Egrang Desa Ledokombo

R. Wydha

 

Suasana desa itu sangat menyejukkan. Meski sepi dan jauh dari bising kota bahkan juga ada yang males dan nggak mau berkunjung ke desa karena desa itu sepi, identik lingkungan sawah, banyak peternakan hingga berbau kandang sapi, ayam, kambing, dan hewan yang biasanya dipelihara untuk dijadikan sebagai sumber ekonomi penduduk desa. Selain itu pula banyak yang bilang desa itu orang-orang nya dalam hal penampilan kurang modis.

Berpakaian pun kadang bertabrakan atasan dan bawahan nggak cucok hehehe… Malah kadang pula ada yang  memakai sarung jika mereka berpergi ke sawah dan bermain ke rumah teman. Hal seperti itulah bukan menjadi desa itu akan sepi tapi ramai karena keunikan yang ada beda dengan suasana kota. Kota memang terkenal metropolis dan style yang cucok modern. Tapi kadang menjadikan kota itu malah ramai dengan kasus-kasus heboh dan mendramatisir.

Awal bulan Juli tahun 2012,bulan dimana saya harus tinggal selama tiga bulan di salah satu desa daerah kota Jember. Desa itu begitu membuat saya mengerti akan kehidupan dan arti kata bersyukur. Masyarakat begitu baik dan ramah menyambut kedatangan saya bersama rekan-rekan saya Kuliah Kerja Terpadu. Ada 15 progam kerja yang akan diselenggarakan di desa tersebut.

Penyuluhan ke sekolah dasar tentang kebersihan lingkungan, cara menggosok gigi yang benar, pengetahuan tentang alat panca indera dan bagian-bagian tubuh hewan dan manusia, pengetahuan tentang bank dan cara menabung di Bank dengan benar, mengadakan pertemuan dengan masyarakat desa satu kali dalam seminggu yaitu pengajian dan PKK, mengajar atau istilahnya “Les” privat anak-anak desa yaitu belajar matematika, ilmu pengetahuan alam dan social, belajar menari, belajar olahraga, belajar membuat kerajinan, belajar music.

Setiap hari Jum’at mengadakan Jum’at bersih istilahnya kerja bakti lingkungan dengan petugas kantor desa dan masyarakat lingkungan desa Ledokombo tersebut. Selain itu pula mendirikan PAUD kembali dimana sekolah PAUD di desa tersebut sudah fakum selama lima tahun. Untuk refreshing, saya dan rekan-rekan mengajak masyarakat desa setiap malam minggu menonton film. Salah satunya film documenter “Merah Putih”, “Laskar Pelangi”, dan “King”.

“ Kak, kug filmnya nggak lucu? Nggak asyik. Asyik nonton film kuntilanak itu lho? Hehehehe……”, salah satu teriakan dari anak kecil. “ Waduh dek nggak ada. Film Merah Putih itu bagus dek. Kug malah mau nonton serem-serem hehehehee,” membalas teriakan anak kecil itu dengan wajah ku yang menggemaskan dan garuk-garuk kepala hehehehe.. Anak zaman sekarang sudah berubah yaa? Hehehe…. Setiap harinya saya dan rekan-rekan saya melakukan kegiatan sesuai dengan 15 program tersebut. Serasa sudah seperti keluarga saya sendiri.

Salah satu rumah penduduk desa Ledokombo begitu ramai dengan suara-suara teriakan anak-anak kecil dengan hitungan “ Satuuuuu….Kaki Kanan Dua Kaki Kiri…. “ begitu seterusnya. Karena penasaran, saya dan rekan-rekan berkunjung ke rumah itu. Luas halaman rumanya. Suasananya adem dan damai. “ Permisi bu pak… ,” mengetuk pintu dan ucapan salam. “ Monggo silahkan masuk. Waduh kedatangan tamu dari kota nih. Cantik-cantik dan cakep-cakep hehehehehehe…..,” balas manis dari seorang ibu berjilbab cantik hidung mancung dan seorang yang mengelolah gubuk Tanoker nama rumah itu.

Berjalan bersama ke halaman belakang rumah. Begitu gembiranya adek-adek kecil menyambut kedatangan kita dan menyanyikan sebuah lagu yel-yel mereka sambil menari dengan egrangnya. Senang dan terharu saya melihat senyum mereka. “ Welcome to Tanoker Ledokombo brother sista,” sapaan mereka kepada kita. “ Wow good!! “ tepuk tangan yang meriah untuk mereka. Kemajuan dari desa yang sangat luar biasa. Perkenalan membuat kita semua tak kaku lagi saling becanda gurau dan saling bercerita.

