Jenglot

Chandra Sasadara

 

Begitu tahu bahwa aku yang berada di mobil polisi, massa yang semula duduk di sekitar balai desa tiba-tiba berdiri. Saling dorong, merengsek ke arah mobil berhenti yang hendak menurunkan aku. Selain berbagai macam benda yang dilempar ke arahku, sumpah serapah dan cacian juga berhamburan dari mulut massa. Tanpa menengok sedikitpun ke arah kerumunan massa yang menyemut di sekitar kantor desa, setengah berlari aku mengikuti langkah empat orang polisi berpakaian preman yang mengamankan jalanku menuju kantor desa. Sebelum mencapai pintu kantor desa, beberapa tangan berhasil mencapi lengan dan menarik kera bajuku, hampir jatuh. Enam pukulan sempat menyambar punggung, pelipis dan pipi kananku.

Aku tahu bahwa menatap mata mereka sama saja dengan memancing kemarahan yang lebih besar. Mata yang tadi pagi masih menatapku penuh hormat, kini kurasakan menjadi kobaran api yang siap menyambar tubuhku. Suara-suara yang beberapa jam lalu masih terdengar ramah dan penuh pujian, kini menjadi teriakan, serapah dan makian kotor. Aku merasa berjalan ribuan kilo meter, padahal jalan yang setiap hari aku lalui dari tempat parkir ke pintu kantor desa itu hanya berjarak dua belas meter. Sebelum kakiku mencapai pintu kantor desa tubuhku sudah tidak bertenaga, kakiku gemetar dan lemas. Beruntung polisi sebelah kiriku cepat menahan berat badanku dengan cara melingkarkan tangan kanannya di punggungku.

Setengah diseret akhirnya aku mencapai deretan kursi di ruang kuwu, duduk di antara beberapa orang yang telah hadir lebih dulu. Seorang polisi berseragam yang duduk di sebelahku mendorongkan botol air meniral di atas mejah ke arahku tanpa berbicara sedikitpun. Aku tahu air itu ditawarkan kepadaku, beberapa teguk berhasil mengembalikan sedikit kesadaranku. Aku mulai mendengar lagi hiruk pikuk di luar kantor desa yang penuh cacian dengan menyebut namaku dan beberapa nama binatang secara bergantian. Teriakan massa bahkan meminta polisi untuk membawaku ke luar dengan nada mengancam. Mereka mulai menggedor pintu masuk kantor desa, melempari atap dan terus meneriakan ancaman akan membakar kantor desa kalau polisi tidak mau menyerahkanku kepada massa.

Aku mengangkat pandanganku, mencari-cari di mana Kuwu berada. Hanya Kuwu yang aku harapkan bisa menyelamatkan nyawaku dari amuk massa. Kuwu ternyata tidak ada, aku beranikan untuk menengok ke belakang berharap ia duduk di deretan belakang ternyata juga tidak ada. Teriakan massa di luar kantor desa menyadarkanku bahwa Kuwu baru saja sampai. Massa masih saja meneriakan kalimat hidup Kuwu berkali-kali sampai laki-laki berkaca mata itu duduk di kursinya. Citra baik Kuwu begitu berpengaruh terhadap emosi massa. Kehadiranya bukan hanya membungkam hiruk pikuk  di luar kantor desa, namun juga sedikit menenangkan diriku.

Semua orang yang ada di ruangan kuwu diam, bahkan menggeser tubuh sekalipun rasanya enggan untuk dilakukan. “Bagaimana ini Pak Kuwu?” suara seorang polisi berpakaian preman memecah keheningan. Semua mata yang ada di ruang itu memandang Kuwu seperti berharap jawaban. Aku juga sangat berharap Kuwu akan menjelaskan semua benang kusut ini, menyebut nama-nama yang terlibat dan pihak-pihak ikut menikmati uang. Kuwu masih diam, semua orang juga bungkam. Aku menunggu jawaban Kuwu dengan perasaan sedikit tenang. Mungkin pembawaan dan sikap santun Kuwu dalam berbicara yang selama ini aku kenal berpengaruh terhadap diriku.

