Agitasi Film: Makna di Balik Film Dokumenter Tari Menak Koncer

Djenar Lonthang Sumirang

 

Pengantar

Kesenian, merupakan salah satu sistem kebudayaan universal yang terdapat disetiap masyarakat di dunia. Dengan demikian, kesenian pasti terdapat di semua masyaarkat, termasuk masyarakat dari etnis Jawa. Salah satu kesenian yang sangat berperan besar dalam kehidupan masyarakatnya, adalah kesenian wayang yang mendapat pengaruh dari India. Pengaruh dari India ini begitu menonjolnya, terutama karena pengaruh ajaran Hindu yang dulu begitu mengakar dan masyarakat dalam kehidupan orang Jawa. Sejalan dengan semakin majunya suatu masyarakat, atau bangsa, semakin besar pengaruh yang masuk dan dimengerti oleh masyarakat bersangkutan. Salah satu faktor penting yang berperan besar dalam kehidupan masyarakat, adalah pengaruh teknologi informasi.

 

Postmodern dan Eksistensi Seni

Karya seni yang hadir dari hasrat-hasrat, peristiwa, pikiran dimana karakter-karakter individual dan tipikalitas menyatu ke dalam pengungkapan materiel (bentuk) dan bangunan metafisisnya (isi), hanya memungkinkan seni ditemukan dalam eksistensinya sebagai aktivitas sosial. Saat individu mulai membangkitkan gairah “kediriannya” menjadi bentuk yang eksis ke dalam pengkaryaan maka fungsi sosialnya pun tak dapat dielakkan. Saat wicara menjadi sebuah benturan bagi kondisi sosial dan bahasa teistik menjadi belenggu bagi pembacaan realitas, di sinilah seni mengambil perannya dengan menguapkan teks yang membeku dan menggantikannya dengan bahasa estetik-metafor.

Fungsi seni yang dipercaya menyimpan daya kritis dan semangat “provokatif”nya dalam melakukan pemaknaan yang disebut “aura seni” oleh Adorno dan Benjamin, dianggap telah kehilangan auranya akibat budaya industri yang mereduksi karya seni menjadi fethisisme komoditi. Pengagungan nilai tukar atau pengelabuhan, marjinalisasi nilai guna melalui komoditi dalam diskursus kapitalisme, menurut Marx disebabkan fungsi ideologis seni yang merupakan bagian dari suprastuktur masyarakat dimana melibatkan ideologi dan kekuatan kelas sosial – status quo.

Seni tinggi (high-art) seringkali didikte oleh selera kaum borjuasi modern, khususnya pasca-Revolusi Industri. Fungsi ideologisnya yang digunakan sebagai pembentukan kesadaran palsu oleh kelas borjuis (dominan) telah menentukan kesadaran, pengalaman dan respon terhadap situasi sosial anggota kelas subordinan pada level budaya untuk mempertahankan hubungan yang ada dalam masyarakat sebagai suatu hubungan yang seolah “alamiah”, atau meminjam istilah Antonio Gramsci – hegemoni atau “desublimisasi represif” dalam bahasa Herbert Marcuse.

Seni sebagai praktek sosial menjadi persoalan yang sangat pelik dalam proses eksistensinya, terutama dalam level budaya yang turut mempengaruhi pemahaman (sense), pemaknaan (meaning) atau pembentukan “way of life” masyarakat. Namun di balik fungsi ideologisnya, Marx ataupun Gramsci masih percaya bahwa masih tersimpan kekuatan-kekuatan produktif yang mampu merubah kondisi sosial yang hegemonik tersebut.

Glamournya para bintang layar kaca atau layar perak menjadi idola baru¸ dan bukan lagi primadona atau tokoh-tokoh seni atau tradisional di daerah. Apalagi dengan terjadinya arus globalisasi informasi seperti sekarang ini akan semakin menurunkan minat masyarakat untuk menikmati seni pertunjukkan tradisional yang ada. Mudahnya menikmati berbagai hiburan yang disajikan oleh media elektronika, menyebabkan orang enggan untuk bersusah payah mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga untuk mencari hiburan di luar rumahnya. Terlebih lagi, hiburan yang disajikan selain memiliki variasi banyak, juga memiliki pesona yang banyak pula. Sehingga tidak jarang, kehadiran hiburan yang disajikan menimbulkan berbagai silang pendapat di antara warga masyarakat.