Sudah tiga bulan, waktu yang begitu sangat cepat untukku harus kembali ke desa melanjutkan aktivitasku sebagai mahasiswa. Kembali ke kampus dengan kuliah dan tugas. Bertemu dosen dan waktu diruangan yang membosankan. Lain halnya di desa. Akan tetapi saya tidak memutus silatuhrahim dengan masyarakat desa Ledokombo termasuk keluarga Tanoker Ledokombo. Setiap hari sabtu dan hari minggu saya kalau tidak ada tugas kampus berkunjung ke rumah Tanoker Ledokombo. Kegiatan saya mengajari dance, tari tradisional, menyanyi, main drama, dan mengajari ilmu pengetahuan (alam, social, dan matematika).

Bersama dengan rekan-rekan saya lainnya tetapi bukan teman kampus melainkan tentor yang sebelumnya memang sudah lama terjun lingkungan Tanoker Ledokombo. Adek-adek Tanoker tidak hanya menerima apa yang saya ajarkan melainkan adek-adek juga mengajarkan saya bermain egrang, dimana saya memang sama sekali tidak bisa bermain egrang. Kesenian egrang hidup kembali dengan kreasi adek-adek Tanoker Ledokombo.

Pada zaman peperangan dulu permainan yang  biasanya dimainkan yaitu kesenian angklung, main “dakon”, bola bekel, lompat tali dengan karet, main egrang, dan main seruling. Berbeda dengan zaman sekarang. Permainannya play station, motor balap, time zone, dan permainan modern lainnya. Begitu banyak prestasi yang sudah diraih Tanoker Ledokombo. Istri Alm. Gus Dur sudah dua kali berkunjung ke Tanoker Ledokombo, sambutan dari adek-adek Tanoker drama pendek dengan tema “ Awal bertemunya Gus Dur dengan Bu Sinta”.

Selain itu, adek-adek Tanoker pernah mengikuti audisi IMB (Indonesia Mencari Bakat), lolos audisi di Surabaya dan langsung ikut audisi di Jakarta. Akan tetapi sayang, mereka tidak lolos. Tak apalah hehehehe…. Mereka sudah sering kali mengikuti audisi dan lomba egrang. Selain itu juga mereka sudah sering tampil di depan tamu-tamu dari luar negeri (Australia, Jerman, Amerika).

Tampak halaman belakang dimana tempat mereka latihan egrang dan kegiatan lainnya seperti yang saya ceritakan di atas.

Kemajuan bukan hanya berawal dari kota metropolis dari desa pun bisa kita maju dan menunjukkan kemampuan, keunggulan,  dan keahlian yang dimilikinya. Desa bukan identik dengan daerah yang kolod dan kurang modern. Sudah terlihat nyata dari desa kita bisa maju. Yang terpenting adalah lebih menghargai waktu. Untuk Tanoker Ledokombo, semangat dan tetap maju pantang mundur. Miss U all……

 

25 Comments to "Egrang Desa Ledokombo"

  1. sisca  16 August, 2012 at 06:55

    Koq tepat sekali ya penerawangan kang anoew,kl penulisnya yg berjarik coklat…hmm..manis juga…sptnya ada ikatan tersendiri nih….entah itu apa?

  2. Kornelya  5 March, 2012 at 23:03

    Mba Widya, bahagia sekali membaca kisah engrang ini, seolah membawaku kembali kemasa lalu, tersenyum simpul mengingat kebahagiaan alami masa kecil. Salam.

  3. Alvina VB  2 March, 2012 at 03:20

    Trims Wydha….
    Masukan video egrang tsb, kl ada ke youtube dunk…

  4. R. Wydha  1 March, 2012 at 10:43

    pak handoko : iyaa pak,, ngambil fotonya kurang pas hiks.. hehehehe…

    pak Dj : maaf pak bajunyaa bnyak yg erna biru? cewek atau cowok hehehehe?

    mbk alvina : desa ledokombo itu desa salah satu desa di Kabupaten Jember Kecamatan Ledokombo jawa timur mbak

    mbak Lani : hehehehe iyaaa,, penulisnyaa baju warna hitam pake’ jarik (sewek) kain coklat yg bukan pake’ jilbab hehehehee….

  5. Lani  1 March, 2012 at 09:53

    hayoooooooo dijawab duonkkkkkkk yg mana pentulisnya????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.