Kuwu memang dikenal sebagai orang yang sopan dalam berbicara, hormat kepada yang lebih tua dan selalu tersenyum ketika berpapasan dengan orang lain, bahkan kepada bekas musuhnya dalam Pilku. Mungkin hanya aku, beberapa orang di lingkaran tim sukses Kuwu pada saat pencalonan dan sejumlah kawan-kawannya ketika masih menjadi ketua organisasi pemuda di desa yang tahu watak Kuwu sebenarnya. Aku tidak yakin istri Kuwu itu tahu siapa Kuwu sebenarnya. Kuwu  masih dikenal sebagai suami dan bapak yang baik dalam keluarga.

“Bedes! kamu harus bertanggung jawab terhadap semua kekacauan ini,” suara Kuwu mengguntur memecah lamunanku. Kalimat itu seperti membentur kesadaranku, antara percaya dan tidak. Kepalaku seperti dilewati ribuan semut. Serasa ada jutaan lebah yang bersarang di telingahku. Selain Kuwu, mungkin tidak ada orang yang tahu bahwa untuk sesat nyawaku terasa mengapung diruangan yang pengap ini. “Kuwu kirik! kirik! kirik!” makiku dalam hati. Tubuhku merosot ke bawa, kepalaku lunglai, tenaga terakhir yang kumiliki hilang tidak berbekas. Air mataku melele, aku mencoba untuk menganyam kembali rentetan peristiwa yang mengepungku.

*****

Malam itu Kuwu datang ke rumahku, seperti biasa kalau tidak aku yang datang menjemput, maka Kuwu yang akan menjemputku untuk nongkrong di warung pinggir jalan. Kami memang biasa nongkrong di warung-warung itu, meskipun menyediakan layanan karaoke dan sejumlah perempuan yang bersedia untuk menemani, kami terhitung jarang menikmati hiburan tersebut kecuali untuk merayakan bantuan yang masuk ke desa. “Kali ini kita harus karaoke,” Kuwu menjelaskan tujuanya. Jangan-jangan Kuwu telah memperoleh informasi bahwa desa akan mendapat bantuan dari APBN atau APBD. Tapi mengapa informasi itu belum aku terima dari kantor kecamatan pikirku.

Sudah  menjadi kebiasaan kami para pejabat di kantor desa bahwa setiap bantuan yang akan masuk selalu kami rayakan, meskipun hanya sekedar menyewa bilik karaoke di warung pinggir jalan. Kami bahkan akan meminjam uang lebih dulu agar tetap bisa berpesta untuk perayaan datangnya bantuan. Semua bantuan itu bagi kami adalah rejeki meskipun kami tahu bahwa itu bukan hak kami. Selalu ada cara untuk bisa menikmati berbagai jenis bantuan tersebut.

Di tempat tujuan telah menunggu keponakan Kuwu yang juga ketua organisasi pemuda desa. “Sudah aku pesan satu bilik dan dua perempuan untuk karaoke,” keponakan kuwu melaporkan. Sejak masuk halaman warung aku berusaha mencari pejabat desa yang lainnya, mereka adalah kelompok pejabat yang biasanya ikut merayakan datangnya bantuan ke desa. “ Bedes, kamu mencari siapa? Kali ini hanya kita bertiga, tidak ada orang lain,” kata kuwu menjawab kebingunganku. Tidak banyak bertanya, aku langsung masuk bilik karaoke. Telah menunggu dua perempuan yang akan menemami kami.