Seni-seni pertunjukkan di Indonesia, pada mulanya adalah suatu kegiatan yang sifatnya ritual. Akan tetapi lama – kelamaan seni yang sakral ini mengalami proses komersialisasi dan sekularisasasi, seperti halnya di Barat. Proses ini semakin cepat sejalan dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi elektronika yang masuk ke Indonesia.

Di Barat, dampak modernisasi yang melanda segala sektor kehidupan manusia sebagai akibat dari Revolusi Industri pada tengah kedua abad XIX terhadap seni pertunjukkan tampak jelas, yaitu komersialisasi dan sekularisasi. Proses sekularisasi serta komersialisasi ini semakin menghebat pada abad XX. Di Indonesia, khususnya Jawa seni pertunjukkan di perdesaan sampai sebelum kemerdekaan berfungsi ritual. Dalam arti kata meskipun seringkali terjadi pruebahan tetapi fungsi ritualnya selalu masih melekat, walau kadarnya sering menyusut, tergantung kebutuhan masyarakat setempat.

 

Tarian Rakyat “Menak Koncer” dan Eksistensinya

Tarian Rakyat Menak Koncer lahir dari suatu peristiwa sejarah. Dilatarbelakangi oleh perang besar yang terjadi di tanah Jawa. Konon, tari rakyat ini diciptakan oleh sisa pengikut Pangeran Diponegoro yang selamat dan melarikan diri ke arah utara. Menyaksikan tarian rakyat ini, penonton seakan dibawa ke abad 19. Bagaimana dua kekuatan yang saling berhadapan masing-masing menunjukkan kebolehannya. Para penari diiringi berbagai macam alat perkusi seperti genderang, timpring (rebana kecil) dan bende. (Tri Subekso, 2010)

Dalam pementasannya, tari ini dimainkan oleh banyak orang. Biasanya berjumlah 14 personil yang terbagi menjadi dua kelompok yang berbaris berdampingan. Ada seseorang yang berperan sebagai komandan, tugasnya mengarahkan posisi gerak yang harus dijalankan oleh para penari. Tiap baris terdiri dari tujuh orang. Baris pertama mewakili pasukan Diponegoro, sedangkan baris lainnya mewakili serdadu Belanda. Formasi baris berjumlah tujuh orang dimaksudkan untuk menggambarkan tujuh pemimpin yang memimpin gladi perang kala itu, dengan berbagi jenis senjata yang dibawanya.

Gerak tari dibagi menjadi tiga babak. Babak pertama merupakan gladi (latihan) pasukan Diponegoro, babak kedua adalah gladi pasukan Belanda, sedangkan babak ketiga merupakan pertempuran antara kedua belak pihak.

Kedua kelompok dibedakan berdasarkan kostum dan atribut yang dikenakan. Pasukan Belanda mengenakan seragam Koninklijk Leger lengkap dengan sepatu boot dan pangkat titulernya. Mereka dilengkapi pedang. Sedangkan pasukan Diponegoro memakai busana surjan dengan dilengkapi tombak, pedang serta perisai. (Tri Subekso, 2010)

 

Reksa Seni di Resowinangun – Sumowono – Kab. Semarang

Saat ini, kesenian Menak Koncer berkembang di Dusun Resowinangun, Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Dahulu, tarian ini berasal dari Temanggung, namun dalam perkembangannya justru hidup di daerah Sumowono. Pernah didirikan pada tahun 1960-an, namun kemudian sempat vakum lama.

Barulah pada tahun 2006, kesenian ini mulai diaktifkan kembali. Organisasi kesenian ini diberi nama Karya Budaya. Mereka mulai mengisi acara-acara di tingkat desa maupun kabupaten. Sekarang, kelompok seni ”Karya Budaya” dipimpin oleh Purwanto dengan Waljiono sebagai wakilnya. Pemda Kabupaten Semarang sendiri secara serius juga melakukan pembinaan kesenian unik ini. Diharapkan, tarian rakyat ini akan menjadi kebanggaan bagi warga Kabupaten Semarang.

