pertama sejak kelahiran seseorang, Pada usia enam minggu,misalnya menutup wajah dengan sapu tangan atau kedua telapak tangan kita, lalu tiba-tiba menariknya dengan cepat akan membuat bayi tersenyum,tertawa, bahkan terbahak.  Permaianan ini di negeri kita   lazim disebut sebagai permainan cilukba.  Pada tahap ini kita semua adalah Charley  Chaplin atau Mr. Bean,  karena semua bayi hanya menangkap lawakan fisik atau lawakan non verbal. Tentu sebagian besar dari anda kenal dengan Micah? Seorang bayi lucu yang tawanya terkenal ke seantero dunia karena videonya diunggah ke Youtube? Bagaimana dia tertawa terpingkal-pingkal karena mendengar bunyi kertas yang disobek-sobek oleh ayahnya.

Selanjutnya dia mengatakan bahwa humor sejati ( lebih dari sekedar reaksi fisik atau persepsi), dimulai dalam tahun kedua ketika seorang  anak mulai memahami sifat simbolis kata-kata dan benda-benda, itu  terjadi pada usia dua tahunan. Pada usia tiga tahunan anak-anak sudah menemukan bahwa kata-kata saja dapat menjadi lucu. Seorang anak mengira memberi  nama yang salah pun menjadi lucu.

Tentu anda masih ingat saat masa kanak-kanak, saat hewan peliharaan atau boneka  kesayangan anda, diberi nama yang lucu? Seperti si Boncu, si Bobik, si Kikok, dll.  Ya Pada usia ini anak-anak  gemar memberi  nama-nama  benda atau hewan peliharaan yang menurut mereka terdengar lucu dan mudah diingat, pemberian nama ini juga sesungguhnya bagian dari melatih kecerdasan otak kiri dan kanan, dimulai saat menunjuk dengan tangan kanan lalu otak kiri “bekerja ‘ memberi nama yang pas, lalu kemudian dengan penuh rasa kita tertawa demi menyebut nama itu dengan melihat tingkah laku hewan peliharaan kita itu maka kita telah pula bekerja dengan otak kanan kita. Dalam kenangan masa kecil, yang saya ingat saya pernah memberi nama   ayam saya dengan nama Pika, Piku, Piki.

Bagaimana dengan Humor lain yang lebih elegan? Itu adalah humor tingkat lanjut yang berkembang sesuai dengan perkembangan otak manusia. Para pakar bilang bahwa Bahasa adalah aktifitas otak kiri.  Otak kiri “bertanggung jawab” mengendalikan gerakan motorik bagian tubuh kanan. Ketika kita menunjuk menggunakan tangan kanan, artinya kita menamai sesuatu, membuat terminology kata dari benda yang kita maksud. Dari penamaan itulah asal mula munculnya bahasa.

Lawakan-lawakan elegan ini bukan melulu lawakan non verbal, tapi merupakan lawakan verbal dengan bahasa sebagai alatnya. biasanya dibawakan oleh para Stand up comedian melalui “cerocos” mulut mereka. Para Stand up comedian atau biasa disebut comic melakukan monolog dalam penyampaian materi lawakannya, benar-benar “One Man Show” berdiri, dan terkadang duduk di depan audiens selama 10 sampai 45 menit. Penampilannya dari segi pakaian juga necis, tidak  neko-neko, tidak perlu mengunakan kaos kaki berbeda sebelah untuk memancing tawa, tidak perlu berdasi super besar, tidak perlu mengucir rambut dengan berwarna- warni pula.

Dalam humor elegan ini maka dapat dideteksi tingkat intelektualitas dan wawasan seseorang, jadi humor ini termasuk humor eksklusif, yang tidak dapat dijangkau oleh sembarangan orang, dengan demikian dapat dikatakan bahwa ini termasuk humor skolastik. Mati ketawa Cara Russia, tak pelak lagi merupakan contoh kumpulan humor elegan yang dibukukan, buku ini berisi Joke-joke yang berbobot dari segi materi, bukan sekedar humor porno, vulgar dan plesetan.