Perempuan yang lebih muda itu mulai menyanyi, aku sibuk menghabiskan kacang dan minuman ringan di depanku. Kuwu menyanyi satu lagu dan lagu ketiga dilantunkan oleh perempuan yang badanya lebih kecil. Aku mengangkat kepalaku, memperhatikan keponakan Kuwu membisikkan sesuatu kepada dua perempuan yang menemani kami karaoke sambil menyodorkan beberapa lembar lima puluh ribuan. “Sudah? Begitu saja?” tanyaku kepada Kuwu sambil menggoda. Kuwu hanya tersenyum tidak menanggapi godaanku. Ia berdiri menekan tombol untuk memanggil pelayan karaoke. Beberapa saat pelayan datang, Kuwu memesan kopi kental, kacang dan sejumlah minuman ringan.

Dugaanku salah, aku berpikir kami akan menghabiskan malam di tempat karaoke ini. Ternyata karaoke selesai hanya dengan tiga lagu, tapi yang mengherankanku kenapa Kuwu tidak langsung mengajak kami keluar bilik karaoke justru memesan minuman tambahan. “Kamu tetap di sini,” kata Kuwu sambil menatap keponakannya. Aku masih berusaha untuk menebak keperluan Kuwu dalam pertemuan yang kelihatanya serba misterius ini. Kenapa hanya aku yang diajak Kuwu untuk pertemuan rahasia ini.

“Kamu pasti menduga-duga untuk keperluan apa pertemuan kita ini.”

“Ya Pak.”

“Menurutku hanya kamu yang bisa diajak kerjasama untuk hal-hal penting.”

“ Hal penting apa Pak?.”

“Begini, istriku berencana untuk menggantikan posisiku dalam Pilku yang akan datang,”

Kirik! makiku dalam hati, kalau hanya sekedar maun mencalonkan istrinya menjadi kuwu kenapa tidak dibicarakan di rumah saja. Tidak perlu melakukan pertemuan yang serba rahasia seperti ini. Tidak ada yang luar biasa, dulu ketika mengikuti pencalonan kuwu, kami tim suksesnya bekerja biasa saja. Melakukan kampanye hitam, menipu beberapa pengusaha di desa agar mau mengeluarkan uang untuk dana pemenangan, menciptakan memedi untuk menggagalkan serangan fajar dari pihak lawan dan mencurangi kartu suara. Bukankah cara seperti itu masih bisa dilakukan agar istrinya bisa menjadi kuwu menggantikan dirinya pada Pilku yang akan datang.

“Bedes, aku tahu yang kamu pikirkan, tidak semua cara yang dulu kita gunakan bisa efektif untuk memenangkan istriku pada Pilku mendatang. Harus ada cara lain yang lebih cerdas untuk memenangkan pertarungan,” kata kuwu seperti bisa menebak jalan pikirkanku. Memang aku akui bahwa kuwu memang cerdas dalam berpolitik, puluhan tahun aktif di organisasi pemuda dan sempat menjabat sebagai ketua umum membuat keterampilan politiknya sangat matang. Perhitungan rinci, tebakannya terhadap langkah politik musuh jitu. Nada bicaranya yang santun menyembunyikan kematangan politik yang dimilikinya. Ia pelaku politi yang sulit ditebak oleh kawan maupun lawan politik.

“Menurut Pak Kuwu apa yang seharusnya kita lakukan untuk memenangkan Pilku mendatang?”

“Sebelum aku menjelaskan tentang strategi, harus aku sampaikan lebih dulu mengapa orang semacam kamu yang dipilih untuk pertemuan sepenting ini.”

Aku sebenarya tidak sabar menunggu strategi yang akan dijelaskan Kuwu untuk memenangkan istrinya dalam Pilku mendatang. Aku yakin ia pasti telah menyiapkan cara yang lebih gila dan kotor dibanding dengan cara yang pernah digunakan untuk memenangkan dirinya.

“Baik, apa yang membuat Pak Kuwu memilihku untuk pekerjaan ini?”