Dan pagi tadi, eksistensi dan daya reksa seni masyarakat di dusun Resowinangun menemukan bentuk baru, yaitu proses dokumentasi kegiatan tari tersebut untuk dirangkai dalam sebuah film yang kelak berjudul “Laskar Lembah Gunung” (sekali lagi title ini bukan hendak menjadi epigon dari Andrea Hirata) dan dimotori oleh dua jagger kesenian yaitu Tri Subekso dan Kusri Handoyo. Keberadaan film ini kelak akan menjadi sebuah relasi sosial dalam khazanah global, dalam konteks ini diartikan sebagai interaksi antar manusia dari berbagai elemen atau kekuatan sosial yang terbentuk oleh proses sejarah (kekuatan-kekuatan sosial, budaya, ekonomi dan politik) dalam kerelatifan historisnya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

DLS

Umbul Sidomukti…di tengah gemuruh angin yang menerjang hutan pinus….2 Oktober 2011..

 

10 Comments to "Agitasi Film: Makna di Balik Film Dokumenter Tari Menak Koncer"

  1. riyo eang egycendliantz  7 May, 2013 at 12:47

    apakh d ambarawa kn ada karnaval lagi n menak koncer tampil ga loch ada

  2. Arik  7 May, 2013 at 07:11

    menak koncer masih selalu tampil Mas Riyo,. ada atau tidak ada tanggapan. Sebab seni sudah menjadi keseharian, setelah letih me-ladang. Suwun.

  3. riyo eang egycendliantz  6 May, 2013 at 21:40

    ini pemain menak koncer kapan maen lagi

  4. Sasadara  2 March, 2012 at 09:53

    Kakayknya dulu saya pernah belajar tari Menak Koncar. Tapi kok ga kelompok sama seperti yang diceritakan sama mas DLS ya. Apa dulu yang diajarkan itu hanya peran tertentu saja ya.

    *tapi sekarang udah lupa semua he..he..he..

  5. Dj.  2 March, 2012 at 02:49

    Matur Nuwun DLS….
    Bangga juga jadi orang Semarang…..
    Tadinya, Dj. pikir di olo atau di Jogja…
    Taunya malah di Semarang… HEBAT….!!!
    Salam,

  6. Chadra Sasadara  1 March, 2012 at 12:45

    penjelasan tentang produk budaya biasanya lebih menarik kalau digambarkan dengan sudut pandang tertantu. artikel yang sangat menarik. tks Djenar

  7. Mastok  1 March, 2012 at 09:37

    KONCER adalah tari yang memberi semangat yang
    mengambarkan tarian prajurit tersebut boleh jadi
    terpengaruh latihan perang prajurit Diponegoro yang
    bertempur melawan Belanda pada 1825-1830.
    ” forest as the last bastion of defense ”
    dimana hutan benteng terakhir untuk menjadi pertahanan perakhit

    saya sangat tertarik tulisan ini antara Budaya,patriotisme dan lingkungan
    ini Jejak semangat yang Harus kita Kembangkan dan kita lestarikan

  8. J C  1 March, 2012 at 09:19

    Mas DLS, kepingan sana sini kekayaan budaya seperti ini membuka mata saya akan buanyaknya yang saya belum tahu. Terima kasih…

  9. DLS  1 March, 2012 at 08:39

    salam Mas Han, kami sudah memulai inventarisasi tersebut dengan sebuah buku saku,jadi sasaran kami adalah anak-anak,terutama mereka yang (menurut kami) sudah tercerabut dari akar budayanya.

  10. Handoko Widagdo  1 March, 2012 at 07:54

    DLS terima kasih untuk artikel yang sangat bagus. Alangkah baiknya jika dokumentasi tentang kerja-kerja seni yang berurat-berakar dalam sejarah/budaya lokal. Tayub di wilayah Blora/Grobogan, Barongan di Dusun Gluntungan Banjarsari, Kradenan, Grobogan dan masih banyak lagi, bisa dikumpulkan menjadi sebuah buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.