Di Amerika kita mengenal  Bob Hope, dan dianggap sebagai pionir  dan sebagai generasi pertama Stand Up Comedy, lalu ada Johnny Carson sebagai generasi berikutnya, ada pula nama-nama seperti DL Hugley, Sasha Daygame, Sheryl Underwood, Azhar Usman- seorang Standing comedian Muslim di Amerika. Di Indonesia Kita mengenal Sosok Kris Biantoro, walaupun bukan seorang  Komedian Tulen, namun lawakan yang disuguhkannya saat berperan sebagai seorang MC adalah lawakan segar yang termasuk kategori ini, tak ketinggalan nama-nama seperti Bill Saragih, maupun Ebet Kadarusman, mereka adalah para seniman yang sekaligus dapat dianggap sebagai Stand up comedian. Di Indonesia pada mulanya kita mengenal sosok Iwel wel yang memproklamasikan diri sebagai Comic di negeri ini, namun kini mulai sibuk tergabung dalam komedi Parodi.

Akhirnya bertiuplah angin segar itu, beberapa Stasiun TV swasta mulai mengangkat Stand Up Comedy dalam materi program Acara, Sejauh ini ada dua Stasiun TV yang menghadirkan menu itu, yaitu METRO TV dan KOMPAS TV, kenapa saya sebut sebagai menu? Karena ibarat makanan yang kita konsumsi, kita diberi alternatif untuk mengunyah dan mencerna makanan-makanan yang sehat dan bergizi. Tidak melulu seperti permen yang hanya manis dan nikmat di mulut.

Munculah nama-nama semacam Raditya, Sammy, Mongol, Boris, Soleh Solihun, Miund, Mosidik, Akbar, Ernest, dan lain lain, sebagai generasi baru Stand up comedian. Bahkan mereka-mereka yang sudah lebih dulu  sohor seperti Panji, Cak Lontong, Temon dan Abdel tak ketinggalan menjadi comic.  Itu semua tidak terlepas dari kiprah Ramon Papana Pemilik Comedy Café, yang sejak 1997 intens “memperkenalkan”  Stand Up Comedy di Indonesia, dan dia sendiri yang menjadi Panelis di sebuah Acara stand Up Comedy.  Perlu dicatat bahwa Sebelumnya Taufik Savalas (Alm) juga pernah mencoba  mengusung  jenis Komedi  seperti ini pada tahun 2004, tapi saat itu tidak begitu mendapat perhatian yang antusias dari masyarakat.

Tapi mungkin yang sedikit agak berbeda dengan stand Up comedy yang di luar, utamanya di Barat, di Indonesia karena kita tetap menjaga norma ketimuran dan heterogenitas budaya, maka para comic tentunya sangat berhati-hati jika menyampaikan materi yang menyangkut Sex, organ-organ tubuh tertentu,atau SARA.  Karena masyarakat dan budaya  kita sensitif dalam merespon hal-hal yang dianggap jorok maupun yang dianggap melecehkan suatu golongan, dan bisa saja menimbulkan ketesinggungan kolektif.

Tapi bagaimanapun, kita sambut tren ini sebagai bagian dari upaya mendewasakan dan mencerdaskan masyarakat, dan kitapun punya alternatif acara  hiburan, dan tidak melulu mentertawakan orang yang jatuh terjengkang atau melihat kolor “nyangkut” di kepala.

 

 

19 Comments to "Humor, Antara Slapstik dan Skolastik"

  1. Rosulisme  9 March, 2017 at 02:15

    Apakah org bingung seperti saya membaca comment itu adalah lucu.. hehe..

  2. Alvina VB  29 February, 2012 at 22:56

    Dinanda,

    Humor, mau yg slapstik atau skolastik, kl bikin org tertawa, bagus banget….
    Menurut scientists di sini (juga sudah ada penelitian di Jepang), tertawa merubah ‘blood chemistry’, sampai katanya org yg punya cholesterol, diabetes juga bisa berkurang dgn seringnya tertawa . Bahkan penderita tumor pun kl sering tertawa, proses penyembuhannya akan lebih cepat. Ada banyak cerita di sini, org sakit macem-macem sembuh dengan terapi tertawa, salah satunya adl Norman Cousins (1915 to 1990).

    Ada beberapa penelitian yg melihat hubungan emosi (tertawa salah satunya) dan fungsi aliran darah dalam tubuh. Para peneliti di sini memonitor orang-orang yg tertawa dan ditemukan bahwa sekitar endothelium (tissue yg berisi sel yg melapisi jaringan di dlm aliran darah), mengembang dan menyebabkan aliran darah berjalan lebih lancar lagi. Jadi kl mau sehat, monggo……silahkan sering2 baca komentar di Baltyra (banyak badutnya) dijamin akan ha…..ha…..hi….hi…….