“Pertama kamu orang yang masih ingin menikmati posisimu sekarang, kedua usaha istrimu akan habis kalau tanah bengkok yang sekarang kamu kuasi jatuh ke tangan orang lain.”

“Kentut! suatu saat kamu akan jatuh oleh kelicikanmu sendiri Kuwu,” makiku dalam hati. Hampir aku tidak bisa menguasai diri karena ancaman Kuwu terhadap tulang punggung ekonomi keluargaku. Aku berusaha tersenyum untuk menutupi kejengkelan hatiku. Ia pasti tahu kalau aku jengkel mendengar kalimatnya yang terakhir. Aku yakin kalimat itu pasti telah diperhitungkan isi dan waktunya agar aku tidak mampu menolak tawaranya.

Kuwu tidak langsung menjelaskan strategi yang akan digunakan untuk memenangkan istrinya dalam pemilihan mendatang. Ia justru menjelaskan sejumlah kelemahaan strategi pemenanganya dulu kalau digunakan lagi untuk memenangkan istrinya. Menurut Kuwu dari empat cara yang dugunakan untuk memenangkan dirinya dulu, hanya dua yang masih bisa dipakai untuk mencapai tujuan. Pertama kampanye hitam kepada lawan politik dan kedua mencurangi kartu suara, sisanya sudah pasti tidak efektif.

Strategi dengan menipu pengusaha desa tidak mungkin diulang sebab mereka pasti tidak lagi percaya dengan janji Kuwu. Tanah bengkok desa yang dulu dijanjikan untuk disewakan kepada para pengusaha penyumbang dana tim sukses dirinya ternyata hanya menerima janji kosong. Sekarang tanah itu telah disewa oleh pengusaha dari kecamatan lain karena harganya lebih tinggi. Menggunakan strategi menciptaka memedi untuk mencegah serangan fajar musuh justru akan menjadi bumerang. Setelah dirinya memenangkan Pilku beberapa orang tim sukses membongkar rahasia tersebut kepada masyarakat karena kecewa.

“Lalu strategi apa yang menurut Pak Kuwu akan bisa memenangkan ibu?.”

“Ada satu cara yang memiliki efek berlipat, aku memastikan kalau cara itu dilakukan dengan benar istriku pasti jadi kuwu dan kamu akan tetap duduk dikursimu seperti sekarang.”

“Apa itu Pak?”

“Carikan aku jenglot.”

Aku hampir tidak bisa bernafas mendengar jawaban Kuwu. Jika jenglot yang dimaksud oleh Kuwu itu adalah makluk halus yang selama ini dikenal masyarakat, maka itu bukan hanya gila tapi juga sangat mengerikan. Bagaimana bisa Kuwu yang biasanya memiliki perhitungan matang, rinci dan masuk akal justru sekarang memilih makluk halus untuk memenangkan pertarungan politik. Apa ia sudah kehabisan gagasan licik dan kotor untuk menjatuhkan lawan politik istrinya dalam Pilku mendatang.

“Bagaimana cara mencari makluk halus yang mengerikan itu Pak?.”

“Kalau tidak bisa mencari jenglot karena kamu anggap itu makluk halus, mengapa tidak kamu buat saja boneka jenglot. Temui si Seniman kalau kamu pikir membuat mainan seperti sulit.”

Ini gila. Bukan hanya gila, juga menjijikan. Aku masih penasaran apa yang direncanakan oleh Kuwu kali ini. Sampai aku baringkan tubuh di sebelah istriku masih belum ada jwaban yang terlitas di benakku. Gelap seperti rencana Kuwu.

*****

Keuletan dan jiwa seni yang mengalir di tubuh Seniman memang luar biasa. Ia mampu membuat boneka jenglot pesanan Kuwu nyaris sempurna. Panjangnya dua pulu sentimeter, berwajah monyet, rambutnya gimbal melebihi panjang tubuhnya, bertaring hingga menyentuh leher, matanya merah, badannya bersisik, kuku tangannya menjuntai dan yang membuat nyaris sempurna adalah bau amis yang keluar dari tubuh boneka jenglot. Seakan menegaskan bahwa makluk itu baru keluar dari lumpur yang paling pekat.

