Kenali Tari-tarian Indonesia (8): Beksan Guntur Segara

Probo Harjanti

 

Empat penari gagah bersenjatakan gada berikut tamengnya (perisai),  membawakan Beksan  Guntur Segara. Beksan ini merupakan salah satu karya Sultan HB I. Meskipun dibawakan 4 penari, tetapi yang digambarkan dalam tarian ini hanya 2 orang tokoh. Sebagaimana kebanyakan srimpi, dibawakan 4 penari, tetapi juga hanya menggambarkan 2 orang tokoh. Kata beksan bisa berarti tarian, tetapi bisa pula diartikan sebagai tari berpasangan, misalnya Beksan Srikandi melawan Surodewati, atau beksan Gatotkaca-Pergiwa, Jaka Tarub-Nawangwulan dan lain-lain.

Beksan Guntur Segara ini menceritakan perang tanding dua orang tokoh dalam cerita Panji, yakni Raden Jayasena yang mencari ayahnya, Raja Jenggala melawan Raden Guntur Segara. Sang Raja belum mua mengakuinya sebagai putra, sebelum bisa mengalahkan Raden Guntur Segara. Perang tanding  akhirnya berakhir seri, tidak ada yang menag mau pun kalah. Pencarian berbuah manis, dengan diterimanya Raden Jaya Seno sebagai putra Raja Jenggala.

Menonton tarian ini, selalu menggugah semangat. Karya-karya  Sultan HB I memang menggelorakan semangat. Hal ini sangat mungkin terkait dengan lahirnya tarian pada masa perjuangan, seperti halnya Beksan Lawung. Saat seseorang  memperjuangkan sesuatu, tentunya dilakukan dengan penuh semangat, penuh greget, ada sengguh, dan ora mingkuh. Ada semangat, kesungguhan, dan keteguhan hati nurani.

Budaya menulis di dunia tari belumlah sesubur bidang lain, jadi tidak mengherankan kalau tidak mudah mencari informasi tetntang sejarah lahirnya sebuah tarian secara lengkap dan mendetail. Biasanya informasi yang didapat hanyalah secara lisan, dari mulut ke mulut, jarang yang terdokumen dengan rapi. Kalau pun ada, pastinya dalam aksara Jawa, yang tidak semua orang  bisa membacanya. Itu pun sangat mungkin tersimpan di luar sana.

 

31 Comments to "Kenali Tari-tarian Indonesia (8): Beksan Guntur Segara"

  1. Dj.  4 March, 2012 at 02:31

    probo Says:
    March 3rd, 2012 at 15:47

    wadhuh ilat kula dados kriting menika PakDj.

    njih saestu kula pitados sanget, bilih penjenengan tansah ndherek Gusti
    dadso, mboten bakal kesambet………
    nyuwun panganpunten sanget njih……
    menawi kula asring kaduk wani kirang duga….\
    nuwun
    ———————————————————
    Nyuwun sewu…..

    Ilat… mbokmenawi sami kaliih Lidhan….???
    Lha kok saget “kriting” niku kados pundi…???
    Mugi sampun saras….

    Panjenengan tiang sae….
    Ampun nyuwun pangapunten….
    Menawi guru ( ingkang dipun guGU, ugi pdipun tiRU ) nyuwun pangapunten….
    Mangke dimas Anoew, lajeng mesam-mesem piyambak…..

    Hahahahahahaha….
    Lha kok malah dadi ludrugan….
    Bade tilem rumiyin.
    Taklim kulo saking Mainz.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.