  3. dinanda  29 February, 2012 at 18:29

    @DJ, Wah Komennya bisa buat tulisan malah, hehehehe tambah ilmu lagi, thx all atas komen2 nya…..

  4. Dj.  28 February, 2012 at 00:14

    Kang Dinanda….
    Terimakasih untuk infoormmasi humor yang ditulis dengan rapi.
    Dj. melihat humor di Indonesia dan di Barat, kadang ada bedanya.
    Humor di Indonesia, banyak dengan mimik, sedang di barat banyak dengan sedikit banyak kasar nya.
    Humor ( tertawa ) menurut penglihatan Dj. , biasanya juga menular…
    Lihat saja avatarnya Hennie yang sedang senyum, maka kita akan turut senyum.
    Tertawa saat Bayi dengan “ciluba”, yang Dj., lihat dari 3 naka-anak kami.
    Saat wajah kita, kita tutup dengan telapak tangan, maka anak akan merasa kehilangan / sedih.
    Saat telapak tangan kita buka lagi, maka dia akan merasa senang dan senyum atau bahkan tertawa.

    Dalam hal TOM yang bernasib sial, biasanya bukan mentertawakan kesialannya, tapi kebodohannya.
    Olehnya kita jadi belajar agat tidak seperti si TOM.

    Saat cucu Dj. molai belajar bicara, kalau kami tanya…Wie geht es dir…??? ( apakabar…??? )
    Dia belum bisa berkata “gut”, walau kami selalu ulang dan memberitahu.
    Tapu dia selalu bilang “dut” dan bukan “gut”
    Setelah dia bisa berkata “gut” dan saat dia bertanya ke Dj….
    Wie geht es dir opa..??? Dj. jawab… dut…!!!
    Dia tertawa terbahak, dia bilang..opa tidak bisa bilang gut, tapi bilang dut….
    Tapi maminya jelaskan, opa hanya main-main, karena kamu dulu selalu bilang “dut” jkalau opa tanya kamu.
    Dia tambah tertawa dan bilang…kalau begitu dulu saya juga bodo seperti opa…???
    Nah disini, Dj. yang ganti tertawa, karena dibilang bodo oleh cucu sendiri… Hahahahahaha….!!!

    Humor dalam keluarga juga sangat bagus, tidak harus bayar mahal dan tidak ada barang yang dirusak….

    Salam humor dari Mainz

  5. anoew  27 February, 2012 at 22:58

    @Kang Josh, taun 2012 kok yo masih ngomongin jempol neyeng tho yo jiaaaan…

    @DA, mana ada orang belum lahir sudah pacaran… Wik, komenmu ini mendukung pernyataanku, kamu mau ngetik aja wis bikin aku ngakak.

  6. Handoko Widagdo  27 February, 2012 at 21:48

    Itsme, kalau humor dibahas secara serius aneh juga ya?

  7. Anwari Doel Arnowo  27 February, 2012 at 20:49

    Dear Hennie Triana Oberst
    Tanggal?
    Orang Kanada banyak pakai cara itu. Silakan coba buka: http://en.wikipedia.org/wiki/Calendar_date
    dan seterusnya yang sejenis. Banyak infonya mengenai YY/MM/DD
    Salam,
    Anwari – 2012/02/27

  8. dinanda  27 February, 2012 at 20:13

    @Hai semuanya, hahaha maaf baru nimbrung komen, iya betul kata Mas Anoe, di sini orangnya Lucu-lucu, saya sampe menahan senyum dan tawa dulu nih sebelum komen,betul mbak Dewi belum ngetik komen aja udah bisa bikin kita ketawa. Betul pula kata Mas JC, bahwa biusa saja ini kebetulan karena sata sent artikel udah agak lama sebelum ribut2 berita Hoax Mas Rowan wafat. @ Mas Handoko, Humor dibahas secara Akademis bisa menjadi lucu kalau pembahasannya menggunakan metoda ilmiah, hehehe. @Mas Anwari, ADa yang bermutasi, dulu awal2 eksis warkop DKI adalah Grup lawak Skolastik, namun karena tuntutan Industri berubah menjadi Grup Slapstik…, Terimakasih pada semua yang berkenan membaca tulisan ini, semoga bermanfaat.

  9. HennieTriana Oberst  27 February, 2012 at 19:30

    Pak Anwari, boleh tanya kan? Di luar topik nih.
    Model penulisan tanggal seperti pak Anwari itu digunakan di negara mana saja ya?
    Cina salah satunya.
    Terima kasih sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.