Tepat satu minggu ketika perintah itu diberikan kepadaku, boneka jenglot itu aku bahwa ke rumah Kuwu. Seperti pesan Seniman, supaya cara membawanya harus hati-hati sebab boneka jenglot berkepala monyet dan berbadan biawak itu hanya berisi tanah liat yang belum kering. Boneka itu dibungkus dengan kain biru. Aku dekap. Sangat hati-hati, seperti mendekap bungkusan uang yang takut disambar penjambret.

Kuwu menyambutku dengan senyum. Menanyakan kabar keluarga dan kesehatanku. Ia mempersilakan aku langsung masuk di bilik pribadinya. Tidak sabar, ia buka bungkusan boneka jenglot itu. Mengamati sejenak lalu menutup hidungnya karena bau amis yang keluar dari tubuh boneka itu.

“Sempurna,” kuwu memuji.

“Datanglah besok pukul sebelas malam di rumah Mandor, jangan sampai terlambat kita akan masak pedesan entok.”

“Baik Pak.” Aku pun pamit setelah menerima amplop berisi uang dari Kuwu.

Malam itu aku pamit istriku untuk menghadiri undangan Kuwu di rumah Mandor. Bayanganku, istri Mandor yang terkenal pandai masak itu telah menyiapkan pedesan entok  yang siap kami santap bersama-sama. Sampai di rumah Mandor, telah menunggu Seniman, Dukun, keponakan kuwu dan Mandor. Kuwu sendiri belum datang. Aku tanyakan kepada keponakanya. Ia hanya menjawab pendek bahwa Kuwu datang terlambat.

Tak lama kuwu datang dengan mendekap benda yang terbungkus kain biru, persis sama dengan caraku membawa saat itu. Aku menduga bungkusan itu pasti boneka jenglot. Untuk apa boneka itu dibawa ke rumah Mandor bukankah pertemuan ini untuk menikmati pedesan entok? pikirku. Seperti biasa, Kuwu akan menujukkan keramahanya. Menanyakan kabar keluarga semua orang yang hadir. Kuwu mengeluarkan rokok dan beberapa bungkus tembakau. Beberapa saat kemudian anak Mandor keluar membawa enam cangkir kopi untuk kami.

Belum ada yang mulai bicara sampai Kuwu menjelaskan tujuan pertemuan di rumah Mandor. Aku baru mengetahui bahwa masak pedesan entok ternyata hanya sandi pertemuan belaka setelah Kuwu menjelasksan maksudnya. Ia menjelaksan hal yang sama dengan apa yang pernah dijelaskan kepadaku di bilik karaoke. Kuwu menambahkan bahwa pertemuan ini dimaksudkan untuk membicarakan rincian strategi tersebut.

Kuwu membuka bungkusan denga hati-hati. Semua mata tertuju pada kain berwarna biru. Begitu jelas bentuknya, Mandor dan Dukun menjerit tertahan sedangkan keponakan kuwu terperanjat sambil menarik tubuhnya ke belakang dengan tangan menutup hidungnya. Hanya aku dan kuwu yang tetap tenang tidak berkedip melihat wujud boneka jenglot yang mengerikan itu, Seniman bahkan tersenyum melihat hasil karyanya.

“Inilah rencanaku untuk memenangkan pertarungan Pilku mendatang.” Kuwu mulai menjelaskan strateginya sambil telunjuknya mengarah ke boneka jenglot.

“Bagaimana maksudnya Pak?” tanya Mandor sambil menutup hidungnya karena bau amis yang keluar dari boneka itu.

“Bagini,  boneka seram ini tiga hari lagi harus ditemukan oleh Dukun di sungai,” kata Kuwu menjelaksan.

“Karena itu mulai besok aku minta supaya Dukun tidak menampakkan diri di depan umum sampai boneka ini kabar boneka ini ditemukan.”

“Kita harus membuat seolah-olah boneka ini ditemukan oleh Dukun dari  hasil bertapa di pinggir sungai,” lanjut Kuwu.

“Kamu bertugas menghembuskan kabar kepada warga bahwa Dukun telah menemukan jenglot berwajah monyet dan bertubuh biawak di sungi setelah bertapa tujuh hari tujuah malam,” sambil wajah Kuwu menatap keponakanya.

Sampai di situ penjelasan Kuwu masih bisa aku mengerti, namun yang masih belum bisa aku pahami adalah hubungan antara pemenangan istrinya dengan boneka jenglot. Tidak lama, kuwu akhirnya menjelaaskan jalinan rencananya. Menurut Kuwu, masyarakat akan segera heboh dan histeris setelah mendengar penemuan jenglot dengan wajah mengerikan itu. Kehebohan dan histeria masyarakat itu yang menurut kuwu bisa dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan.

Kuwu menjelaksan bahwa kalau rencana ini berhasil bukan hanya pencalonan istrinya yang akan bertabur uang, tapi semua masyarakat termasuk aparat desa bisa berpesta setiap hari. Perhitungan Kuwu bahwa uang yang terkumpul nanti bukan hanya berhasal dari tiket masuk penonton jenglot tapi juga dari jasa parkir, keamanan, dan kebersihan. Menurut Kuwu, masyarakat juga bisa memanfaatkan kerumunan penonton untuk menjual berbagai jenis makanan, minuman, koran, kipas bahkan bisa menyewakan rumah untuk tamu dari luar kota yang kemalaman. Ia menduga penonton akan datang dari berbagai kota, bahkan para pejabat dari ibu kota juga akan tertarik sesuatu yang berbau klenik.

Menurutnya keuntungan lebih besar dari rencana ini adalah naiknya citra Kuwu. Tontonan itu akan meningkatkan pendapatan masyarakat dengan terbukanya peluang usaha. Selama boneka itu masih menarik orang untuk melihat, maka masyarakat tetap bisa berjualan dan itu artinya citra Kuwu akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

“Citraku adalah citra istriku,” Kuwu menyimpulkan.

“Ingat! politik adalah citra, tidak lebih” tegasnya.

Luar biasa rencana kuwu ini pikirku. Baru sekarang ini aku mendengar rencana rinci pemenangan pemilu yang licik dan busuk. Resiko besar selalu mengintai rencana besar.

“Bedes, semua uang masuk dari pertunjukan ini kamu yang mengelola.”

“Mengapa harus saya Pak?”

“Apa kamu tidak ingat kenapa dipanggil Bedes oleh orang desa?.” Aku diam mengunggu kuwu menjelaskan.

“Kamu ini bendahara desa!.”

“Tapi ini bukan urusan desa Pak?”

“Siapa bilang ini bukan urusan desa? Kamu pikir ini hanya urusan istriku?” kata Kuwu dengan mata mendelik.

“Terimalah, hanya kamu yang pandai mengelola uang,” Seniman ikut medesakku.

Aku tahu posisiku sulit untuk menolak perintah Kuwu, namun hatiku tidak tenang dengan tugas itu. Seolah akan ada peristiwa besar yang terjadi dengan semua rencana Kuwu ini. Kirik! makiku dalam hati, istrinya yang mau jadi pejabat kenapa orang lain yang dipaksa kerja keras. Pertemuan bersandi masak pedesan entok akhirnya dibubarkan ketika kokok ayam pertama berbunyi.

*****

“Apa betul Pak Bedes yang bertanggung jawab?” Polisi berpakaian preman menggebrak meja.

“Ber..ber..bertanggung jawab bagaimana Pak.”

“Bertanggung jawab terhadap semua kekacauan ini kirik!” Kuwu membentak

Aku tidak menjawab bentakan Kuwu. Aku berusaha untuk menghimpun tenaga agar bisa mengungkap semua kebusukannya. Semoga ada keajaiban yang bisa membantuku untuk membongkar semua keculasan dan akal busuk Kuwu.

Suara makian dan hujatan kepadaku yang datang dari luar kantor desa mulai bergemuruh lagi. Beberapa kali terdengar suara genteng pecah dan kaca jendela kantor digedor-gedor orang.  Tiga orang tiba-tiba menerobos masuk tanpa bisa dihalangi oleh polisi yang menjaga ruangan Kuwu. “Kami ingin mendapat penjelasan dari para tikus ini. Jangan berbisik sendiri kalian di ruangan ini!” salah seorang penerobos menumpahkan kekesalanya. Dua orang berikutnya masuk membawa pengeras suara dan menyodorkan ke mukakku. Rupanya massa yang menyemut di luar kantor desa ingin mendengar introgasi polisi kepada kami.

“Kita tidak mungkin bisa membawa orang-orang ini keluar dari kantor ini secara aman Pak.” Seorang polisi berseragam memberikan laporan kepada polisi berpakaian preman.

“Jadi bagaimana?”

“Terpaksa kita introgasi mereka dengan menggunakan pengeras suara seperti kemauan massa Pak.”

“Apa tidak lebih beresiko?”

“Tidak ada pilihan Pak, laporan dari luar menyebutkan sebagian massa telah bersiap dengan bahan bakar.”

Aku baru menyadari ternyata Dukun, Mandor, dan keponakan Kuwu telah duduk di sebelah Kuwu dengan muka lebam dan pakaian robek di sana-sini. Hanya Seniman yang kelihatanya masih kelihatan utuh dandananya. Kuwu masih nampak tenang. Sesekali membetulkan letak kaca matanya, tapi aku yakin ia juga dalam kondisi tertekan dan takut kebusukanya terbongkar.

“Baik siapa yang akan mulai berbicara lebih dulu untuk menjelaskan semua kekacauan ini sebelum massa di luar bertambah beringas?” polisi berpakaian preman kembali bertanya.

“Kalian dengar sendiri dari anak buahku, sebagian massa di luar telah siap membakar kantor kalian ini,” polisi menegaskan.

Mungkin ini keajaiban yang aku tunggu untuk membongkar semuanya pikirku. Ini saatnya. Aku tidak berharap keponakan kuwu berpihak kepadaku, tapi Mandor, Dukun dan Seniman masih bisa diharapkan ada di pihakku.

“Semua yang merencanakan dan memerintahkan untuk membuat boneka jenglot itu adalah Kuwu.” keberanianku akhirnya muncul.

“Untuk apa Kuwu memerintahkan semua itu?”

“Kuwu ingin mengumpulkan modal agar bisa memenangkan istrinya dalam Pilku yang akan datang Pak.”

“Kuwu juga ingin menciptakan citra dirinya dengan menciptakan keramaian di desa ini.” Akhirnya dukun membelaku suara.

“Maksudnya?”

“Kuwu ingin mengesankan sebagai pemimpin yang berhasil Pak.”

“ Baik, siapa yang membuat boneka busuk itu?”

“Seniman Pak.”

“Apa betul Bu’ Seniman yang membuat boneka busuk itu?” wajah polisi hanya berjarak sepuluh sentimeter dari wajah Seniman.

“Tidak Pak, saya tidak tahu apa-apa, itu karangan Bedes Pak.” Seniman menjawab dengan tenang.

“Apa Bu’ Seniman tidak tahu kalau interogasi ini didengar oleh massa yang sedang kalap di luar kantor?” Polisi mulai tidak sabar.

“Ibu jangan bohong ya” Polisi mengingatkan.

“Saya hanya membantu membuat boneka, tidak ikut merencanakan Pak.” Seniman menyerah.

“Apa betul yang merencanakan kebusukan ini Kuwu seperti pengakuan Bedes?” polisi mendesak.

“Betul Pak.”

Aku masih menunggu reaksi Kuwu. Sejauh ini ia belum memberikan penjelasan apapun. Entah apa yang ditunggu. Aku yakin ia sedang menyiapkan sesuatu untuk membungkam kami semua.

Suara teriakan di luar kantor, hantaman batu di atas genteng dan gedoran massa di pintu depan kantor desa yang dijaga polisi semakin keras. Namun ada yang berubah, cacian dari luar kantor desa itu mulai ditujukan kepada Kuwu. Aku lirik Kuwu, mukanya pucat. Kaca matanya digenggam dengan tangan kiri, seperti ada yang ditunggunya.

“Mereka ini bersengkongkol untuk menjatuhkan aku sebagai Kuwu dan menghalangi kemajuan desa yang sedang aku bangun,” Kuwu mulai berbicara.

“Bedes ini orang culas, ia yang mengantongi semua uang hasil keramaian di desa ini,” Kuwu menegaskan.

“Bedes yang membagi uang-uang itu kepada kami Pak polisi,” keponakan Kuwu menambahi.

“Selain untuk pemenangan istri Kuwu dalam Pilku yang akan datang, ke mana saja uang itu mengalir?”  Mata polisi itu melotot ke arahku.

“Kami nikmati bersama Pak.”

“Berapa banyak uang yang telah berhasil dikumpulkan sampai kepalsuan kalian dibongkar penonton?”

“Cukup banyak untuk dibagi kepada semua pemilik suara dalam Pilku Pak.”

Hidungku membaui sesuatu yang terbakar, suara genteng berjatuhan semakin sering. Hiruk pikuk orang berlarian terdengar gaduh. Teriakan bercampur dengan makian menjadi satu. Tidak begitu jelas, ada teriakan kebakaran berkali-kali dari dari luar kantor. Aku merasa ada yang mencengkeram tengkukku, menarik ikat pinggangku yang masih melingkar di celana. Aku limbung. Setengah diseret menuju ke luar kantor, sudah tidak aku pikirkan lagi bagaimana nasibku. Pandangnku yang mulai kabur oleh asap, sempat akui lihat Kuwu digelandang oleh massa, dipukul, ditendang dan diludahi. Suara terakhir yang aku dengar, seret dedengkot tikus-tikus itu!

 

Daftar Kata

Kuwu               : kepala desa

Memedi           : hantu

Pedesan Entok : masakan pedas dari daging bebek

Kirik                : anjing

Pilku                : pemilihan kuwu

 

15 Comments to "Jenglot"

  1. Chadra Sasadara  28 February, 2012 at 21:00

    Mas Anoew : seperti ditulis oleh Kang JC dalam komentarnya. politik tidak bisa terlepas dari klenik. dan memang betul selama jabatan masih dianggap suatu peruntungan maka klenik merupakan sisi gelap kehidupan manusia

  2. Lani  27 February, 2012 at 22:58

    CHADRA : hahaha…….sipentulis malah menginginkan bs jadi salah satu pasien perklenik-an……boleh jg dicoba…..sapa tau hasilnya mmg josssss….

  3. anoew  27 February, 2012 at 21:55

    Jangan-jangan dulu ada isu Kolor Ijo juga ditujukan untuk kepentingan suatu desa? Wah mantab ini cerita, di balik politik ternyata bermain sisi klenik juga.

  4. Chadra Sasadara  27 February, 2012 at 21:11

    betul Mas Hand. dia yg memungkinkan semua kebusukan itu terjadi. dia yang main sulap dg jenglotnya, dia juga yang menabur uang dalam pilku

  5. Handoko Widagdo  27 February, 2012 at 20:51

    Ya Bu Seniman perannya agak beda…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.